Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 164

21 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah; surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 164“Katakanlah: ‘Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalab Rabb bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Rabb-mulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (QS. al-An’aam: 164)

Allah berfirman: qul (“Katakanlah.”) Wahai Muhammad kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dalam keikhlasan beribadah dan bertawakkal kepada-Nya: a ghairallaaHi abghii rabban (“Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah.”) Maksudnya, apakah aku harus mencari Rabb lain selain-Nya?

Wa Huwa rabbu kulli syai-in (“Padahal Dia adalab Rabb bagi segala sesuatu.”) Allahlah yang memelihara, menjaga, dan melindungiku, serta mengatur urusanku. Karena itu aku tidak akan bertawakkal dan kembali (bertaubat) kecuali kepada-Nya, karena Dia adalah Rabb dan Pemilik segala sesuatu, dan kepunyaan-Nyalah penciptaan dan perintah.

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk ikhlas bertawakkal, sebagaimana yang terkandung dalam ayat sebelumnya yang memerintahkan untuk ikhlas beribadah hanya kepada Allah saja yang tiada sekutu bagi-Nya. Makna ini seringkali disertakan dengan yang lainnya di dalam al-Qur’an, seperti misalnya firman Allah yang artinya: “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5).

Juga firman-Nya yang artinya: “Maka beribadahlah kepada Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Huud: 123). Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang serupa dengan ayat-ayat tersebut.

Firman-Nya: wa laa taksibu kullu nafsin illaa ‘alaiHaa wa laa taziru waariratu wizra ukhraa (“Dan tidaklah seseorang berbuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”)

Ayat tersebut memberitahukan mengenai kenyataan pada hari Kiamat kelak yaitu mengenai balasan, ketentuan, dan keadilan Allah swt. Bahwa masing-masing orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya, jika baik maka akan mendapat kebaikan, dan jika buruk maka akan mendapatkan keburukan pula, dan bahwasanya seseorang tidak akan menanggung kesalahan orang lain, dan hal ini merupakan salah satu keadilan Allah.

Firman-Nya: tsumma ilaa rabbikum marji’ukum fa yunabbi-ukum bimaa kuntum fiiHi takhtalifuun (“Kemudian kepada Rabbmulah kamu kembali, dan akan diberitakannya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”) Maksudnya, berbuatlah semampu kalian, sesungguhnya kami akan berbuat pula sepenuh kemampuan kami, kemudian akan diperlihatkan kepada kalian dan kepada kami, dan Allah akan memberitahu kalian dan kami semua amal perbuatan kita, serta apa yang kita perselisihkan di dunia.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: