Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 151

20 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 151“Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atasmu oleh Rabbmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).” (QS. al-An’aam: 151)

Allah berfirman kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad; wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah, mengharamkan apa yang telah diberikan Allah kepada mereka, dan membunuh anak-anak mereka, yang semuanya itu mereka lakukan atas dasar pemikiran mereka sendiri dan atas godaan syaitan kepada mereka.

Qul (“Katakanlah.”) Kepada mereka. Ta’aalau (“Marilah.”) Maksudnya, datanglah kalian. At-lu maa harrama rabbukum ‘alaikum (“Kubacakan apa yang diharamkan oleh Rabb-mu atasmu.”) Pengertiannya, akan aku ceritakan dan beritahukan kepada kalian apa-apa yang telah diharamkan Rabb kalian atas kalian, berdasarkan kebenaran, bukan suatu kebohongan dan bukan pula prasangka, bahkan hal itu merupakan wahyu dan perintah dari sisi-Nya,

Allaa tusyrikuu biHii syai-an (“Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia.”) Konteks ayat ini menunjukkan bahwa, seakan-akan di dalamnya terdapat suatu kalimat yang mahdzuf (tidak tersebut) perkiraannya adalah, Allah telah memerintahkan kepada kalian, janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Oleh karena itu di akhir ayat ini Allah berfirman:
Dzaalikum washshaakum biHii la’allakum ta’qiluun (“Demikian itu diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu supaya kamu memahami(nya).”)

Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Abu Dzar berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Malaikat Jibril mendatangiku dan memberikan kabar gembira kepadaku, `Bahwa, barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dunia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka dia akan masuk Surga.’ Lalu aku tanyakan: `Meskipun dia berzina dan mencuri?’ Malaikat Jibril menjawab: `Meskipun dia pernah berzina dan mencuri.’ Meskipun dia berzina dan mencuri?’ tanyaku lagi. Malaikat Jibril menjawab: `Meskipun dia berzina dan
mencuri.’ Dan kutanyakan lagi: `Meskipun dia pernah berzina dan mencuri?’ Malaikat Jibril menjawab: `Meskipun dia berzina, mencuri, dan minum khamr.’”

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa yang bertanya itu adalah Abu Dzar, yang mana pada ketiga kalinya Rasulullah mengatakan: “Meskipun Abu Dzar tidak menyukainya.” Dan di akhir hadits, Abu Dzar mengatakan: “Meskipun Abu Dzar tidak menyukainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pada sebagian riwayat dalam musnad-musnad dan kitab-kitab Sunan, dari Abu Dzar ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman, `Wahai anak cucu Adam, selagi engkau berdo’a dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan memberikan ampunan atas apa yang telah kalian kerjakan dan Aku tidak pedulikan lagi. Jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa seberat bumi, maka Aku akan datangkan kepadamu dengan ampunan seberat bumi pula, selama engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan jika engkau berbuat dosa hingga setinggi langit, lalu engkau memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan memberikan ampunan kepadamu.” (Diriwayatkan at-Tirmidzi dengan lafazh yang serupa dengan lafazh ini, dan dia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Hal ini dikuatkan dengan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an, di mana Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48 dan 116).

Dalam Shahib Muslim disebutkan sebuah hadits (yang diriwayatkan dari) Ibnu Mas’ud:
“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk Surga.”
Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadits yang membahas mengenai hal ini.

Firman-Nya: wa bil waalidaini ihsaanan (“Berbuat baiklah kepada kedua orang tua [ibu-bapak].”) Artinya, Allah mewasiatkan dan memerintahkan kalian agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan Allah telah banyak mempersandingkan antara perintah berbuat taat kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya:

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15).

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tua meskipun keduanya musyrik. Ayat mengenai hal ini banyak jumlahnya.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim (terdapat hadits yang diriwayatkan), dari Ibnu Masud, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Amal perbuatan apa yang paling mulia?’ Beliau menjawab: `Shalat pada waktunya.’ `Lalu apa lagi?’ Tanyaku. Beliau menjawab: `Berbuat baik kepada kedua orang tua.’ ‘Kemudian apa lagi?’ Tanyaku lebih lanjut. `Jihad di jalan Allah,’ jawab beliau.
Ibnu Masud berkata: “Hal itu telah disampaikan langsung kepadaku oleh Rasulullah saw, seandainya aku meminta untuk ditambah, niscaya beliau akan menambahnya.”

Firman-Nya: wa laa taqtuluu aulaadakum min imlaaqin nahnu narzuqukum wa iyyaaHum (“Dan janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.”)

Setelah Allah memerintahkan berbuat baik kepada kedua orang tua dan kakek-nenek, selanjutnya Allah juga menyuruh berlaku,baik kepada anak-anak dan cucu, Allah berfirman: wa laa taqtuluu aulaadakum min imlaaqin (“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu
karena takut kemiskinan.”)

Hal itu karena mereka dahulu membunuh anak-anak mereka seperti yang diperintahkan syaitan, mereka mengubur anak-anak perempuan karena takut aib, dan terlarang juga mereka juga membunuh sebagian anak-anak laki-laki karena takut miskin.

Mengenai hal juga disebutkan sebuah hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari `Abdullah bin Masud, di mana dia pernah bertanya kepada Rasulullah:
“Apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” “Lalu apa lagi?” tanyaku. Beliau menjawab: “Engkau membunuh anakmu karena takut ikut makan bersamamu.” Kutanyakan lagi: “Kemudian apa lagi?” “Engkau menzinai isteri tetanggamu,” jawab beliau. Setelah itu Rasulullah membacakan firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.” (QS. Al-Furqaan: 68).

Sedangkan firman-Nya: min imlaaqin; Ibnu `Abbas, Qatadah, as-Suddi, dan yang lainnya berkata: “Yaitu kemiskinan.” Maksudnya, janganlah kalian membunuh mereka karena kemiskinan yang menimpa kalian. Dan manakala kemiskinan itu benar terjadi, maka Allah berfirman: nahnu narzuqukum wa iyyaaHum (“Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.”) Karena inilah (keterangan) yang terpenting di sini, wallahu a’lam.

Firman-Nya: falaa taqrabul fawaahisya maa dhaHara minHaa wa maa bathana (“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi.”) Penafsiran ayat ini telah dikemukakan pada pembahasan ayat sebelumnya, yaitu pada firman Allah yang artinya: “Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi.” (QS. Al-An’aam: 120).

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Sa’ad bin `Ubadah berkata: “Seandainya aku menyaksikan seorang laki-laki bersama isteriku, niscaya aku akan menyabetnya dengan pedang tanpa ampun.” Kemudian hal itu sampai kepada Rasulullah saw, maka beliau pun bersabda: “Apakah kalian heran akan kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, aku adalah orang yang lebih cemburu daripada Sa’ad, dan Allah lebih cemburu daripadaku, dari sebab itulah Allah mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”

Wa laa taqtulun nafsal latii harramallaaHu illaa bilhaqqi (“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkizn Allah [membunuhnya] melainkan dengan suatu [sebab] yang benar.”) Ini tidak lain adalah ketetapan Allah atas larangan membunuh sebagai suatu penekanan, sebab hal itu telah termasuk dalam larangan berbuat keji baik yang tampak maupun tersembunyi.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku adalah Rasulullah, kecuali karena salah satu dari tiga sebab, yaitu; seorang duda atau janda yang berzina, jiwa dengan jiwa (disebabkan membunuh orang), dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin).”

Telah datang larangan dan sekaligus ancaman terhadap pembunuhan mu’ahid, yaitu orang yang diberikan jaminan keamanan dari kalangan musuh yang diperangi. Mengenai hal ini, Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw. dalam hadits marfu’:
“Barangsiapa membunuh mu’ahid, maka dia tidak akan mencium bau Surga. Dan sesungguhnya bau Surga itu tercium dari jarak perjalanan yang ditempuh selama empat puluh tahun.”

Firman-Nya: dzaalikum washshaakum biHii la’allakum ta’qiluun (“Demikian itu diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu supaya kamu memahami [nya].” Dengan pengertian, inilah di antara apa yang diperintahkan-Nya kepada kalian agar kalian semua memahami perintah dan larangan-Nya.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: