Arsip | 02.17

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 6

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 6“Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. at-Taubah: 6)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya: wa in ahadum minal musyrikiina (“Dan jika seseorang dari orang-orang musyrikin itu.”) Yaitu, orang-orang yang Kuperintahkan kepadamu untuk memerangi mereka dan telah Aku halalkan bagimu diri dan harta mereka. Istajaaraka; Yakni, meminta perlindungan, maka penuhilah permintaannya agar ia bisa mendengar al-Qur’an yang kamu bacakan kepadanya dan agar kamu dapat mengajarkan sesuatu kepadanya tentang ajaran Islam.

Tsumma abligh-Hu ma’manaH (“Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.”) Yakni, hendaknya ia terus dalam keadaan aman hingga ia kembali ke negerinya, kampung halamannya dan tempat yang aman baginya.

Dzaalika bi-annaHum qaumul laa ya’lamuun (“Yang demikian itu, karena mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.”) Yakni, Kami memberikan perlindungan kepada orang-orang seperti mereka agar mereka memahami agama Allah, sehingga agama-Nya menyebar di antara hamba-hamba-Nya.

Ibnu Abi Najih berkata dari Mujahid berkaitan dengan penafsiran ayat ini: “Seseorang datang kepadamu untuk mendengarkan apa yang kamu katakan dan apa yang diturunkan kepadamu, oleh karena itu ia berada dalam perlindungan hingga kamu memperdengarkan kepadanya kalam-kalam Allah, hingga ia kembali ke tempat semula.”

Berdasarkan inilah Rasulullah memberikan perlindungan kepada orang yang datang untuk bertanya atau sebagai utusan, seperti pada hari al-Hudaibiyyah, ketika beliau kedatangan serombongan utusan dari Quraisy di antaranya `Urwah bin Masud, Mukriz bin Hafsh, Suhail bin `Amr dan lain-lain. Satu persatu dari orang-orang musyrik itu menghadap Rasulullah saw. memaparkan permasalahannya. Sehingga mereka mengetahui bagaimana kaum muslimin mengagungkan Rasulullah saw.

Sebuah pemandangan mengagumkan yang tidak mereka jumpai pada diri raja-raja di masa itu. Mereka pulang kepada kaumnya dengan membawa berita tersebut. Peristiwa ini dan peristiwa semisalnya merupakan faktor terbesar masuknya sebagian besar mereka ke dalam agama Islam. Maksudnya adalah, bahwa orang yang datang dari negara kafir Harbi ke negara Islam, baik itu sebagai utusan, berdagang, mengajukan perdamaian atau melakukan gencatan senjata, membawa jizyah atau sebab-sebab semisal, lalu memohon jaminan keamanan kepada Khalifah atau wakilnya, maka ia diberi jaminan keamanan selama masih berada di negara Islam hingga ia pulang ke negaranya.

Tetapi, para ulama mengatakan: “Tidak diperbolehkan memberikan izin tinggal di negara Islam selama satu tahun, akan tetapi hanya selama empat bulan.” Adapun apakah diperbolehkan lebih dari empat bulan dan kurang dari satu tahun, maka para ulama dari kalangan pengikut Imam asy-Syafi’i dan selainnya rahimahumullah berbeda pendapat, sebagian membolehkan dan
sebagian yang lain tidak membolehkan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 5

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 5“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu,… Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. at-Taubah: 5)

Para mufassir berbeda pendapat berkaitan dengan maksud bulan-bulan suci yang dimaksud dalam ayat ini. Ibnu Jarir berkata: Yang dimaksud adalah, yang disebutkan dalam firman Allah: “Di antaranya ada empat bulan suci. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Hal ini dikatakan oleh Abu Ja’far al-Baqir, akan tetapi Ibnu Jarir berkata: “Bulan suci terakhir adalah Muharram.” Hal ini juga diceritakan dari `Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu `Abbas dan pendapat ini juga dikeluarkan oleh adh-Dhahhak. Pendapat ini perlu diteliti lagi. Sedangkan pendapat yang tampak lebih sesuai dengan riwayat al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas, yang juga merupakan pendapat Mujahid, `Amr bin Syu’aib, Muhammad bin Ishaq, Qatadah, as-Sa’di, dan`Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, bahwa yang dimaksud dengan bulan suci di sini adalah empat bulan yang dimaksud dalam: fasiihuu fil ardli arba’ata asy-Hurin (“Maka berjalanlah di muka selama empat bulan.”) (QS: At-Taubah: 2)

Kemudian Allah berfirman: fa idzan salakhal asyHurul hurumu (“Jika bulan-bulan suci itu telah habis.”) Yakni, jika empat bulan [-di mana kamu dilarang memerangi mereka-] telah habis, maka perangilah mereka di manapun kamu menjumpai mereka. Karena pengembalian makna kepada yang madzkur (tertera) lebih diutamakan daripada pengembalian kepada muqaddar (yang tidak tertera), kemudian tentang hukum empat bulan suci akan dijelaskan mendatang pada ayat lain dalam surat ini juga.

Akan tetapi yang masyhur adalah, dikhususkan dengan pelarangan perang di tanah suci dengan adanya firman Allah: “Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangimu di dalamnya. Jika mereka memerangimu [di dalamnya], maka bunuhlah mereka.” (QS. Al-Baqarah: 191)

fakhudzuuHum (“dan tangkaplah mereka”) yakni jadikanlah mereka sebagai tawanan. wahshuruuHum waq’uduu laHum kulla marshadin (“Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.”) Yakni, jangan merasa cukup dengan hanya mendapatkan mereka, akan tetapi kejarlah mereka dan kepunglah mereka di tempat persembunyian dan benteng mereka, serta intailah setiap jalan yang biasa mereka lalui, sehingga mereka merasa tersudutkan. Oleh karena itulah Allah berfirman:

fa in taabuu wa aqaamush shalaata wa aatawuz zakaata fakhalluu sabiilaHum innallaaHa ghafuurur rahiim (“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, maka berilah kebebasan mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyang.”)

Ayat ini dan ayat semisalnyalah yang dijadikan landasan hukum oleh Abu Bakar ra. ketika memerangi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, dimana ayat ini melarang memerangi orang-orang musyrik, jika mereka mau masuk Islam dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

Disini Allah menegaskan dengan tingkatan yang lebih tinggi, lalu dengan tingkatan yang lebih rendah, karena rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat adalah shalat, yang merupakan kewajiban terhadap Allah, lalu setelah itu mengeluarkan zakat yang merupakan amal ibadah yang manfaatnya dapat dirasakan oleh para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, di mana zakat adalah amal perbuatan horizontal yang paling mulia, oleh karena itu Allah sering meletakkan shalat dan zakat secara berdampingan.

Dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim, disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi, bahwa tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat.”

Abu Ishaq berkata dari Abu ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: “Kalian diperintahkan untuk melakukan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa yang tidak mengeluarkan zakat, maka tidak ada shalat baginya (shalatnya tidak diterima).”
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Allah enggan menerima shalat seorang hamba, kecuali jika ia mengeluarkan zakat.” Ia juga berkata: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar, betapa alimnya dia !”

Ayat yang mulia ini adalah ayat as-saif (pedang), di mana dalam hal ini adh-Dhahhak bin Muzahim berkata: “Ayat ini menghapus semua perjanjian antara Nabi dengan salah seorang musyrik, semua perjanjian, dan semua batas waktu yang disepakati.”

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, berkaitan dengan ayat ini: “Tidak ada perjanjian dan perlindungan yang masih berlaku bagi seorang musyrik pun semenjak diturunkannya berita pemutusan hubungan, dan berlalunya bulan-bulan suci.” Batas waktu perjanjian yang dilakukan oleh orang musyrik sebelum diturunkannya berita pemutusan hubungan adalah empat bulan, dari semenjak berita pemutusan hubungan dibacakan hingga 10 awal dari Rabi’ul Akhir. Setelah itu, para mufassir berbeda pendapat berkaitan dengan ayat as-saif ini.

Adh-Dhahhak dan as-Suddi berkata: “Ayat ini dinasakh dengan firman Allah yang artinya: “Kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan.” (QS.’Muhamrnad- 4).”
Sedangkan Qatadah mengatakan yang sebaliknya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 24-25

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 24-25“Allah berfirman: ‘Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.’ (QS. 7:24) Allah berfirman: ‘Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.’” (QS. al-A’raaf: 25)

Ada yang mengatakan, bahwa yang menjadi sasaran percakapan dalam firman-Nya: iHbithuu (“Turunlah kamu berdua,”) adalah Adam, Hawa, iblis dan ular. Dan sebagian mereka ada yang tidak menyebutkan ular. Wallahu a’lam.

Yang menjadi pelaku permusuhan adalah Adam dan Iblis. Oleh karena itu, Allah berfirman di dalam surat Thaahaa yang artinya: “Turunlah kamu berdua (Adam dan iblis) dari Surga bersama-sama.” (QS. Thaahaa: 123) Dan Hawa mengikuti Adam, sedangkan ular, jika benar disebutkan, maka tentu ia mengikuti iblis.

Beberapa ahli tafsir menyebutkan tempat-tempat turunnya mereka semua, di mana berita mengenai hal itu bersumber dari Israiliyyaat, wallahu a’lam. Seandainya pada penentuan tempat tersebut terdapat manfaat bagi para mukallaf (orang-orang dewasa atau yang mendapat tugas dan kewajiban) dalam masalah agama dan dunia mereka, niscaya Allah pasti telah menyebutkannya dalam al-Qur’an atau disampaikan melalui Rasul-Nya.

Firman-Nya lebih lanjut: wa lakum fil ardli mustaqarruw wa mataa’un ilaa hiin (“Dan kamu mempunyai tempat kediamanan kesenangan [tempat mencari kehidupan] di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.”) Maksudnya, tempat tinggal dan umur yang telah ditentukan sampai pada batas waktu tertentu yang telah dituliskan oleh qalam dan ditetapkan oleh takdir, serta dicatat dalam Lauhul Mahfuzh.

Mengenai firman-Nya: mustaqarrun (“Tempat tinggal,”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu kuburan.” Dan masih dari Ibnu ‘Abbas: “mustaqarrun” berarti “Apa yang di atas dan di bawah bumi.” (Kedua keterangan tersebut diriwayatkan Ibnu Abi Hatim)

Firman Allah selanjutnya: qaala fiiHaa tahyauna wa fiiHaa tamuutuuna wa minHaa tukhrajuun (“Allah berfirman: ‘Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu pula kamu akan dibangkitkan.’”) Ayat tersebut sama seperti firman-Nya berikut ini yang artinya:
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakanmu dan kepadanya pula Kami akan mengembalikanmu dan darinya Kami akan mengeluarkanmu pada kesempatan yang lain.” (QS. Thaahaa: 55)

Allah Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia telah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal bagi anak cucu Adam selama hidup di dunia ini. Di bumilah kehidupan, kematian dan kuburan mereka berada. Dan dari bumi itu pula kelak pada hari Kiamat mereka akan dikeluarkan, yang pada hari itu Allah akan mengumpulkan orang-orang yang hidup pertama dan yang terakhir di mana masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amal perbuatannya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 26

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 26“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. al-A’raaf: 26)

Allah memberikan kemurahan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu berupa penciptaan pakaian dan perhiasan bagi mereka. Kata “al-libaasu” dalam ayat tersebut berarti penutup aurat. Sedangkan kata “ar-riyaasy” dan “ar-riisu” berarti sesuatu yang digunakan untuk menghiasi diri.
Jadi pakaian merupakan sesuatu yang bersifat primer (pokok), sedangkan perhiasan hanya sebagai pelengkap dan tambahan semata.

Ibnu Jarir mengatakan: “Dalam percakapan masyarakat Arab, ar-riyasy berarti peralatan dan semua pakaian yang tampak secara lahiriyah.”

Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas dan dikisahkan oleh Imam al-Bukhari juga dari Ibnu ‘Abbas, ar-riyasy berarti harta kekayaan.

Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abul ‘Ala’ asy-Syaami, ia berkata: “Abu Umamah pernah mengenakan pakaian baru, ketika sampai pada tulang selangka, ia mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang memberiku pakaian untuk menutup auratku dan berhias dalam hidupku.’ Kemudian ia mengatakan, aku pernah mendengar ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Barangsiapa mendapatkan baju baru, lalu dipakainya, serta berdo’a ketika sampai ke bagian tulang selangkanya: ‘Segala puji bagi Allah yang memberiku pakaian untuk menutup auratku dan berhias dalam hidupku.’ Kemudian mengambil pakaian yang lapuk, lalu disedekahkan, maka ia berada dalam perlindungan, jaminan dan pemeliharaan Allah, baik ketika ia masih hidup maupun setelah ia mati.’” (Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dan firman Allah berikutnya: wa libaasut taqwaa dzaalika khaiir (“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.”) Sebagian dari ulama membaca kalimat: “wa libaasut taqwaa” dengan menggunakan fathah pada huruf sin. Sedangkan ulama lainnya membacanya dengan menggunakan dhammah pada huruf sin dengan kedudukannya sebagai mubtada’, sedangkan “dzaalika khaiir” sebagai khabar (predikat).

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna kalimat tersebut (libasut-taqwa). ‘Ikrimah berkata: “Ada yang mengatakan, ‘Yaitu apa yang dipakai oleh orang-orang yang bertakwa pada hari Kiamat kelak.’” (Demikian diriwayatkan Ibnu Abi Hatim)

Sedangkan Zaid bin ‘Ali, as-Suddi, Qatadah dan Ibnu Juraij mengatakan: “libaasut taqwaa” adalah iman.
Al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, “Yaitu amal shalih.”
Ad-Diyal bin ‘Amr mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu keceriaan pada wajah.”
Dari ‘Urwah bin az-Zubair: “libaasut taqwaa” “Berarti takut kepada Allah.”
Dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “libaasut taqwaa” berarti merasa takut kepada Allah, lalu Dia menutupi auratnya.”

Demikian itulah makna libasut-taqwa, di mana semua pengertian di atas saling berdekatan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 22-23

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 22-23“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu, nampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun Surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka: ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: ‘Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.’’ (QS. 7:22) Keduanya berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’ (QS. 7:23)” (al-A’raaf: 22-23)

Mengenai firman Allah: rabbanaa dhalamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin (“Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”) Adh-Dhahhak bin Muzahim berkata: “Kata-kata itu merupakan kalimat yang diterima Adam as. dari Rabbnya.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 19-21

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 19-21“(Dan Allah berfirman): ‘Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di Surga, serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dhalim.” (QS. 7:19) Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya dan syaitan berkata: ‘Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam Surga).’ (QS. 7:20) Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.’ (QS. 7:21)” (al-A’raaf: 19-21)

Allah menyebutkan, bahwa Allah membolehkan bagi Adam dan isterinya, Hawa, di Surga untuk memakan semua buah-buahan yang ada di sana kecuali satu pohon saja. Pembicaraan ini telah dikemukakan sebelumnya, yaitu dalam surat al-Bagarah.

Pada saat itu syaitan merasa iri dan berusaha menipu, menggoda dan memperdaya keduanya agar ia dapat merampas semua kenikmatan dan pakaian yang bagus dari keduanya. Dan selanjutnya dengan bohong dan dusta, syaitan berkata: maa naHaakumaa rabbukumaa ‘an HaadziHisy syajarata illaa an takuunaa malakaini (“Rabb kamu berdua tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat.”) Maksudnya, agar kalian berdua tidak menjadi Malaikat atau hidup kekal di Surga. Dan jika kalian berdua berhasil memakan dari pohon tersebut, niscaya kalian berdua akan memperoleh hal tersebut.

Ayat itu sama seperti firman-Nya yang artinya: “Hai Adam, maukah kamu aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.” (ThaaHaa: 120) maksudnya supaya kalian berdua tidak jadi malaikat. Yang demikian itu sama dengan firman Allah yang artinya: “Allah menerangkan [hukum ini] supaya kamu tidak sesat.” (QS. An-Nisaa’: 176)

Dan firman-Nya lebih lanjut: wa qaasama Humaa (“Dan ia [syaitan] bersumpah kepada keduanya”) maksudnya syaitan itu bersumpah dengan menyebut Nama Allah kepada keduanya: innii lakumaa minan naashihiin (“Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua. “) Artinya, sesungguhnya aku (syaitan) sudah ada di sini (Surga) sebelum kalian dan lebih mengetahui tempat ini. Dan hal ini termasuk dalam masalah mufaa’alah (keterkaitan antara satu sama lain). Dan maksudnya adalah salah satu sisi.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 18

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 18“Allah berfirman: ‘Keluarlah kamu dari Surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikutimu, benar-benar Aku akan mengisi Neraka Jahannam denganmu semua.” (QS. al-A’raaf: 18)

Allah menegaskan laknat, pengusiran, pembuangan dan pelenyapan iblis dari kedudukan yang tinggi melalui firman-Nya: ukhruj minHaa madz-uumam mad-huuran (“Keluarlah kamu dari Surga itu sebagai orang terhina lagi terusir.”)

Ibnu Jarir mengatakan: “al madz-uumu” berarti yang ber-aib (memiliki aib/cela) sedangkan “dzaamu” berarti aib. (Dimisal) dengan kalimat: dza-amaHu, yadz-amuHu, dza’man, faHuwa madz-uumun. (Ia telah mencelanya, ia mencelanya, celaan, yang tercela) lalu huruf hamzahnya dibuang, sehingga menjadi: dzamtuHu, adziimuHu, dziiman, wa dzaaman. Kata “adzdzaimun” dan “adzdzaamun” mempunyai pengertian yang lebih parah aibnya daripada kata “adzdzamun”

Lebih lanjut Ibnu Jarir mengatakan: “almad-huuru” maksudnya adalah: “almuqshaa” yaitu terbuang lagi terusir.

Dan firman-Nya: faman tabi’aka minHum la am-la-anna jaHannama minkum ajma’iin (“Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikutimu, maka Aku benar-benar akan mengisi Neraka Jahannam dengan kalian semua.”) Adalah sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Allah berfirman: ‘Pergilah, barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, maka sesungguhnya Neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penjaga.” (QS. Al-Israa’: 63-65)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 16-17

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 16-17“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, (QS. 7:16) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’ (QS. 7:17)” (al-A’raaf: 16-17)

Allah memberitahukan, bahwa setelah Allah memberikan tangguh kepada iblis; ilaa yaumi yub’atsuuna (“Sampai pada waktu mereka dibangkitkan.”) Dan Iblis benar-benar merasa yakin akan penangguhan tersebut, maka ia pun benar-benar melawan dan durhaka seraya berkata: fabimaa aghwaitanii la-aqu’udanna laHum shiraathakal mustaqiima (“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.”) Maksudnya, sebagaimana Engkau telah menjadikanku tersesat.

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Sebagaimana Engkau telah menyesatkanku.”
Sedangkan ulama lainnya mengatakan: “Sebagaimana Engkau telah membinasakanku, maka aku pun akan menghadang hamba-hamba-Mu yang Engkau ciptakan dari keturunan Adam, di mana dengan sebab dia, Engkau menjauhkanku dari: shiraathakal mustaqiim (“Jalan-Mu yang lurus,”) yaitu jalan kebenaran dan keselamatan. Dan aku juga akan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran dan keselamatan tersebut, supaya mereka tidak menyembah dan mengesakan-Mu, dikarenakan Engkau telah menyesatkanku.”

Sebagian ahli ilmu Nahwu berpendapat, huruf ba’ di sini merupakan kata sumpah, seolah-olah ia mengatakan: “Karena engkau telah menyesatkanku, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi anak cucu Adam dari jalan-Mu yang lurus.”

(Mengenai ash-Shirathul Mustaqiim), Ibnu Jarir mengatakan: “Yang benar adalah, bahwa ash-Shirathul Mustaqiim itu lebih umum dari itu semua.”
Yang demikian itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, dari Sirah bin Abi al-Fakih, ia berkata, aku pernah mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya syaitan itu menghadang anak Adam di semua jalannya. Ia menghadang ketika akan masuk Islam, di mana ia berbisik: `Apakah engkau akan masuk Islam dan meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu?’ Namun anak Adam itu tidak menghiraukannya dan tetap masuk Islam. Lalu (ia) menghadang ketika anak Adam akan hijrah, di mana iblis berbisik: `Apakah engkau akan berhijrah meninggalkan tanah airmu? Sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah itu seperti kuda lari yang tidak tahu ke mana akhirnya.’

Maka anak Adam itu pun tetap tidak menggubrisnya dan tetap berhijrah. Selanjutnya, iblis menghadang anak Adam ketika hendak pergi berjihad, yaitu jihad memerangi hawa nafsu dan mengorbankan harta benda. Maka si iblis itu berkata: `Engkau akan berperang dan akan terbunuh, lalu isterimu dikawini orang lain dan kekayaanmu dibagi-bagi.’ Maka anak Adam itu menentangnya dan berjihad. Lebih lanjut Rasulullah bersabda: `Barangsiapa di antara mereka yang berbuat seperti itu lalu mati, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam Surga. Jika ia terbunuh, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke Surga. Jika tenggelam, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke Surga. Atau jika ia dijatuhkan oleh tunggangannya, maka suatu kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke Surga.” (HR. Ahmad)

Dan firman Allah berikutnya: tsumma la-atiyannaHum mim baini aidiiHim wa min khalfiHim (“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka.”) Mengenai firman-Nya ini, ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, maksudnya, iblis berkata: “Aku akan jadikan mereka ragu akan kehidupan akhirat mereka.”

Wa min khalfiHim (“Dan dari belakang mereka.”) Maksudnya, aku akan menjadikan mereka cinta kepada dunia mereka. Wa ‘an aimaaniHim (“Dan dari sebelah kanan mereka.”) Maksudnya, aku akan menjadikan urusan agama samar-samar bagi mereka. Wa ‘an syamaa-iliHim (“Dan dari sebelah kiri mereka.”) Dan akan aku jadikan mereka menyukai kemaksiatan.

Sedangkan Ibnu Jarir memilih berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah pencampuradukan antara jalan kebaikan dengan jalan keburukan. Maka iblis menghalangi mereka dari kebaikan dan menjadikan keburukan itu indah dalam pandangan mereka.

Mengenai firman Allah: tsumma la aatiyannaHum mim baini aidiiHim wa min khalfiHim wa ‘an aimaaniHim wa ‘an syamaa-iliHim (“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka.”) Al-Hakam bin Abban mengatakan dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Dalam ayat itu Allah tidak mengatakan, ‘Dari atas mereka,’ karena
rahmat itu turun dari atas mereka.”

Dan mengenai firman-Nya: wa laa tajidu aktsaraHum syaakiriin (“Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur [taat],”) Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “(Bersyukur) maksudnya, mengesakan-Nya. ”

Pernyataan iblis tersebut hanya merupakan prasangka dan dugaan belaka, tapi kemudian sesuai dengan kenyataan, sebagaimana firman Allah:

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang yang beriman. Dan tidak ada kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat, dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Rabbmu Mahamemelihara segala sesuatu.” (QS. Saba’: 20-21)

Oleh karena itu, dalam hadits disebutkan (dianjurkan) untuk senantiasa memohon perlindungan dari kekuasaan syaitan atas manusia dari segala sisi. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad (yang disandarkan kepada Umar), ia mengatakan, aku pernah mendengar `Abdullah bin `Umar berkata: “Rasulullah tidak pernah meninggalkan do’a-do’a itu, baik ketika pagi hari maupun sore hari tiba, yaitu:

doa rasulullah di waktu pagi dan sore“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku dan amankanlah ketakutanku. Ya Allah, jagalah diriku dari depan, belakang, sebelah kanan dan sebelah kiriku, serta dari atasku. Dan aku berlindung dengan kebesaran-Mu agar tidak dibinasakan dengan tiba-tiba dari bawahku.’”

Menurut Waki’: “min tahtii” (dari bawahku)” berarti terbenam ke dalam bumi.
(Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan ia mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih.)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 13-15

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 13-15“Allah berfirman: ‘Turunlah kamu dari Surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina!’ (QS. 7:13) Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’ (QS. 7:14) Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ (QS. 7:15)” (al-A’raaf: 13-15)

Allah berfirman yang ditujukan kepada Iblis dengan satu perintah yang bersifat qadari kauni (ketentuan Allah berupa sunatullah): faHbith minHaa (“Turunlah kamu dari Surga itu!”) Yakni disebabkan kemaksiatan yang kamu lakukan terhadap perintah-Ku dan keluarnya kamu dari ketaatan kepada-Ku.

Famaa yakuunu laka an tatakabbara fiiHaa (“Karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.”) Kebanyakan dari ahli tafsir berpendapat, dhamir (kata ganti) “Haa” itu kembali ke Surga. Tetapi ada kemungkinan juga kembali kepada kedudukan yang ia berada di dalamnya, di tempat kemulaan yang paling tinggi.

Fakhruj innaka minash shaaghiriin (“Maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”) Maksudnya, hina dina, sebagai perlakuan terhadapnya dengan kebalikan dari yang ia inginkan dan (hal ini) adalah sebagai balasan terhadap keinginannya, yaitu dengan hal yang sebaliknya. Dan pada saat itu, iblis terlaknat meminta penangguhan sampai pada hari Kiamat kelak. Di mana ia berkata: andhirnii ilaa yaumi yub’atsuuna qaala innaka minal mundhariin (“’Berikan tangguh kepadaku sampai waktu mereka dibangkitkan. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’)

Allah : mengabulkan apa yang diminta iblis, dikarenakan hal itu terdapat hikmah, iradah (keinginan) dan masyi-ah (kehendak), yang tidak ada (seorang pun) yang dapat menentang dan melawan hukum-Nya. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 12

11 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 12“Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu.’ Iblis menjawab: ‘Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. al-A’raaf: 12)

Dalam menjelaskan firman Allah Ta’ala: maa mana’aka allaa tasjuda idz amartuka (“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud [kepada Adam] pada waktu Aku memerintahkanmu?”) Sebagian ahli ilmu Nahwu mengatakan: “Kata “Laa” di sini merupakan kata tambahan.” Sedangkan sebagian lainnya berpendapat: kata “Laa” itu ditambahkan untuk menegaskan keingkaran iblis. Seperti ungkapan seorang penyair:
Maa in ra-aitu wa laa sami’tu bimitsliHi
(“Aku benar-benar tidak melihat dan tidak mendengar yang sepertinya.”)

Disebutkannya kata “in” dalam syair itu yang merupakan kata nafyu (penafian) atas maa nafyu (huruf maa yang bermakna penafian), adalah untuk menegaskan penafian. Para ulama tersebut mengatakan, demikian pula pada firman Allah di sini: maa mana’aka allaa tasjuda idz amartuka (“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud [kepada Adam] pada waktu Aku memerintahkanmu?”) Dengan didahului sebelumnya dengan firman-Nya yang ini: lam yakum minas saajidiin (“Dia [iblis] tidak termasuk mereka yang bersujud”)

Keduanya diceritakan oleh Ibnu Jarir tetapi keduanya ia tolak. Dan ia sendiri memilih berpendapat bahwa kata “Man’aka”mengandung makna fi’il (kata kerja) lain, yang perkiraan artinya sebagai berikut: “Apa yang memberatkan, mengharuskan dan memaksamu untuk tidak bersujud ketika Aku (Allah) memerintahkanmu,” dan yang semacam itu. Yang terakhir ini adalah pendapat yang kuat dan baik. Wallahu a’lam.

Sedangkan ucapan iblis la’natullahu ‘alaihi: ana khairum minHu (“Aku lebih baik darinya.”) Adalah merupakan alasan (pembelaan diri) yang kedudukannya lebih besar daripada sekedar dosa.

Bersambung