Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 145

20 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 145“Katakanlah: ‘Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -karena sesungguhnya semua itu kotor- atau binatang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. al-An’aam: 145)

Allah berfirman, memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad: qul (“Katakanlah.”) Wahai Muhammad, kepada orang-orang yang mengharamkan apa yang telah diberikan Allah kepada mereka, dengan membuat kedustaan terhadap Allah:
Laa ajidu fii maa uuhiya ilayya muharraman ‘alaa thaa’imiy yath’amuHu (“Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang dizvahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.”) Yaitu orang yang ingin memakannya. Ada yang mengatakan, maksudnya, aku tidak menemukan sesuatu pun dari apa yang kalian haramkan kecuali ini (bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi).

Dan ada juga yang mengatakan, ayat itu berarti, aku tidak mendapatkan sesuatu pun dari berbagai hewan yang haram kecuali ini. Berdasarkan hal tersebut, segala sesuatu yang haram yang disebutkan dalam surat al-Maa-idah dan dalam beberapa hadits telah tercabut (terhapus) berdasarkan pengertian ayat ini. Di antara ulama ada yang menyebutnya nasakh, tetapi mayoritas ulama muta’akhkhirin tidak menyebutnya sebagai nasakh, karena ia termasuk pencabutan hukum yang tadinya mubah, wallahu a’lam.

Mengenai firman-Nya: au damam masfuuhan (“Atau darah yang mengalir.”) Al-Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu darah yang dialirkan.”
‘Ikrimah berkata, “Kalau bukan karena ayat ini niscaya orang-orang akan mencari apa yang ada pada urat-urat, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.”

Hamad mengatakan dari ‘Imran bin Jarir, ia berkata, “Aku pernah menanyakan kepada Abu Mijlaz mengenai masalah darah termasuk darah yang berlumuran pada kepala hewan sembelihan serta kuali yang di dalamnya terlihat merah karena darah, maka dia pun menjawab, ‘Bahwa Allah hanya melarang darah yang mengalir.”

Sedangkan Qatadah berkata: “Darah yang diharamkan adalah darah yang mengalir, sedangkan darah yang bercampur dengan daging, maka yang demikian itu tidak haram.”

Ibnu Jarir berkata, al-Mutsanna menceritakan kepada kami, Hajjaj bin Minhaj menceritakan kepada kami, Hamad bin Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari al-Qasim, dari ‘Aisyah ra. bahwa beliau berpendapat, daging hewan buas itu dilarang (haram), demikian halnya dengan warna merah dan darah yang terdapat di dalam kuali. Kemudian ‘Aisyah membacakan ayat ini. (Hadits ini shahih gharib).

Al-Humaidi berkata, Sufyan menceritakan kepada kami, ‘Amr bin Dinar menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Jabir bin ‘Abdillah, ‘Orang-orang berpendapat, bahwa Rasulullah telah melarang daging keledai piaraan pada peristiwa Khaibar.’ Dia menjawab: `Hal itu telah dikemukakan oleh al-Hakam bin `Amr dari Rasulullah saw. namun Ibnu’Abbas menolak hal tersebut seraya membacakan:
Qul laa ajidu fii maa uuhiya ilayya muharraman ‘alaa thaa’imiy yath’amuHu (“Katakanlah tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang dizvahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.”)

(Demikian pula yang diriwayatkan al-Bukhari, Abu Dawud, dan juga al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, dan juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari, sebagaimana pendapat saya).

Dari Ibnu `Abbas, bahwa dia berkata: “Domba milik Saudah binti Zam’ah mati, lalu Saudah berkata: `Ya Rasulullah, telah mati si fulanah,- yang dimaksudkannya adalah domba.’- Maka beliau pun bertanya: `Mengapa engkau tidak mengambil kulitnya?’ ‘Apakah kami boleh mengambil kulit domba yang telah mati?’ tanya Saudah. Lalu Rasulullah bersabda kepadanya, `Sesungguhnya Allah ‘ hanya berfirman:

Qul laa ajidu fii maa uuhiya ilayya muharraman ‘alaa thaa’imiy yath’amuHu illaa ay yakuuna maitatan au daman masfuuhan au lahma khinziirin (“Katakanlah: Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang dizvahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi.”)

Dan (dengan mengambil kulitnya tersebut) kalian tidaklah (dianggap) memakannya, (maka) hendaklah kalian menyamak kulitnya sehingga kalian dapat memanfaatkannya.’ Setelah itu ia mengutus utusan untuk mengambilnya, kemudian dia menguliti kulit domba itu dan menyamaknya dan darinya dibuat qirbah (tempat air/susu dari kulit) dan dimanfaatkannya sampai rusak.” (Hadits ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dan an-Nasa’i).

Firman-Nya: fa manidlturra ghaira baaghiw walaa ‘aadin fa inna rabbaka ghafuurur rahiim (“Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkan dan tidak [pula] melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Tafsir ayat ini telah dikemukakan pada pembahasan surat al-Baqarah. Maksud dan sasaran ayat di atas adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang telah mengada-ada suatu hat yang baru, dengan pemikiran mereka yang rusak (tidak benar) mereka mengharamkan bahiirah, saa-ibah, washiilah, haam, dan yang semisalnya.

Kemudian Allah, memerintahkan Rasulullah untuk memberitahu mereka bahwa beliau tidak pernah memperoleh wahyu yang diwahyukan Allah kepada beliau yang menunjukkan bahwa hal itu haram, melainkan Allah hanya mengharamkan bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah, dan yang selain daripada itu Allah tidak pernah mengharamkannya. Yang mana hal itu merupakan suatu pemaafan yang didiamkan. Lalu bagaimana bisa, kalian wahai orang-orang musyrik, mengatakan bahwa ia haram, dan atas dasar apa kalian mengharamkannya padahal Allah tidak mengharamkannya?

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka selanjutnya tidak ada lagi pengharaman terhadap hal yang lain, sebagaimana pendapat yang masyhur di antara madzhab-madzhab para ulama yang melarang memakan daging keledai piaraan, daging binatang buas, dan semua burung yang berkuku tajam.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: