Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 148-150

20 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 148-150“Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan: ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.’ (QS. 6:148) Katakanlah: ‘Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.’ (QS. 6:149) Katakanlah: ‘Bawalah kemari saksi-saksimu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini.’ Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka. (QS. 6:150)” (al-An’aam: 148-150)

Inilah perdebatan yang Allah sebutkan, dan juga syubhat yang dijadikan sandaran oleh orang-orang musyrik dalam melakukan kemusyrikannya, serta pengharaman apa yang mereka haramkan. (Menurut mereka) sesungguhnya Allah mengetahui terhadap perbuatan mereka dari kemusyrikan dan pengharaman apa yang mereka haramkan, di mana sebenarnya Allah mampu untuk merubah hal itu dengan mengilhamkan keimanan kepada kami, serta menghindarkan kami dari kekufuran, namun Allah tidak merubahnya, maka hal tersebut menunjukkan bahwa hal itu berdasarkan kehendak dan keinginan-Nya, dan Allah pun meridhai kami untuk melakukan hal tersebut.

Oleh karena itu mereka mengatakan: lau syaa-allaaHu maa asyraknaa walaa aabaa-unaa walaa harramnaaa min syai-in (“Jika Allah menghendaki niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak akan mempersekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apapun.”) Seperti yang disebutkan juga dalam firman Nya yang artinya:
“Dan mereka berkata: ‘Jikalau Allah Yang Mahapemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (Malaikat).’” (QS. Az-Zukhruf: 20). Demikian juga ayat yang terdapat dalam surat an-Nahl, sama seperti hal itu.

Allah berfirman: kadzaalika kadzdzabal ladziina min qabliHim (“Demikian pula lah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan.”) Yaitu dengan syubhat ini telah sesat orang-orang yang sesat sebelum mereka. Dengan demikian, hujjah mereka itu sama sekali tidak berarti dan sia-sia, karena seandainya hujjah mereka itu benar, niscaya Allah tidak akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka, tidak membinasakan mereka, tidak mengutus para Rasul-Nya secara bergantian kepada mereka, dan tidak pula Dia merasakan siksaan yang sangat pedih kepada orang-orang musyrik.

Qul Hal ‘indakum min ‘ilmin (“Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai suatu pengetahuan.’”) Maksudnya, bahwa Allah benar-benar memberikan keridhaan atas apa yang kalian kerjakan tersebut.
Fa tukhrijuuHu lanaa (“Sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada Kami?”) Maksudnya, kalian tunjukkan, jelaskan, dan keluarkan hal itu kepada kami.
In tattabi’uuna illadh dhanna (“Kamu tidak mengikuti melainkan persangkaan belaka.”) Yaitu, perkiraan (dhan) dan khayalan. Dan yang dimaksud dengan dhan di sini adalah keyakinan yang salah.
Wa in antum illaa takhrushuun (“Dan kamu tidak lain hanya berdusta.”) Kalian telah berbuat dusta kepada Allah atas apa yang kalian anggap tersebut.

Qul falillaaHil hujjatul baalighatu falau syaa-a laHadaakum ajma’iin (“Katakanlah, ‘Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat, maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.’”) Dalam ayat tersebut Allah berfirman kepada Nabi-Nya, bahwa Allah mempunyai hikmah yang sempurna dan hujjah yang sangat jelas lagi kuat dalam memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mendapat petunjuk dan dalam menyesatkan orang-orang yang tersesat.

falau syaa-a laHadaakum ajma’iin (“Jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.”) Semuanya itu tergantung pada kekuasaan, kehendak, dan pilihan-Nya. Dan bersamaan dengan itu Pula, Allah meridhai orang-orang yang beriman dan membenci orang-orang kafir.

Adh-Dhahhak berkata: “Tidak ada hujjah bagi seorang pun yang bermaksiat kepada Allah tetapi bagi Allah-lah hujjah yang jelas dan kuat atas semua hamba-Nya.”

Qul Halumma syuHadaa-akum (“Katakanlah, Bawalah kemari saksi-saksi kamu.”) Artinya, hadirkanlah saksi-saksi kalian; alladziina yasy-Haduuna annallaaHa harrama Haadzaa (“Yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan ini.”) Yaitu, apa yang telah kalian haramkan, dustakan, dan ada-adakan ini terhadap Allah.

Fa in syaHiduu falaa tasy-Had ma’aHum (“Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut [pula] menjadi saksi bersama mereka.”) Maksudnya, yang demikian itu karena kesaksian yang mereka berikan itu adalah bohong dan dusta belaka.

Wa laa tattabi’ aHaa-al ladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaa wal ladziina laa yu’minuuna bil aakhirati wa Hum birabbiHim ya’diluun (“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka.”) Maksudnya, mereka menyekutukan-Nya dengan sesuatu, serta menjadikan tandingan bagi-Nya.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: