Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 95-97

18 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 95-97“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling. (QS. 6:95) Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui. (QS. 6:96) Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. 6:97)” (al-An’aam: 95-97)

Allah memberitahukan, bahwa Dia menumbuhkan biji dan benih tumbuh-tumbuhan. Artinya, Allah membelahnya di dalam tanah (yang lembab), kemudian dari biji-bijian tersebut tumbuhlah berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, sedangkan dari benih-benih itu (tumbuhlah) buah-buahan dengan berbagai macam warna, bentuk dan rasa yang berbeda.

Oleh karena itu firman Allah: faaliqul habbi wan nawaa (“Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan.”) Ditafsirkan dengan firman-Nya: yukhrijul hayya minal mayyiti wa mukhrijul mayyiti minal hayyi (“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”) Maksudnya, Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang hidup dari biji dan benih, yang merupakan benda mati.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan. [sampai dengan firman-Nya-] Dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaasiin: 33-36)

Firman-Nya: wa mukhrijul mayyiti minal hayyi (“Dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”) Penggalan ayat ini ber’athaf kepada: faaliqul habbi wan nawaa (“Menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan.”) Kemudian Allah menafsirkannya dan setelah di’athafkan padanya firman-Nya: wa mukhrijul mayyiti minal hayyi (“Dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”)

Para ahli tafsir mengungkapkan tentang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan demikian pula sebaliknya, dengan berbagai macam ungkapan yang semuanya saling berdekatan makna. Ada di antara mereka yang mengatkan: “Yaitu mengeluarkan ayam dari telur, atau sebaliknya.” Dan ada juga yang mengatakan: “Lahirnya anak shaleh dari orang yang jahat, dan sebaliknya.”
Dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan lainnya yang tercakup dalam makna ayat tersebut.

Setelah itu Allah berfirman: dzaalikumullaaH (“[Yang memiliki sifat-sifat] demikian adalah Allah.”) Maksudnya, yang melakukan semuanya itu tidak lain adalah Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Fa annaa tu’fakuun (“Maka mengapa kamu masih berpaling?”) Maksudnya, mengapa kalian berpaling dari kebenaran seraya menjauhinya menuju kepada yang bathil, sehingga kalian beribadah kepada ilah-ilah lain selain Allah.

Firman-Nya lebih lanjut: faaliqul ishbaaha wa ja’alal laila sakanan (“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat.”) Maksudnya, Allahlah yang menciptakan terang dan gelap. Artinya, Allahlah yang menggantikan kegelapan malam menjadi terbitnya waktu pagi lalu menyinari semua yang ada, dan ufuk pun bersinar terang, hingga lenyaplah kegelapan, malam pun pergi dengan kegelapannya, lalu datang siang dengan cahayanya yang terang.

Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu yang saling bertentangan dan berbeda, yang menunjukkan kesempurnaan keagungan-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya. Allah menyebutkan bahwa Dialah yang menyingsingkan pagi atau sebaliknya, yaitu firman-Nya: waja’al laila sakanan (“Dan menjadikan malam untuk beristirahat.”) Maksudnya, hening dan gelap supaya segala sesuatu dapat merasakan ketenangan.

Shuhaib ar-Rumi pernah berkata kepada isterinya yang murung karena melihat suaminya sering tidak tidur malam: “Sesungguhnya Allah menjadikan malam untuk beristirahat kecuali untuk Shuhaib, karena jika ia mengingat Surga, maka muncullah kerinduannya yang mendalam, dan jika ia mengingat Neraka, maka hilanglah rasa kantuknya.”

Firman-Nya lebih lanjut: wasy-syamsa wal qamara husbaanan (“Dan [menjadikan] matahari dan bulan untuk perhitungan.”) Artinya, keduanya berjalan menurut perhitungan yang sempurna, terukur, tidak berubah, dan beraturan. Masing-masing dari keduanya memiliki orbit yang dilaluinya pada musim panas dan musim dingin, sehingga perjalanan itu menghasilkan pergantian malam dan Siang berikut panjang dan pendeknya.

Firman-Nya: dzaalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliim (“Itulah ketentuan Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui.”) Maksudnya, segala sesuatu itu terjadi melalui ketetapan Allah yang Mahaperkasa yang tiada sesuatu pun dapat menentang dan menolaknya, yang Mahamengetahui segala sesuatu, sehingga tidak ada sebesar atom pun balk di langit maupun di bumi yang luput dari pengetahuan-Nya.

Seringkali dalam menyebutkan penciptaan siang dan malam, matahari dan bulan, Allah mengakhirinya dengan kalimat “Mahaperkasa dan Mahamengetahui,” sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Firman Allah: wa Huwal ladzii ja’ala lakumun nujuuma litaHtaduu biHaa fii dhulumaatil barri wal bahri (“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.”) Sebagian ulama salaf mengatakan: “Barangsiapa yang meyakini bahwa bintang-bintang itu mempunyai fungsi selain dari tiga hal tersebut, maka ia telah melakukan kesalahan dan berbuat dusta terhadap Allah swt. karena Allah telah menjadikannya sebagai hiasan langit, sebagai alat melempari syaithan, dan sebagai petunjuk bagi manusia di kegelapan daratan dan lautan.”

Firman-Nya: qad fash-shalnaa aayaati (“Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran [Kami].”) Maksudnya Kami telah menjelaskan dan menerangkannya; liqaumiy ya’lamuun (“Kepada orang-orang yang mengetahui.”) maksudnya orang-orang yang berakal, yang mengetahui kebenaran dan menghindari semua kebathilan.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: