Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 73-78

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 73-78“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata: ‘Hai kaumku, beribadah kepada Allah, sekali-kali tidak ada Ilah (yang haq) bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.’ (QS. 7:73) Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS. 7:74) Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara rnereka: ‘Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi Rasul) oleh Rabbnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya.’ (QS. 7:75) Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.’ (QS. 7:76) Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata: ‘Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).’ (QS. 7:77) Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan ditempat tinggal mereka. (QS. 7:78)” (al-A’raaf: 73-78)

Para ahli tafsir dan nasab mengatakan, “Tsamud bin ‘Atsir bin Iram bin Saam bin Nuh, ia adalah saudara Jadis bin ‘Atsir. Demikian juga dengan kabilah Thasm. Mereka semua adalah kabilah-kabilah dari bangsa Arab ‘Aribah (Arab asli) yang hidup sebelum Nabi Ibrahim as. Kaum Tsamud ini muncul setelah kaum ‘Aad. Tempat tinggal mereka sudah sangat terkenal, yaitu terletak antara Hijaz dan Syam sampai ke lembah al-Qura dan sekitamya. Rasulullah pernah melewati perkampungan dan tempat tinggal mereka, ketika beliau hendak berangkat ke Tabuk pada tahun kesembilan Hijrah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: “Rasulullah ketika sedang berada di Hijr (daerah kaum Tsamud), beliau saw. bersabda: “Janganlah kalian masuk ke tempat orang-orang yang disiksa itu kecuali jika kalian dalam keadaan menangis. Jika tidak dapat menangis, maka janganlah kalian memasukinya, dikhawatirkan kalian tertimpa seperti apa yang telah menimpa mereka.” (HR. Ahmad)
Asal hadits tersebut dikeluarkan di dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)

Dan firman Allah Ta’ala: wa ilaa tsamuuda (“Dan kepada Tsamud.”) Maksudnya, Kami telah mengutus kepada kabilah Tsamud, saudara mereka sendiri, Shalih. Qaala yaa qaumi’budullaaHa maa lakum min liaaHin ghairuHu (“Ia berkata, ‘Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada Ilah [yang haq] bagimu selain-Nya.’”) Dengan demikian, seluruh Rasul itu menyerukan ibadah kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya, Bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

Firman Allah selanjutnya: qad jaa-atkum bayyinatum mir rabbikum HaadziHii naaqatullaaHi lakum aayatan (“Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu.”) Maksudnya, telah datang kepada kalian hujjah dari Allah yang membenarkan apa yang aku bawa.

Mereka sebelumnya meminta kepada Shalih agar ia mendatangkan untuk mereka satu tanda dan mengusulkan supaya ia mengeluarkan seekor unta betina yang sedang hamil dari sebongkah batu besar yang keras yang mereka lihat dengan mata kepala mereka, satu-satunya batu besar yang terletak di sisi Hijr, batu itu diberi nama al-Kaatibah. Kemudian Nabi Shalih mengikat janji dengan mereka, yaitu jika Allah mengabulkan permintaan mereka, maka mereka akan beriman dan mengikutinya. Setelah mereka memberikan sumpah dan janji kepadanya, maka Nabi Shalih pun berdiri mengerjakan shalat dan berdo’a kepada Allah. Kemudian batu itu pun bergetar, lalu retak dan keluarlah darinya seekor unta betina yang sedang hamil, yang janinnya bergerak-gerak di antara kedua sisinya, seperti yang mereka minta.

Pada saat itu, pimpinan mereka, yang bernama Junda’ bin `Amr dan orang-orang yang bersamanya beriman. Dan para pemuka kaum Tsamud yang lainnya pun akan beriman juga, tetapi dihalang-halangi oleh Dzu’ab bin `Amr bin Labid dan al-Hubab, seorang penjaga berhala mereka, serta Rabab bin Sha’ar bin Jalhas. Junda’ bin ‘Amr mempunyai saudara sepupu yang bernama Syihab bin Khalifah bin Muhilat bin Labid bin Haras, termasuk dari kalangan orang Tsamud yang terhormat dan terpandang juga akan memeluk Islam, tetapi dihalang-halangi oleh mereka itu. Akhirnya ia pun mentaati mereka.

Dan mengenai hal itu ada seorang mukmin dari kalangan kaum Tsamud yang bernama Mihwasy bin Atsamah bin ad-Damil as, mengatakan:

“Dan sekelompok orang dari keluarga `Amr, menyeru Syihab agar memeluk agama Nabi.
(Ia adalah) seorang yang amat mulia dari seluruh kaum Tsamud,
pun berminat memenuhi (seruan itu). Seandainya ia memenuhi.
Niscaya Shalih menjadi terhormat di tengah-tengah kami. Dan karena
Nabi, mereka tidak memihak Dzu’ab.
Tetapi orang-orang sesat dari penduduk Hijr, berpaling pergi setelah
mendapat petunjuk.”

Setelah unta itu melahirkan, ia dan anaknya tinggal beberapa saat di tengah-tengah mereka, meminum air dari sumur satu hari dan memberikan kesempatan bagi mereka (kaum Tsamud) untuk meminumnya satu hari. Mereka meminum susu unta betina itu pada hari unta itu meminum air sumur, mereka memeras susunya sehingga mereka mengisi semua tempat minum dan bejana mereka sekehendak hati. Sebagaimana dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka [dengan unta tersebut]. Tiap-tiap giliran minum dihadiri [oleh yang punya giliran] (al-Qamar: 28).
Dan firman-Nya yang artinya: “[Shalih menjawab: ‘Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kalian mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air pada hari yang ditentukan.’”) (QS. Asy-Syu’araa’: 155)

Unta betina itu bebas berkeliaran di beberapa tempat di lembah tersebut, berangkat melalui suatu jalan dan kembali melalui jalan yang lain. Unta tersebut banyak mengambil air, menurut yang disebutkan, ia merupakan makhluk yang besar sekali dan menjadi pemandangan yang menakjubkan. Sehingga ketika berjalan melewati binatang-binatang ternak, maka binatang-binatang ternak itu langsung lari menjauh darinya.

Setelah hal itu berlangsung cukup lama dan mereka pun semakin mendustakan Nabi Shalih as., maka mereka bermaksud membunuh unta betina tersebut, supaya mereka dapat memonopoli air pada setiap harinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa mereka semua telah sepakat untuk membunuh itu.

Qatadah mengatakan, “Telah sampai berita kepadaku bahwa orang membunuhnya itu telah berkeliling kepada semua orang bahwa mereka menyetujui pembunuhan terhadap unta betina tersebut. Bahkan para wanita yang berada dalam pingitan, juga anak-anak pun telah menyetujuinya.”

Mengenai hal itu saya (Ibnu Katsir) katakan, “Dan itulah lahiriyah dari firman Allah Ta’ala yang artinya: “Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Rabb mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka. Kemudian Allah menyamaratakan mereka (dengan tanah).” (QS. Asy-Syams: 14).”

Dia juga berfirman, yang artinya: “Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu.” (QS. Al-Israa’: 59)

Selanjutnya Allah berfirman: fa’aqarun naaqata (“Kemudian mereka sembelih unta betina itu.”) Penisbatan perbuatan tersebut pada seluruh kabilah, menjadi bukti bahwa mereka semua telah menyetujuinya. Wallahu a’lam.

Imam Abu Ja’far bin Jarir dan ahli tafsir lainnya menyebutkan, bahwa sebab dibunuhnya unta itu adalah ada seorang wanita dari kalangan mereka yang bernama ‘Unaizah binti Ghanam bin Majlaz, yang juga mempunyai sebutan Ummu ‘Utsman. Ia adalah seorang wanita kafir yang sudah tua yang sangat memusuhi Nabi Shalih as. Wanita tua ini mempunyai beberapa orang puteri yang cantik-cantik serta kaya raya. Suaminya adalah Dzu’ab bin ‘Amr, salah seorang pemimpin kaum Tsamud. Ada juga wanita lain, bernama Shadaqah binti al-Muhaya bin Zuhair bin Mukhtar, yang juga mempunyai kedudukan terhormat, kaya dan cantik. Dahulu ia pernah dinikahi oleh seorang muslim dari kalangan kaum Tsamud, tetapi kemudian is menceraikan laki-laki itu.

Kedua wanita itu sama-sama akan memberi upah kepada siapa pun yang dapat membunuh unta betina itu. Shadaqah mengundang seseorang yang bernama al-Hubab, dan menawarkan dirinya, jika ia dapat membunuh unta betina tersebut. Tetapi al-Hubab menolak tawaran tersebut. Setelah itu, ia memanggil anak pamannya (sepupunya) yang bernama Masda’ bin Mahraj bin al-Muhayya, dan Masda’ pun menerima tawaran itu. Sedangkan ‘Unaizah binti Ghanam mengundang Qidar bin Salif bin Jidz’i. Qidar ini adalah seorang yang berkulit coklat tua dan bertubuh pendek. Orang-orang menganggapnya sebagai anak wanita pezina dan bukan dari nasab ayahnya, yaitu Salif. Tetapi sebenarnya ayahnya bernama Shihyad, hanya saja Qidar sendiri dilahirkan dalam asuhan Salif.

‘Unaizah mengatakan kepadanya, “Aku akan beri anak gadisku mana yang engkau suka, dengan syarat engkau harus menyembelih unta betina milik Shalih. Pada saat itu, Qidar bin Salif dan Masda’ bin Mahraj berangkat dengan membujuk para pembangkang dari kaum Tsamud. Kemudian ada tujuh orang dari mereka yang mau memenuhi bujukan keduanya, sehingga jumlah mereka menjadi sembilan orang laki-laki. Dan mereka itulah yang oleh Allah sebutkan dalam firman-Nya yang artinya:
“Dan adalah di kota itu (al-Hijr) sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi dan mereka tidak berbuat kebaikan. “ (QS. An-Naml: 48)

Mereka adalah pimpinan dalam kaum mereka, maka mereka pun berhasil menarik kabilah kafir itu secara keseluruhan hingga mau mematuhi mereka. Selanjutnya mereka berangkat dan mengintai unta betina milik Shalih, ketika unta itu kembali dari sumber air. Sedangkan Qidar sendiri sembunyi di bawah sebongkah batu yang menjadi tempat lewat unta tersebut, dan Masda’ pun bersembunyi di sebongkah batu yang lain. Ketika unta tersebut berjalan melewati tempat yang berada di bawah penjagaan Masda’, maka ia langsung melepas anak panah ke arah unta tersebut hingga tepat mengenai tulang betisnya. Kemudian’Unaizah binti Ghanam keluar dan memerintahkan anak gadisnya, yang mana anaknya itu adalah wanita yang paling cantik, untuk memperlihatkan diri kepada Qidar dan kelompoknya. Lalu Qidar menghujamkan pedang dengan kerasnya ke arah unta tersebut sehingga urat kaki itu putus dan jatuh tersungkur ke tanah, lalu ia melenguh satu kali untuk memperingatkan anaknya, kemudian Qidar menusuk leher unta itu menyembelihnya, sedang anak unta tersebut lari ke gunung yang sangat terjal, lalu naik ke atas sebongkah batu di gunung itu sambil melenguh.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, dari Ma’mar dari seseorang yang al-Hasan al-Bashri, bahwa anak unta itu mengatakan, “Ya Rabbku, di mana ibuku.” Dan disebutkan, bahwa anak unta itu melenguh tiga kali, masuk ke dalam batu dan menghilang di batu tersebut.

Ada juga yang menyebutkan bahwa, mereka mengejar anak unta sebut dan menyembelihnya bersama induknya. Wallahu a’lam.

Setelah mereka berhasil melakukan hal itu dan selesai menyembelih unta tersebut dan berita itu pun sampai kepada Nabi Shalih, lalu Shalih mendatangi mereka, sedang mereka sedang berkumpul bersama-sama. Setelah melihat unta betina itu, Shalih pun menangis seraya berujar:
“Bersenang senanglah kamu di rumahmu selama tiga hari.” (QS. Huud: 65)

Pembunuhan yang mereka lakukan terhadap unta betina itu berlangsung pada hari Rabu. Pada sore harinya, kesembilan orang itu bermaksud hendak membunuh Shalih seraya berkata, “Jika benar apa yang ia (Shalih) peringatkan, ia segera kita bereskan terlebih dahulu. Dan jika berdusta, maka ia akan kita susulkan kepada untanya.”

Dalam al-Qur’an Allah berfirman yang artinya:
“Mereka berkata, ‘Bersumpahlah kalian dengan nama Allah bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya pada malam hari. Kemudian kita katakan kepada warisnya bahwa kita tidak menyaksikan kematian kelurganya itu dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.’ Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar pula, sedang mereka tidak menyadarinya. Maka perhatikanlah bagaimana sesungguhnya akibat makar mereka itu.” (QS. An-Naml: 49-51)

Setelah mereka bertekad dan sepakat untuk melakukan hal itu, serta datang pada malam hari untuk menyerang Nabi Shalih. Maka Allah [-yang Dialah yang memiliki kemuliaan dan juga Rasul-Nya-] mengirimkan batu-batu yang menghancurkan mereka terlebih dahulu sebelum mereka mati.

Dan pada pagi hari Kamis, yaitu hari pertama dari hari-hari yang dinantikan wajah kaum Tsamud itu menguning, persis seperti apa yang diancamkan oleh Nabi Shalih as. Dan pada hari Jum’at, yaitu hari kedua, wajah mereka berubah menjadi merah. Dan pada hari ketiga dari hari-hari mereka bersenang-senang, yaitu hari Sabtu, wajah mereka berubah warna menjadi hitam. Tatkala mereka memasuki hari Ahad, dalam keadaan telah bersiap menghadapi maut dan duduk menunggu murka dan siksaan Allah, mereka tidak tahu apa yang akan Dia lakukan terhadap diri mereka dan tidak mengetahui bagaimana adzab-Nya itu akan menimpa mereka.

Kemudian terbitlah matahari dari Timur (yaitu pada hari Ahad), maka muncullah suara keras dari langit dan gempa yang sangat dahsyat dari bawah mereka menyerang mereka, sehingga arwah dan nyawa orang-orang pun melayang dalam satu waktu.

Fa ash-bahuu fii daariHim jaatsimiin (“Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.”) Artinya, telah menjadi bangkai, tidak ada ruh dalam tubuh mereka. Dan tidak ada sesorang pun yang tersisa, baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan. Mereka mengatakan, kecuali seorang budak perempuan yang lumpuh, bernama Kalbah binti as-Salaq dan ia dipanggil juga dengan sebutan adz-Dzari’ah.
la adalah seorang wanita yang amat memusuhi Nabi Shalih as. Setelah menyaksikan dengan mata kepalanya adzab yang menimpa orang-orang, dia pun dapat berjalan dan dengan segera dan cepat ia berangkat mendatangi kabilah lain dan memberitahu mereka apa yang telah ia saksikan serta apa yang menimpa kaumnya. Selanjutnya ia meminta air kepada mereka. Setelah meminumnya, ia pun meninggal dunia.

Para ahli tafsir mengatakan, tidak ada seorang pun tersisa dari keturunan kaum Tsamud selain Nabi Shalih as. dan orang-orang yang mengikutinya, kecuali seseorang yang bernama Abu Rughal. Di mana ketika bencana itu terjadi, ia sedang bermukim di haram sehingga tidak tertimpa siksaan. Dan ketika ia keluar dari haram, ada batu yang jatuh dari langit mengenai dirinya sehingga menyebabkannya meninggal dunia.

Sebagaimana pada awal kisah telah dikemukakan sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah mengenai hal itu. Dan mereka menyebutkan bahwa Abu Rughal itu adalah nenek moyang bani Tsaqif yang bertempat tinggal di Thaif.

Kisah ini bersandar sepenuhnya kepada kisah Israiliyyat, tetapi kisah ini memiliki penguat dan al-Qur’an dan as-Sunnah. Aku tinggalkan (tidak aku bahas) di sini untuk aku alihkan kisah itu kepada berita tentang Tsamud pada bagian al-Qur’an lainnya, karena bagian ini adalah merupakan permulaan kisah tentangnya dalam al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: