Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 160

21 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 160“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejabatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. al-An’aam: 160)

Ayat ini merupakan penjelasan yang rinci bagi ayat lainnya yang disebutkan-Nya secara mujmal (global), yaitu firman-Nya yang artinya:
“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik darinya.” (QS. An-Naml: 89).

Terdapat banyak hadits yang sesuai dengan ayat ini, sebagaimana Imam Ahmad mengatakan dari Ibnu `Abbas, Bahwa Rasulullah saw pernah menyampaikan apa yang telah diperolehnya dari Rabbnya, Allah Tabaaraka wa Ta’ala:
“Sesungguhnya Rabbmu adalah Mahapenyayang, barangsiapa yang berniat berbuat kebaikan tetapi tidak mengerjakannya, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. Jika dia mengerjakannya, maka ditetapkan baginya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang banyak. Dan barangsiapa berniat mengerjakan perbuatan jahat, lalu dia tidak mengerjakannya, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. Jika dia mengerjakannya, maka ditetapkan baginya satu kejahatan atau Allah menghapuskannya. Dan tidak ada yang binasa di sisi Allah melainkan orang yang binasa.” (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i).

Ketahuilah bahwa orang yang meninggalkan kejahatan yang dia tidak kerjakan, terbagi menjadi tiga bagian:

Ada yang meninggalkannya karena Allah, maka akan ditulis baginya kebaikan atas tindakannya meninggalkan kejahatan itu karena Allah. Ini adalah merupakan amalan sekaligus niat. Oleh karena itu ditetapkan baginya kebaikan, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa lafazh shahih: “Sesungguhnya dia meninggalkannya karena diri-Ku.”

Ada yang meninggalkan kejahatan karena lalai dan lupa. Dalam keadaan ini dia tidak mendapatkan kebaikan dan tidak juga berdosa, karena dia tidak berniat baik dan tidak pula mengerjakan kejahatan.

Dan ada juga yang meninggalkan kejahatan karena lemah dan malas setelah berusaha melakukan unsur-unsur yang meyebabkan terjadinya kejahatan dan membiasakan diri dalam hal-hal yang mendekatkan dirinya pada kejahatan. Maka orang ini posisinya sama sebagaimana orang yang melakukan perbuatan tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda:

“Jika dua orang muslim saling berhadapan dengan pedang mereka, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama masuk Neraka.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulallah, yang demikian itu adalah bagi si pembunuh, lalu mengapa si terbunuh (mendapatkan hal yang sama)?” Beliau menjawab: “Karena sesungguhnya dia pun berkeinginan keras untuk membunuh kawannya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Khuraim bin Fatik al-Asadi, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Manusia itu ada empat macam dan amal perbuatan itu ada enam macam: Orang yang diberi kelapangan di dunia dan juga di akhirat, orang yang dilapangkan di dunia dan disempitkan di akhirat, orang yang disempitkan di dunia dan dilapangkan di akhirat, dan orang yang sengsara di dunia dan akhirat.

Sedangkan (bentuk-bentuk) amal perbuatan adalah, (ada yang) mengandung dua keharusan (Surga atau Neraka), serupa dengan serupa, sepuluh kali lipat, dan tujuh ratus kali lipat. Dua keharusan itu adalah, barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan muslim, beriman, dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka keharusan baginya mendapatkan Surga. Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan kafir, maka keharusan baginya mendapat Neraka.

Barangsiapa bermaksud mengerjakan suatu kebaikan, lalu dia tidak mengerjakannya, dan Allah mengetahui bahwa dia telah menggerakkan hatinya dan berkeinginan mengerjakannya, maka ditetapkan baginya satu kebaikan. Barangsiapa berniat mengerjakan kejahatan, maka belum dituliskan baginya, dan barang-siapa mengerjakannya, maka ditetapkan baginya satu kali lipat dan tidak dilipatgandakan. Barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat dari kebaikan tersebut. Dan barangsiapa menginfakkan suatu nafkah di jalan Allah, maka baginya tujuh ratus kali lipat.” (Diriwayatkan
juga oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa berpuasa tiga hari pada setiap bulan, berarti dia telah berpuasa sepanjang masa.”

Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasa’i dan Ibnu Majah, lafazh-lafazh di atas adalah lafazh Imam Ahmad. Sedangkan at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits tersebut, tapi dengan tambahan:

“Lalu Allah menurunkan pembenaran hal itu melalui firman-Nya, ‘Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya.’ Dan satu hari adalah sebanding/dibalas dengan sepuluh hari.”
(Kemudian at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan).

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: