Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 152

20 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 152“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilahjanji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS. al-An’aam: 152)

Atha’ bin as-Saib mengatakan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika Allah swt. menurunkan: wa laa taqrabuu maalal yatiimi illaa bil latii Hiya ahsan (“Dan janganlah kamu dekatt harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.”) Dan juga ayat yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dhalim.” (QS. An-Nisaa’: 10).
Maka orang-orang yang memiliki anak yatim langsung bergerak memisahkan makanan mereka dari makanannya (anak yatim), minuman mereka dari minumannya, lalu mereka menyisakan sesuatu dan menyimpan untuknya hingga ia (anak yatim tersebut) memakannya atau rusak. Maka hal itu semakin membuat mereka keberatan. Kemudian mereka mengemukakan hal itu kepada Rasulullah saw, lalu Allah menurunkan ayat yang artinya:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik. Dan jika kamu mencampuri mereka, maka mereka adalah saudaramu.” (QS. Al-Baqarah: 220). Kemudian Ibnu `Abbas berkata, ‘Maka mereka pun mencampurkan makanan mereka dengan makanan anak-anak yatim, dan minuman mereka dengan minuman anak yatim.’” (HR Abu Dawud).

Firman-Nya: hattaa yablugha asyuddaHu (“Hingga sampai mereka dewasa”) mengenai hal ini, asy-Sya’bi, Malik, dan beberapa ulama salaf mengatakan: “Yaitu sampai mereka bermimpi basah.”

Firman-Nya: wa auful kaila wal miizaana bilqisthi (“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.”) Allah memerintahkan menegakan keadilan dalam memberi dan mengambil, sebagaimana Allah telah mengancam orang-orang yang mengabaikannya melalui firman-Nya yang artinya:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifiin: 1-6).

Dan Allah telah membinasakan suatu umat yang mengurangi takaran dan timbangan. Mereka adalah penduduk negeri Madyan, umat Nabi Syu’aib as.

Firman Allah: laa nukallifu nafsan illaa wus’aHaa (“Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.”) Dengan pengertian, barangsiapa berusaha keras untuk menunaikan dan memperoleh haknya, lalu dia melakukan kesalahan setelah dia menggunakan seluruh kemampuannya dan mengerahkan seluruh usahanya, maka tidak ada dosa baginya.

Firman-Nya: wa idzaa qultum fa’diluu wa lau kaana dzaa qurbaa (“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat [mu].”) Adalah sama seperti firman-Nya yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah.” (QS. Al-Maa-idah: 8).

Ayat yang serupa juga terdapat pada surat an-Nisaa’, yang di dalamnya Allah merintahkan untuk berbuat adil, baik dalam perbuatan maupun ucapan, baik kepada kerabat dekat maupun jauh. Dan Allah memerintahkan berbuat adil kepada setiap orang kapan dan di mana saja.

Firman-Nya: wa bi ‘aHdillaaHi aufuu (“Dan penuhilah janji Allah.”) Ibnu Jarir berkata: “Penuhilah semua pesan Allah yang dipesankan kepada kalian.” Pemenuhannya adalah dengan senantiasa mentaati semua perintah dan larangan-Nya, serta melaksanakan ketentuan yang terdapat dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Demikian itulah pemenuhan janji Allah.”

Dzaalikum washshaakum biHii la’allakum tadzakkaruun (“Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kamu agar kamu ingat.”) Allah berfirman, inilah yang Aku pesankan dan perintahkan serta tekankan kepada kalian. La’allakum tadzakkaruun (“Agar kamu ingat.”) Yaitu, agar kalian mengambil pelajaran dan berhenti dari yang kalian lakukan sebelum ini.

Sebagian ulama membacanya dengan tasydid pada huruf dzal (tadzdzakkaruun) sedangkan Mama lainnya membacanya dengan takhfif (tadzakkaruun)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: