Arsip | 01.03

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 141-142

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 141-142“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buabnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah baknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. 6: 141) Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkab-langkab syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu, (QS. 6: 142)” (al-An’aam: 141-142)

Allah berfirman, menjelaskan bahwa Dialah Pencipta segala tanaman, buah-buahan, dan binatang temak yang semuanya itu diperlakukan oleh orang-orang musyrik sesuai dengan pemikiran mereka yang rusak, dan mereka membaginya menjadi beberapa bagian serta mengelompokkannya menjadi beberapa kelompok, lalu dari kesemuanya itu ada yang mereka jadikan haram dan ada yang mereka jadikan halal.

Maka Allah berfirman: wa Huwal ladzii ansya-a jannaatim ma’ruusyaatiw wa ghaira ma’ruusyaatin (“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung.”)

Mengenai firman Allah di atas, `Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Ma’ruusyaat berarti yang tinggi.” Sedangkan dalam suatu riwayat, ma’ruusyaat adalah sesuatu yang dijadikan tinggi oleh manusia, dan ghairu ma’ruusyaat berarti buah-buahan yang tumbuh (liar) baik di pegunungan maupun di daratan.”

`Atha’ al-Khurasani mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Ma’ruusyaat berarti pohon anggur yang diberi anjang-anjang (penopang), sedangkan ghairu ma’ruusyaat berarti puncak anggur yang tidak diberi anjang-anjang.”

Mengenai firman-Nya: mutasyaabihaw wa ghaira mutasyaabihan (“Yang serupa dan tidak sama.”) Ibnu Juraij berkata, “Yaitu yang serupa dalam pandangan mata tetapi berbeda rasanya.”

Sedangkan mengenai firman-Nya: kuluu min tsamariHii idzaa atsmara (“Makanlah dari buahnya [yang bermacam-macam itu] bila dia berbuah.”) Muhammad bin Ka’ab berkata: “Yaitu buah kurma dan anggur.”

Wa aatuu haqqaHu yauma hashaadiHi (“Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya.”) Mengenai firman-Nya ini, `Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Yaitu zakat yang diwajibkan pada hari penimbangan hasilnya dan setelah diketahui jumlah timbangannya tersebut.”

Masih mengenai firman-Nya itu, `Atha’ bin Abi Rabah berkata: “Yaitu dengan memberikan sedikit dari hasil panennya kepada orang-orang yang hadir pada hari itu, bukan berupa zakat.”

Sedangkan ulama lainnya berkata, “Hal ini sebelumnya merupakan suatu yang wajib, tetapi setelah itu dinasakh (diganti) dengan sepersepuluh atau setengah dari sepersepuluh (seperduapuluh).” Demikian itu yang diceritakan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu `Abbas, Muhammad bin al-Hanifah, Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan, as-Suddi, `Athiyyah al-`Aufi, dan yang lainnya. Dan ini pula yang menjadi pilihannya (Ibnu Jarir).

Mengenai hal ini penulis katakan, “Pendapat yang menyebut hal ini dinasakh masih perlu ditinjau kembali, karena pada asalnya hal itu telah menjadi suatu hal yang wajib, kemudian dijelaskan secara rinci takaran dan jumlahnya yang harus dikeluarkan. Para ulama mengatakan bahwa hal itu terjadi pada tahun kedua dari Hijrah, wallahu a’lam.”

Wa laa tusrifuu innaHuu laa yuhibbul musrifiin (“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”) Mengenai firman-Nya ini, Ibnu Jarir memilih pendapat `Atha’ yang menyatakan, “Bahwa hal itu merupakan larangan berlebih-lebihan dalam segala sesuatu.”

Tidak diragukan lagi bahwa tidak berlebih-lebihan dalam segala sesuatu itu adalah benar, tetapi wallahu a’lam secara lahiriyah redaksi ayat yang berbunyi:
“Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan mengeluarkan zakatnya). Dan janganlah kamu berlebih-lebihan,” menunjukkan kembali kepada masalah memakan(nya). Maksudnya, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam makan karena dapat berbahaya bagi pikiran dan tubuh. Sebagaimana halnya firman Allah yang artinya:
“Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan.” (QSI Al-A’raaf: 31).

Dalam Shahih al-Bukhari terdapat sabda Rasulullah sebagai penjelas:
“Makan, minum, dan berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan sombong.”
Hadits tersebut berkenaan dengan larangan berlebihan dalam makan, wallahu a’am.

Firman Allah: wa minal an’aami hamuulataw wa farsyan (“Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih.”)
Dengan pengertian, Allah telah menciptakan binatang ternak yang dapat dijadikan sebagai binatang tunggangan dan ada juga yang dapat disembelih.

Menurut suatu pendapat, bahwa yang dimaksud dengan hamulah adalah unta yang digunakan untuk mengangkut, sedangkan farasy adalah binatang yang lebih kecil darinya.

‘Abdurrahman bin Zaid al-Aslam berkata, “Hamulah adalah binatang yang kalian jadikan sebagai tunggangan, sedangkan farasy adalah binatang yang kalian dapat makan dan peras air susunya. Domba bukan binatang tunggangan tetapi dapat dimakan dagingnya, dan kulitnya dapat dijadikan selimut dan permadani.”

Pendapat yang dikemukakan`Abdurrahman dalam menafsirkan ayat tersebut adalah pendapat yang baik, yang dikuatkan oleh firman Allah yang artinya:

“Allahlah yang menjadikan binatang ternak untukmu. Sebagian untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai suatu keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya), maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari.” (QS. Al-Mukmin: 79-81)

Firman-Nya: kuluu mimmaa razaqakumullaaHu (“Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu.”) Yaitu buah-buahan, tanaman, dan binatang ternak. Semuanya itu telah diciptakan Allah dan dijadikan sebagai rizki bagi kalian semua.

Wa laa tattabi’uu khuthuwaatisy syaithaani (“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-Iangkah syaitan.”) Yaitu jalan dan perintahnya, seperti yang telah diikuti oleh orang-orang musyrik yang telah mengharamkan buah-buahan dan tanaman yang diberikan Allah kepada mereka, dengan semata-mata mengada-ada terhadap Allah.

innaHuu lakum (“Sesungguhnya ia bagimu.”) Sesungguhnya, wahai sekalian manusia, syaitan itu bagi kalian adalah; ‘aduwwum mubiin (“Musuh yang nyata.”) Yaitu jelas dan tampak sekali permusuhannya.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 140

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 140“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (QS. al-An’aam: 140)

Allah berfirman, bahwa orang-orang yang mengerjakan hal-hal tersebut benar-benar merugi balk di dunia maupun di akhirat. Di dunia mereka rugi karena telah kehilangan anak-anak mereka yang mereka bunuh, serta mempersempit diri dari harta kekayaan yang mereka miliki, di mana mereka mengharamkan beberapa hal yang mereka ada-adakan sendiri. Sedang kerugian mereka di akhirat adalah mereka akan ditempatkan di tempat yang paling hina karena kedustaan dan mengada-ada terhadap Allah.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih mengatakan dari Ibnu `Abbas, dia berkata: “Jika anda ingin mengetahui kebodohan orang-orang Arab, maka bacalah surat al-An’aam setelah ayat ke seratus tiga puluh:
“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-ada terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapatpetunjuk.” (QS. Al-An’aam: 140).
(Demikian pula yang diriwayatkan al-Bukhari sendiri dalam kitab [bab] Manaaqibu Quraisy dalam Shahihnya).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 139

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 139“Dan mereka mengatakan: ‘Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,’ dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.” (QS. al-An’aam: 139)

Menurut Ibnu `Abbas, firman-Nya: wa qaaluu maa fii buthuuni HaadziHil an’aami khaalishatul lidzukuurinaa (“Dan mereka mengatakan, ‘Apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami.’”) Yaitu air susu yang mereka haramkan bagi kaum wanita di antara mereka meminumnya dan hanya diperbolehkan bagi kaum laki-lakinya saja. Dan jika seekor domba melahirkan anak domba jantan, maka mereka menyembelihnya dan hanya diperuntukkan bagi orang laki-laki saja. Tetapi jika domba itu melahirkan anak domba betina, maka mereka membiarkan dan tidak menyembelihnya. Dan jika melahirkan anak domba dalam keadaan mati, maka masing-masing dari kaum laki-laki dan kaum wanitanya boleh memakannya, maka Allah melarang perbuatan tersebut.”
Hal senada juga dikatakan oleh as-Suddi.

Asy-Sya’bi berkata: “Air susu bahiirah tidak boleh diminum melainkan oleh orang laki-laki saja. Jika bahiirah itu melahirkan anak yang berada dalam keadaan mati, maka baik laki-laki maupun perempuan boleh memakannya.”

Dan Mujahid berkata: “Binatang itu adalah saa-ibah62 dan bahiirah.”
(Saa-ibah adalah unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran suatu nadzar. Seperti misalnya, Jika salah seorang Arab Jahiliyyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernadzar akan menjadikan untanya saa-ibah Jika maksud perjalanannya berhasil dan selamat.-pent)

Mengenai firman Allah: sayajziiHim wa yash-faHum (“Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka.”) Abut ‘Aliyah, Mujahid, dan Qatadah berkata: “Yaitu perkataan dusta mereka dalam hal tersebut.

Sesungguhnya Dia itu: hakiimun (“Mahabijaksana,”) dalam perbuatan, firman, hukum dan ketetapan-Nya. ‘aliimun (“Mahamengetahui,”) atas semua perbuatan hamba-hamba-Nya baik itu perbuatan baik maupun jahat, dan kelak Allah akan memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan itu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 138

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 138“Dan mereka mengatakan: ‘Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki,’ menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.” (QS. al-An’aam: 138)

`Ali bin Abi Thalhah mengatakan, dari Ibnu `Abbas: “Al-Hijr adalah sesuatu yang haram, dari apa-apa yang mereka haram terhadap washiilah dan yang lainnya. Hal yang lama juga dikatakan oleh Mujahid, adh-Dhahhak, as-Suddi, Qatadah, `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan yang lainnya.

Abu Bakar bin `Ayyasy mengatakan dari `Ashim bin Abi an-Najud, dia berkata, “Abu Wail pernah bertanya kepadaku, `Tahukah engkau apa yang terkandung dalam firman Allah: wa an’aamun hurrimat dhuHuuruHaa wa an’aamul laa yadzkurusmallaaHi ‘alaiHaa (“Binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya.”)?’ ‘Tidak,’ jawabku. Lalu dia mengatakan, ‘Yaitu Bahiirah yang mana mereka tidak berhaji dengannya.”

(Bahiirah adalah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak yang kelima itu jantan. Lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi, dan tidak boleh
diambil air susunya,-Pent.)

Mujahid berkata: “Di antara unta-unta mereka terdapat sekumpulan unta yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah, dan tidak pula dalam setiap keadaannya, tidak pada saat menungganginya, tidak pada saat memeras air susunya, dan tidak juga pada saat unta itu melahirkan atau dipekerjakan.”

Iftiraa-an ‘alaiHi (“Semata-mata membuat-bunt kedustaan terhadap-Nya.”) Yaitu kepada Allah. Dan kedustaan mereka bahwa apa yang mereka lakukan tersebut benar-benar bersandar pada agama dan syari’at Allah, padahal mereka sama sekali tidak diperbolehkan dan tidak diridhai melakukan hal tersebut.

sayajziiHim bimaa kaanuu yaftaruun (“Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.”) Yaitu, terhadap-Nya dan menyandarkan kepada-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 137

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 137“Dan demikianlah pemimpin pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. al-An’aam: 137)

Allah berfirman, sebagaimana syaitan-syaitan itu telah menjadikan mereka memandang baik mempersembahkan sajian dari tanaman dan binatang ternak yang telah diciptakan Allah kepada-Nya, maka syaitan-syaitan itu pun menjadikan mereka memandang baik membunuh anak-anak mereka karena merasa takut akan kemiskinan, serta menguburkan anak-anak perempuan mereka dalam keadaan hidup-hidup karena takut akan terkena aib.

Mengenai firm an-Nya: wa kadzaalika zayyana likatsiirim minal musyrikiina qatla aulaadiHim syurakaa-uHum (“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka.”)

‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Para pemimpin mereka itu telah menjadikan mereka memandang baik membunuh anak-anak mereka.” Mujahid berkata: “Syurakaa-uHum adalah syayaathiinuhum (syaitan-syaitan mereka), yang memerintahkan mereka membunuh anak-anak mereka karena takut miskin.”

As-Suddi berkata: “Syaitan telah memenintahkan mereka untuk membunuh anak-anak perempuan mereka, baik karena untuk membinasakan mereka maupun untuk mengaburkan agama mereka, sehingga mereka bingung dan pemahaman mereka terhadap agama pun kabur.” Hal senada juga dikatakan oleh `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan Qatadah. Yang jelas semuanya itu merupakan usaha syaitan menjadikan semuanya terlihat baik.

Firman-Nya: walau syaa-allaaHu maa fa’aluuHu (“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakan.”) Artinya, semuanya itu terjadi dengan kehendak, keinginan, dan pilihan Allah sebagai iradah kauniyyah. Dalam hal itu Allah memiliki hikmah yang sangat sempurna, maka Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan diminta pertanggunganjawab (atas apa yang mereka lakukan).

Fa dzarHum wa maa yaftaruun (“Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”) Artinya, maka biarkanlah dan hindarilah mereka dan apa yang mereka lakukan itu, dan kelak Allah akan mengadili di antara kamu (Muhammad) dan mereka.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 136

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 136“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.’ Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.” (QS. al-An’aam: 136)

Hal itu merupakan celaan dan penghinaan dari Allah bagi orang-orang musyrik yang telah berbuat bid’ah, kufur, dan syirik. Mereka telah menjadikan satu bagian dari ciptaan-Nya untuk dipersembahkan kepada Allah, padahal Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu Allah berfirman: wa ja’ala lillaaHi mimmaa dzara-a (“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian.”) yaitu dari apa yang telah diciptakan-Nya. Minal hartsi (“dari tanaman”) yaitu hasil sawah dan buah-buahan. Wal an’aami nashiiban (“dan ternak”) yaitu bagian darinya.
Wa qaaluu Haadzaa lillaaHi biza’miHim wa Haadzaa lisyurakaa-inaa (“Lalu mereka berkata sesuai prasangkaan mereka, ‘Ini urituk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.’”)

Firman-Nya: fa maa kaana lisyurakaa-iHim falaa yashilu ilallaaHi wa maa kaanallaaHi faHuwa yashilu ilaa syurakaa-iHim (“Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah. Dan sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka.”)

‘Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu `Abbas, bahwa ia berkata dalam tafsir ayat ini, “Sesungguhnya musuh-musuh Allah itu, jika mereka menanam tanaman atau mempunyai buah-buahan, maka mereka mengambil sebagian darinya untuk dipersembahkan kepada Allah dan sebagian lagi untuk berhala-berhala. Bagian dari tanaman, buah-buahan maka mereka mengambil sebagian darinya untuk dipersembahkan kepada Allah dan sebagian lagi untuk berhala-berhala. Bagian dari tanaman, buah-buahan, atau yang lainnya yang diperuntukkan bagi berhala senantiasa mereka jaga dan perhatikan. Jika dari bagian yang diperuntukkan bagi Allah ada yang jatuh, maka mereka akan mengembalikannya ke bagian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala.

Jika jatah air untuk berhala datang lebih dahulu, lalu air itu menyirami sesuatu bagian yang diperuntukkan bagi Allah, maka bagian tersebut mereka persembahkan untuk berhala. Jika ada sesuatu dari tanaman dan buah yang mereka peruntukkan bagi Allah jatuh, lalu bercampur dengan bagian yang diperuntukkan bagi berhala, maka mereka mengatakan, “Berhala ini miskin,” dan mereka tidak mengembalikannya ke bagian yang mereka peruntukkan bagi Allah. Dan jika jatah air untuk Allah datang lebih dahulu, maka mereka akan menggunakan bagian yang mereka peruntukkan bagi Allah untuk berhala. Dan mereka mengharamkan harta kekayaan yang mereka miliki, berupa unta bahiirah, saa-ibah, washiilah, dan ham [lihat al-Maa-idah: 103]. Karena mereka telah memperuntukkan semuanya itu untuk berhala-berhala mereka. Dan mereka menganggap tindakan mengharamkan harta kekayaan itu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Maka Allah berfirman: wa ja’aluu lillaaHi mimmaa dzara-a minal hartsi wal an’aami nashiiban (“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah.”)

Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Suddi, dan beberapa ulama lainnya.

Mengenai ayat ini, `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Segala sesuatu dari binatang sembelihan yang dipersembahkan untuk Allah lama sekali tidak mereka makan sehingga mereka menyebut bersamanya nama berhala-berhala. Sedangkan pada bagian yang diperuntukkan berhala mereka tidak menyebut nama Allah.” Setelah itu ia membacakan ayat di atas sampai pada firman-Nya: saa-a maa yahkumuun (“Amat buruklah ketetapan mereka itu.”) Maksudnya, begitu jelek pembagian mereka itu, sebab mereka telah berbuat kesalahan dalam pembagian secara alas sejak pemula, karena Allah Ta’ala adalah Rabb, Pemilik, dan Pencipta segala sesuatu, maka Allahlah Pemilik kerajaan ini, segala sesuatu adalah milik-Nya dan semua berada dalam kendali, kekuasaan, dan kehendak-Nya, di mana tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) dan tidak pula ada Rabb selain Allah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 133-135

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 133-135“Dan Rabbmu Mahakaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (QS. 6:133) Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya. (QS. 6:134) Katakanlah: ‘Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang dhalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan. (QS. 6:135)” (al-An’aam: 133-135)

Allah berfirman: wa rabbuka (“Dan Rabbmu.”) Wahai Muhammad; alghaniyyu (“Mahakaya.”) Maksudnya, dari semua makhluk-Nya dalam segala hal, sedang mereka itu miskin yang senantiasa berharap kepada-Nya pada setiap saat. Dzur rahmati (“Lagi mempunyai rahmat.”) Artinya, Allah meskipun dengan keadaan-Nya tersebut, Dia adalah sangat pemurah kepada mereka.

Iy yasya’ yudzHibkum (“Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu.”) Maksudnya, jika kalian melanggar perintah-Nya. Wa yastakhlif mim ba’dikum maa yasyaa-u (“Dan mengganti kamu dengan siapa yang dikehendaki-Nya.”) Maksudnya, Allah akan mengganti dengan kaum lain yang akan berbuat ketaatan kepada-Nya.

Kamaa ansya-akum min dzurriyyati qaumin aakhariin (“Sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.”) Maksudnya, Allah mampu melakukan hal itu dan bahkan sangat mudah bagi-Nya sebagaimana Allah telah memusnahkan umat-umat yang terdahulu dan mendatangkan umat berikutnya. Demikian pula Dia mampu memusnahkan suatu kaum dan menggantinya dengan kaum yang lain, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu, wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai pengganti kamu). Dan adalah Allah Mahakuasa berbuat demikian.” (QS. An-Nisaa’: 133).

Muhammad bin Ishaq mengatakan dari Ya’qub bin Utbah, dia berkata, “Aku pernah mendengar Abban bin `Utsman berkata mengenai firman-Nya: Kamaa ansya-akum min dzurriyyati qaumin aakhariin (“Sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.”) Yaitu, keturunan yang asli dan keturunan-keturunan berikutnya.”

Firman-Nya: innamaa tuu’aduuna la-aatiw wa maa antum bi mu’jiziin (“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang, dari kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.”) Maksudnya, beritahukanlah kepada mereka wahai Muhammad, bahwa apa yang telah dijanjikan mengenai kehidupan akhirat pasti akan terjadi.
wa maa antum bi mu’jiziin (“Dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolaknya.”) Maksudnya, janganlah kalian mengira bahwa Allah tidak mampu melakukannya, tetapi sebaliknya Allah mampu untuk mengembalikan kalian meskipun kalian telah menjadi debu, bangkai, dan tulang-belulang.

Firman-Nya: qul yaa qaumi’maluu ‘alaa makaanatikum innii ‘aamilun fasaufa ta’lamuun (“Kata kanlah: ‘Wahai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat [pula]. Kelak kamu akan mengetahui.’”) Ini adalah merupakan ancaman yang sangat keras. Maksudnya, teruskan berjalan di atas jalan kalian jika kalian mengira bahwa kalian berada dalam petunjuk, dan aku pun juga akan terus berjalan di atas jalanku sendiri.

Seperti firman-Nya yang artinya:
“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: ‘Berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya kami pun berbuat (pula). Dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya kami pun menunggu (pula).” (Huud: 121-122)

Mengenai firman-Nya: ‘alaa makaanatikum (“sepenuh kemampuanmu”) ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Yaitu, kondisi kalian.”

Fasaufa ta’lamuuna man takuunu laHuu ‘aaqibatud daari innaHuu laa yuflihudh dhaalimuun (“Kelak kamu akan mengetahui, siapakah [di antara kita] yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.”) Yakni, apakah hasil yang baik dari dunia itu akan menjadi milikku atau milik kalian.

Allah sendiri telah merealisasikan janji-Nya bagi Rasul-Nya, Muhammad saw, di mana Allah telah menjadikannya berkuasa di beberapa daerah/negeri dan menjadikannya sebagai penentu keputusan di tengah-tengah para penentangnya, membukakan baginya kota Makkah, memperlihatkan kepadanya orang-orang yang mendustakan, memusuhi, dan menentangnya, serta menjadikan misinya tersebar ke seluruh wilayah Jazirah Arab termasuk Yaman dan Bahrain. Dan semua itu berlangsung pada masa hidupnya. Kemudian setelah beliau wafat, yaitu pada masa Khulafa-‘ur Rasyidin radhiallaahu ‘anhum ajma’iin, beberapa wilayah dan daerah pun dibebaskan.

Sebagaimana Allah telah berfirman yang artinya:
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhul Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” (QS. Al-Anbiyaa’: 105).

Allah pun telah merealisasikan hal itu bagi umat Muhammad ini. Segala puji dan karunia hanya milik-Nya, sejak awal hingga akhir, lahir dan bathin.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 131-132

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 131-132“Yang demikian itu adalah karena Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. (QS. 6:131) Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Rabbmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 6:132)” (al-An’aam: 131-132)

Allah berfirman: dzaalika al lam yakur rabbaka muHlikal quraa bidhulmiw wa aHluHaa ghaafiluun (“Yang demikian itu adalah karena Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah.”) Maksudnya, bahwa Kami telah memperingatkan kepada bangsa jin dan manusia melalui pengutusan para Rasul dan penurunan kitab-kitab, supaya tidak seorang pun disiksa karena kezhalimannya padahal dia belum menerima dakwah, tetapi Kami terlebih dahulu memberikan peringatan kepada semua umat. Dan Kami tidak mengadzab seorang pun kecuali setelah pengutusan para Rasul kepada umat-umat tersebut, sebagaimana Allah berfirman, yang artinya:

“Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (al-Israa’: 15).

Allah juga berfirman yang artinya:
“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (Neraka itu) bertanya kepada mereka, ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab, ‘Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, lalu kami mendustakan(nya).’” (QS. Al-Mulk: 8-9). Cukup banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan masalah ini.

Selanjutnya firman-Nya: wa likulli darajaatum mimmaa ‘amiluu (“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat [seimbang] dengan apa yang dikerjakannya.”)
Maksudnya, bagi setiap orang yang berbuat ketaatan kepada Allah atau berbuat maksiat kepada-Nya mempunyai derajat dan tingkatan masing-masing sesuai dengan amalnya. Allah akan menempatkannya pada tingkatan-tingkatan tersebut, serta memberikan balasan atasnya, jika baik maka akan memperoleh kebaikan, dan jika buruk maka akan memperoleh keburukan.

Penulis (Ibnu Katsir) berkata: “Bahwa firman-Nya: wa likulli darajaatum mimmaa ‘amiluu (“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat [seimbang] dengan apa yang dikerjakannya.”) bisa juga kembali kepada mereka yang kafir baik dari bangsa jin maupun manusia. Yakni, masing-masing mereka memperoleh derajat di Neraka sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya.

Seperti juga firman-Nya yang artinya berikut lni:
“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS. An-Nahl: 88).

Wa maa rabbuka bighaafilin ‘ammaa ya’maluun (“Dan Rabbmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”) Mengenai firman-Nya ini Ibnu Jarir berkata: “Semua perbuatan mereka itu wahai Muhammad, diketahui oleh Rabbmu, dan Dia akan menghisab dan mencatatnya bagi mereka di sisi-Nya, untuk selanjutnya diberikan balasan kepada mereka atas perbuatan itu ketika mereka menghadap dan kembali kepada-Nya.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 130

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 130“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,’ kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-An’aam: 130)

Ini pun termasuk peringatan keras dari Allah Ta’ala kepada orang-orang kafir dari kalangan bangsa jin dan manusia pada hari Kiamat kelak, yaitu Dia bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui, apakah para Rasul telah menyampaikan kepada mereka risalah-Nya. Dan inilah pertanyaan yang sifatnya memastikan:

Yaa ma’syaral jinni wal insi alam ya’tikum rusulum minkum (“Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri.”) Yaitu, Rasul-Rasul dari golongan kalian sendiri, sedangkan para Rasul itu berasal dari golongan manusia saja, dan tidak ada Rasul dari golongan jin, sebagaimana hal itu telah dinashkan oleh Mujahid, Ibnu Juraij, serta beberapa imam salaf maupun khalaf.

Ibnu `Abbas berkata, “Para Rasul itu berasal dari kalangan anak cucu Adam (manusia), sedang dari kalangan jin adalah sedikit sekali.”
Ibnu Jarir menceritakan dart adh-Dhahhak bin Muzahim, dia berpendapat bahwa dari golongan jin itu terdapat Rasul, dia menggunakan ayat di atas sebagai dalil. Dan pendapat tersebut perlu ditinjau.

Dalil yang menunjukkan bahwa para Rasul itu berasal dari golongan manusia adalah firman Allah yang artinya berikut ini:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nub dan Nabi-Nabi setelahnya, dan kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud Dan (Kami telah mengutus) Rasul-Rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka itu kepadamu dahulu, dan Rasul-Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. (Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS.
An-Nisaa’: 163-165).

Demikian juga firman-Nya mengenai Ibrahim, yang artinya:
“Dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya.” (QS. Al-‘Ankabuut: 27).

Dengan demikian, kenabian dan al-Kitab itu setelah Nabi Ibrahim hanya diberikan kepada anak keturunannya. Dan tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa sebelum Ibrahim, kenabian itu diberikan kepada bangsa jin dan berakhir dengan diangkatnya Ibrahim sebagai Rasul.

Allah Ta’ala sendiri telah berfirman yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelummu melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan dipasar-pasar.” (QS. Al-Furqaan: 20).

Allah juga berfirman yang artinya: “Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109).

Sebagaimana diketahui bahwa hal ini jin itu mengikuti manusia. Oleh karena itu untuk memberitahukan mengenai mereka, Allah berfirman yang artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan melepaskanmu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.’” (QS. Al-Ahqaaf: 29-32).

Dalam hadits yang diriwayatkan at-Tirmidzi dan perawi lainnya disebutkan, bahwa Rasulullah membacakan kepada mereka (para Sahabat) surat ar-Rahman yang di dalamnya terdapat firman-Nya [yang artinya]: “Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu, wahai manusia dan jin. Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahmaan: 31-32). Berkenaan dengan ayat ini Allah berfirman:

Yaa ma’syaral jinni wal insi alam ya’tikum rusulum minkum yaqushshuuna ‘alaikum aayaatii wa yundziruunakum liqaa-a yaumikum Haadzaa qaaluu syaHidnaa ‘alaa anfusinaa (“Wahai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.”)

Maksudnya, kami mengakui bahwa para Rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah-Mu kepada kami, serta memperingatkan kami, akan pertemuan dengan-Mu. Dan hari pertemuan itu benar-benar terjadi.

Sedangkan firman-Nya: wa gharratHumul hayaatud dun-yaa (“Kehidupan dunia telah menipu mereka.”) Yaitu, mereka telah lengah dan lalai dalam kehidupan mereka di dunia, dan mereka binasa karena pendustaan mereka terhadap para Rasul, serta penolakan mereka terhadap mukjizat karena mereka tertipu oleh keindahan dan perhiasan kehidupan dunia.

Wa syaHiduu ‘alaa anfusiHim (“Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri.”) Yakni, pada hari Kiamat kelak; annaHum kaanuu kaafiriin (“Bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.”) Yaitu kufur di dunia terhadap apa yang dibawa oleh para Rasul, semoga shalawat dan salam Allah atas para Rasul-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 129

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 129“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. al-An’aam: 129)

Makna ayat yang mulia ini adalah, sebagaimana Kami telah menjadikan bagi orang-orang yang merugi dari kalangan umat manusia itu teman dari golongan jin yang menyesatkan mereka, demikian juga Kami berbuat terhadap orang-orang yang dhalim, Kami jadikan sebagian mereka berkuasa atas sebagian lainnya, Kami membinasakan sebagian mereka dengan (melalui) sebagian yang lain, serta menghukum sebagian mereka dengan (melalui) sebagian lainnya, sebagai balasan atas kezhaliman dan kesewenang-wenangan mereka.

&