Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 70-72

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 70-72“Mereka berkata: ‘Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. 7:70) Ia berkata: ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabbmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah denganku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersamamu.’ (QS. 7:71) Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tidaklah mereka orang-orang yang beriman. (QS. 7:72)” (al-A’raaf: 70-72)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang kesombongan, kelaliman, penentangan dan keingkaran mereka terhadap Huud as.:
Qaaluu aji’tanaa lina’budallaaHa wahdaHu (“Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada kami agar Kami hanya menyembah Allah saja.’”) Oleh karena itu, Huud as. pun berkata kepada mereka: qad waqa’a ‘alaikum mir rabbikum rijsuw wa ghadlab (“Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabbmu.”) maksudnya dengan ucapakan kalian seperti itu, sudah pasti kalian akan mendapatkan adzab dan kemurkaan dari Rabb kalian.

Menurut suatu pendapat bahwa “rijsun” (‘adzab, laknat) adalah perubahan dari “rijzun” (‘adzab). Dan dari Ibnu ‘Abbas maknanya adalah kemurkaan dan kemarahan.

Atajaadiluuna nii fii asmaa-in samaitumuuHaa antum wa aabaa-ukum (“Apakah kamu hendak berbantah denganku tentang nama-nama [berhala] yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya?”) Maksudnya, apakah kalian akan berhujjah kepadaku mengenai berhala-berhala yang kalian dan nenek moyang kalian telah menamainya sebagai ilah-ilah, padahal semua berhala itu sama sekali tidak dapat memberikan mudharat dan manfaat bagi kalian. Dan Allah Ta’ala sendiri tidak memberikan untuk kalian suatu hujjah atau punyetunjuk atas penyembahannya.

Oleh karena itu Dia berfirman: maa nazzalallaaHu biHaa min sulthaanin fantadhiruu innii ma’akum minal muntadhiriin (“Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu. Maka mnggulah [adzab itu], sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersamamu.”)

Yang demikian itu merupakan ancaman dan peringatan keras seorang Rasul terhadap kaumnya. Oleh karenanya, hal itu diikuti dengan firman-Nya: fa anjainaaHu wal ladziina ma’aHu birahmatim minnaa wa qatha’naa daabiral ladziina kadzdzabuu bi aayaatinaa wa maa kaanuu mu’miniin (“Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan Kami dan tidaklah mereka orang-orang yang beriman.”)

Allah telah menyebutkan bagaimana mereka itu dibinasakan tempat-tempat lain dalam ayat al-Qur’an, yaitu dengan mengirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak menyisakan sesuatu yang dilandanya melainkan ia jadikan hancur berantakan. Yang demikian disebabkan karena mereka sangat sombong lagi angkuh. Allah Ta’ala membinasakan mereka melalui hembusan angin yang sangat kencang yang dapat menerbangkan salah seorang dari mereka ke udara, lalu menjatuhkan lagi dengan kepala di bawah sehingga kepalanya terpisah dari badannya.
Oleh karena itu Allah berfirman yang artinya: “Seakan-akan mereka itu tunggul-tunggul pobon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al-Haaqqah: 7)

Muhammad bin Ishak mengatakan, “Mereka itu bertempat tinggal di Yaman, antara Oman dan Hadramaut. Dengan kelebihan kekuatan yang mereka miliki, yang diberikan oleh Allah, mereka menyebar luas di muka bumi dan menjajah penduduknya. Mereka adalah penyembah berhala. Maka Allah Ta’ala mengutus kepada mereka Huud as, seorang yang benasab paling baik di antara mereka dan paling mulia kedudukannya. la perintahkan mereka untuk mengesakan Allah semata dan tidak menjadikan ilah yang lain selain diri-Nya dan agar mereka menghentikan tindakan mendhalimi orang lain.

Namun mereka menolak dan mendustakan Nabi Huud as, dan mereka berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Meskipun demikian, ada beberapa orang dari mereka yang mau mengikuti Nabi Huud, tetapi dalam jumlah yang tidak begitu banyak dan mereka merahasiakan serta menyembunyikan keimanan mereka.

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: