Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 123-126

30 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 123-126“Fir’aun berkata: ‘Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu, sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); (QS. 7:123) demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal-balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.’ (QS. 7:124) Ahli-ahli sihir itu menjawab: ‘Sesungguhnya kepada Rabblah kami kembali. (QS. 7:125) Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.’ (Mereka berdo’a): ‘Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).’ (QS. 7:126)” (al-A’raaf: 123-126)

Allah memberitahukan tentang ancaman Fir’aun la’anahullah terhadap para ahli sihir tatkala mereka beriman kepada Musa as. serta tipuan dan muslihat yang dia perlihatkan kepada orang-orang, yaitu melalui ucapannya: inna Haadzaa lamakrum makartumuuHu fil madiinati litukhrijuu minHaa aHlaHaa (“Sesungguhnya [perbuatan] ini adalah suatu tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya.”)

Maksudnya, sesungguhnya kemenangan Musa atas kalian pada hari ini adalah atas kesepakatan dan melalui persetujuan kalian. Seperti firman Allah dalam ayat yang lain yang artinya: “Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian.” (QS. Thaahaa: 71)

Padahal dia dan semua orang yang mempunyai akal sehat mengetahui bahwa apa yang dikatakannya itu merupakan suatu yang amat bathil, karena Musa sejak datang dari Madyan langsung mengajak Fir’aun ke jalan Allah dan memperlihatkan berbagai macam mukjizat yang mengagungkan dan hujjah-hujjah yang pasti, yang menunjukkan kebenaran apa yang dibawanya. Pada saat itu, Fir’aun langsung mengirimkan utusan ke beberapa wilayah dan daerah kekuasaannya, lalu ia mengumpulkan berbagai ahli sihir yang terpencar dari seluruh negeri di Mesir yang sudah melalui pilihannya sendiri dan para pemuka kaumnya. Kemudian ia memanggil mereka semua ke hadapannya dan menjanjikan hadiah yang besar kepada mereka. Untuk itu, mereka sangat berambisi memperoleh hadiah, dapat dikenal di lingkungan mereka, serta mendapat kedudukan mulia disisi Fir’aun. Dan Musa as. sendiri tidak mengenal seorang pun dari mereka, tidak juga melihat dan berkumpul dengannya. Sedangkan Fir’aun mengetahui hal itu. Dan ia mengatakan hal tersebut sebagai usaha menutupi kelemahan pengikutnya dan kebodohan mereka.

Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya: “Maka Fir’aun mempengarui kaumnya (dengan perkataan itu), lalu mereka patuh kepadanya.” (QS. Az-Zukhruf: 54)

Karena suatu kaum yang membenarkan Fir’aun ketika ia mengatakan: ana rabbukumul a’laa (“Akulah rabbmu yang paling tinggi”) adalah merupakan makhluk Allah yang paling bodoh dan paling sesat.

Dan firman Allah: litukhrijuu minHaa aHlaHaa (“Untuk mengeluarkan penduduknya darinya.”) Maksudnya, kalian dan juga Musa berkumpul dan kalian akan memperoleh suatu kerajaan serta kekuasaan dan kalian akan mengusir para pembesar dan pemimpinnya dari negeri tersebut. Selanjutnya kalian dapat menguasai dan mengendalikan negeri tersebut.

Fa saufa ta’lamuun (“Maka kelak kamu akan mengetahui [akibat perbuatan kamu ini]”) Yaitu, kalian akan menyaksikan apa yang akan aku perbuat terhadap kalian.

Ancaman Fir’aun ini ditafsirkan dengan firman-Nya: la uqaththi-‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilaafin (“Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu dengan bersilang secara bertimbal balik.”) Yakni dipotong tangan kanan dan kaki kirinya, atau sebaliknya. Dan; la ushallibannakum ajma’iin (“Aku benar-benar akan menyalib kamu semuanya.”) Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya: “Pada pangkal pohon kurma.” (QS. Thaahaa: 71) Maksudnya, di atas pangkal pohon kurma.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Fir’aun adalah orang yang pertama kali menyalib dan memotong tangan dan kaki secara bersilang.”

Dan ucapan ahli sihir: innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun (“Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami kembali.”) Maksudnya, kami benar-benar telah yakin bahwa kami pasti kembali kepada-Nya dan bahwasanya siksa-Nya lebih pedih daripada siksamu, serta balasan-Nya atas sihir yang engkau serukan dan paksakan terhadap kami pada hari ini adalah lebih hebat daripada balasanmu. Maka kami akan bersabar pada hari ini menahan siksaanmu agar kami dapat selamat dari adzab Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, mereka berkata: rabbanaa afrigh ‘alainaa shabran (“Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami.”)Maksudnya, liputilah kami dengan kesabaran agar kami tetap memeluk agama-Mu dan berpegang teguh padanya.
Wa tawaffanaa muslimiin (“Dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri [kepada-Mu]”) Maksudnya, dalam keadaan mengikuti Nabi-Mu, Musa as.

Ibnu `Abbas, `Ubaid bin `Umair, Qatadah dan Ibnu Juraij berkata: “Pada pagi harinya mereka masih sebagai tukang sihir dan pada sore harinya mereka menjadi para syuhada.”

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: