Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 108

18 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 108“Dan janganlah kamu memaki ilah-ilah yang mereka ibadahi selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Allah memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 108)

Allah berfirman, melarang terhadap Rasul-Nya, Muhammad saw, dan orang-orang yang beriman dari mencaci ilah-ilah kaum musyrikin, meskipun cacian itu mengandung kemaslahatan, namun hal itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan itu sendiri, yaitu balasan orang-orang musyrik dengan cacian terhadap Ilah orang-orang mukmin, padahal Allah adalah “Rabb, yang tiada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia.”

Sebagaimana yang dikatakan `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas, mengenai ayat ini, “Orang-orang musyrik itu berkata: `Hai Muhammad, engkau hentikan makianmu itu terhadap ilah-ilah kami, atau kami akan mencaci-maki Rabbmu.’ Lalu Allah melarang Rasulullah dan orang-orang mukmin mencaci patung-patung mereka; fa yasubbullaaHa ‘adwam bighairi ‘ilmi (“Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui baias tanpa pengetahuan.”)

Abdurrazzaq mengatakan dari Ma’mar, dari Qatadah: “Dahulu kaum muslimin mencaci berhala-berhala orang-orang kafir, lalu orang-orang kafir mencaci maki Allah Ta’ala secara berlebihan dan tanpa didasari dengan ilmu pengetahuan, lalu Allah menurunkan:
Laa tasubbulladziina yad’uuna min duunillaahi (“Dan janganlah kamu memaki ilah-ilah yang mereka ibadahi selain Allah.”)

fa yasubbullaaHa ‘adwam bighairi ‘ilmi (“Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui baias tanpa pengetahuan.”) Hal ini menunjukkan bahwa meninggalkan kemaslahatan untuk menghindari kerusakan yang lebih parah adalah lebih diutamakan. Hal itu didasarkan pada hadits shahih bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Dilaknat orang yang mencaci-maki orang tuanya.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana seseorang mencaci-maki orang tuanya?” Beliau saw. menjawab: “Ia mencaci ayah seseorang, maka orang itu pun mencaci ayahnya. Ia mencaci ibu seseorang, maka orang itu pun mencaci ibunya (atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah saw).”

Firman-Nya: kadzaalika zayyannaa likulli ummatin ‘amalaHum (“Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap balk pekerjaan mereka.”) Maksudnya, sebagaimana kami telah hiasi bagi orang-orang itu cinta kepada berhala-berhala mereka, fanatik terhadapnya, serta mendukungnya. Demikian pula Kami hiasi setiap umat dari umat-umat yang sesat amal perbuatan mereka yang mereka kerjakan.

Allah mempunyai hujjah yang kuat dan hikmah yang sempurna atas semua yang dikehendaki dan dipilih-Nya.

Tsumma ilaa rabbiHim marji’uHum (“Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka.”) Yaitu tempat kembali mereka. Fa yunabbi-uHum bimaa kaanuu ya’maluun (“Lalu Allah memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”) Maksudnya, mereka akan diberikan balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka tersebut, jika baik maka kebaikan pula balasannya, dan jika buruk, maka keburukan pula balasannya.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: