Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 205-206

7 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 205-206“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. 7:205) Sesungguhnya Malaikat-Malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan beribadah kepada Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud. (QS. 7:206)” (al-A’raaf: 205-206)

Allah mengingatkan untuk senantiasa banyak mengingat-Nya di waktu pagi dan petang. Sebagaimana Allah memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya pada kedua waktu tersebut dalam firman-Nya yang artinya: “Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam[nya].”) (Qaaf: 39)

Hal ini terjadi sebelum diwajibkannya shalat lima waktu pada malam Isra’ Mi’raj. Ayat ini termasuk Makkiyyah (diturunkan di Makkah).

Dalam ayat ini, Allah berfirman: “bil ghuduwwi” yang berarti permulaan siang (waktu pagi). Sedangkan kata “al aashaal” adalah jamak dari kata “ashiilun” yang berarti petang hari, sebagaimana kata “al aimaanun” adalah jamak dari kata “yamiinun” (sumpah).

Adapun firman Allah: tadlarru’aw wa khifyatan (“Dengan merendahkan diri dan takut”) maksudnya ingatlah Allah dalam dirimu dengan penuh harapan dan juga rasa takut serta tidak mengeraskan suara. Oleh karena itu Allah berfirman: wa duunal jaHri minal qauli (“dan dengan tidak mengeraskan suara.”) Demikianlah itulah dzikir yang disunnahkan, bukan dengan seruan dan suara keras.

Oleh karena itu, ketika para Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: “Apakah Rabb kita itu dekat sehingga cukup bermunajat, atau jauh sehingga kita perlu menyerunya (dengan suara keras)?” Maka Allah menurunkan firman-Nya, yang artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah ‘Bahwa Aku adalah dekat.’ Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslin), diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdo’a dalam salah satu perjalanan. Maka Rasulullah saw. bersabda kepada mereka:
“Hai sekalian manusia, rendahkanlah suara kalian dalam do’a. Sebab sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada yang tuli dan yang ghaib. Sesungguhnya yang kalian seru itu adalah Mahamendengar lagi sangat dekat. Allah lebih dekat kepada kalian melebihi dekatnya salah seorang di antara kalian kepada leher binatang kendaraannya.”

Dan maksud ayat ini bisa berarti juga seperti firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, serta carilah jalan tengah di antara keduanya.” (QS. Al-Israa’: 110)

Karena orang-orang musyrik jika mendengar al-Qur’an, mereka mencacinya dan mencaci (Allah) Yang menurunkannya, serta mencaci orang yang membawanya. Lalu Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw untuk tidak mengeraskan bacaan al-Qur’an, supaya tidak dicaci oleh orang-orang musyrik dan juga diperintahkan untuk tidak merendahkannya sehingga tidak terdengar oleh para Sahabatnya. Dan hendaklah ia mengambil jalan tengah antara keduanya (jahr dan sirr).

Demikian juga firman Allah dalam ayat ini: wa duunal jaHri minal qauli bil ghuduwwi wal aashaali wa laa kakum minal ghaafiliin (“Dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”) Oleh karena itu, Allah memuji malaikat yang senantiasa bertasbih pada malam dan Siang hari, serta tidak henti-hentinya. Allah berfirman:

Innal ladziina ‘inda rabbika laa yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatiHi (“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan beribadah kepada Allah.”) Allah menyebutkan hal itu supaya dijadikan teladan dalam ketaatan dan ibadah mereka. Oleh karena itu, di sini disyari’atkan kepada kita untuk bersujud setelah disebutkan sujudnya para Malaikat itu kepada Allah swt. Dan ini adalah sujud (yaitu sujud tilawah,-pent) pertama kali di dalam al-Qur’an yang disyari’atkan kepada pembaca dan pendengarnya, berdasarkan ijma’.

Demikian itulah akhir dari penafsiran surat al-A’raaf. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: