Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 57-58

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 57-58“Dan Allahlah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS. 7:57) Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (QS. 7:58)” (al-A’raaf: 57-58)

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia adalah pencipta langit dan bumi dan Dialah pengendali, pemutus, pengatur dan penunduknya, serta membimbing hamba-Nya supaya berdo’a kepada-Nya, karena Dia Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki, Allah pun mengingatkan, bahwa Dialah Mahapemberi rizki dan menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati pada hari Kiamat kelak, Allah berfirman: wa Huwal ladzii yursilur riyaaha nusyran (“Dan Allahlah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira.”) Maksudnya, angin itu
bertiup menerbangkan awan yang membawa air hujan.

Dan firman-Nya: baina yadai rahmatiHi (“Sebelum kedatangan rahmat-Nya.”) Maksudnya, sebelum kedatangan hujan.

Firman-Nya lebih lanjut: hattaa idzaa aqaalat sahaaban tsiqaalan (“Sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung.”) Artinya, angin itu membawa awan-awan yang mengandung banyak air hujan sehingga benar-benar berat dan dekat dari bumi dalam keadaan pekat.

Dan firman-Nya: suqnaaHu libaladim mayyitin (“Kami halau ke suatu daerah yang tandus”) maksudnya ke daerah yang mati, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan suatu tanda [kekuasaan Allah yang besar] bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu.” (Yaasiin: 33)

Oleh karena itu Allah berfirman: fa akhrajnaa biHii min kullits tsamaraati kadzaalika nukhrijul mauta (“Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu, pelbagai buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati.”) Artinya, sebagaimana Kami telah menghidupkan tanah ini setelah kematiannya, maka seperti itu Pula Kami menghidupkan jasad manusia pada hari Kiamat kelak, setelah akhir kesudahannya menjadi hancur berantakan, Allah menurunkan air dari langit membanjiri bumi selama empat puluh hari, dari itu tumbuhlah jasad manusia dalam kuburnya seperti biji tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dalam tanah. Makna seperti ini cukup banyak terdapat di dalam al-Qur’an, Allah membuat perumpamaan untuk hari Kiamat dengan menghidupkan tanah setelah kematian (ketandusan)nya.

Oleh karena itu, Allah berfirman: la’allakum tadzakkaruun (“Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”)

Firman Allah Ta’ala berikutnya: wal baladuth thayyibu yakhruju nabaatuHu bi-idzni rabbiHi (“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah.”) Maksudnya, tanah yang baik akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan cepat dan baik. Seperti firman Allah yang artinya: “Allah menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik.” (QS. Ali-‘Imran: 37)

Firman-Nya: wal ladzii khabutsa laa yakhruju illaa nakidan (“Dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh susah payah.”) Mujahid dan ulama lainnya mengatakan, seperti misalnya, tanah yang berair (lembab serta asin) dan lain sebagainya.

Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas mengenai ayat itu: “Bahwa hal ini merupakan perumpamaan yang disebutkan Allah bagi orang mukmin dan orang kafir.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan terhadap apa yang diwahyukan Allah kepadaku dalam hal ilmu dan petunjuk, yaitu bagaikan hujan lebat yang turun ke bumi. Maka ada tanah yang subur yang dapat menerima air dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada juga tanah gundul yang dapat menahan air sehingga orang-orang dapat mengambil manfaat dari air tersebut, sehingga mereka dapat minum, memberi minum hewan, menyiram tanaman dan mengairi sawah. Dan ada juga tanah yang berupa tanah datar, tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikian itulah perumpamaan orang yang mengerti tentang agama Allah dan berguna baginya apa yang diwahyukan kepadaku, lalu (setelah) ia mengetahui, maka ia mengajarkan(nya). Dan (juga) perumpamaan bagi orang yang tidak mengangkat kepalanya (memberikan perhatian) dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang diturunkan kepadaku.” (HR. Imam Muslim dan an-Nasa’i)

bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: