Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 180

6 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 180“Hanya milik Allah Asma’-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’-ul Husna itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raaf: 180)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa dapat menghitungnya, maka akan masuk Surga. Allah itu tunggal dan menyukai yang ganjil.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, memperhitungkannya dalam kehidupan sehari-hari, contohnya: jika seseorang mengetahui bahwa Allah itu adalah “al-Ghafuur” [Yang Mahapengampun] maka ketika ia terlanjur berbuat dosa, maka ia segera menghentikan perbuatan dosanya dan segera bertaubat serta ia tidak berputus asa dari ampunan Allah, karena ia yakin bahwa Allah adalah [Yang Mahapengampun], betapapun besarnya dosa yang telah diperbuatnya.

Hadits senada juga diriwayatkan at-Tirmidzi dalam Jami’nya, dari Syu’aib dengan sanadnya. Dan setelah sabda beliau:

“Dia menyukai yang ganjil, (ia menambahkan): Dialah Allah, yang tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) melainkan hanya Dia semata, ar-Rahmaanur Rahiim (Yang Mahapemurah, lagi Yang Mahapenyayang), al-Malik (Raja), al-Quddus (Yang Mahasuci), as-Salaam (Yang Mahamemberi keselamatan), al-Mu’min (Yang Mahamemberi keamanan), al-Muhaimin (Yang Mahamemelihara), al- Aziiz (Yang Mahamulia), al jabbaar (Yang Mahakuasa untuk memaksakan
kehendak-Nya terhadap seluruh makhluk), al-Mutakabbir (Yang mempunyai segala kebesaran dan keagungan), al-Khaaliq (Yang menciptakan), al-Baari’ (Yang mengadakan), al-Mushawwir (Yang memberi bentuk dan rupa), al-Ghaffaar (Yang Mahapengampun), al-Qahhaar (Yang Mahaperkasa), al- Wahhaab (Yang Mahapemberi), ar-Razzaaq (Yang Mahapemberi rizki), al-Fattaah (Yang Mahapemberi keputusan), al-Aliim (Yang Mahamengetahui), al-Qaabidh (Yang menyempitkan rizki), al-Baasith (Yang melapangkan rizki), al-Khaafidh (Yang merendahkan), ar-Raafi’ (Yang meninggikan), al-Muizz (Yang memuliakan), al-Mudzill (Yang menghinakan), as-Samii’ (Yang Mahamendengar), al-Bashiir (Yang Mahamelihat), al-Hakam (Yang menetapkan keputusan atas segala ciptaan-Nya), al-‘Adl (Yang Mahaadil), al-Lathiif (Yang Mahalembut terhadap hamba-Nya), al-Khabiir (Yang Mahamengetahui), al-Haliim (Yang Mahapenyantun), al- Adhiim (Yang Mahaagung), al-Ghafuur (Yang Mahapengampun), asy-Syakuur (Yang Mahamensyukuri), al-Aliyy (Yang Mahatinggi), al-Kabiir (Yang Mahabesar), al-Hafiidh (Yang Mahamemelihara), al Muqiit (Yang berkuasa memberi setiap makhluk rizkinya, Yang menjaga-dan melindungi), al-Hasiib (Yang memberi kecukupan dengan kadar yang tepat), al-jaliil (Yang Mahamulia, Yang Mahaagung), al-Kariim (Yang Mahapemurah), ar-Raqiib (Yang Mahamengawasi), al-Mujiib (Yang Mahamengabulkan, memperkenankan), al-Waasi’ (Yang Mahaluas), al-Hakiim (Yang Mahabijaksana), al-Waduud (Yang Mahapengasih), al-Majiid (Yang Mahamulia, Mahaterpuji), al-Baa’its (Yang menghidupkan kembali, membangkitkan), asy-Syahiid (Yang Mahamenyaksikan), al-Haqq (Yang Mahabenar), al-Wakiil (Pemelihara, Pelindung), al-Qawiyy (Yang Mahakuat), al-Matiin (Yang Mahakokoh), al-Waliyy (Yang melindungi), al-Hamiid (Yang Mahaterpuji), al-Muhshi (Yang mengumpulkan (mencatat amal perbuatan), al-Mubdi’ (Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan), al-Mu’iid (Yang menghidupkan kembali), al-Muhyi (Yang menghidupkan), al-Mumiit (Yang mematikan), al-Hayy (Yang Mahahidup), al-Qayyuum (Yang terus-menerus mengurus [makhluk-Nya]), al-Waajid (Yang mengadakan), Maajid (Yang Mahaagung), al-Waahid (Yang satu, tunggal), al-Ahad (Yang Mahaesa), al-Fard (Yang tunggal), ash-Shamad (Yang Mahasempurna, bergantung kepada-Nya segala sesuatu), al-Qaadir (Yang berkuasa), al-Muqtadir (Yang Maha berkuasa), al-Muqaddim (Yang mendahulukan), al-Muakhkhir (Yang mengakhirkan), al-Awwal (Yang awal, yang telah ada sebelum segala sesuatu), al-Aakhir (Yang akhir, yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah), adh-Dhaahir (Yang tidak ada sesuatu pun di atas-Nya), al-Baathin (Yang tidak ada sesuatu pun menghalangi-Nya), al-Waaliyy (Penolong), al-Muta’aaliy (Yang Mahatinggi), al-Barr (Yang melimpahkan kebaikan), at-Tawwaab (Yang Mahamenerima taubat), al-Muntaqim (Yang mengancam dengan siksaan), al-`Afuww (Yang Mahapemaaf), ar-Ra-uuf (Yang Mahabelas kasihan), Maalikul Mulk (Raja segala raja), Dzul Jalaali wal Ikraam (Yang mempunyai keagungan dan kemuliaan), al-Muqsith (Yang Mahaadil), al Jaami’ (Yang menghimpun manusia pada Kiamat), al-Ghaniyy (Yang Mahakaya), al-Mughni (Yang menjadikan) al-Maani’ (Yang menahan), adh-Dhaarr (Yang mencelakakan), an-Naafi’ (Yang memberikan manfaat), an-Nuur (Yang menerangi), al-Haadi (Yang memberi petunjuk), al-Badii’ (Yang menciptakan), al-Baaqi (Yang kekal), al-Waarits (Yang mewariskan), ar-Rasyiid (Yang memberi petunjuk), ash-Shabuur (Yang Mahasabar).”

Lebih lanjut at-Tirmidzi mengatakan: “Ini adalah hadits gharib,diriwayatkan dari beberapa jalan, dari Abu Hurairah ra. Dan kami tidak mengetahul dalam banyak riwayat penyebutan Asma’-ul Husna kecuali dalam hadits tersebut.” (Riwayat tanpa lafazh al Ahad dan Asma’-ul Husna lebih kuat daripada niwayatnya ini-red)

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, melalui jalan Shafwan, serta diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunannya, dari Abu Hurairah sebagai hadits marfu’ dan disebutkan Asma’ ul Husna seperti yang tersebut di atas dengan penambahan dan pengurangan. Dan yang sandaran oleh sekelompok huffazh (penghafal hadits) adalah bahwasanya penyebutan Asma’-ul Husna dalam hadits ini adalah mudraj (tambahan sisipan).

Dan hal itu sebenarnya adalah seperti yang diriwayatkan al-Walid bin Muslim dan ‘Abdul Malik bin Muhmmad ash-Shan’ani, dari Zuhair Muhammad, telah sampai kepadanya dari beberapa ulama, bahwa mereka telah mengatakan hal tersebut. Dengan kata lain, mereka mengumpulkannya dari al-Qur’an, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, Sufyan bin ‘Uyainah dan Abu Zaid al-Lughawi. Wallahu a’lam.

Kemudian perlu diketahui bahwa Asma’-ul Husna itu tidak terbatas bilangan sembilan puluh sembilan, berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dari Rasulullah saw. beliau bersabda:
“Tidaklah suatu kedukaan dan kesedihan menimpa seorang hamba, lalu ia mengucapkan: `Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, putera hamba-Mu, putera hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku untukku dan ketetapan-Mu adalah adil terhadap diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama kepunyaan-Mu, yang dengannya Engkau menamai diri-Mu sendiri, atau yang Engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi-Mu. Hendaklah Engkau menjadikan al-Qur’an sebagal penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelipur kesedihanku, penghilang dukacita dan kesusahanku,’ melainkan Allah akan menghilangkan dukacita dan kesusahannya, serta menggantikannya dengan kebahagiaan.”

Para Sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, apakah kami boleh mempelajarinya?’ Beliau menjawab: ‘Tentu saja, sepatutnya bagi siapa saja yang mendengarnya untuk mempelajarinya.’”

Hal yang senada juga diriwayatkan oleh Imam Abu Hatim bin Hibban al-Busti dalam Shahihnya. Seorang ahli fiqih, Imam Abu Bakar Ibnul `Arabi, salah seorang Imam madzhab Maliki, dalam bukunya, “al-Ahwadzi fii Syarhit Tirmidzi”, menyebutkan bahwa ada di antara mereka mengumpulkan asma Allah (nama-nama Allah) dari al-Qur’an dan as-Sunnah sebanyak seribu nama. Wallahu a’lam.

Dan mengenai firman Allah: wa dzarul ladziina yulhiduuna fii asmaa-iHi (“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam [menyebut] nama-nama-Nya.”) Al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Penyimpangan orang-orang itu adalah mereka menyebut al-Laata dalam asma Allah.”

Mengenai firman-Nya ini, Menurut Ibnu Juraij, dari Mujahid, ia mengatakan: “Mereka mengambil pecahan kata al-Laata itu dari kata Allah, sedangkan al-‘Uzza dari al-‘Aziiz”.

Qatadah mengatakan: “Kata yulhiduuna (“menyimpangkan”) berarti mengatakan dalam nama-nama-Nya.” Sedangkan `Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan Lari Ibnu `Abbas, ia berkata: ‘al-ilhaadu’ berarti pendustaan. Asal kata “al-ilhaadu” dalam bahasa Arab berarti penyimpangan dari tujuan, juga berarti penyimpangan kelaliman dan penyelewengan. Dan di antara pengertiannya yaitu, “al-lahdu” (lubang lahad) yang ada di dalam kubur, karena kecondongannya ke arah kiblat dari lubang galian.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: