Arsip | 06.47

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 164-166

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 164-166“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka, atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras.’ Mereka menjawab: ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggungjawab) kepada Rabbmu dan supaya mereka bertakwa.’ (QS. 7:164) Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. 7:165) Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ (QS. 7:166).” (al-A’raaf: 164-166)

Allah memberitahukan tentang penduduk negeri ini, bahwa mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok melakukan pelanggaran dan melakukan tipu muslihat untuk dapat berburu ikan pada hari Sabtu, sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya dalam surat al-Baqarah. Kelompok kedua melarang melakukan hal itu dan mejauhkan diri darinya. Dan kelompok ketiga berdiam diri yaitu tidak berbuat dan tidak juga melarang, tetapi kelompok ini mengatakan kepada yang melakukan pengingkaran (kelompok kedua): “Mengapa kalian menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka, atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?”

Maksudnya, mengapa kalian melarang mereka, padahal kalian mengatahui bahwa mereka pasti akan binasa dan mendapatkan siksaan dan Allah karena larangan kalian itu tidak akan membawa manfaat sama sekali bagi mereka. Kelompok yang melakukan pelarangan itu menjawab kepada mereka, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggungjawab) kepada Rabbmu. ”

Sebagian ulama membaca “ma’dziratun” dengan memberikan harakat dhammah dengan pengertian, “Ini adalah alasan kepada Rabb kami. “Sedangkan sebagian lainnya membacanya dengan memberikan harakatfathah, dengan pengertian, Kami melakukan hal itu, agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.” Yaitu atas kewajiban yang Allah perintahkan kepada kami, berupa amar ma’ruf nahi mungkar.

Wa la’allaHum yattaquun (“Dan supaya mereka bertakwa.”) Mereka mengatakan, semoga dengan pengingkaran ini mereka dapat menjauhkan diri dan meninggalkan apa yang mereka kerjakan, serta kembali kepada Allah dalam keadaan bertaubat. Maka jika mereka bertaubat kepada-Nya, pasti Allah akan menerima taubat mereka dan merahmati mereka.

Allah berfirman: fa lammaa nasuu maa dzukkiruu biHii (“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepiada mereka.”) Artinya, setelah para pelaku itu menolak menerima nasihat; anjainal ladziina yanHauna ‘anis suu-i wa akhadznal ladziina dhalamuu (“Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat, dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dhalim.”) Yaitu yang melakukan kemaksiatan; bi ‘adzaabin ba-iisin (“Siksaan yang keras.”)

Dalam ayat ini Allah telah menetapkan keselamatan bagi orang-orang yang melakukan pelarangan dan kebinasaan bagi orang-orang yang dhalim, sedangkan Allah mendiamkan (tidak menyebutkan ketentuan) terhadap yang berdiam diri, karena balasan sesuai dengan jenis amal perbuatan dan mereka itu tidak melakukan perbuatan yang menjadikan mereka berhak mendapatkan pujian, juga mereka tidak melakukan perbuatan dosa yang jadikan mereka tercela.

Namun demikian, para imam telah berbeda pendapat mengenai mereka, apakah mereka itu termasuk orang-orang yang dibinasakan ataukah termasuk orang-orang yang diselamatkan. Mengenai hal ini terdapat dua pendapat.

Firman Allah: wa akhadznal ladziina dhalamuu bi ‘adzaabin ba-iisin (“Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dhalim siksaan yang keras.”) Dalam ayat ini, menurut pengertiannya terdapat dalil bahwa orang-orang yang berdiam-diri itu selamat.

Kata ba-is, menurut Mujahid berarti keras. Dan dalam riwayat lain (juga dari Mujahid) berarti pedih. Sedang menurut Qatadah, artinya menyakitkan. Tetapi semua makna itu berdekatan. Wallahu a’lam.
Dan firman Allah: “khaasi-iin” berarti rendah, hina dan remeh.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 163

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 163“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut, ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS. al-A’raaf: 163)

Redaksi ayat ini adalah penyempurnaan bagi firman Allah: wa laqad ‘alimtumul ladziina’tadau minkum fis sabti (“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antara kamu pada hari Sabtu.”) (QS. Al-Baqarah: 65)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad saw: was-alHum (“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil.”) Maksudnya, tanyakan kepada orang-orang Yahudi yang hadir di hadapanmu tentang kisah sahabat-sahabat mereka yang melanggar perintah Allah, lalu secara tiba-tiba mereka ditimpa adzab yang diakibatkan oleh perbuatan dan pelanggaran mereka, serta tipu muslihat mereka dalam menyalahi aturan, dan peringatkanlah mereka dari tindakan menyembunyikan sifatmu (Muhammad saw) yang mereka dapatkan dalam kitab-kitab mereka, agar dengan demikian itu mereka tidak tertimpa apa yang telah menimpa saudara-saudara mereka dan para pendahulu mereka. Dan negeri yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ailah, yang terletak di tepi pantai laut Qalzum.

Firman Allah: idz ya’duuna fis sabti (“Ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu.”) Maksudnya, mereka melanggar dan menyalahi perintah Allah pada hari Sabtu, yang ketika itu diwasiatkan kepada mereka.

Idz ta’tiiHim hiitaahuHum yauma sabtiHim syurra’an (“Pada waktu datang kepada mereka ikan-ikan [yang berada di sekitar] mereka terapung-apung di permukaan air pada hari Sabtu.”) Adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu tampak di atas air.” Sedankan ‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu tampak dari setiap tempat.”

Dan firman-Nya: wa yauma laa yasbituuna laa ta’tiiHim kadzaalika nabluuHum (“Pada hari-hari selain Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlaha Kami mencoba mereka.”) Menurut Ibnu Jarir, “Maksudnya Kami uji mereka dengan memperlihatkan ikan di atas permukaan air, pada hari yang diharamkan mereka berburu dan menyembunyikan (tidak memperlihatkan)nya pada dihalalkannya mereka berburu.

Bimaa kaanuu yafsuquun (“Disebabkan mereka berlaku fasik.”) (Maksudnya) Allah berfirman, ‘Karena kefasikan dan keluarnya mereka dari ketaatan kepada Allah.’

Mereka itu adalah kaum yang mencari-cari siasat dan tipu muslihat untuk memperoleh sesuatu yang diharamkan Allah, dengan melakukan yang secara dhahirnya halal, yang makna sebenarnya adalah memperoleh sesuatu yang haram.

Seorang faqih, Imam Abu `Abdillah bin Baththah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah kalian melakukan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, dengan menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah melalui hal yang sangat hina.” (Hadits tersebut berisnad jayyid, karena Ahmad bin Muhammad bin Salam telah disebutkan oleh al-Khathib dalam tarikhnya dan dinyatakan tsiqat (dapat dipercaya). Sementara rijal hadits lainnya pun terkenal dan tsiqat. Sedangkan at-Tirmidzi banyak menshahihkan hadits dengan isnad seperti ini.)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 160-162

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 160-162“Dan mereka, Kami bagi menjadi dua belas suku, yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu!’ Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka,
dan Kami turunkan kepada mereka Manna dan Salwa. (Kami berfirman); ‘Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rizkikan kepadamu.’ Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri. (QS. 7:160) Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Is rail): ‘Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya, di mana saja kamu kehendaki.’ Dan katakanlah: ‘Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.’ Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. 7:161) Maka orang-orang yang dhalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka adzab dari langit disebabkan kedhaliman mereka. (QS. 7:162)” (al-A’raaf: 160-162)

Penafsiran ayat-ayat di atas telah diuraikan sebelumnya dalam surat al-Baqarah, yang termasuk surat Madaniyyah. Sedangkan redaksi ayat-ayat ini termasuk Makkiyyah. Dan kami telah mengemukakan perbedaan antara kedua redaksi tersebut secara panjang lebar, sehingga tidak perlu diulang kembali.
Alhamdulillah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 159

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 159“Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan haq dan dengan haq itulah mereka menjalankan keadilan.” (QS. al-A’raaf: 159)

Allah memberitahukan tentang Bani Israil, bahwa ada segolongan dari mereka yang mengikuti kebenaran dan berbuat adil dengan kebenaran tersebut, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Di antara Ahlul Kitab itu terdapat satu golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga bersujud (mengerjakan shalat).” (QS. Ali-‘Imran: 113)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 158

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 1588

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. al-A’raaf: 158)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad saw: qul (“Katakanlah,”) wahai Muhammad: yaa ayyuHan naasu (“’Hai sekalian manusia.’”) Seruan ini bersifat umum, untuk oran yang berkulit hitam dan putih, Arab maupun non-Arab.
Innii rasuulullaaHi ilaikum jamii’an (“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.”) Maksudnya, kepada seluruh umat manusia. Ini merupakan kemuliaan dan keagungan Rasulullah saw, bahwa beliau adalah penutup para Nabi dan diutus kepada umat manusia secara keseluruhan.

Ayat-ayat yang membahas masalah ini cukup banyak, begitu pula hadits-hadits tentang masalah ini amat banyak pula, tidak mungkin untuk dihitung. Masalah ini adalah masalah prinsip yang mesti diketahui dalam ajaran Islam, bahwa Muhammad adalah Rasul Allah kepada seluruh umat manusia.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Darda’: aku pernah mendengar Abu Darda’ berkata: “Pernah terjadi diskusi antara Abu Bakar dan ‘Umar lalu Abu Bakar membuat ‘Umar marah. Maka ‘Umar pergi meninggalkannya dalam keadaan marah. Kemudian Abu Bakar mengikutinya untuk meminta kepadanya, agar memaafkannya. Tetapi ‘Umar tidak memberikan maaf kepadanya, hingga ia menutup pintu rumahnya tepat di hadapan
wajahnya (Abu Bakar). Setelah itu Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah.”

Abu Darda’ melanjutkan, Pada saat itu kami sedang berada di sisi beliau. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Adapun sahabatmu ini, telah menjadikan (orang lain) marah dan dendam.” Maka ‘Umar pun, lanjut Abu Darda’, menyesal apa yang telah dilakukannya. Lalu ia berangkat menuju rumah Rasulullah kemudian mengucapkan salam dan duduk di hadapan Nabi saw., lalu menceritakan peristiwa yang telah terjadi. Maka Rasulullah pun marah, Kemudian Abu Bakar berkata: “Demi Allah. Ya Rasulullah, sungguh akulah yang telah berbuat dhalim.” Lalu Rasulullah saw bersabda:
“Apakah kalian akan meninggalkan Sahabatku ini? Sungguh (ketika dahulu) aku mengatakan: ‘Hai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kalian semua.’ Lalu kalian mengatakan: `Engkau berdusta.’ Sedangkan Abu Bakar mengatakan: `Engkau benar.” (Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.)

Di dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), dari hadits Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Aku telah diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku; Aku dimenangkan melalui rasa takut (yang dirasakan oleh musuh dalam jarak perjalanan satu bulan; dijadikannya bumi ini untukku sebagai masjid dan alat bersuci, oleh karena itu, barangsiapa di antara umatku yang mendapatkan waktu shalat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat; dihalalkan bagiku harta rampasan perang, di mana hal itu tidak pernah dihalalkan seorang pun sebelumku; diberikan kepadaku syafa’at; dan Nabi terdahulu diutus kepada kaumnya, sedang aku diutus kepada umat manusia secara keseluruhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Firman Allah: alladzii laHuu mulkus samaawaati wal ardli laa ilaaHa illaa Huwa yuhyii wa yumiitu (“Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan.”) Ini adalah sifat Allah swt. yang disebutkan melalui ucapan Rasulullah saw. artinya, “Yang mengutusku adalah Pencipta, Rabb dan Penguasa segala sesuatu, yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, (kekuasaan untuk) menghidupkan, dan mematikan. Dan kepunyaan-Nyalah segala hukum.”

Dan firman-Nya: fa aaminuu billaaHi wa rasuuliHin nabiyyil ummiyyi (“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi.”) Allah memberitahukan kepada mereka, bahwa beliau itu adalah Rasul-Nya yang diutus kepada mereka, lalu mereka diperintahkan untuk mengikutinya dan beriman kepadanya.
An nabiyyil ummiyyi (“Seorang Nabi yang ummi.”) Yakni, seorang Nabi yang telah dijanjikan dan diberitahukan kepada kalian melalui kitab-kitab yang terdahulu (sebelum al-Qur’an.Pent.), bahwa beliau menyandang sifat tersebut yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, oleh karena itu Allah menyebutnya seorang Nabi yang ummi.

Dan firman Allah selanjutnya: alladzii yu’minu billaaHi wa kalimatiHi (“Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya.”) Maksud nya, ucapannya dibenarkan oleh amal perbuatannya dan ia beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Wat tabi’uuHu (“Dan ikutilah ia.”) Maksudnya, tempuhlah jalannya dan ikutilah jejaknya, “Supaya kamu mendapat petunjuk.” Yaitu ke jalan yang lurus.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 157

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 157“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-A’raaf: 157)

Alladziina yattabi’uunar rasuulan nabiyyal ummiyyal ladzii yajiduunaHuu maktuuban ‘indaHum fit tauraati wal injiili (“[Yaitu] orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang [namanya] mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”) Ini adalah sifat Muhammad dalam kitab-kitab para Nabi. Mereka telah menyampaikan kabar gembira kepada umat mereka, akan diutusnya Muhammad, serta mereka memerintahkan untuk mentaatinya. Sifat-sifat Nabi Muhammad masih tetap ada di dalam kitab-kitab, yang diketahui oleh para pemuka agama dan pendeta mereka.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Isma’il menceritakan kepada kami, dari al-Jurairi, dari Abu Shakhr al-‘Uqaili, dari seseorang Badui, ia berkata: “Aku pernah membawa kambing perahan ke Madinah pada masa Rasulullah saw. Setelah selesai menjualnya, aku katakan: ‘Akan aku temui orang ini, lalu akan kudengar petuah darinya.’ Kemudian beliau bertemu denganku, sedang (beliau) berada di antara Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka semua berjalan, lalu aku mengikuti mereka sehingga melewati seseorang dari kaum Yahudi yang sedang membuka Taurat. la membacanya untuk menghibur dirinya karena puteranya yang paling bagus dan paling tampan akan meninggal dunia. Lalu Rasulullah bertanya: ‘Aku bertanya kepadamu, demi Yang menurunkan Taurat, apakah kau mendapatkan di dalam kitabmu ini sifat dan tempat kemunculanku?’ la menjawab dengan memberikan isyarat gelengan kepala, yang berarti tidak. Tetapi puteranya (yang akan mati itu) berkata: ‘Demi Yang menurunkan Taurat, sesungguhnya kami mendapati di dalam kitab kami sifat dan tempat kemunculanmu. Dan sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.’
Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Hindarkan orang-orang Yahudi itu dari saudaramu ini.’ Setelah itu, beliau mengkafani dan menshalatkannya. (Hadits ini jayyid qawiyy [baik dan kuat] serta mempunyai bukti yang memperkuatnya dalam kitab shahih, dari Anas)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari `Atha’ bin Yasar, ia mengatakan, aku pernah bertemu dengan ‘Abdullah bin ‘Amr, lalu kukatakan: “Beritahukan kepadaku mengenai sifat Rasulullah saw. yang terdapat di dalam Taurat!” la menjawab: “Baiklah, demi Allah, beliau disifati di dalam Taurat sama dengan sifat beliau di dalam al-Qur’an: ‘Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, juga sebagai pelindung bagi kaum ummiyyin (orang-orang yang tidak dapat membaca dan menulis). Engkau adalah hamba dan Rasul-Ku. Sebutanmu al-Mutawakkil (yang berserah diri), tidak berperangai jahat dan kasar, serta tidak diwafatkan Allah sehingga (sebelum) ia dapat menegakkan agama yang telah menyimpang dengan mengajak mereka mengucapkan, bahwa tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Allah semata. Yang dengannya ia membuka quluuban ghulfan wa adzanan shumman wa a’yanan ‘amiyyan (hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mata yang buta)

Selanjutnya `Atha’ berkata: “Lalu kutemui Ka’ab dan kutanyakan hal tersebut kepadanya, namun jawabannya tidak berbeda, hanya saja ia meIjawab: “Telah datang kepadaku,” lalu ia berkata: ” quluuban ghuluufiyan wa adzanan shumuumiyan wa a’yanan ‘amuumiyan (hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mata yang buta).”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, dari Muhammad bin Sinan, Fulaih, dari Hilal bin ‘Ali. Dan ia menyebutkan hadits yang sama dengan isnadnya. Dan setelah ungkapannya: “Tidak berperangai jahat dan kasar,” ia menambahkan: “Dan tidak suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi ia suka memaafkan dan mengampuni.”

Dan firman Allah: ya’muruHum bilma’ruufi wa yanHaaHum ‘anil munkar (“Yang menyuruh mereka mengerjakan yang baik dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar.”) Demikian itulah sifat Rasulullah saw yang tertulis dalam kitab-kitab yang turun sebelum al-Qur’an. Dan demikian itu pula keadaan Rasulullah saw., beliau tidak menyuruh melainkan kebaikan dan tidak mencegah melainkan kejahatan. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Masud. “Jika engkau mendengar Allah berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanuu (“Hai orang-orang yang beriman,”) maka hendaklah engkau memasang pendengaranmu, karena seperti itu merupakan kebaikan yang engkau diperintahkan untuk mengerjakannya, atau keburukan yang engkau diperintahkan untuk menghindarinya.”

Di antara yang terpenting dan paling agung dari pengutusan beliau adalah perintah untuk beribadah kepada-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya serta larangan untuk beribadah kepada selain-Nya. Sebagaimana hal itu telah diemban oleh seluruh Rasul sebelum beliau. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat [untuk menyerukan]: Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl: 36)

Dari Abu Humaid dan Abu Usaid ra. bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda:
“Jika kalian mendengar hadits dariku, sedang hati kalian dapat mengenalnya, perasaan dan kulit kalian pun dapat menerimanya dan kalian memandang bahwa ia (hadits) itu sangat dekat dari kalian, maka aku adalah orang yang paling pertama dekat dengannya daripada kalian. Dan jika kalian mendengar sebuah hadits dariku, sedang hati kalian menolaknya, serta perasaan dan kulit kalian pun menjauhinya dan kalian memandang bahwa ia (hadits) itu sangat jauh dari kalian, maka aku adalah orang yang paling jauh darinya daripada kalian.” (HR. Imam Ahmad, dengan isnad jayyid, tetapi tidak dikeluarkan oleh seorang pun dari penulis kitab hadits lainnya)

Dan firman-Nya: wa yuhillu laHumuth thayyibaati wa yuharrimu ‘alaiHimul khabaa-its (“Serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”) Artinya, la menghalalkan bagi mereka apa-apa yang sebelumnya mereka haramkan terhadap diri mereka sendiri, seperti binatang; bahiirah, saa-ibah, washiilah, ham (Lihat tafsir surat al-Maa-idah, ayat 103) dan lain sebagainya, yang karenanya mereka telah mempersempit diri mereka sendiri. Juga mengharamkan bagi mereka semua hal yang buruk.

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan, dari Ibnu ‘Abbas: Misalnya; daging babi, riba dan berbagai makanan haram yang mereka halalkan, yang telah diharamkan oleh Allah Ta’ala.
Sebagian ulama mengatakan, setiap makanan yang dihalalkan Allah adalah baik dan bermanfaat dalam badan dan agama. Dan setiap makanan yang diharamkan Allah Ta’ala, adalah buruk dan berbahaya dalam badan dan agama.

Firman-Nya: wa yadla’u ‘anHum ishraHum wal aghlaalal latii kaanat ‘alaiHim (“Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”) Maksudnya, bahwa ia datang dengan membawa kemudahan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan melalui beberapa jalan, dari Rasulullah saw. beliau bersabda:
“Aku diutus dengan (agama yang) haniifiyyatis samhah (lures, bersih dari syirik, yang penuh kemudahan).” (HR Ahmad)

Dan Rasulullah pernah berpesan kepada kedua amirnya, Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari, ketika beliau mengutus keduanya ke Yaman: “Sampaikanlah berita gembira dan janganlah kalian membuat orang lari. Berikanlah kemudahan dan jangan mempersulit, serta hendaklah kalian saling bersepakat dan janganlah berselisih.” (Muttafaq’alaih)

Salah seorang Sahabat Rasulullah saw, Abu Barzah al-Aslami berkata: “Aku pernah menemani Rasulullah saw. dan aku pernah menyaksikan kemudahan yang disampaikannya.”

Umat-umat terdahulu sebelum kita merasa sempit atas syariat yang diberikan kepada mereka. lalu Allah mempermudah dan memperluas urusan umat ini. Oleh karena itu Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi maaf bagi umatku yang terbersit dalam dirinya, selama ia belum mengucapkan atau mengerjakannya.”

Beliau juga bersabda:
“Dimaafkan atas umatku kesalahan, kelupaan dan apa yang dipaksakan kepada mereka.” (HR Ibnu Majah, Baihaqi dll)

Oleh karena itu, Allah telah membimbing umat ini untuk berdo’a:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Berikanlah maaf kepada kami, ampunilah kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dan dalam Shahih Muslim ditegaskan, bahwa Allah Ta’ala menjawab setiap permohonan tersebut, “Qad fa’altu, qad fa’altu” (“Sungguh, Aku telah melakukannya. Sungguh, Aku telah melakukannya.”)

Firman Allah selanjutnya: fal ladziina aamanuu biHii wa ‘azzaruuHu wanasharuuHu (“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, dan menolongnya.”) Maksudnya, mengagungkan dan menghormatinya.

Sedangkan firman-Nya: wat taba’un nuural ladzii unzila ma’aHu (“Dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya.”) Yaitu, al-Qur’an dan wahyu yang dibawanya untuk disampaikan kepada umat manusia.
Ulaa-ika Humul muflihuun (“Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”) Yakni di dunia dan di akhirat.

&