Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 122

18 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 122“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan, dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita, yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122)

Ini merupakan perumpamaan yang diberikan Allah bagi orang mukmin, yang sebelumnya dalam keadaan mati, maksudnya dalam kesesatan, ia binasa dan bingung, lalu Allah menghidupkannya kembali, yakni menghidupkan hatinya dengan iman, serta menunjuki dan menuntunnya untuk mengikuti para Rasul-Nya.

Wa ja’alnaa laHuu nuuray yamsyii biHii fin naasi (“Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia.”) Artinya, dia mendapatkan petunjuk bagaimana harus berjalan dan bertindak dengan cahaya itu. Cahaya tersebut adalah al-Qur’an, sebagaimana yang diriwayatkan al-‘Aufi dan Ibnu Abi Thalhah dari Ibnu `Abbas. Sedangkan menurut as-Suddi (adalah) Islam. Dan semuanya itu benar.

Kamam matsaluHuu fidh dhulumaaati (“Serupa keadaannya dengan orang yang berada dalam gelap gulita.”) Yaitu kebodohan, hawa nafsu, dan kesesatan yang beraneka ragam. Laisa bikhaarijiina minHaa (“Yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?”)
Artinya, tidak mendapatkan petunjuk kepada jalan keluar dan juga jalan menuju keselamatan.

Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257). Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak.

Letak kesesuaian perumpamaan dengan cahaya, dan kegelapan di sini terdapat pada permulaan surat al-An’aam. Allah berfirman: wa ja’aladh dhulumaati wan nuur (“Dan menjadikan gelap dan terang.”) Dan yang benar adalah, bahwa ayat ini bersifat umum tercakup di dalamnya orang mukmin dan orang kafir.

Firman-Nya: kadzaalika zuyyina lil kaafiriina maa kaanuu ya’maluun (“Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”) Maksudnya, Kami menjadikan kebodohan dan kesesatan mereka itu sesuatu yang indah. bagi mereka, sebagai ketentuan dan hikmah yang sempurna dari Allah, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia, Yang Esa, (dan) tidak ada sekutu bagi-Nya.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: