Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 28-29

22 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 28-29“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. 9:28) Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (QS. 9:29)” (at-Taubah / al-Bara’ah: 28-29)

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, yang memiliki kesucian lahir dan bathin, untuk mengusir orang-orang musyrik yang najis secara bathin dari Masjidilharam dan agar tidak mendekatinya setelah turunnya ayat ini, di mana ayat ini diturunkan pada tahun kesembilan. Oleh karena itulah Rasulullah mengutus Ali ra. bersama Abu Bakar ra. untuk menyeru kepada orang-orang musyrik untuk tidak melakukan haji setelah tahun ini, dan agar tidak melakukan thawaf dengan telanjang. Jadi, Allah memberlakukan dan memutuskannya sebagai suatu syari’at.

Imam Abu `Amr al-Auza’i berkata: “’Umar bin `Abdul `Aziz mutuskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani dilarang memasuki masjid kaum muslimin.” Yang mana larangan ini diikuti dengan penyertaan firman Allah:
Innamal musyrikuuna najasun (“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”)

‘Atha’ berkata, “Seluruh tanah haram adalah masjid.” berdasarkan firman Allah:
Falaa taqrabul masjidal haraama ba’da ‘aamiHim Haadzaa (“Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahuh ini.”) Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang musyrik itu najis, seperti yang tersebut dalam hadits shahih: “Orang yang beriman itu tidak najis.”

Adapun berkaitan dengan apakah badan orang musyrik itu najis. Maka jumhur ulama berpendapat bahwa badan dan dzat mereka tidak najis karena Allah swt. membolehkan kaum muslimin memakan makanan orang-orang Ahli Kitab.

Dan firman-Nya: wa in khiftum ‘ailatan fasaufa yughniikumullaaHu min fadl-liHi (“Dan jika kamu khawatir akan menjadi miskin, maka Allah akan mernberikari kekayaan kepadamu dari karunia-Nya.”) Muhammad bin Ishaq berkata: “Hal ini karena orang-orang berkata: `Pasar kita akan mati, dagangan kita akan merugi, dan kita akan hilangan apa yang dulu kita dapatkan dari keuntungan.’”

Maka Allah menurunkan: wa in khiftum ‘ailatan fasaufa yughniikumullaaHu min fadl-liHi…. (“Dan jika kamu khawatir akan menjadi miskin, maka Allah akan mernberikari kekayaan kepadamu dari karunia-Nya jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”)

Yakni, pengganti dari apa yang kamu khawatirkan itu. Jadi, Allah menggantinya dengan kewajiban jizyah dari setiap orang Ahli Kitab.
Begitu juga yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, adh-Dhahhak, dan lain-lain.

innallaaHa ‘aliimun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui.”) Yakni, terhadap apa yang bermanfaat bagimu. Hakiimun (“Lagi Mahabijaksana.”) Yakni, dalam memberikan perintah dan larangan, karena Allah adalah Dzat yang Mahasempurna tindakan dan firman-Nya, yang Mahaadil dalam penciptaan dan titah-Nya. Oleh karena itu Allah menggantikan semua pendapatan itu dengan harta jizyah yang diambil dari orang-orang ahli dzimmah (penduduk non Muslim yang tinggal di negara Islam).

Firman-Nya: qaatilul ladziina laa yu’minuuna billaaHi wa laa bil yaumil aakhiri wa laa yuharrimuuna maa harramallaaHu wa rasuuluHuu wa laa yadiinuuna diinal haqqi minal ladziina uutul kitaaba hattaa yu’thul jizyata ‘ay yadiw wa Hum shaaghiruun (“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan [tidak pula kepada] hari akhir, tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mengikuti agama yang benar, dari kalangan orang-orang Ahli Kitab, hingga mereka memberikan jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”)

Jadi, pada waktu yang sama, karena kekafiran mereka terhadap Nabi Muhammad saw, mereka juga sama sekali tidak beriman kepada para Rasul sebelumnya dan risalah yang dibawanya, akan tetapi apa yang mereka lakukan hanyalah mengikuti pendapat, hawa nafsu, dan nenek moyang mereka, bukan karena keberadaannya sebagai sebuah syari’at dan agama Allah. Jika saja mereka benar-benar mengimani ajaran agama yang sedang mereka peluk, tentunya hal itu menjadikan mereka beriman kepada Muhammad saw, karena semua Nabi memberitakan kedatangannya dan memerintahkan untuk mengikutinya.

Maka ketika Muhammad telah datang dan mereka mengingkarinya, diketahui bahwa mereka berpegang teguh dengan syariat para Nabi terdahulu bukan karena syariat tersebut berasal dari Allah, akan tetapi karena mengikuti kehendak dan hawa nafsu mereka saja. Oleh karena itu keimanan mereka terhadap para Nabi terdahulu sia-sia belaka, karena mereka tidak beriman kepada pemimpin dan penutup para Nabi, Nabi paling mulia dan paling sempurna, untuk itu Allah berfirman:

qaatilul ladziina laa yu’minuuna billaaHi wa laa bil yaumil aakhiri wa laa yuharrimuuna maa harramallaaHu wa rasuuluHuu wa laa yadiinuuna diinal haqqi minal ladziina uutul kitaaba (“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan [tidak pula kepada] hari akhir, tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mengikuti agama yang benar, dari kalangan orang-orang Ahli Kitab.”)

Ayat ini adalah ayat pertama kali yang memerintahkan kaum Muslimin memerangi Ahli-Kitab.

Setelah urusan kaum musyrikin mulai mencair, dan berbagai kelompok masuk ke dalam agama Islam, dan Jazirah Arabia mulai stabil, maka Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk memerangi orang-orang Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Ini terjadi pada tahun 9 Hijriyah. Untuk itu Rasulullah saw persiapkan diri untuk memerangi bangsa Romawi. Rasulullah menyeru para sahabatnya untuk bersiap-siap, dan mengirim utusan ke daerah-daerah pinggiran kota untuk mengajak mereka agar bersiap-siap dan seruan itu mendapat sambutan yang sangat memuaskan, sehingga terkumpullah pasukan sejumlah kurang lebih 30.000 personil. Sebagian orang penduduk Madinah dan kaum munafikin yang ada di sekitarnya serta manusia lainnya tidak ikut berperang. Peristiwa ini terjadi pada saat sulitnya pangan dan kemarau panjang panas yang sangat terik.

Rasulullah dengan pasukannya berangkat menuju ke negeri Syam memerangi pasukan Romawi, ketika sampai di Tabuk, pasukan Islam singgah selama 20 hari. Setelah itu Rasulullah beristikharah untuk kembali ke Madinah. Karena kondisi pasukan yang sudah mulai lemah, maka pada tahun itu juga Rasulullah kembali ke Madinah. -Sebagaimana yang akan dijelaskan mendatang Insya Allah-.

Ayat ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat, bahwa jizyah itu tidak dipungut kecuali dari orang-orang Ahli Kitab dan semisalnya seperti orang-orang Majusi, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits: “Bahwasanya Rasulullah memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar.” Pendapat ini dianut oleh Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad -dalam riwayatnya yang masyhur-.

Sedangkan Abu Hanifah berpendapat: “Jizyah dipungut dari semua non muslim yang bukan Arab, kecuali dari orang-orang Ahli Kitab.” Sementara Imam Malik berpendapat: “Diperbolehkan memungut jizyah dari semua orang kafir, Ahli Kitab, Majusi, penyembah berhala dan lain-lain.
Perbandingan dan pemaparan dalil-dalil yang menjadi sandaran pendapat-pendapat ini tidak kami bahas di sini. Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya: hattaa yu’thul jizyata (“Hingga mereka menyerahkan jizyah.”) Yakni, manakala mereka tidak mau masuk Islam. ‘ay yadin (“Dengan patuh.”) Yakni, dengan ketundukan dan kekalahan bagi mereka. Wa Hum shaaghiruun (“Sedang mereka dalam keadaan tunduk.”) Yakni hina dan rendah. Oleh karena itu tidak diperbolehkan memberikan wibawa kepada orang-orang dzimmah di atas kaum muslimin.

Mereka harus dalam keadaan merasa kecil dan terhina, seperti yang dijelaskan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Janganlah kamu memulai mengucap salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika kamu menjumpai seorang dari mereka di suatu jalan, maka desaklah mereka ke tempat yang paling sempit.”

Oleh karena itulah Amirul Mukminin, `Umar bin al-Khaththab memberikan syarat-syarat yang mana riwayat ini sudah masyhur, dalam upaya membuat mereka merasa kecil, rendah dan terhina.

Seperti yang diriwayatkan oleh para Imam Huffazh, dari riwayat `Abdurrahman bin Ghanim al-Asy’ari, ia berkata: Aku mengirimkan surat kepada `Umar, ia memberikan perjanjian damai kepada orang-orang Nasrani dari penduduk Syam: “Dengan menyebut nama Allah yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Sebuah surat untuk hamba Allah, `Umar Amirul Mukminin, dari orang-orang Nasrani kota ini dan ini. Sesungguhnya ketika kalian datang kepada kami, kami meminta jaminan keamanan untuk diri, anak, harta dan pemeluk agama kami. Kalian mensyaratkan agar kami tidak membangun tempat peribadatan baru di daerah kami, tidak memperbaiki yang rusak, dan menonaktifkan tempat peribadatan yang menjadi rute jalan orang-orang Islam.

Kami tidak boleh melarang seorang muslim pun singgah di gereja kami siang atau malam hari. Pintu gereja harus selalu terbuka untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Kita diharuskan menjamu kaum muslimin yang berada dalam perjalanan selama tiga hari. Gereja dan rumah kami tidak diperbolehkan menjadi tempat persembunyian mata-mata, atau yang menipu kaum muslimin. Kami tidak diperbolehkan mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak kami. Tidak boleh menampakkan kesyirikan dan menyeru kepadanya. Tidak boleh melarang kerabat kami yang hendak memeluk Islam. Harus menghormati orang Islam. Diharuskan mengutamakan orang Islam yang hendak duduk dalam suatu majelis. Tidak diperbolehkan menyerupai orang-orang Islam dalam pakaian, tutup kepala, sandal, model sisiran rambut. Tidak boleh berbicara dengan bahasa kaum muslimin.

Tidak memakai sebutan yang dipergunakan oleh kaum muslimin. Tidak boleh menggunakan pelana ketika berkendaraan. Tidak boleh membawa senjata. Tidak boleh menuliskan kata-kata Arab pada cincin kami. Tidak menjual khamr. Kami diharuskan memendekkan rambut bagian depan. Kami harus selalu mengenakan pakaian seragam kami dan selalu mengenakan ikat pinggang khusus kami. Tidak diperbolehkan memperlihatkan salib di gereja-gereja, dan tidak boleh memperlihatkan salib atau kitab suci kami di jalan-jalan dan pasar pasar kaum muslimin. Kami tidak diperbolehkan memukul lonceng gereja, kecuali seringan mungkin.

Tidak boleh meninggikan suara kami ketika membaca kitab suci kami di gereja di hadapan orang-orang Islam. Kami tidak boleh menjadi utusan. Tidak boleh meninggikan suara ketika ada pengikut kami yang meninggal. Kami tidak boleh menyalakan lampu di jalan-jalan dan di pasar-pasar kaum muslimin. Tidak boleh mengubur jenazah kami di pemakaman kaum muslimin. Kami tidak diperbolehkan mengambil budak sahaya sebagaimana diperbolehkan bagi kaum muslimin. Kami harus mempermudah urusan kaum muslimin, dan tidak boleh mengganggu privasi mereka.”

Ia berkata: “Ketika surat itu sampai ke tangan `Umar, ia menarnbahkan beberapa hal, kami tidak diperbolehkan memukul seorang pun dari kaum muslimin. Syarat kami ini berlaku bagi diri kami dan warga agama kami, kami terima sebagai pengganti rasa aman. Jika kami melanggar persyaratan tersebut, maka kami tidak mendapatkan perlindungan lagi, dan boleh kami diperlakukan sebagai para penentang.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: