Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 161-163

21 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 161-163“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.’ (QS. 6:161) Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, (QS. 6:162) tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’ (QS. 6:163)” (al-An’aam: 161-163)

Allah berfirman, memerintahkan Nabi saw, penghulu para Rasul, untuk memberitahukan nikmat yang telah diberikan kepadanya, berupa hidayah menuju jalan-Nya yang lurus, yang tidak ada liku-liku dan penyimpangannya; diinan qayyimman (“yaitu agama yang benar”) maksudnya berdiri tegak dan kokoh.
Millata ibraaHiima haniifaw wa maa kaana minal musyrikiin (“Agama Ibrahim yang lurus dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orangorang yang musyrik.”)

Firman-Nya tersebut sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim.” (QS. Al-Hajj: 78).

Dengan diperintahkannya Rasulullah untuk mengikuti agama Ibrahim, tidak berarti Ibrahim lebih sempurna daripada beliau dalam hal agama, karena beliau (Muhammad) telah menjalankan agamanya itu secara penuh, dan agamanya itu pun telah disempurnakan bagi beliau, yang tidak ada seorang pun pernah sampai pada kesempurnaan ini. Oleh karena itu beliau disebut sebagai Nabi penutup, penghulu anak cucu Adam secara menyeluruh, dan pemilik tempat terpuji yang sangat diinginkan oleh manusia termasuk juga oleh Khalilullah (kekasih Allah), Ibrahim.

Imam Ahmad mengatakan dari `Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah saw pernah meletakkan daguku di atas pundaknya agar aku dapat melihat tarian Habasyah (orang kulit hitam) sehingga aku bosan, lalu aku meninggalkannya.” `Abdurrahman mengatakan dari ayahnya, bahwa ia berkata, “Urwah pernah mengatakan kepadaku, bahwa `Aisyah pernah berkata: Rasulullah saw pada hari itu bersabda: `Supaya orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kita terdapat keleluasaan, dan sesungguhnya aku diutus dengan membawa hanafiyyatu samhah (agama yang lurus, lagi penuh kelapangan).’”

(Asal hadits ini dikeluarkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dan tambahan yang ada padanya didasari oleh beberapa dalil penguat yang diperoleh dari beberapa jalan).

Firman-Nya: qul inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaati lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Katakanlah: `Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.”) Allah memerintahkan Rasulullah saw agar memberitahukan kepada orang-orang musyrik yung menyembah selain Allah dan menyembelih dengan menyebut selain nama-Nya, bahwa dalam hal itu beliau berseberangan dengan mereka, karena sesungguhnya shalatnya untuk Allah dan sembelihannya adalah atas nama-Nya saja yang tiada sekutu bagi-Nya.

Dan hal ini sama seperti firman-Nya yang artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2). Dengan pengertian, serahkanlah dengan tulus ikhlas kepada-Nya, shalat dan penyembelihanmu itu. Karena orang-orang musynik itu menyembah berhala dan menyembelih untuk para berhala tersebut, maka Allah memerintah beliau untuk menyelisihi mereka dan berpaling dari apa yang mereka lakukan, dan mengarahkan tujuan, keinginan hanya tertuju pada Allah semata.

Mengenai firman-Nya: inna shalaatii wa nusukii (“Sesungguhnya shalatku dan ibadahku.”) Mujahid berkata: “Kata nusuk berarti penyembelihan hewan saat menjalankan ibadah haji dan umrah.” Sedangkan ats-Tsauri mengatakan dari as-Suddi, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: “Nusukii berarti sembelihanku.

Firman-Nya: wa ana awwalul muslimiin (“Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri [kepada Allah].”) Qatadah berkata, “Yakni dari umat ini.” Dan makna ini adalah benar, karena seluruh Nabi sebelum beliau, mereka adalah menyeru kepada Islam, yang pokoknya adalah ibadah kepada Allah semata yan tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana yang difirirmankanNya yang artinya:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelummu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwa tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Aku maka sembahlah Aku.” (al-Anbiyaa’: 25)

Allah juga berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya, (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh para Nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka.” (QS. Al-Maa-idah: 44)

Juga firman-Nya yang lain yang artinya:
“Dan [ingatlah], ketika Aku ilhamkan kepada pengikut `Isa yang setia, ‘Berimanlah kepada-Ku dan kepadaRasul-Rasul-Ku.’ Mereka menjawab, ‘Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).’” (QS. Al-Maa-idah: 111).

Demikianlah maka Allah memberitahukan bahwa Dia mengutus semua Rasul-Nya dengan membawa Islam, hanya saja mereka berbeda-beda syari’at sesuai dengan syari’at mereka yang khusus, yang sebagian menasakh sebagian lainnya, hingga akhirnya dinasakh oleh syari’at Muhammad saw yang tidak akan pernah dinasakh sama sekali setelah itu. Dan syari’atnya itu senantiasa berdiri tegak dan dimenangkan, panjinya pun akan tetap dan tersebar sampai hari Kiamat tiba. Oleh karena itu beliau bersabda:

“Kami para Nabi, anak dari satu bapak berbeda ibu, sedangkan agama kami adalah satu.”

Maka agama yang satu itu adalah, ibadah kepada Allah semata tidak menyekutukan-Nya, meskipun syari’at mereka berbeda-beda, syariat-syariat itu bagaikan para ibu. Sedangkan kebalikan dari Aulaadul ‘allaat adalah Ikhwatul akhyaaf, yaitu anak dari satu ibu berbeda bapak, dan ikhwatul a’yaan (saudara sekandung) adalah anak dari satu bapak satu ibu, wallaaHu a’lam.

Imam Ahmad mengatakan dari `Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah saw. jika sudah bertakbir (dalam shalat), beliau membaca do’a iftitah, kemudian membaca:

doa setelah iftitah“Aku hadapkan wajahku kepada Yang menciptakan langit dan bumi, dengan hanif (cenderung kepada tauhid), dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik (yang menyekutukan Allah). Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, – hingga akhir ayat. `Ya Allah, Engkau adalah Raja, di mana tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Engkau. Engkau adalah Rabbku, dan aku adalah hamba-Mu, aku telah berbuat dhalim terhadap diriku sendiri, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku itu seluruhnya, tidak ada yang dapat mengampuni dosa melainkan Engkau. Berikanlah hidayah kepadaku akhlak yang paling baik, di mana tidak ada yang dapat memberikan hidayah kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau, palingkanlah aku dari keburukan akhlak, di mana tidak ada yang dapat memalingkan aku dari keburukannya kecuali Engkau, Engkau penuh berkah dan Mahatinggi, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.”

(Bacaannya diteruskan sampai akhir [ayat 163], yaitu: “Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri [kepada Allah].” -Ed.)

(Selanjutnya `Ali ra. menyebutkan hadits ini secara lengkap, yang mencakup bacaan Rasulullah saw; pada waktu ruku’, sujud, dan tasyahhud. Hadits ini juga diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya).

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: