Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 101-102

29 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 101-102“Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir. (QS. 7: 101) Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesunggubnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS.7:102) (al-A’raaf: 101-102)

Setelah menceritakan kepada Nabi-Nya mengenai kisah kaum Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syu’aib, serta pembinasaan yang Dia lakukan terhadap orang-orang kafir dan penyelamatan yang Dia lakukan terhadap orang-orang yang beriman, Allah menyampaikan alasan kepada mereka bahwa Dia telah menjelaskan kebenaran melalui hujjah-hujjah yang disampaikan oleh lisan para Rasul-Nya shalawatullah ‘alaihim ajma’in.

Maka Allah berfirman: tilkal quraa naqushshu ‘alaika (“Negeri-negeri [yang telah Kami binasakan itu], kami kisahkan kepadamu.”) min anbaa-iHaa (“sebagian dari berita-beritanya”) artinya hai Muhammad, telah Kami ceritakan berbagai berita mengenai negeri-negeri tersebut.

Wa laqad jaa-atHum rusuluHum bil bayyinaat (“Dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata.”) Yaitu hujjah-hujjah atas pembenaran mereka terhadap apa yang telah mereka [para rasul] sampaikan. Sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (QS. Al-Israa’: 15)

Dan firman-Nya: famaa kaanuu liyu’minuu bimaa kadzdzabuu min qablu (“Maka [mereka] juga tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.”) Huruf “ba” disini adalah ba’ sababiyah. Artinya, mereka tidak akan beriman terhadap apa yang telah dibawa para Rasul kepada mereka disebabkan kedustaan mereka terhadap kebenaran yang pertama kali disampaikan kepada mereka. Demikian dikisahkan oleh Ibnu ‘Athiyyah’. Dan ini merupakan pendapat yang baik seperti halnya firman Allah:
“Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya.” (QS. Al-An’aam: 109-110).

Oleh karena itu, di sini Allah berfirman: kadzaalika yathma’ullaaHu ‘alaa quluubil kaafiriina wamaa wajadnaa li aktsariHim (“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka.”) Yaitu, kebanyakan dari umat-umat terdahulu; min ‘aHdiw wa iw wajadnaa aktsaraHum lafaasiqiin (“Yang memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.”) Maksudnya, Kami telah mendapatkan kebanyakan dari mereka justru fasik, keluar dari ketaatan, ketundukan, serta perjanjian yang telah Dia ambil yang mana Allah telah tabi’at serta fitrahnya di atas itu ketaatan dan ketundukan. -Ed.).

Dan Allah telah mengambil persaksian mereka, ketika mereka masih berada dalam tulang sulbi, bahwa Allah adalah Rabb dan penguasa mereka, dan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak untuk dahi) selain Dia semata. Dan mereka pun telah mengakui dan bersaksi terhadap diri mereka sendiri, namun mereka melanggar dan mengabaikannya dalam Shahih Muslim, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus). Lalu datang syaitan-syaitan kepada mereka dan menyimpangkan mereka dari agama mereka, serta mengharamkan bagi mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka.” (HR. Muslim)

Dan dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim): “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah [Islam]. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam kitab-Nya yang mulia, Allah Juga berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah [yang berhak untuk diibadahi] melainkan hanya Aku, maka beribadahlah kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: