Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 157

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 157“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. al-A’raaf: 157)

Alladziina yattabi’uunar rasuulan nabiyyal ummiyyal ladzii yajiduunaHuu maktuuban ‘indaHum fit tauraati wal injiili (“[Yaitu] orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang [namanya] mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”) Ini adalah sifat Muhammad dalam kitab-kitab para Nabi. Mereka telah menyampaikan kabar gembira kepada umat mereka, akan diutusnya Muhammad, serta mereka memerintahkan untuk mentaatinya. Sifat-sifat Nabi Muhammad masih tetap ada di dalam kitab-kitab, yang diketahui oleh para pemuka agama dan pendeta mereka.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Isma’il menceritakan kepada kami, dari al-Jurairi, dari Abu Shakhr al-‘Uqaili, dari seseorang Badui, ia berkata: “Aku pernah membawa kambing perahan ke Madinah pada masa Rasulullah saw. Setelah selesai menjualnya, aku katakan: ‘Akan aku temui orang ini, lalu akan kudengar petuah darinya.’ Kemudian beliau bertemu denganku, sedang (beliau) berada di antara Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka semua berjalan, lalu aku mengikuti mereka sehingga melewati seseorang dari kaum Yahudi yang sedang membuka Taurat. la membacanya untuk menghibur dirinya karena puteranya yang paling bagus dan paling tampan akan meninggal dunia. Lalu Rasulullah bertanya: ‘Aku bertanya kepadamu, demi Yang menurunkan Taurat, apakah kau mendapatkan di dalam kitabmu ini sifat dan tempat kemunculanku?’ la menjawab dengan memberikan isyarat gelengan kepala, yang berarti tidak. Tetapi puteranya (yang akan mati itu) berkata: ‘Demi Yang menurunkan Taurat, sesungguhnya kami mendapati di dalam kitab kami sifat dan tempat kemunculanmu. Dan sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.’
Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Hindarkan orang-orang Yahudi itu dari saudaramu ini.’ Setelah itu, beliau mengkafani dan menshalatkannya. (Hadits ini jayyid qawiyy [baik dan kuat] serta mempunyai bukti yang memperkuatnya dalam kitab shahih, dari Anas)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari `Atha’ bin Yasar, ia mengatakan, aku pernah bertemu dengan ‘Abdullah bin ‘Amr, lalu kukatakan: “Beritahukan kepadaku mengenai sifat Rasulullah saw. yang terdapat di dalam Taurat!” la menjawab: “Baiklah, demi Allah, beliau disifati di dalam Taurat sama dengan sifat beliau di dalam al-Qur’an: ‘Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, juga sebagai pelindung bagi kaum ummiyyin (orang-orang yang tidak dapat membaca dan menulis). Engkau adalah hamba dan Rasul-Ku. Sebutanmu al-Mutawakkil (yang berserah diri), tidak berperangai jahat dan kasar, serta tidak diwafatkan Allah sehingga (sebelum) ia dapat menegakkan agama yang telah menyimpang dengan mengajak mereka mengucapkan, bahwa tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Allah semata. Yang dengannya ia membuka quluuban ghulfan wa adzanan shumman wa a’yanan ‘amiyyan (hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mata yang buta)

Selanjutnya `Atha’ berkata: “Lalu kutemui Ka’ab dan kutanyakan hal tersebut kepadanya, namun jawabannya tidak berbeda, hanya saja ia meIjawab: “Telah datang kepadaku,” lalu ia berkata: ” quluuban ghuluufiyan wa adzanan shumuumiyan wa a’yanan ‘amuumiyan (hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mata yang buta).”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, dari Muhammad bin Sinan, Fulaih, dari Hilal bin ‘Ali. Dan ia menyebutkan hadits yang sama dengan isnadnya. Dan setelah ungkapannya: “Tidak berperangai jahat dan kasar,” ia menambahkan: “Dan tidak suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi ia suka memaafkan dan mengampuni.”

Dan firman Allah: ya’muruHum bilma’ruufi wa yanHaaHum ‘anil munkar (“Yang menyuruh mereka mengerjakan yang baik dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar.”) Demikian itulah sifat Rasulullah saw yang tertulis dalam kitab-kitab yang turun sebelum al-Qur’an. Dan demikian itu pula keadaan Rasulullah saw., beliau tidak menyuruh melainkan kebaikan dan tidak mencegah melainkan kejahatan. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Masud. “Jika engkau mendengar Allah berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanuu (“Hai orang-orang yang beriman,”) maka hendaklah engkau memasang pendengaranmu, karena seperti itu merupakan kebaikan yang engkau diperintahkan untuk mengerjakannya, atau keburukan yang engkau diperintahkan untuk menghindarinya.”

Di antara yang terpenting dan paling agung dari pengutusan beliau adalah perintah untuk beribadah kepada-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya serta larangan untuk beribadah kepada selain-Nya. Sebagaimana hal itu telah diemban oleh seluruh Rasul sebelum beliau. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat [untuk menyerukan]: Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl: 36)

Dari Abu Humaid dan Abu Usaid ra. bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda:
“Jika kalian mendengar hadits dariku, sedang hati kalian dapat mengenalnya, perasaan dan kulit kalian pun dapat menerimanya dan kalian memandang bahwa ia (hadits) itu sangat dekat dari kalian, maka aku adalah orang yang paling pertama dekat dengannya daripada kalian. Dan jika kalian mendengar sebuah hadits dariku, sedang hati kalian menolaknya, serta perasaan dan kulit kalian pun menjauhinya dan kalian memandang bahwa ia (hadits) itu sangat jauh dari kalian, maka aku adalah orang yang paling jauh darinya daripada kalian.” (HR. Imam Ahmad, dengan isnad jayyid, tetapi tidak dikeluarkan oleh seorang pun dari penulis kitab hadits lainnya)

Dan firman-Nya: wa yuhillu laHumuth thayyibaati wa yuharrimu ‘alaiHimul khabaa-its (“Serta menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”) Artinya, la menghalalkan bagi mereka apa-apa yang sebelumnya mereka haramkan terhadap diri mereka sendiri, seperti binatang; bahiirah, saa-ibah, washiilah, ham (Lihat tafsir surat al-Maa-idah, ayat 103) dan lain sebagainya, yang karenanya mereka telah mempersempit diri mereka sendiri. Juga mengharamkan bagi mereka semua hal yang buruk.

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan, dari Ibnu ‘Abbas: Misalnya; daging babi, riba dan berbagai makanan haram yang mereka halalkan, yang telah diharamkan oleh Allah Ta’ala.
Sebagian ulama mengatakan, setiap makanan yang dihalalkan Allah adalah baik dan bermanfaat dalam badan dan agama. Dan setiap makanan yang diharamkan Allah Ta’ala, adalah buruk dan berbahaya dalam badan dan agama.

Firman-Nya: wa yadla’u ‘anHum ishraHum wal aghlaalal latii kaanat ‘alaiHim (“Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”) Maksudnya, bahwa ia datang dengan membawa kemudahan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan melalui beberapa jalan, dari Rasulullah saw. beliau bersabda:
“Aku diutus dengan (agama yang) haniifiyyatis samhah (lures, bersih dari syirik, yang penuh kemudahan).” (HR Ahmad)

Dan Rasulullah pernah berpesan kepada kedua amirnya, Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari, ketika beliau mengutus keduanya ke Yaman: “Sampaikanlah berita gembira dan janganlah kalian membuat orang lari. Berikanlah kemudahan dan jangan mempersulit, serta hendaklah kalian saling bersepakat dan janganlah berselisih.” (Muttafaq’alaih)

Salah seorang Sahabat Rasulullah saw, Abu Barzah al-Aslami berkata: “Aku pernah menemani Rasulullah saw. dan aku pernah menyaksikan kemudahan yang disampaikannya.”

Umat-umat terdahulu sebelum kita merasa sempit atas syariat yang diberikan kepada mereka. lalu Allah mempermudah dan memperluas urusan umat ini. Oleh karena itu Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah memberi maaf bagi umatku yang terbersit dalam dirinya, selama ia belum mengucapkan atau mengerjakannya.”

Beliau juga bersabda:
“Dimaafkan atas umatku kesalahan, kelupaan dan apa yang dipaksakan kepada mereka.” (HR Ibnu Majah, Baihaqi dll)

Oleh karena itu, Allah telah membimbing umat ini untuk berdo’a:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Berikanlah maaf kepada kami, ampunilah kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dan dalam Shahih Muslim ditegaskan, bahwa Allah Ta’ala menjawab setiap permohonan tersebut, “Qad fa’altu, qad fa’altu” (“Sungguh, Aku telah melakukannya. Sungguh, Aku telah melakukannya.”)

Firman Allah selanjutnya: fal ladziina aamanuu biHii wa ‘azzaruuHu wanasharuuHu (“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, dan menolongnya.”) Maksudnya, mengagungkan dan menghormatinya.

Sedangkan firman-Nya: wat taba’un nuural ladzii unzila ma’aHu (“Dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya.”) Yaitu, al-Qur’an dan wahyu yang dibawanya untuk disampaikan kepada umat manusia.
Ulaa-ika Humul muflihuun (“Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”) Yakni di dunia dan di akhirat.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: