Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 143

30 Nov

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 143“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: ‘Ya Rabbku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.’ Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: ‘Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama-tama beriman.’” (QS. al-A’raaf: 143)

Allah memberitahukan tentang Musa as, bahwasanya ketika ia datang untuk bermunajat kepada Allah pada waktu yang telah ditentukan oleh-Nya dan langsung dapat mendengar firman dari-Nya, maka ia pun memohon kepada-Nya agar dapat melihat-Nya.

la berkata: rabbi arinii andhur ilaika qaala lan taraanii (“Ya Rabbku nampakkanlah [DiriMu] kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu.”) Allah berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.”

Kata “lan” (tidak akan) dalam ayat tersebut telah menjadi perdebatan di kalangan para ulama, karena ia berfungsi sebagai penekanan untuk meniadakan. Kaum Mu’tazilah menjadikannya sebagai dalil atas pendapatnya, bahwasanya manusia tidak dapat melihat-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan pendapat kaum Mu’tazilah tersebut merupakan pendapat yang paling lemah, karena banyak sekali hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, bahwa orang-orang yang beriman itu akan melihat Allah di akhirat kelak.

Hal itu akan kami uraikan lebih lanjut dalam firman Allah yang artinya:
“Dan wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyaamah: 22-23)
Juga dalam firman Allah yang memberitahukan tentang keadaan orang-orang kafir: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifiin: 15)

Ada juga yang mengatakan, bahwasanya kata “lan” pada ayat ini adalah penekanan kepastian untuk tidak dapat melihat Allah di dunia selamanya, sebagai penggabungan antara ayat ini dan dalil qath’i (pasti) yang menunjukkan kebenaran penglihatan (terhadap Allah) di akhirat kelak.

Ada juga yang menyatakan, bahwa pembicaraan dalam masalah ini sama seperti pembicaraan dalam firman Allah berikut ini:
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dan Dia yang Mahahalus lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-An’aam: 103) Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya pada penafsiran surat al-An’aam.

Mengenai firman Allah: falammaa tajalla rabbuHuu liljabali (“Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu,”) dari Anas bin Malik, dari Nabi saw. ia berkata: “Nabi bersabda: ‘Demikianlah,’ -yaitu beliau mengeluarkan ujung jari kelingking-. Imam Ahmad mengatakan: “Mu’adz mempraktekkan kepada kami.” Maka Humaid ath-Thawil bertanya kepadanya: “Apa yang engkau maksudkan dengan itu, hai Abu Muhammad?” Kemudian ia memukul dadanya dengan keras seraya berkata: “Siapa dan apa kedudukanmu, hai Humaid? Anas bin Maliklah yang menceritakan hal itu kepadaku dari Nabi saw. lalu engkau berkata, ‘Apa yang engkau maksudkan?’”

(Demikian pula diriwayatkan at-Tirmidzi dalam penafsiran ayat ini. Kemudian at-Tirmidzi mengatakan, bahwa hadits ini derajatnya hasan shahih gharib yang kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Hammad. Demikian pula diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, melalui beberapa jalan, dari Hammad bin Salamah, dan ia mengatakan: “Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”)

(Dan masih mengenai finnan Allah): falammaa tajalla rabbuHuu liljabali ja’alaHuu dakkaw wa kharra muusaa sha’iqan (“Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa jatuh pingsan,”) ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Hal itu ialah, bahwa gunung itu langsung hancur luluh seperti tanah yang rata, ketika tabir penutup dibukakan, lalu ia melihat cahaya.”

Mengenai firman Allah: walaakinindhur ilal jabali fa-inis taqarra makaanaHuu fasaufa taraanii (“Tetapi lihatlah ke gunung itu, maka jika ia tetap di tempatnya [sebagai sediakala] niscaya kamu dapat melihat-Ku.”) Mujahid berkata: “(Maksudnya) bahwasanya gunung itu lebih besar darimu dan makhluk yang paling keras.”

Firman-Nya: fa lammaa tajalla rabbuHuu lil jabali (“Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu.”) Kemudian Musa melihat gunung itu tidak dapat mengendalikan diri, lalu hancur luluh seketika. Dan Musa as. menyaksikannya sendiri apa yang dialami oleh gunung itu, lalu jatuh pingsan.

Kata sha’iq berarti pingsan, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas dan ulama lainnya, tidak seperti yang ditafsirkan oleh Qatadah, di mana ia menafsirkannya dengan mati, meskipun penafsiran itu benar menurut bahasa, sebagaimana firman Allah:
Wa nufikha fish shuuri fa sha’iqa….. (“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuall siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu [putusannya masing-masing].”) (Az-Zumar: 68)

Karena qarinah (konteks pembicaraan) dalam ayat ini menunjukkan makna kematian, sebagaimana di sana terdapat juga qarinah yang menunjukkan makna pingsan, yaitu firman-Nya: fa lammaa afaqa (“Dan setelah Musa sadar kembali”) Dan kata “al afaaqa” (kesadaran kembali) itu tidak terjadi kecuali dari pingsan.

Firman-Nya: qaala subhaanaka (“Dia berkata, `Mahasuci Engkau.’”) Hal ini sebagai penyucian, pemuliaan dan pengagungan bahwasanya tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah di dunia ini melainkan ia mati.

Dan firman-Nya selanjutnya: tubtu ilaika (“Aku bertaubat kepada-Mu”) Mujahid berkata: “Yaitu, aku bertaubat dari meminta agar dapat melihat-Mu.”
Wa ana awwalul mu’miniin (“Dan aku orang yang pertama-tama beriman.”) Mengenai firman-Nya ini, Ibnu ‘Abbas dan Mujahid berkata: “Maksudnya, dari kalangan Bani Israil.” Dan pendapat ini merupakan pilihan Ibnu Jarir.

Dalam riwayat yang lain, dari Ibnu ‘Abbas: Wa ana awwalul mu’miniin (“Dan aku orang yang pertama-tama beriman.”) Bahwasanya tidak ada seorang pun yang dapat melihat-Mu. Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Abul ‘Aliyah.
Menurutnya, telah ada sebelumnya orang-orang yang beriman, namun ia mengatakan: “Aku adalah orang yang pertama-tama beriman kepada-Mu, bahwasanya tidak ada seorang pun dari makhluk-Mu yang dapat melihat-Mu sampai hari Kiamat kelak.” Pendapat ini pun baik dan mempunyai alasan.

Firman Allah: wa kharra muusaa sha’iqan (“Dan Musa pun jatuh pingsan.”) Dalam kitab Shahihnya, al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri berkata: “Ada seseorang dari kaum Yahudi datang kepada Nabi saw, dalam keadaan wajahnya telah ditampar. Orang itu berkata: ‘Hai Muhammad, salah seorang dari Sahabatmu dari kaum Anshar telah menampar wajahku.’ ‘Panggilah ia,’ sahut Rasulullah saw. Maka para Sahabat pun memanggil Sahabat yang dimaksudkan orang Yahudi itu. Lalu beliau bertanya: ‘Mengapa engkau menampar wajahnya?’ Sahabat itu menjawab: ‘Ya Rasulullah, sungguh aku sedang berjalan melewati Yahudi ini, lalu aku mendengarnya ia mengatakan, ‘Demi Yang melebihkan Musa atas umat manusia.’ Lalu kutanyakan: `Juga atas diri Muhammad?’ ‘Ya, juga atas diri Muhammad,’ jawabnya. Maka emosiku memuncak hingga aku menamparnya.’ Lalu Rasulullah bersabda: ‘Janganlah kalian melebihkan diriku atas diri para Nabi, karena sesungguhnya manusia akan pingsan pada hari Kiamat kelak, dan aku adalah orang yang pertama kali sadarkan diri, ternyata aku bersama Musa dalam keadaan berpegang pada salah satu kaki ‘Arsy. Dan aku tidak mengetahui, apakah ia sadarkan diri sebelum diriku ataukah ia sudah diberi balasan dengan pingsan ketika berada di gunung Thur?”‘ (HR. Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, dan Muslim juga dalam Shahihnya [pada bab] tentang cerita para Nabi, serta Abu Dawud dalam kitab [bab] Sunnah, dalam Sunannya).

Dan perkataan dalam sabda Rasulullah saw, “Janganlah kalian melebihkan diriku atas diri para Nabi,” adalah sama seperti perkataan dalam sabda beliau: “Janganlah kalian melebihkan diriku atas para Nabi dan juga atas diri Yunus bin Matta.”

Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang demikian itu termasuk ke dalam hal tawadhu’ (merendahkan diri). Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa hal itu sebelum beliau mengetahuinya. Dan ada pendapat lain yang mengatakan, bahwa beliau melarang membeda-bedakan di antara para Nabi dalam keadaan marah atau karena rasa ta’ashshub (fanatik). Dan ada juga yang menyatakan bahwasanya perkataan beliau itu hanya berdasarkan pada pendapat
dan keinginan beliau semata. Wallahu a’lam.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: