Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 127-129

30 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 127-129“Berkatalah pembesar-pembesar dart kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): ‘Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkanmu serta ilah-ilahmu.’ Fir’aun menjawab: ‘Akan kita bunuh anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.’ (QS. 7:127) Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’ (QS. 7:128) Kaum Musa berkata: ‘Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: ‘Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.’ (QS. 7:129)” (al-A’raaf: 127-129)

Allah memberitahu mengenai kerjasama antara Fir’aun dengan para pembesar kaumnya serta mengenai niat jahat dan kebencian yang mereka sembunyikan terhadap Musa dan kaumnya.
Wa qaalal mala-u min qaumi fir’auna (“Para pembesar dari kaum Fir’aun berkata,”) yaitu kepada Firaun: a tadaru muusaa wa qaumaHu (“Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya.”) Maksudnya, apakah akan engkau biarkan mereka melakukan kerusakan di muka bumi. Dengan kata lain, menghancurkan rakyatmu dan menyeru mereka untuk menyembah Rabb mereka tanpa (menyembah)mu.

Ya Allah, sungguh mengherankan, mereka justru sangat takut terhadap tindakan merusak yang dilakukan oleh Musa dan kaumnya! Bukankah Fir’aun dan kaumnya itulah yang sebenarnya para perusak, tetapi mereka tidak menyadarinya? Oleh karena itu mereka mengatakan: wa yadzaraka wa aaliHataka (“Dan meninggalkanmu serta ilah-ilahmu?”)

Sebagian ulama mengatakan, huruf “wawu ” dalam ayat tersebut bersifat haliyah, dengan pengertian, apakah engkau (Fir’aun) akan membiarkan Musa dan kaumnya melakukan kerusakan di muka bumi, padahal mereka telah meninggalkan penyembahan terhadap dirimu?

Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa huruf wawu itu merupakan wawu ‘athaf, dengan pengertian, apakah engkau akan membiarkan mereka berbuat kerusakan terhadap apa yang telah engkau bangun dan (membiarkan mereka) meninggalkan ilah-ilahmu?

Terhadap pertanyaan tersebut Fir’aun memberikan jawaban melalui ucapannya: sanuqattilu abnaa-aHum wa nastahyii nisaa-aHum (“Akan kita bunuh anak-anak laki-laki mereka dan kita biarkan hidup perempuan perempuan mereka.”) Ini merupakan tindakan Fir’aun yang kedua kalinya, di mana sebelunmya ia telah melakukan hal tersebut sebelum Musa as. dilahirkan, dengan tujuan agar tidak ada yang menggoyahkan kekuasaannya. Tetapi kenyataan menunjukkan hal yang berbeda dari apa yang diharapkan oleh Fir’aun.

Hal yang sama juga terjadi pada rencananya yang kedua kalinya itu, yaitu ketika ia hendak menghinakan dan menekan Bani Israil. Tetapi kenyataan berbicara sebaliknya, yaitu bertolak belakang dengan apa yang diinginkannya. Di mana Allah justru menguatkan mereka, serta menghinakan dan menenggelamkan Fir’aun bersama-sama dengan bala tentaranya ke dalam lautan.

Setelah Fir’aun bermaksud melancarkan niat buruknya itu kepada Bani Israil, maka: qaala muusaa liqaumiHis ta’iinuu billaaHi washbiruu (“Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah.”) Dan ia menjanjikan kepada mereka kesudahan yang menyenangkan dan bahwa bumi ini akan diwariskan untuk mereka, yaitu melalui firman-Nya: innal ardla lillaaHi yuuritsuHaa may yasyaa-u min ‘ibaadiHi wal ‘aaqibatu lil muttaqiina, qaaluu uudziina min qabli an ta’tiyanaa wa mim ba’di maa ji’tanaa (“’Sesungguhnya bumi [ini] kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’ Kaum Musa berkata, ‘Kami telah ditindas [oleh Fir’aun] sebelum engkau datang kepada kami dan sesudah engkau datang.’”)

Maksudnya, mereka telah berbuat terhadap kami hal-hal yang seperti engkau saksikan sendiri, yaitu berupa penghinaan dan penindasan, sebelum kedatanganmu, hai Musa, juga setelahnya. Maka ia pun memperingatkan mereka terhadap kondisi mereka sekarang dan kehidupan yang kelak akan mereka jalani, Musa as. berkata: ‘asaa rabbukum ay yuHlika ‘aduwwakum (“Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu.”) Ini merupakan seruan kepada mereka agar mereka senantiasa bersyukur ketika memperoleh kenikmatan dan terlepas dari segala penderitaan.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: