Arsip | 00.55

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 113-114

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 113-114“Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun mengatakan: ‘(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?’ (QS. 7:113) Fir’aun menjawab: ‘Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).’ (QS. 7:114)” (al-A’raaf: 113-114)

Allah memberitahu mengenai persyaratan yang disepakati oleh Fir’aun dan para ahli sihir yang diundangnya untuk melawan Musa as. jika mereka dapat mengalahkan Musa maka mereka akan diberi imbalan dan hadiah yang sangat besar. Fir’aun juga menjanjikan dan memberikan harapan bahwa mereka akan diberi apa saja yang mereka inginkan serta memberikan kepada mereka kedudukan yang terdekat dengannya. Setelah mereka yakin kepada Fir’aun la’nahullah (semoga Allah melaknatnya), maka (firman Allah selanjutnya):

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 111-112

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 111-112“Pemuka-pemuka itu menjawab: ‘Beritangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), (QS. 7:111) supaya mereka membawa kepadarnu semua ahli sihir yang pandai.’ (QS. 7:112)” (al-A’raaf: 111-112)

Ibnu ‘Abbas berkata: Kata “arjiH” artinya “akhirkanlah”. Sedangkan Qatadah mengatakan: “arjiH” berarti “tahanlah.” Dan kata “arsil” berarti “kirimkanlah.” Fil madaa-ini (“di kota-kota”) maksudnya ke beberapa wilayah kekuasaanmu, orang-orang yang akan mengumpulkan ahli sihir untukmu (Fir’aun) dari seluruh pelosok negeri. Sihir pada masa itu amat dominan dan menonjol. Dan banyak orang yang menyakini dan menduga, bahwa apa yang dibawa Musa as. termasuk jenis permainan para tukang sihir mereka. Oleh karena itu, mereka mengumpulkan ahli sihir untuk Fir’aun guna melawan Musa dengan memperlihatkan tandingan terhadap berbagai mukjizat yang nyata.

Sebagaimana yang diberitahukan Allah mengenai Fir’aun, di mana dia (Fir’aun) berkata, “Apakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami ini dengan sihirmu, hai Musa? Dan kami pun pasti akan mendatangkan pula kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami denganmu, yang kami tidak akan menyalahimu dan tidak pula kamu, di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).” Musa berkata, “Waktu untuk pertemuan (kami dengan)mu itu adalah pada hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik.” Maka Fir aun meninggalkan (tempat itu), dan selanjutnya ia mengatur tipu dayanya, kemudian ia datang.” (QS. Thaahaa: 57-60)

Dan di sini Allah berfirman dalam ayat berikutnya:

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 109-110

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 109-110“Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata: ‘Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, (QS. 7:109) yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.’ (Fir’aun berkata): ‘Maka apakah yang kamu anjurkan?’ (QS. 7:110)” (al-A’raaf: 109-110)

Maksudnya, orang-orang terhormat dan terpandang dari kaum Fir’aun mengatakan demikian, seperti apa yang dikatakan oleh Fir’aun terhadap hal itu, setelah ia merasa ketakutan. Lalu ia duduk di kursi kerajaannya dan mengatakan kepada para pemuka kaumnya yang berada di sekelilingnya, “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai.”

Maka para pemuka kaumnya itu pun sepakat dengannya dan mengatakan seperti apa yang diucapkan Fir’aun itu. Kemudian mereka bermusyawarah, bagaimana mereka harus berbuat terhadap Musa dan bagaimana mereka harus melakukan tipu daya dalam rangka memadamkan cahayanya (Musa), menumpas dakwahnya dan menampakkan kedustaannya. Dan mereka khawatir orang-orang akan terpengaruh oleh sihirnya [menurut anggapan mereka], sehingga hal itu menjadi penyebab kemenangan Musa atas mereka dan kelak akan mengusir mereka dari tanah air mereka.

Dan apa yang mereka khawatirkan itu akhirnya terjadi, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” (QS. Al-Qashash: 6)

Setelah mereka bermusyarah dan mengatur strategi mengenai urusannya itu, mereka pun sepakat atas sesuatu pendapat, seperti yang diceritakan Allah dalam firman-Nya dalam ayat selanjutnyai:

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 107-108

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 107-108“Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat tersebut menjadi ular yang sebenarnya. (QS. 7:107) Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangannya menjadi putih bercahaya (terlihat) oleh orang-orang yang melihatnya. (QS. 7:108)” (al-A’raaf: 107-108)

Mengenai firman Allah: tsu’baanum mubiin; Ali bin Abi ThalHaH mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu ular jantan.”

Dan firman Allah: wa naza’a yadaHu fa idzaa Hiya baidlaa-u lin naadhiriin (“Dan ia mengeluarkan tangannya, maka seketika itu juga tangannya menjadi putih bercahaya [terlihat] oleh orang-orang yang melihatnya.”) Artinya, Musa mengeluarkan tangannya dari bajunya setelah sebelumnya memasukkannya, tiba-tiba ia menjadi putih berkilau tanpa adanya cacat dan penyakit.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih (bersinar) bukan karena penyakit.” (QS. An-Naml: 12)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 104-106

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 104-106“Dan Musa berkata: ‘Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam, (QS. 7:104) wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Rabbmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.’ (QS. 7:105) Fir’aun menjawab: ‘Jika benar kamu membawa suatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. 7:106)” (al-A’raaf: 104-106)

Allah memberitahukan tentang perdebatan Musa kepada Fir’aun dan hujjah yang telah disampaikan kepadanya, serta pemaparan berbagai macam ayat-ayat yang jelas di hadapan Fir’aun dan kaumnya dari para Qibthi Mesir, di mana Allah Ta’ala berfirman: wa qaala muusaa yaa fir’aunu innii rasuulum mir rabbil ‘aalamiin (“Dan Musa berkata, Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Rabb semesta alam.”) Maksudnya, aku diutus oleh yang mana Dia adalah Pencipta, Pemelihara dan Penguasa segala sesuatu.

haqiiqun ‘alaa al laa aquula ‘alallaaHi illal haqqa (“Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak.”) Sebagian ulama mengatakan, artinya, pantas dan patut bagiku untuk tidak mengucapkan sesuatu tentang Allah kecuali yang hak. Para ahli tafsir mengatakan, huruf ba’ dan kata alaa saling bergantian.

Sebagian ahli tafsir mengatakan: “Maknanya, aku sangat berusaha untuk tidak mengatakan sesuatu tentang Allah kecuali yang haq.

Penduduk Madinah lainnya membaca “haqiiqun ‘alaa” dengan makna wajib. Artinya, suatu hal yang wajib bagiku untuk tidak memberitahukan sesuatu tentang-Nya melainkan yang hak dan benar, karena aku telah mengetahui kemuliaan dan keagungan-Nya.

Laqad ji’tukum bibayyinatim mir rabbikum (“Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata darti Rabbmu.”) Yakni dengan membawa hujjah yang pasti dari Allah yang telah diberikan kepadaku sebagai bukti kebenaran terhadap apa yang aku bawa kepada kalian.

Fa arsil ma’iya banii israa-iil (“Maka lepaskanlah Bani Israil [pergi] bersamaku.”) Maksudnya, lepaskanlah Bani Israil dari tawanan dan kekuasaanmu dan biarkanlah mereka menyembah Rabbmu dan juga Rabb mereka, karena mereka itu dari silsilah seorang Nabi yang mulia, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilurrahman.

Firman-Nya lebih lanjut: qaala in kunta ji’ta bi aayaatin fa’ti biHaa in kunta minash shaadiqiin (“Fir’aun menjawab, ‘Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika [betul] kamu termasuk orang-orang yang benar.’”) Maksudnya, Fir’aun mengatakan: “Aku tidak percaya terhadap apa yang engkau katakana dan tidak akan memenuhi apa yang engkau tuntut. Jika engkau mempunyai hujjah, maka kemukakanlah, agar kami ketahui jika apa yang engkau katakana itu memang benar.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 103

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 103“Kemudian Kami utus Musa sesudah Rasul-Rasul itu membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. 7:103)

Allah berfirman: tsumma ba’atsnaa mim ba’diHim ( “Kemudian Kami utus sesudah Rasul-Rasul itu.”) Yaitu Rasul-Rasul yang telah disebutkan sebelumnya; muusaa bi aayaatinaa (“Musa dengan membawa ayat-ayat Kami.”) Yaitu dengan membawa hujjah-hujjah dan dalil-dalil Kami yang nyata kepada Fir’aun Raja Mesir pada zaman Nabi Musa. Wa mala-iHi (“Dan para pemukanya.”) Maksudnya, (pemuka) kaumnya.

Fa dhalamuu biHaa (“Lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu.”) Maksudnya, mereka pun menolak dan kufur terhadap ayat-ayat Kami itu secara dhalim dan sombong. Hal ini seperti firman-Nya yang artinya: “Dan mereka pun mengingkarinya karena kedhaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. An-Naml: 14).

Yaitu, (kesudahan.-Ed.) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mendustakan Rasul-rasul-Nya. Artinya, perhatikanlah hai Muhammad, orang-orang yang menghalang-halangi jalan Allah dan mendustakan para Rasul-Nya, bagaimana Kami berbuat terhadap mereka dan Kami menenggelamkan mereka di hadapan mata Musa dan kaumnya. Yang demikian itu merupakan siksaan yang teramat dahsyat yang ditimpakan kepada Fir’aun dan kaumnya, sekaligus sebagai penawar bagi hati para wali Allah, Musa dan orang-orang yang beriman dari kaumnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 101-102

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 101-102“Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir. (QS. 7: 101) Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesunggubnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS.7:102) (al-A’raaf: 101-102)

Setelah menceritakan kepada Nabi-Nya mengenai kisah kaum Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syu’aib, serta pembinasaan yang Dia lakukan terhadap orang-orang kafir dan penyelamatan yang Dia lakukan terhadap orang-orang yang beriman, Allah menyampaikan alasan kepada mereka bahwa Dia telah menjelaskan kebenaran melalui hujjah-hujjah yang disampaikan oleh lisan para Rasul-Nya shalawatullah ‘alaihim ajma’in.

Maka Allah berfirman: tilkal quraa naqushshu ‘alaika (“Negeri-negeri [yang telah Kami binasakan itu], kami kisahkan kepadamu.”) min anbaa-iHaa (“sebagian dari berita-beritanya”) artinya hai Muhammad, telah Kami ceritakan berbagai berita mengenai negeri-negeri tersebut.

Wa laqad jaa-atHum rusuluHum bil bayyinaat (“Dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata.”) Yaitu hujjah-hujjah atas pembenaran mereka terhadap apa yang telah mereka [para rasul] sampaikan. Sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (QS. Al-Israa’: 15)

Dan firman-Nya: famaa kaanuu liyu’minuu bimaa kadzdzabuu min qablu (“Maka [mereka] juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.”) Huruf “ba” disini adalah ba’ sababiyah. Artinya, mereka tidak akan beriman terhadap apa yang telah dibawa para Rasul kepada mereka disebabkan kedustaan mereka terhadap kebenaran yang pertama kali disampaikan kepada mereka. Demikian dikisahkan oleh Ibnu ‘Athiyyah’. Dan ini merupakan pendapat yang baik seperti halnya firman Allah:
“Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya.” (QS. Al-An’aam: 109-110).

Oleh karena itu, di sini Allah berfirman: kadzaalika yathma’ullaaHu ‘alaa quluubil kaafiriina wamaa wajadnaa li aktsariHim (“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka.”) Yaitu, kebanyakan dari umat-umat terdahulu; min ‘aHdiw wa iw wajadnaa aktsaraHum lafaasiqiin (“Yang memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.”) Maksudnya, Kami telah mendapatkan kebanyakan dari mereka justru fasik, keluar dari ketaatan, ketundukan, serta perjanjian yang telah Dia ambil yang mana Allah telah tabi’at serta fitrahnya di atas itu ketaatan dan ketundukan. -Ed.).

Dan Allah telah mengambil persaksian mereka, ketika mereka masih berada dalam tulang sulbi, bahwa Allah adalah Rabb dan penguasa mereka, dan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak untuk dahi) selain Dia semata. Dan mereka pun telah mengakui dan bersaksi terhadap diri mereka sendiri, namun mereka melanggar dan mengabaikannya dalam Shahih Muslim, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus). Lalu datang syaitan-syaitan kepada mereka dan menyimpangkan mereka dari agama mereka, serta mengharamkan bagi mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka.” (HR. Muslim)

Dan dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim): “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah [Islam]. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam kitab-Nya yang mulia, Allah Juga berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah [yang berhak untuk diibadahi] melainkan hanya Aku, maka beribadahlah kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 100

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 100“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah [lenyap] penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (QS. al-A’raaf: 100)

Mengenai firman Allah: awalam yaHdii lilladziina yaritsuunal ardla mim ba’di aHliHaa (“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah [lenyap] penduduknya”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: (Makna: awalam yaHdii…. adalah) awalam yatabayyana laHum (atau apakah belum jelas bagi mereka)
Al lay nasyaa-u ashabnaaHum bidzunuubiHim (“Bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami adzab mereka karena dosa-dosa mereka”) yakni Allah berfirman, jika Kami menghendaki pasti Kami akan bertindak terhadap mereka, seperti apa yang sudah Kami lakukan terhadap orang-orang sebelum mereka.

Wa nathma’u ‘alaa quluubiHim (“dan Kami kunci mati hati mereka”) Allah berfirman, [yaitu] Kami tutup rapat-rapat hati mereka. faHum laa yasma’uun (“sehingga mereka tidak dapat mendengar”) yakni terhadap pelajaran dan juga peringatan.

(Mengenai hal tersebut di atas), aku (Ibnu Katsir) katakan: “Demikian pula Allah telah berfirman:
“Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali tidak akan binasa ? Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Ibrahim: 44-45). Dan ayat-ayat al-Qur’an lainnya, yang menunjukkan penimpaan siksaan kepada musuh-musuh-Nya dan pemberian nikmat kepada para wall-Nya. Oleh karena itu, Dia mengiringi ayat tersebut dengan firman-Nya setelahnya -dan Dialah yang Mahabenar firman-Nya dan Rabb semesta alam-:

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 96-99

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 96-99“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96) Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (QS. 7:97) Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (QS. 7:98) Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. 7:99)” (al-A’raaf: 96-99)

Allah memberitahukan tentang minimnya keimanan penduduk negeri-negeri yang kepada mereka telah diutus para Rasul. Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya Kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.’” (QS. Saba’: 34)

Firman Allah: walau kaana aHlul quraa aamanuu wat taqaw (“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa.”) Maksudnya, hati mereka beriman dan membenarkan terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul, lalu mereka mengikuti Rasul dan bertakwa dengan berbuat ketaatan dan meninggalkan semua larangan; la fatahnaa ‘alaiHim barakaatim minas samaa-i war ardli (“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”) Maksudnya, hujan dari langit dan tumbuh-tumbuhan dari bumi.

Selanjutnya Dia berfirman: wa laa kin kadzdzabuu fa akhadznaaHum bimaa kaanuu yaksibuun (“Tetapi mereka mendustakan [ayat-ayat Kami] itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”) Maksudnya, tetapi mereka mendustakan Rasul-rasul yang diutus kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka kebinasaan akibat berbagai dosa dan pelanggaran yang mereka lakukan.

Setelah itu Allah Ta’ala berfirman, mengancam dan memperingatkan dari pelanggar perintah-Nya dan lancang terhadap larangan-Nya: a fa amina aHlul quraa (“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman ?”) yaitu yang kafir.
Ay ya’tiyaHum ba’sunaa (“Dari kedatangan siksa Kami”) yaitu adzab dan hukuman Kami. Bayaatan (“di malam hari”) arti dari bayaatan adalah lailan (malam hari).

Wa Hum naa-imuun. Aw amina aHlul quraa ay ya’tiyaHum ba’sunaa dluhaw wa Hum yal’abuun (“Di waktu mereka sedang tidur. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami pada waktu matahari naik sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain?”) maksudnya pada saat itu mereka sedang sibuk atau lengah.

Afa aminuu makrallaaH (“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah [yang tidak terduga-duga]?”) yaitu siksaan, adzab dan ketentuan-Nya terhadap mereka dan hukuman-Nya terhadap mereka, ketika mereka dalam keadaan alpa dan lengah.
Falaa ya’manu makrallaaHi illal qaumul khaasiruun (“Tiada yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”)

Oleh karena itu Hasan al-Bashri mengatakan: “Seorang mukmin itu mengerjakan segala ketaatan, sedang ia merasa takut. Dan orang jahat berbuat kemaksiatan, sedang ia merasa aman.”

&