Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 80-81

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 80-81“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu.’ (QS. 7:80) Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. 7:81)” (al-A’raaf: 80-81)

Allah Ta’ala berfirman: wa (“Dan,”) sungguh telah kami utus; luuthan (“Luth.”) Atau maksudnya: wa (“Dan,”) Ingatlah; luuthan idz qaala liqaumiHii (“Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya.”) Luth adalah Ibnu Haaraan bin Aazar, yaitu anak saudara (kemenakan) Ibrahim as. Ia telah beriman bersama Ibrahim dan ikut berhijrah bersamanya ke Syam. Kemudian Allah mengutus Nabi Luth kepada penduduk Sadum dan daerah sekitarnya untuk mengajak mereka supaya beriman kepada Allah serta menyuruh mereka berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran yang mereka kerjakan, baik berupa dosa, berbagai macam larangan dan perbuatan keji yang mereka lakukan yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelumnya, yaitu hubungan badan antara laki-laki dengan laki-laki (homoseks). Perbuatan ini sama sekali belum pernah dikenal, dikerjakan dan bahkan terbesit dalam hati umat manusia, anak keturunan Adam kecuali setelah dilakukan oleh penduduk Sadum.

Mengenai firman Allah: maa sabaqakum biHaa min ahadim minal ‘aalamiin (“Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun [di dunia ini] sebelummu?”) ‘Amr bin Dinar mengatakan, “Tidak ada seorang laki-laki berhubungan badan dengan laki-laki lain, sehingga terjadi apa yang dilakukan oleh kaum Luth.”

Al-Walid bin ‘Abdul Malik, seorang Khalifah Bani Umayyah, pembangun masjid jami’ Damaskus mengatakan, “Seandainya Allah tidak menceritakan kisah kaum Nabi Luth kepada kita, niscaya aku tidak akan membayangkan adanya laki-laki yang bersetubuh dengan laki-laki lain.”

Oleh karena itu, Nabi Luth as. mengatakan kepada mereka: a ta’tuunal faahisyata maa sabaqakum biHaa min ahadim minal ‘aalamiina innakum lata’tuunar rajula syaHwatam min duunin nisaa-i (“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah [perbutan keji] itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun [di dunia ini] sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu [kepada mereka] bukan kepada wanita.”)

Maksudnya, kalian berpaling dari wanita dan apa yang telah diciptakan Rabb kalian untuk kalian pada wanita tersebut dan justru cenderung pada sesama laki-laki. Yang demikian itu benar-benar perbuatan melampaui batas dan bodoh, karena telah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: