Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 164-166

4 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 164-166“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka, atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras.’ Mereka menjawab: ‘Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggungjawab) kepada Rabbmu dan supaya mereka bertakwa.’ (QS. 7:164) Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. 7:165) Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ (QS. 7:166).” (al-A’raaf: 164-166)

Allah memberitahukan tentang penduduk negeri ini, bahwa mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok melakukan pelanggaran dan melakukan tipu muslihat untuk dapat berburu ikan pada hari Sabtu, sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya dalam surat al-Baqarah. Kelompok kedua melarang melakukan hal itu dan mejauhkan diri darinya. Dan kelompok ketiga berdiam diri yaitu tidak berbuat dan tidak juga melarang, tetapi kelompok ini mengatakan kepada yang melakukan pengingkaran (kelompok kedua): “Mengapa kalian menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka, atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?”

Maksudnya, mengapa kalian melarang mereka, padahal kalian mengatahui bahwa mereka pasti akan binasa dan mendapatkan siksaan dan Allah karena larangan kalian itu tidak akan membawa manfaat sama sekali bagi mereka. Kelompok yang melakukan pelarangan itu menjawab kepada mereka, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggungjawab) kepada Rabbmu. ”

Sebagian ulama membaca “ma’dziratun” dengan memberikan harakat dhammah dengan pengertian, “Ini adalah alasan kepada Rabb kami. “Sedangkan sebagian lainnya membacanya dengan memberikan harakatfathah, dengan pengertian, Kami melakukan hal itu, agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu.” Yaitu atas kewajiban yang Allah perintahkan kepada kami, berupa amar ma’ruf nahi mungkar.

Wa la’allaHum yattaquun (“Dan supaya mereka bertakwa.”) Mereka mengatakan, semoga dengan pengingkaran ini mereka dapat menjauhkan diri dan meninggalkan apa yang mereka kerjakan, serta kembali kepada Allah dalam keadaan bertaubat. Maka jika mereka bertaubat kepada-Nya, pasti Allah akan menerima taubat mereka dan merahmati mereka.

Allah berfirman: fa lammaa nasuu maa dzukkiruu biHii (“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepiada mereka.”) Artinya, setelah para pelaku itu menolak menerima nasihat; anjainal ladziina yanHauna ‘anis suu-i wa akhadznal ladziina dhalamuu (“Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat, dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dhalim.”) Yaitu yang melakukan kemaksiatan; bi ‘adzaabin ba-iisin (“Siksaan yang keras.”)

Dalam ayat ini Allah telah menetapkan keselamatan bagi orang-orang yang melakukan pelarangan dan kebinasaan bagi orang-orang yang dhalim, sedangkan Allah mendiamkan (tidak menyebutkan ketentuan) terhadap yang berdiam diri, karena balasan sesuai dengan jenis amal perbuatan dan mereka itu tidak melakukan perbuatan yang menjadikan mereka berhak mendapatkan pujian, juga mereka tidak melakukan perbuatan dosa yang jadikan mereka tercela.

Namun demikian, para imam telah berbeda pendapat mengenai mereka, apakah mereka itu termasuk orang-orang yang dibinasakan ataukah termasuk orang-orang yang diselamatkan. Mengenai hal ini terdapat dua pendapat.

Firman Allah: wa akhadznal ladziina dhalamuu bi ‘adzaabin ba-iisin (“Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dhalim siksaan yang keras.”) Dalam ayat ini, menurut pengertiannya terdapat dalil bahwa orang-orang yang berdiam-diri itu selamat.

Kata ba-is, menurut Mujahid berarti keras. Dan dalam riwayat lain (juga dari Mujahid) berarti pedih. Sedang menurut Qatadah, artinya menyakitkan. Tetapi semua makna itu berdekatan. Wallahu a’lam.
Dan firman Allah: “khaasi-iin” berarti rendah, hina dan remeh.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: