Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 4-7

10 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 4-7“4. betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, Maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. 5. Maka tidak adalah keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zalim”. 6. Maka Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-rasul kepada mereka dan Sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-rasul (Kami), 7. Maka Sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (al-A’raaf: 4-7)

Allah berfirman: wa kam ming qaryatin aHlaknaaHaa (“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan.”) maksudnya disebabkan menyelisihi dan mendustakan para Rasul Kami. Maka Allah pun menimpakan kepada mereka kehinaan di dunia yang bersambung dengan kehinaan di akhirat.

Dan firman-Nya lebih lanjut: fajaa-aHaa ba’sunaa bayaatan au Hum qaa-iluuna (“Maka datanglah siksaan Kami [menimpa penduduk]nya pada waktu mereka berada di malam hari, atau pada waktu mereka beristirahat di tengah hari.”) maksudnya di antara mereka ada yang kedatangan siksa dan hukuman Allah pada malam hari atau ketika mereka sedang beristirahat di siang hari. Kedua waktu tersebut adalah waktu yang melengahkan dan waktu bermain-main.

Dan firman-Nya: famaa kaana da’waaHum idz jaa-aHum ba’sunaa illaa ang qaaluu innaa kunnaa dhaalimiin (“Maka tidak ada keluhan mereka pada waktu datang kepada mereka siksaan Kami kecuali mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim.’”) setelah adzab Allah menimpa mereka, maka tidak ada kata lain yang mereka ucapkan melainkan mereka mengakui dosa-dosa mereka, sebab mereka pantas mendapatkannya, seperti firman Allah berikut ini yang artinya:
“11. dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). 12. Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. 13. janganlah kamu lari tergesa-gesa; Kembalilah kamu kepada nikmat yang telah kamu rasakan dan kepada tempat-tempat kediamanmu (yang baik), supaya kamu ditanya. 14. mereka berkata: “Aduhai, celaka Kami, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang zaIim”. 15. Maka tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi.” (al-Anbiyaa’: 11-15)

Dan firman Allah berikutnya: falanas-alannal ladziina ursila ilaiHim (“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus kepada Rasul kepada mereka.”) ayat ini sama seperti firman-Nya yang artinya: “Dan [ingatlah] hari [pada waktu] Allah menyeru mereka seraya berkata: ‘Apakah jawaban kalian kepada para Rasul.” (al-Qashshas: 65) demikian juga firman-Nya yang artinya: “[Ingatlah] hari [pada waktu] Allah mengumpulkan para Rasul, lalu Allah bertanya [kepada mereka]: ‘Apa jawaban kaummu terhadap [seruan]mu?’ Para Rasul menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan kami [tentang itu] sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib.’” (al-Maa-idah: 109)

Maka Allah swt. bertanya kepada seluruh umat pada hari kiamat kelak, tentang jawaban yang mereka berikan kepada para Rasul-Nya, mengenai apa yang telah dibawakan kepada mereka. Dan para rasul-pun ditanya mengenai penyampaian risalah-Nya.

Ibnu Mardawaih mengatakan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Rasulullah saw. telah bersabda: “Setiap orang dari kalian adalah pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka seorang imam [penguasa] akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyat yang dipimpinnya. Seorang laki-laki akan dimintai pertanggungjawaban mengenai [kepengurusannya dalam] rumah suaminya. Sedangkan seorang budak akan dimintai pertanggungjawaban mengenai [kepengurusannya dalam] harta tuannya.” (HR Ibnu Mardwawaih)

Al-Laits mengatkan, Ibnu Thawus menceritakan kepadaku mengenai hal yang sama. Kemudian ia membacakan ayat: falanas-alannal ladziina ursila ilaiHim wa lanas-alannal mursaliina (“Maka sesungguhnay Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus para Rasul kepada mereka. Dan sesungguhnya Kami akan menanyai [pula] Rasul-rasul [Kami].”) hadits ini juga dikeluarkan dalam ash-Shahihain tanpa adanya penambahan ini.

Mengenai firman Allah swt.: falanaqushshanna ‘alaiHim bi’ilmiw wa maa kunnaa ghaa-ibiina (“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka [apa-apa yang telah mereka perbuat], sedang Kami mengetahui [keadaan mereka] dan Kami sekali-sekali tidak jauh [dari mereka].”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Buku catatan akan diletakkan pada hari kiamat kelak, maka buku catatan itupun akan berbicara mengenai apa yang telah mereka kerjakan.” Wamaa kunnaa ghaa-ibiin (“Sedang Kami mengetahui [keadaan mereka] dan Kami sekali-sekali tidak jauh [dari mereka].”) maksudnya bahwa Allah memberitahu hamba-hamba-Nya pada hari kiamat kelak, mengenai apa yang telah mereka ucapkan dan kerjakan, baik yang berjumlah sedikit, banyak, yang bertumpuk-tumpuk, maupun yang hina, karena Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya dan tidak pula Allah lengah dari sesuatu, bahkan Allah Mahamengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam hati.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: