Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 63-64

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 63-64“Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran, bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu, agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat? (QS. 7:63) Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (QS. 7:64)” (al-A’raaf: 63-64)

Firman Allah ini memberitahukan mengenai keadaan Nuh, di mana ia berkata kepada kaumnya: awa ‘ajibtum (“Dan apakah kamu [tidak percaya] dan heran.”) Maksudnya, janganlah kalian heran terhadap semuanya ini, karena bukan suatu hal yang mengherankan, jika Allah Ta’ala mewahyukan kepada salah seorang di antara kalian semata-mata sebagai belas kasihan, kelembutan dan kebaikan kepada kalian, untuk mengingatkan kalian, supaya kalian menghindari siksa Allah dan supaya kalian tidak menyekutukan-Nya. Wa la’allakum turhamuun (“Mudah-mudahan kamu mendapat rahmat.”)

Firman Allah: fakadzdzbuuHu (“Maka mereka mendustakan Nuh.”) Artinya, mereka tetap mendustakan dan menentangnya dan tidak ada dari mereka yang beriman kepadanya, kecuali hanya sedikit sekali. Sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat lain.

Fa anjainaaHu wal ladziina ma’aHuu fil fulki (“Kemudian Kami selamatkan ia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera.”) Yaitu, sebuah kapal. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka Kami selamatkan Nuh dan para penumpang kapal itu. ” (QS. Al-‘Ankabuut: 15).
Wa aghraqnal ladziina kadzdzabuu bi aayaatinaa (“Dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.”)

Firman-Nya: innaHum kaanuu qauman ‘amiin (“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta.”) Yakni dari kebenaran, mereka tidak dapat melihatnya dan tidak dapat petunjuk untuk menuju kepadanya. Dalam kisah ini Allah Ta’ala menjelaskan, bahwa Dia menghukum musuh-musuh-Nya dan menyelamatkan Rasul-Nya beserta orang-orang yang beriman, serta menghancurkan semua musuh-musuhnya dari kalangan kaum kafir. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya Kami menolong Rasul-Rasul Kami.” (QS. Al-Mukmin: 51)

Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada makhluk-Nya di dunia dan akhirat, bahwa kesudahan yang baik, kemenangan dan keberuntungan itu adalah milik orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana Allah telah membinasakan kaum Nabi Nuh as. dengan menenggelamkan mereka dan menyelamatkan Nabi Nuh as. dan para pengikutnya yang beriman.

Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam: “Terasa sempit bagi kaum Nuh tanah datar dan pegunungan.”

Sedangkan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Allah tidak mengadzab kaum Nuh, melainkan bumi ini dipenuhi oleh mereka, dan tidak ada sebidang tanah pun kecuali sudah ada pemiliknya.”

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: