Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 168-170

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 168-170“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. 7:168) Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: ‘Kami akan diberi ampun.’ Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti (QS. 7:169) Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan. (QS. 7:170)” (al-A’raaf: 168-170)

Allah menyebutkan bahwa Dia telah mengolongkan mereka di bumi ini menjadi beberapa umat atau kelompok. Min Humush shaalihuuna wa minHum duuna dzaalika (“Di antaranya ada orang-orang yang shalih dan di antaranya ada yang tidak demikian.”) Maksudnya, di antara mereka terdapat orang baik dan ada juga yang tidak.

Wa balaunaaHum (“Dan kami coba mereka.”)Artinya Kami uji mereka: bil hasanati was sayyi-aati (“Dengan [nikmat] yang baik-baik dan [bencana] yang buruk-buruk.”) Yakni dengan kenikmatan dan penderitaan, rasa senang dan rasa takut, kesehatan dan cobaan. La’allaHum yarji’uun (“Agar mereka kembali [kepada kebenaran]”)

Setelah itu, Allah berfirman: fa khalafa mim ba’diHim khalfuw waritsul kitaaba ya’khudzuuna haradla Haadzal adnaa (“Maka datanglah sesudah mereka generasi [yang jahat] yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini.”)

Allah berfirman, setelah generasi yang di dalamnya terdapat orang shalih dan juga orang jahat itu, datanglah generasi yang di dalamnya tidak terdapat kebaikan sama sekali, padahal mereka telah mewarisi pelajaran Taurat. Mujahid mengatakan, mereka itu adalah orang-orang Nasrani. Tetapi bisa juga maksudnya lebih umum dari itu.

ya’khudzuuna haradla Haadzal adnaa (“Yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini.”) Maksudnya, mereka menukar penebaran dan penyebaran kebenaran dengan harta benda dunia, sedang mereka menunda-nunda dan menjanjikan diri akan bertaubat. Dan setiap kali tampak oleh mereka harta benda dunia itu, maka mereka pun terperangkap di dalamnya lagi.

Oleh karena itu Allah , berfirman: wa iy ya’tiHim ‘aradlum mitsluHu ya’khudzuuHu (“Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda sebanyak itu pula, niscaya mereka akan mengambilnya [juga].”)

Mengenai firman Allah: a lam yu’khadz ‘alaiHim miitsaaqul kitaabi al laa yaquuluu ‘alallaaHi illal haqqi (“Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar?”) Ibnu Juraij mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, “Yaitu apa yang mereka angan-angankan dari Allah, berupa ampunan atas dosa-dosa mereka, yang mereka senantiasa melakukannya dan tidak bertaubat darinya.”

Dan firman-Nya: wad daarul aakhiratu khairul lil ladziina yattaquuna afalaa ta’qiluun (“Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?”) Allah menjanjikan bagi mereka pahala yang sangat banyak dan memperingatkan mereka dari siksaan-Nya yang sangat berat. Artinya, pahala dan apa yang terdapat di sisi-Ku adalah lebih baik bagi orang-orang yang menjaga diri dari larangan dan meninggalkan hawa nafsunya, serta menuju ketaatan kepada Rabbnya.

A falaa ta’qiluun (“Apakah kamu sekalian tidak mengerti?”) Maksudnya, apakah orang-orang yang menukar apa yang ada pada sisi-Ku, dengan harta benda duniawi itu tidak mempunyai akal pikiran yang menjaga mereka dari kebodohan dan kesia-siaan yang mereka lakukan?

Selanjutnya Allah memuji orang-orang yang berpegang teguh kepada Kitab-Nya, yang mengajak mereka mengikuti Rasul-Nya, Muhammad saw. sebagaimana yang termaktub di dalamnya. Allah berfirman: wal ladziina yumassikuuna bil kitaabi (“Dan orang orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab.”)

Maksudnya, berpegang teguh kepadanya dan mengikuti sernua perintahnya, serta menjauhkan diri dari larangannya, wa aqaamush shalaata innaa laa nudlii’u ajral mushlihiin (“Serta medirikan shalat [akan diberi pahala], karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: