Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 136

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 136“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: ‘Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.’ Maka sajian-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sajian-sajian yang diperuntukan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.” (QS. al-An’aam: 136)

Hal itu merupakan celaan dan penghinaan dari Allah bagi orang-orang musyrik yang telah berbuat bid’ah, kufur, dan syirik. Mereka telah menjadikan satu bagian dari ciptaan-Nya untuk dipersembahkan kepada Allah, padahal Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu Allah berfirman: wa ja’ala lillaaHi mimmaa dzara-a (“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian.”) yaitu dari apa yang telah diciptakan-Nya. Minal hartsi (“dari tanaman”) yaitu hasil sawah dan buah-buahan. Wal an’aami nashiiban (“dan ternak”) yaitu bagian darinya.
Wa qaaluu Haadzaa lillaaHi biza’miHim wa Haadzaa lisyurakaa-inaa (“Lalu mereka berkata sesuai prasangkaan mereka, ‘Ini urituk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.’”)

Firman-Nya: fa maa kaana lisyurakaa-iHim falaa yashilu ilallaaHi wa maa kaanallaaHi faHuwa yashilu ilaa syurakaa-iHim (“Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah. Dan sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka.”)

‘Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu `Abbas, bahwa ia berkata dalam tafsir ayat ini, “Sesungguhnya musuh-musuh Allah itu, jika mereka menanam tanaman atau mempunyai buah-buahan, maka mereka mengambil sebagian darinya untuk dipersembahkan kepada Allah dan sebagian lagi untuk berhala-berhala. Bagian dari tanaman, buah-buahan maka mereka mengambil sebagian darinya untuk dipersembahkan kepada Allah dan sebagian lagi untuk berhala-berhala. Bagian dari tanaman, buah-buahan, atau yang lainnya yang diperuntukkan bagi berhala senantiasa mereka jaga dan perhatikan. Jika dari bagian yang diperuntukkan bagi Allah ada yang jatuh, maka mereka akan mengembalikannya ke bagian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala.

Jika jatah air untuk berhala datang lebih dahulu, lalu air itu menyirami sesuatu bagian yang diperuntukkan bagi Allah, maka bagian tersebut mereka persembahkan untuk berhala. Jika ada sesuatu dari tanaman dan buah yang mereka peruntukkan bagi Allah jatuh, lalu bercampur dengan bagian yang diperuntukkan bagi berhala, maka mereka mengatakan, “Berhala ini miskin,” dan mereka tidak mengembalikannya ke bagian yang mereka peruntukkan bagi Allah. Dan jika jatah air untuk Allah datang lebih dahulu, maka mereka akan menggunakan bagian yang mereka peruntukkan bagi Allah untuk berhala. Dan mereka mengharamkan harta kekayaan yang mereka miliki, berupa unta bahiirah, saa-ibah, washiilah, dan ham [lihat al-Maa-idah: 103]. Karena mereka telah memperuntukkan semuanya itu untuk berhala-berhala mereka. Dan mereka menganggap tindakan mengharamkan harta kekayaan itu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Maka Allah berfirman: wa ja’aluu lillaaHi mimmaa dzara-a minal hartsi wal an’aami nashiiban (“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah.”)

Demikian juga yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Suddi, dan beberapa ulama lainnya.

Mengenai ayat ini, `Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Segala sesuatu dari binatang sembelihan yang dipersembahkan untuk Allah lama sekali tidak mereka makan sehingga mereka menyebut bersamanya nama berhala-berhala. Sedangkan pada bagian yang diperuntukkan berhala mereka tidak menyebut nama Allah.” Setelah itu ia membacakan ayat di atas sampai pada firman-Nya: saa-a maa yahkumuun (“Amat buruklah ketetapan mereka itu.”) Maksudnya, begitu jelek pembagian mereka itu, sebab mereka telah berbuat kesalahan dalam pembagian secara alas sejak pemula, karena Allah Ta’ala adalah Rabb, Pemilik, dan Pencipta segala sesuatu, maka Allahlah Pemilik kerajaan ini, segala sesuatu adalah milik-Nya dan semua berada dalam kendali, kekuasaan, dan kehendak-Nya, di mana tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi) dan tidak pula ada Rabb selain Allah.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: