Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 86-87

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 86-87“Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlahmu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 7:86) Jika ada segolongan daripadamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (QS. 7:87)” (al-A’raaf: 86-87)

Nabi Syu’aib as. melarang mereka merampok, baik bersifat hissy (material) maupun maknawi (immaterial), melalui ucapannya: wa laa taq’uduu bikulli shiraathin tuu’iduuna (“Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakuti-nakuti.”) Yaitu dengan cara mengancam orang akan membunuhnya, jika tidak mau memberikan hartanya kepada kalian.
As-Suddi dan ulama lainnya mengatakan, “Mereka itu adalah para pembegal.”

Mengenai firman Allah: wa laa taq’uduu bikulli shiraathin tuu’iduuna (“Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakuti-nakuti.”) dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan beberapa orang ulama berkata, bahwa mereka menakut-nakuti orang-orang mukmin yang datang kepada Nabi Syu’aib dengan maksud untuk mengikuti ajarannya. Tetapi pendapat yang pertama lebih jelas, karena firman-Nya: bikulli shiraathin (“Di tiap-tiap shirath”) yang berarti jalan.

Sedangkan pendapat yang kedua itu dikaitkan dengan firman Allah selanjutnya: wa tashudduuna ‘an sabiilillaaHi man aamana biHii wa yabghuunaHaa ‘iwajan (“Dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok.”) Maksudnya, kalian menginginkan supaya jalan Allah itu menjadi bengkok dan menyimpang.

Wadzkuruu idz antum qaliilan fakatstsarakum (“Dan ingatlah pada waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlahmu.”) Artinya, dahulu kalian dalam keadaan lemah, karena sedikitnya jumlah kalian, kemudian kalian menjadi kuat karena banyaknya jumlah kalian. Maka ingatlah nikmat Allah atas kalian dalam hal ini.

Wandhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mufsidiin (“Dan perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang’yang berbuat kerusakan.”) Yaitu dari umat-umat yang terdahulu dan generasi sebelumnya. Dan perhatikan juga adzab yang telah menimpa mereka, karena keberanian mereka berbuat maksiat kepada Allah dan mendustakan para Rasul-Nya.

Dan firman Allah: wa in kaana thaa-ifatum minkum aamanuu bil ladzii ursiltu biHii wa thaa-ifatul laa yu’minuu (“Jika segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada [pula] segolongan yang tidak beriman.”) Maksudnya, kalian menyalahiku.

Fashbiruu (“Maka bersabarlah,”) artinya, tunggulah; hattaa yahkumallaaHu bainanaa (“Sehingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita,”) dan antara kalian, yaitu memutuskan. Wa Huwa khirul haakimiin (“Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.”) Sesungguhnya Dia akan menjadikan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa dan kehancuran bagi orang-orang yang kafir.

Bersambung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: