Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 65-69

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 65-69“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada Ilah (yang haq) bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’ (QS. 7:65) Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.’ (QS. 7:66) Hud berkata: ‘Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam. (QS. 7:67) Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.’ (QS. 7:68) Apakah kamu (tidak percaya) dan heran, bahwa datang kepadamu peringatan dart Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh dan Allah telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 7:69)” (al-A’raaf: 65-69)

Allah Ta’ala menyatakan, sebagaimana Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka Kami juga mengutus kepada kaum `Aad, saudaranya sendiri, Hud.

Muhammad bin Ishaq berkata: “Mereka itu adalah anak-cucu ‘Aad bin Tram bin ‘Uush bin Saam bin Nuh.”

Namun menurutku (Ibnu Katsir): “Mereka adalah kaum ‘Aad pertama yang disebut Allah Ta’ala. Mereka itu semuanya merupakan keturunan ‘Aad bin Iram. Mereka terkenal dengan bangunan-bangunannya yang tinggi dan kuat. Sebaaimana firman Allah yang artinya:
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? Yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.” (QS. Al-Fajr: 6-8)

Hal itu karena kokohnya tenaga dan besarnya kekuatan mereka. Sebagaimana difirmankan Allah yang artinya:
“Adapun kaiim ‘Aad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?’ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.” (QS. Fushshilat: 15)

Tempat tinggal mereka di Yaman, di Ahqaf, yaitu pegunungan pasir. Ia [nabi Huud] adalah orang yang paling mulia nasabnya di antara kaumnya, karena para Rasul utusan Allah Ta’ala itu diambil dari kabilah yang paling baik dan mulia. Tetapi kaum Nabi Hud ini sebagaimana kerasnya tubuh mereka, maka seperti itu pula hati mereka mengeras. Mereka adalah umat yang paling keras mendustakan kebenaran. Oleh karena itu, Hud as. mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, mentaati dan bertakwa kepada-Nya.

Qaalal mala-ul ladziina kafaruu min qaumiHi (“Para pemuka yang kafir dari kaumnya berkata.”) Yang dimaksud dengan al-mala’ adalah orang-orang terhormat, para pemimpin dan pemuka di antara mereka. Innaa lanaraaka fii safaaHatiw wa innaa ladhunnuka minal kaadzibiin (“Sesungguhnya kami benar-benar memandangmu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggapmu termasuk orang-orang yang berdusta.”) Maksudnya, kamu (Huud) berada dalam kesesatan, di mana kamu mengajak kami untuk meninggalkan peribadatan kepada berhala menuju peribadatan kepada Allah semata. Sebagaimana para pemuka kaum Quraisy merasa heran terhadap ajakan peribadatan kepada Ilah yang satu, dengan ucapan mereka yang artinya: “Apakai ia menjadikan ilah-ilah itu, Ilah yang satu saja?” (QS. Shand: 5)

Nabi Huud berseru: qaala yaa qaumi laisa bii safaaHatuw walaakinnii rasuulum mir rabbil ‘aalamiin (“Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam.”) Maksudnya, aku tidak seperti yang kalian anggap, tetapi aku datang dengan membawa kebenaran dari Allah, yang telah menciptakan segala sesuatu, Allah adalah Rabb pemelihara dan pemilik segala sesuatu.

Uballighukum risaalaati rabbii wa ana nashiihun amiin (“Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepada kamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.”) Demikian itulah berbagai sifat yang dimiliki oleh para Rasul, yaitu menyampaikan, memberi nasihat dan dapat dipercaya.

A wa ‘ajibtum an jaa-akum dzikrum mir rabbikum ‘alaa rajulim minkum liyundzirakum (“Apakah kamu [tidak percaya] dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara kamu untuk memberi peringatan kepadamu?”) Artinya, janganlah kalian merasa heran jika Allah mengutus seorang Rasul kepada kalian dari kalangan kalian sendiri, untuk memperingatkan kalian dari siksa Allah dan perjumpaan dengan-Nya, tetapi hendaklah kalian memuji-Nya atas semuanya itu.

Wadzkuruu idz ja’alakum khulafaa-a mim ba’di qaaumi nuuhi (“Dan ingatlah olehmu sekalian pada waktu Allah menjadikanmu sebagai para pengganti [yang berkuasa] sesudah lenyapnya kaum Nuh.”) Maksudnya, hendaklah kalian mengingat nikmat Allah yang diberikan kepada kalian, di mana Allah telah menciptakan kalian termasuk keturunan Nuh, yang mana semua penduduk bumi dibinasakan Allah melalui do’anya, ketika mereka menentang dan mendustakannya.

Kemudian Nabi Hud berkata: wa zaadakum fil khalqi basthaH (“Dan Allah telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakan kamu [daripada kaum Nub itu]”) Artinya, Allah Ta’ala telah memberikan kelebihan pada bentuk tubuh kalian atas umat manusia. Yaitu, Allah telah menjadikan kalian lebih tinggi daripada umat-umat lain dari jenis kalian. Sebagaimana firman-Nya dalam kisah Thalut, yang artinya: “Dan (Allah) menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (QS. Al-Baqarah: 247)

Fadzkuruu aalaa AllaaHi (“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah.”) Yaitu berbagai macam nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kalian. La’allakum tuflihuun (“Agar kamu mendapat keberuntungan.”)

bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: