Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 139

19 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 139“Dan mereka mengatakan: ‘Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,’ dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.” (QS. al-An’aam: 139)

Menurut Ibnu `Abbas, firman-Nya: wa qaaluu maa fii buthuuni HaadziHil an’aami khaalishatul lidzukuurinaa (“Dan mereka mengatakan, ‘Apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami.’”) Yaitu air susu yang mereka haramkan bagi kaum wanita di antara mereka meminumnya dan hanya diperbolehkan bagi kaum laki-lakinya saja. Dan jika seekor domba melahirkan anak domba jantan, maka mereka menyembelihnya dan hanya diperuntukkan bagi orang laki-laki saja. Tetapi jika domba itu melahirkan anak domba betina, maka mereka membiarkan dan tidak menyembelihnya. Dan jika melahirkan anak domba dalam keadaan mati, maka masing-masing dari kaum laki-laki dan kaum wanitanya boleh memakannya, maka Allah melarang perbuatan tersebut.”
Hal senada juga dikatakan oleh as-Suddi.

Asy-Sya’bi berkata: “Air susu bahiirah tidak boleh diminum melainkan oleh orang laki-laki saja. Jika bahiirah itu melahirkan anak yang berada dalam keadaan mati, maka baik laki-laki maupun perempuan boleh memakannya.”

Dan Mujahid berkata: “Binatang itu adalah saa-ibah62 dan bahiirah.”
(Saa-ibah adalah unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran suatu nadzar. Seperti misalnya, Jika salah seorang Arab Jahiliyyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernadzar akan menjadikan untanya saa-ibah Jika maksud perjalanannya berhasil dan selamat.-pent)

Mengenai firman Allah: sayajziiHim wa yash-faHum (“Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka.”) Abut ‘Aliyah, Mujahid, dan Qatadah berkata: “Yaitu perkataan dusta mereka dalam hal tersebut.

Sesungguhnya Dia itu: hakiimun (“Mahabijaksana,”) dalam perbuatan, firman, hukum dan ketetapan-Nya. ‘aliimun (“Mahamengetahui,”) atas semua perbuatan hamba-hamba-Nya baik itu perbuatan baik maupun jahat, dan kelak Allah akan memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan itu.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: