Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 25-27

22 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 25-27“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. (QS. 9:25) Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah telah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS. 9:26) Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 9:27)” (at-Taubah / al-Bara’ah: 25-27)

Ibnu Juraij berkata dari Mujahid: “Ini adalah ayat pertama yang turun dari surat Bara-ah.” Allah menyebutkan karunia dan kebaikan-Nya yang diberikan kepada orang-orang beriman ketika Allah memberikan pertolongan pada banyak peperangan yang mereka jalani bersama Rasulullah saw. Semua kemenangan itu adalah berkat kehendak dan pertolongan-Nya, bukan karena jumlah dan kekuatan mereka. Allah juga mengingatkan bahwa kemenangan adalah dari-Nya, baik manakala jumlah pasukan Islam sedikit ataupun banyak.

Pada peristiwa Hunain, ketika mereka terlena dengan jumlah mereka yang banyak, akan tetapi jumlah yang banyak itu tidak bennanfaat bagi mereka, mereka lari tunggang-langgang, kecuali sejumlah kecil orang-orang mukmin bersama Rasulullah saw. Setelah itu Allah menurunkan bantuan dan pertolongan-Nya, kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin yang bersamanya [-sebagaimana akan kami jelaskan secara rinci, insya Allah-] untuk memberikan pengetahuan kepada mereka bahwa kemenangan hanya berasal dari Allah semata, meskipun jumlah orangnya hanya sedikit. Betapa banyak kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah, dan Allah bersama orang-orang yang sabar.

Imam Ahmad berkata dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Pasukan yang paling baik adalah empat, pasukan ekspedisi yang paling baik adalah empat ratus dan jumlah pasukan yang terbaik adalah 4000 personil. Pasukan yang berjumlah (tidak kurang dari) 12000 personil tidak akan terkalahkan.”

Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, lalu berkata: Hadits ini hasan gharib sekali, tidak ada yang mensanadkannya selain Jarir bin Hazim, hanya saja az-Zuhri meriwayatkan dari Nabi saw secara mursal. Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan yang lain meriwayatkannya dari Aktsam bin al Juun dari Rasulullah saw semisalnya. Wallahu a’lam.

Perang Hunain terjadi setelah penaklukan kota Makkah, pada bulan Syawwal tahun kedelapan Hijriyah. Yaitu ketika Rasulullah telah selesai dari penaklukan kota Makkah, di mana urusan-urusannya telah mencair. Dimana kebanyakan penduduknya telah masuk Islam dan telah dibebaskan. Lalu sampailah berita kepada Rasulullah saw, bahwa Bani Hawazin di bawah pimpinan Malik bin Auf an-Nadhari mengumpulkan kekuatan untuk memerangi Rasulullah saw. Bersama mereka ada Bani Tsaqif, Bani Jasyim, Bani Sa’ad bin Bakar, beberapa kelompok yang tidak berjumlah banyak dari Bani Hilal, sejumlah orang Bani `Amr bin `Amir dan dari Bani `Aun bin `Amir, mereka datang secara keseluruhan, membawa anak-anak, wanita, orang tua dan semua hewan peliharaan mereka.

Maka Rasulullah dengan pasukannya yang berjumlah 10.000 orang dari gang-orang Muhajirin, Anshar, dan suku-suku Arab, di tambah dengan 2000 personil dari orang Makkah yang telah masuk Islam dan dibebaskan. Mereka bertemu musuh di lembah Hunain, lembah yang terletak antara Makkah dan Thaif dan di sinilah terjadi peperangan yang dinamakan perang Hunain.

Hari itu, setelah terbitnya matahari, pasukan Islam berhamburan ke tengah lembah dan terperangkap oleh pasukan Hawazin yang telah berada di tempat itu dengan sembunyi-sembunyi. Maka ketika pasukan Islam mulai mendekat, mereka dikagetkan oleh tebasan pedang dan hujan panah yang berlangsung serentak dan tiba-tiba dari orang-orang Hawazin. Saat itulah pasukan Islam lari tunggang-langgang ke belakang, sebagaimana difirmankan oleh Allah swt. Sedangkan Rasulullah saw tetap tegar di atas baghal [baghal adalah hewan tunggangan hasil kawinan dari kuda dan keledai] yang bernama syahba dan bergerak ke arah pasukan lawan. Sementara itu al-‘Abbas, paman beliau memegangi pelana sebelah kanan, dan Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib memegangi pelana sebelah kiri agar baghal yang dikendarai Rasulullah tidak terlalu cepat. Sementara Rasulullah berteriak memanggil kaum Muslimin untuk kembali seraya menyebut-nyebut namanya:

“Kembalilah kepadaku wahai hamba-hamba Allah, kembalilah kepadaku, aku ini Rasulullah saw.”

Beliau juga berteriak: “Aku ini Nabi, tidak bohong. Aku anak dari `Abdul Muththalib.”

Jumlah sahabat yang saat itu tegar bersama Rasulullah saw sekitar 100 orang [-ada yang mengatakan 80 orang-], di antaranya adalah Abu Bakar, ‘Umar, al-‘Abbas, `Ali, al-Fadhl bin `Abbas, Abu Sufyan bin al-Harits, Aiman bin Ummu Aiman, Usamah bin Zaid, dan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menyuruh pamannya, al-‘Abbas [-yang memiliki suara lantang-] untuk memanggil dengan suara setingi-tingginya: “Wahai orang-orang yang ikut bawah pohon,” yakni pohon tempat peristiwa bai’at ar-Ridwan, di mana pada bai’at itu sejumlah orang Muhajirin dan Anshar berjanji untuk tidak meninggalkan Rasulullah saw.

Al-‘Abbas juga memanggil dengan teriakan: “Wahai orang-orang yang ikut dalam peristiwa malam hari.” Dan kadang-kadang ia memanggil dengan teriakan: “Wahai orang-orang yang hafal surat al-Baqarah.” Maka kaum muslimin pun menyambut panggilan tersebut dan berhamburan kepada Rasulullah saw hingga jika ada yang tidak sabar menanti untanya maka ia melepaskan untanya, dan memakai baju perangnya lalu berlari menuju Rasulullah saw. Ketika sejumlah pasukan yang tadinya tercerai-berai itu telah terhimpun dan tegar dalam barisan dekat Rasulullah, beliau menyuruh mereka bersungguh-sungguh, lalu beliau mengambil segenggam pasir dan berdo’a memohon kepada Allah:

“Ya Allah, penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan.”

Kemudian beliau melemparkan pasir tersebut ke arah pasukan musuh dan tidak seorang pasukan musuh pun yang tidak terkena pasir itu di kedua mata dan mulutnya, sehingga mereka disibukkan oleh pasir tersebut (lalai perang), dan kaum Muslimin dengan begitu leluasa membunuh dan menangkap mereka, sehingga ketika pasukan Muslimin pulang, ada banyak pasukan musuh yang menjadi tawanan perang (kaum Muslimin melemparkan tawanan perang di depan Rasulullah saw.

Dalam ash-shahihain (al-Bukhari dan Muslim), disebutkan sebuah hadits dan Syu’bah, dari Abi Ishaq, dari al-Barra’ bin `Azib radhiyallahu ‘anHuma, bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepadanya: “Wahai Abu ‘Amarah, apakah kamu melarikan diri dari Rasulullah saw pada perang Hunain?” Lalu menjawab: “Akan tetapi, Rasulullah tidak melarikan diri. Sesungguhnya orang-orang Hawazin adalah ahli dalam memanah, ketika kita menyerbu mereka, mereka kalah, lalu pasukan kami mengumpulkan harta rampasan, ketika itulah mereka menghujani pasukan kami dengan panah, dan pasukan kami dari tunggang-langgang. Aku melihat Rasulullah saw, yang ketika itu Abu Sufyan memegangi tali kekang baghalnya yang putih, beliau berteriak:

“Aku seorang Nabi, tidak bohong. Aku anak dari `Abdul Muththalib.”

Aku berkata, bahwa ini adalah keberanian yang tiada duanya, karena pada saat itu perang sedang berkecamuk sementara pasukannya lari tunggang-langgang. Beliau tetap berada di atas baghalnya [-yang tidak bisa lari cepat dan tidak bisa lari untuk menghindari musuh-] meski begitu, beliau tetap memacunya ke arah musuh seraya berteriak menyebut namanya agar semua orang mengetahuinya.

Ini semua beliau lakukan didasari rasa percaya dan tawakkal yang kuat kepada Allah, serta rasa yakin akan datangnya pertolongan dan bahwa Allah akan menyempurnakan risalah yang diturunkan-Nya, dan memenangkan agama Islam terhadap agama-agama lainnya, untuk itu Allah berfirman:

Tsumma anzalallaaHu sakiinataHuu ‘alaa rasuuliHii (“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya”) yakni ketenangan dan keteguhan kepada Rasul-Nya.

Wa ‘alal mu’miniin (“Dan kepada orang-orang yang beriman”) yakni yang bersama Rasulullah. Wa anzala junuudal lam tarauHaa (“Dan Allah menurunkan tentara yang kamu tidak melihatnya.”) Yaitu, para Malaikat.

Dalam shahih Muslim, dari Muhammad bin Rafi’, dari ‘Abdurrazzaq, kami diberitahu oleh Ma’mar dari Hamam, di mana is berkata, inilah yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“Aku diberi pertolongan dengan adanya rasa takut (yang dirasakan oleh musuh), dan aku diberi jawami’ul kalim.”

(Jamii’ul kalim: ucapan sedikit/singkat yang mengandung faedah/makna yang cukup banyak.-Ed.)

Untuk itu Allah berfirman: Tsumma anzalallaaHu sakiinataHuu ‘alaa rasuuliHii Wa ‘alal mu’miniina Wa anzala junuudal lam tarauHaa wa ‘adzdzabal ladziina kafaruu wa dzaalika jazaa-ul kaafiriin (“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang mukmin, dan menurunkan tentara yang tidak kamu lihat, serta menurunkan adzab kepada orang-orang kafir, dan itulah balasan bagi orang-orang kafir.”)

Dan flrman-Nya: tsumma yatuubullaaHu mim ba’di dzaalika ‘alaa may yasyaa-u wallaaHu ghafuurur rahiim (“Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Allah telah menerima taubat sisa-sisa orang Hawazin jika mereka masuk Islam. Kurang lebih 20 hari setelah penaklukan kota Makkah, mereka mendatangi Nabi dalam keadaan menyerahkan diri. Saat itu mereka telah sampai di Ju’ranah, sebuah wilayah di dekat Makkah.

Rasulullah memberikan dua pilihan kepada mereka, memilih harta atau tawanan, maka mereka memilih tawanan, yang ketika itu berjumlah 6000 orang terdiri dari anak-anak dan kaum wanita. Lalu Rasulullah menyerahkan tawanan tersebut kepada mereka, sedangkan harta rampasan dibagikan kepada para pengikut perang dan kepada sejumlah orang thulaqa’ untuk menyantuni mereka yang baru masuk Islam.

Rasulullah memberikan kepada masing-masing orang seratus unta, di antara mereka yang menerima seratus ekor unta itu adalah Malik bin `Auf an-Nadhari, dan diangkat sebagai pemimpin kaumnya seperti semula.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: