Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 158

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 1588

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. al-A’raaf: 158)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad saw: qul (“Katakanlah,”) wahai Muhammad: yaa ayyuHan naasu (“’Hai sekalian manusia.’”) Seruan ini bersifat umum, untuk oran yang berkulit hitam dan putih, Arab maupun non-Arab.
Innii rasuulullaaHi ilaikum jamii’an (“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.”) Maksudnya, kepada seluruh umat manusia. Ini merupakan kemuliaan dan keagungan Rasulullah saw, bahwa beliau adalah penutup para Nabi dan diutus kepada umat manusia secara keseluruhan.

Ayat-ayat yang membahas masalah ini cukup banyak, begitu pula hadits-hadits tentang masalah ini amat banyak pula, tidak mungkin untuk dihitung. Masalah ini adalah masalah prinsip yang mesti diketahui dalam ajaran Islam, bahwa Muhammad adalah Rasul Allah kepada seluruh umat manusia.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Darda’: aku pernah mendengar Abu Darda’ berkata: “Pernah terjadi diskusi antara Abu Bakar dan ‘Umar lalu Abu Bakar membuat ‘Umar marah. Maka ‘Umar pergi meninggalkannya dalam keadaan marah. Kemudian Abu Bakar mengikutinya untuk meminta kepadanya, agar memaafkannya. Tetapi ‘Umar tidak memberikan maaf kepadanya, hingga ia menutup pintu rumahnya tepat di hadapan
wajahnya (Abu Bakar). Setelah itu Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah.”

Abu Darda’ melanjutkan, Pada saat itu kami sedang berada di sisi beliau. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Adapun sahabatmu ini, telah menjadikan (orang lain) marah dan dendam.” Maka ‘Umar pun, lanjut Abu Darda’, menyesal apa yang telah dilakukannya. Lalu ia berangkat menuju rumah Rasulullah kemudian mengucapkan salam dan duduk di hadapan Nabi saw., lalu menceritakan peristiwa yang telah terjadi. Maka Rasulullah pun marah, Kemudian Abu Bakar berkata: “Demi Allah. Ya Rasulullah, sungguh akulah yang telah berbuat dhalim.” Lalu Rasulullah saw bersabda:
“Apakah kalian akan meninggalkan Sahabatku ini? Sungguh (ketika dahulu) aku mengatakan: ‘Hai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepada kalian semua.’ Lalu kalian mengatakan: `Engkau berdusta.’ Sedangkan Abu Bakar mengatakan: `Engkau benar.” (Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.)

Di dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), dari hadits Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Aku telah diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku; Aku dimenangkan melalui rasa takut (yang dirasakan oleh musuh dalam jarak perjalanan satu bulan; dijadikannya bumi ini untukku sebagai masjid dan alat bersuci, oleh karena itu, barangsiapa di antara umatku yang mendapatkan waktu shalat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat; dihalalkan bagiku harta rampasan perang, di mana hal itu tidak pernah dihalalkan seorang pun sebelumku; diberikan kepadaku syafa’at; dan Nabi terdahulu diutus kepada kaumnya, sedang aku diutus kepada umat manusia secara keseluruhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Firman Allah: alladzii laHuu mulkus samaawaati wal ardli laa ilaaHa illaa Huwa yuhyii wa yumiitu (“Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan.”) Ini adalah sifat Allah swt. yang disebutkan melalui ucapan Rasulullah saw. artinya, “Yang mengutusku adalah Pencipta, Rabb dan Penguasa segala sesuatu, yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, (kekuasaan untuk) menghidupkan, dan mematikan. Dan kepunyaan-Nyalah segala hukum.”

Dan firman-Nya: fa aaminuu billaaHi wa rasuuliHin nabiyyil ummiyyi (“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi.”) Allah memberitahukan kepada mereka, bahwa beliau itu adalah Rasul-Nya yang diutus kepada mereka, lalu mereka diperintahkan untuk mengikutinya dan beriman kepadanya.
An nabiyyil ummiyyi (“Seorang Nabi yang ummi.”) Yakni, seorang Nabi yang telah dijanjikan dan diberitahukan kepada kalian melalui kitab-kitab yang terdahulu (sebelum al-Qur’an.Pent.), bahwa beliau menyandang sifat tersebut yang terdapat dalam kitab-kitab mereka, oleh karena itu Allah menyebutnya seorang Nabi yang ummi.

Dan firman Allah selanjutnya: alladzii yu’minu billaaHi wa kalimatiHi (“Yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya.”) Maksud nya, ucapannya dibenarkan oleh amal perbuatannya dan ia beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Wat tabi’uuHu (“Dan ikutilah ia.”) Maksudnya, tempuhlah jalannya dan ikutilah jejaknya, “Supaya kamu mendapat petunjuk.” Yaitu ke jalan yang lurus.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: