Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 172-174

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 172-174“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).’ (QS. 7:172) Atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Allah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?’ (QS. 7:173) Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. 7:174)” (al-A’raaf: 172-174)

Allah Ta’ala memberitahukan, bahwasanya Allah mengeluarkan anak keturunan Adam dari tulang sulbi mereka, dalam keadaan mereka bersaksi terhadap diri mereka sendiri, bahwa Allah adalah Rabb dan Penguasa mereka, dan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) melainkan hanya Dia, sebagaimana Allah telah memfitrahkan mereka dan mentabi’atkan dalam keadaan seperti itu.

Allah berfirman yang artinya: “Maka hadapkanlah w’ajahmu dengan lurus kepada agama Allah. Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (QS. Ar-Ruum: 30)

Dan dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Muslim), diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah.” -dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam keadaan memeluk agama ini.- Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor binatang dilahirkan dalam keadaan utuh (sempurna), apakah kalian mendapatinya dalam keadaan terpotong (cacat)?”

Dan dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari ‘Iyadh bin Himar, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus). Maka datanglah syaitan-syaitan kepada mereka, lalu menyimpangkan mereka dari agamanya dan mengharamkan bagi mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka.” (HR. Muslim)

Ada beberapa hadits tentang pengambilan anak keturunan manusia ini dari tulang sulbi Adam as. dan mereka dibedakan menjadi Ash-haabul Yamiin (golongan kanan atau ahli Surga) dan Ash-haabusy Syimaal (golongan kiri atau ahli Neraka). Pada sebagian hadits itu disebutkan adanya pengambilan kesaksian terhadap mereka, bahwa Allah adalah Rabb mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ditanyakan kepada salah seorang penghuni Neraka pada hari Kiamat kelak: ‘Bagaimana pendapatmu jika engkau mempunyai sesuatu di atas bumi, apakah engkau bersedia untuk menjadikannya sebagai tebusan?’ Maka ia menjawab: `Ya, bersedia.’ Kemudian Allah berfirman: `Sesungguhnya Aku telah menghendaki darimu, sesuatu yang lebih ringan dari itu. Aku telah mengambil perjanjian darimu ketika masih berada di punggung Adam, yaitu agar engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, tetapi engkau menolak, tetap nempersekutukan-Ku.’” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)

Ada hadits lain, diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Muslim bin Yasar al Juhani, bahwa ‘Umar bin al-Khaththab pernah ditanya mengenai ayat: wa idz akhadza rabbuka mim banii aadama min dhuHuuriHim dzurriyyataHum wa asy-HadaHum ‘alaa anfusiHim alastu birabbikum qaaluu balaa syaHidnaa (“Dan ingatlah kettka Rabbmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ Maka ‘Umar pun menjawab, aku mendengar ditanya mengenai ayat tersebut, maka beliau menjawab:

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam as, lalu Allah mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, maka keluarlah darinya keturunannya dan Allah berfirman: `Aku telah menciptakan mereka sebagai ahli Surga dan dengan amalan ahli Surga mereka beramal.’ Lalu mengusap lagi punggungnya dan mengeluarkan darinya keturunan yang lain, Allah pun berfirman: `Aku telah menciptakan mereka sebagai ahli Neraka dan dengan amalan ahli Neraka mereka beramal.’ Kemudian ada seseorang yang bertanya: `Ya Rasulullah untuk apa kita beramal?’ Maka beliau menjawab: `Sesungguhnya, jika Allah menciptakan seorang hamba sebagai penghuni Surga, maka Allah menjadikannya berbuat dengan amalan penghuni Surga, sehingga ia meninggal dunia atas amalan dari amalan-amalan penghuni Surga lalu ia dimasukkan ke dalam Surga karenanya. Dan jika Allah menciptakan seorang hamba sebagai penghuni Neraka, maka ia akan menjadikannya berbuat dengan amalan penghuni Neraka, sehingga ia meninggal dunia di atas amalan dari amalan-amalan penghuni Neraka lalu ia dimasukkan ke dalam Neraka karenanya.’”

(Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi dalam tafsir keduanya, juga dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shabihnya, semuanya bersumber dari Imam Malik bin Anas. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan)

Beberapa ulama salaf dan khalaf mengatakan bahwa maksud dari pengambilan kesaksian itu adalah, penciptaan mereka atas fitrah tauhid, sebagaimana telah diuraikan dalam hadits Abu Hurairah dan ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i dan riwayat al-Hasan al-Bashri, dari al-Aswad bin Sari’, dan al-Hasan al-Bashri sendiri telah menafsiran demikian terhadap ayat tersebut. Mereka mengatakan, oleh karma itu, Allah berfirman: wa idz akhadza rabbuka mim banii aadama (“Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan dari Bani Adam (dari anak-anak Adam).” Dan Allah tidak berfirman, dari Adam.

Min dhuHuuriHim (“dari tulang sulbi mereka”) dan Allah tidak berfirman, dari tulang sulbi Adam. dzurriyyataHum (“anak keturunan mereka”) maksudnya, menjadikan keturunan mereka dari generasi ke generasi dan, dari kurun ke kurun, sebagaimana firman Allah berikut ini: “Yang menjadikanmu khalifah di muka bumi.” (an-Naml: 62). Juga firman-Nya: “Sebagaimana Allah telah menjadikanmu dari keturunan orang-orang lain.” (QS. Al-An’aam: 133)

Kemudian Allah berfirman: wa asy-HadaHum ‘alaa anfusiHim alastu birabbikum qaaluu balaa syaHidnaa (“Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ Maksudnya, Allah menciptakan mereka dalam keadaan bersaksi atas hal itu, dalam keadaan mengatakan kepada-Nya melalui tindakan dan ucapan. Kesaksian itu terkadang dapat berupa ucapan. Misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.’” (QS. Al-An’aam: 130)

Dan terkadang kesaksian itu dapat Juga berupa tindakan, misalnya firman-Nya: “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka bersaksi pada diri mereka sendiri berupa kekufuran.” (QS. At-Taubah: 17) Maksudnya, keadaan mereka menjadi saksi terhadap hal itu bagi diri mereka sendiri, tidak berarti mereka mengatakan hal itu melalui ucapan.
Demikian juga firman Allah: “Dan sesungguhnya manusia itu memberikan kesaksian sendiri terhadap keingkarannya.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 7)

Sebagaimana permohonan, terkadang dapat berupa ucapan, dan terkadang berupa tindakan. Misalnya, firman-Nya yang artinya: “Dan Allah telah memberikan kepadamu (keperluan kalian) dari segala yang kamu mohonkan kepada-Nya.” (QS. Ibrahim: 34)

Mereka (para ulama salaf dan khalaf) mengatakan, “Di antara dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksudkan (dari kata isy-had ini, Ed.) adalah penciptaan manusia atas fitrah tauhid, yaitu dijadikannya hal itu sebagai hujjah atas diri mereka dalam mempersekutukan Allah.” Maka seandainya pengambilan kesaksian itu sendiri benar-benar pernah terjadi, sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang, niscaya setiap orang menyebutkannya untuk dijadikan hujjah bagi dirinya. Dan jika ada orang yang mengatakan, pemberitaan tentang hal ini dari Rasulullah cukup menjadi dalil keberadaannya, maka hal itu dapat dijawab, bahwa orang-orang yang mendustakan dari kalangan orang-orang musyrik itu, mendustakan semua yang dibawa oleh para Rasul, baik mengenai hal itu maupun hal-hal lainnya. Sedangkan hal ini dijadikan hujjah tersendiri atas mereka, karenanya hal itu menunjukkan bahwa maksudnya adalah, penciptaan mereka atas fitrah pengakuan terhadap tauhid.

Untuk itu, Allah berfirman: an taquuluu yaumal qiyaamati (“[Kami lakukan yang demikian itu] agar pada hari Kiamat kamu tidak mengatakan.”) Maksudnya, agar pada hari Kiamat kelak kalian tidak mengatakan: innaa kunnaa ‘an Haadzaa (“’Sesungguhnya kami [bani Adam] adalah orang-orang yang terhadap hal ini,’”) yaitu tauhid; ghaafiliina, au taquuluu innamaa asyraka aabaa-unaa (“Lengah, atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Rabb sejak dahulu.’”)

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: