Arsip | 23.49

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 11

10 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 11“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para Malaikat: ‘Bersujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia (iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.” (QS. al-A’raaf: 11)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan anak cucu Adam akan kemudaan bapak mereka, Adam. Dan Allah menjelaskan kepada mereka perlawanan musuh mereka, iblis dan berbagai kedengkiannya terhadap mereka, juga terhadap bapak mereka, Adam. Hal ini agar mereka menghindarinya dan tidak mengikuti jalan-jalannya. Maka Allah pun berfirman: wa laqad khalaqnaakum tsumma shawwarnaakum tsumma qulnaa lil malaa-ikatis juduu li-aadama fasajaduu (“Sesungguhnya Kami telah menciptakanmu [Adam], lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para Malaikat: ‘Bersujudlah kalian kepada Adam.’ Maka mereka pun bersujud.”)

Ayat tersebut sama seperti firman Allah berikut ini:
“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada Para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dart tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.’” (QS. Al-Hijr: 28-29).

Yaitu, bahwa ketika Allah menciptakan Adam as. dengan tangan-Nya dari tanah liat yang berlumpur dan Allah membentuknya sebagai manusia yang sempurna lalu meniupkan ke dalamnya ruh ciptaan-Nya, maka Dia memerintahkan kepada para Malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai penghormatan terhadap kedudukan dan kebesaran Allah swt. Maka semua Malaikat mendengar dan mentaati-Nya, kecuali iblis yang tidak mau bersujud. Mengenai masalah iblis ini telah dikemukakan sebelumnya di awal surat al-Baqarah. Dan inilah yang telah kami tetapkan, yang juga merupakan pilihan Ibnu Jarir, bahwa (bentuk jamak “kum”) yang dimaksudkan (dalam ayat tersebut) adalah Adam.

Dan mengenai firman Allah: wa laqad khalaqnaakum tsumma shawwarnaakum (“Sesungguhnya Kami telah menciptakanmu [Adam], lalu Kami bentuk tubuhmu,”) Sufyan ats-Tsauri mengatakan, dari al-A’masy, dari Minhal bin ‘Amr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Mereka diciptakan di tulang rusuk kaum laki-laki dan dibentuk dalam rahim kaum wanita.” (Diriwayatkan al-Hakim dan ia mengatakan riwayat tersebut shahih dengan syarat al-Bukhari dan Muslim hanya saja keduanya tidak meriwayatkannya)

Dan Ibnu Jarir menukil dari sebagian ulama salaf juga, bahwa yang dimaksud dengan ” laqad khalaqnaakum tsumma shawwarnaakum (“Kami ciptakan lalu Kami bentuk kalian”) adalah anak keturunan (Adam).

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 10

10 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 10“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. al-A’raaf: 10)

Allah berfirman mengingatkan hamba-Nya, bahwa Allah telah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal, dan di dalamnya Allah menciptakan gunung-gunung, sungai-sungai dan rumah tempat tinggal. Allah membolehkan mereka mengambil berbagai manfaat yang ada padanya, memperjalankan bagi mereka awan untuk mengeluarkan rizki dari bumi tersebut. Dan di bumi itu juga Allah menjadikan bagi mereka sumber penghidupan dan berbagai macam sarana berusaha dan berdagang bagi mereka. Namun dengan semuanya itu, kebanyakan dari mereka tidak bersyukur. Ayat itu sama seperti firman Allah berikut ini:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Semua ulama membaca: “ma’aayisya” dengan tidak menggunakan huruf hamzah, kecuali `Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, di mana ia membacanya dengan menggunakan huruf hamzah. Dan yang benar adalah pendapat mayoritas ulama di atas, yaitu dibaca tanpa menggunakan huruf hamzah, karena kata “ma’aayisy” merupakan jama’ dari kata “ma’isyah” yaitu berasal dari kata: ‘aasya – ya’iisyu- ‘iisyan. Dan “ma’iisyatan” asal katanya adalah “ma’iishatan” tapi huruf ya’ terasa berat untuk di kasrah, maka kasrah tersebut dipindah ke huruf ‘ain menjadi kata “ma’iisyatan”. Setelah dijadikan jamak, maka harakat itu kembali ke huruf ya’ karena tidak adanya sesuatu yang memberatkan.

Suatu pendapat mengatakan bahwa wazan (perbandingan) untuk kata itu adalah “ma’aayisyu” adalah “mafaa’ilu” karena huruf ya’pada kata itu adalah asli. Berbeda dengan kata “madaa-inu, mashaa-ifu, dan “bashaa-iru” yang merupakan jamak dari: madiinatun, shahiifatun, dan bashaa-irun, yang berasal dari kata: shahafa, madana, bashara. Dengan demikian huruf ya’ dalam ketiga kata tersebut adalah zaa-idah (tambahan). Oleh karena itu, semuanya dijamakkan dalam bentuk kata “fa’aa-ilu” dengan hamzah. Wallahu a’lam.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 8-9

10 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 8-9“Timbangan pada bari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 7:8) Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. 7:9)” (al-A’raaf: 8-9)

Allah berfirman: wal waznu (“Timbangan.”) Yaitu, untuk menimbang amal perbuatan pada hari Kiamat kelak. Al haqqu (“Adalah kebenaran.”) Artinya, Allah tidak akan mendhalimi seorang pun.

Penjelasan:

Mengenai yang diletakkan di atas timbangan pada hari Kiamat kelak, ada yang mengatakan, itu adalah amal perbuatan, meskipun ia bersifat abstrak, namun demikian Allah Ta’ala mampu mengubahnya pada hari Kiamat kelak menjadi jasad yang dapat ditimbang. Al-Baghawi mengatakan: “Hal seperti ini telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.”

Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits shahih, bahwa surat al- Baqarah dan Ali-‘Imran akan datang pada hari Kiamat kelak seolah-olah awan atau dua bentuk payung yang menaungi, atau dua kelompok burung yang mengembangkan sayapnya.

Di antaranya juga adalah apa yang dijelaskan dalam hadits shahih mengenai kisah al-Qur’an, di mana disebutkan bahwa al-Qur’an itu akan mendatangi pembacanya dalam bentuk seorang pemuda yang pucat, lalu pembacanya bertanya: “Siapakah engkau ini?” la menjawab: “Aku adalah al-Qur’an yang menjadikanmu berjaga di malam hari dan menjadikanmu haus pada siang hari.”

Ada juga pendapat yang menyatakan, bahwa yang ditimbang itu adalah buku catatan amal perbuatan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits bithaqah (kartu), yaitu tentang seorang laki-laki yang didatangkan kepada-Nya dan diletakkan dalam perincian timbangan sembilan puluh sembilan lembaran catatan amal perbuatan, di mana masing-masing lembaran panjangnya sejauh pandangan mata. Selanjutnya kepada orang itu didatangkan kartu yang di dalamnya bertuliskan Laa Ilaaha Illallaah. Maka orang itu pun berkata: “Ya Rabbku, apa artinya kartu ini di hadapan lembaran-lembaran ini?” Kemudian Allah menjawab: “Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi.”
Setelah itu, kartu tersebut diletakkan di atas piringan timbangan yang lain. Dan Rasulullah saw. bersabda: “Maka lembaran-lembaran itu menjadi lebih ringan, sedangkan kartu itu menjadi lebih berat.” (Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits yang senada dengan hadits di atas dan ia menshahihkannya)

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa, yang ditimbang itu adalah pemilik amal perbuatan (orangnya). Dalam kitab Manaaqib Abdullah bin Mas’ud, bahwa Nabi saw. bersabda: “Apakah kalian heran terhadap kecilnya kedua betis Ibnu Masud. Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kedua betisnya itu lebih berat dalam timbangan daripada gunung Uhud.” (Diriwayatkan Imam Ahmah dalam Musnadnya)

Dimungkinkan juga (dilakukan) penggabungan antara atsar-atsar ini bahwa semua itu adalah benar. Yaitu, terkadang amal perbuatan yang ditimbang, terkadang buku catatan amal perbuatan dan terkadang pemilik amal perbuatannya yang ditimbang. Wallahu a’lam.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 4-7

10 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 4-7“4. betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, Maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. 5. Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim”. 6. Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami), 7. Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (al-A’raaf: 4-7)

Allah berfirman: wa kam ming qaryatin aHlaknaaHaa (“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan.”) maksudnya disebabkan menyelisihi dan mendustakan para Rasul Kami. Maka Allah pun menimpakan kepada mereka kehinaan di dunia yang bersambung dengan kehinaan di akhirat.

Dan firman-Nya lebih lanjut: fajaa-aHaa ba’sunaa bayaatan au Hum qaa-iluuna (“Maka datanglah siksaan Kami [menimpa penduduk]nya pada waktu mereka berada di malam hari, atau pada waktu mereka beristirahat di tengah hari.”) maksudnya di antara mereka ada yang kedatangan siksa dan hukuman Allah pada malam hari atau ketika mereka sedang beristirahat di siang hari. Kedua waktu tersebut adalah waktu yang melengahkan dan waktu bermain-main.

Dan firman-Nya: famaa kaana da’waaHum idz jaa-aHum ba’sunaa illaa ang qaaluu innaa kunnaa dhaalimiin (“Maka tidak ada keluhan mereka pada waktu datang kepada mereka siksaan Kami kecuali mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim.’”) setelah adzab Allah menimpa mereka, maka tidak ada kata lain yang mereka ucapkan melainkan mereka mengakui dosa-dosa mereka, sebab mereka pantas mendapatkannya, seperti firman Allah berikut ini yang artinya:
“11. dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). 12. Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. 13. janganlah kamu lari tergesa-gesa; Kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. 14. mereka berkata: “Aduhai, celaka Kami, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zaIim”. 15. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi.” (al-Anbiyaa’: 11-15)

Dan firman Allah berikutnya: falanas-alannal ladziina ursila ilaiHim (“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus kepada Rasul kepada mereka.”) ayat ini sama seperti firman-Nya yang artinya: “Dan [ingatlah] hari [pada waktu] Allah menyeru mereka seraya berkata: ‘Apakah jawaban kalian kepada para Rasul.” (al-Qashshas: 65) demikian juga firman-Nya yang artinya: “[Ingatlah] hari [pada waktu] Allah mengumpulkan para Rasul, lalu Allah bertanya [kepada mereka]: ‘Apa jawaban kaummu terhadap [seruan]mu?’ Para Rasul menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan kami [tentang itu] sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib.’” (al-Maa-idah: 109)

Maka Allah swt. bertanya kepada seluruh umat pada hari kiamat kelak, tentang jawaban yang mereka berikan kepada para Rasul-Nya, mengenai apa yang telah dibawakan kepada mereka. Dan para rasul-pun ditanya mengenai penyampaian risalah-Nya.

Ibnu Mardawaih mengatakan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: “Setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka seorang imam [penguasa] akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyat yang dipimpinnya. Seorang laki-laki akan dimintai pertanggungjawaban mengenai [kepengurusannya dalam] rumah suaminya. Sedangkan seorang budak akan dimintai pertanggungjawaban mengenai [kepengurusannya dalam] harta tuannya.” (HR Ibnu Mardwawaih)

Al-Laits mengatkan, Ibnu Thawus menceritakan kepadaku mengenai hal yang sama. Kemudian ia membacakan ayat: falanas-alannal ladziina ursila ilaiHim wa lanas-alannal mursaliina (“Maka sesungguhnay Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus para Rasul kepada mereka. Dan sesungguhnya Kami akan menanyai [pula] Rasul-rasul [Kami].”) hadits ini juga dikeluarkan dalam ash-Shahihain tanpa adanya penambahan ini.

Mengenai firman Allah swt.: falanaqushshanna ‘alaiHim bi’ilmiw wa maa kunnaa ghaa-ibiina (“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka [apa-apa yang telah mereka perbuat], sedang Kami mengetahui [keadaan mereka] dan Kami sekali-sekali tidak jauh [dari mereka].”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Buku catatan akan diletakkan pada hari kiamat kelak, maka buku catatan itupun akan berbicara mengenai apa yang telah mereka kerjakan.” Wamaa kunnaa ghaa-ibiin (“Sedang Kami mengetahui [keadaan mereka] dan Kami sekali-sekali tidak jauh [dari mereka].”) maksudnya bahwa Allah memberitahu hamba-hamba-Nya pada hari kiamat kelak, mengenai apa yang telah mereka ucapkan dan kerjakan, baik yang berjumlah sedikit, banyak, yang bertumpuk-tumpuk, maupun yang hina, karena Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya dan tidak pula Allah lengah dari sesuatu, bahkan Allah Mahamengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam hati.

Bersambung