Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 30-31

22 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 30-31“Orang-orang Yahudi berkata: ‘’Uzair itu putera Allah,’ dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih itu putera Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir dahulu. Dilaknati Allahlah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. 9:30) Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Mahaesa; tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain (Dia). Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 9:31)” (at-Taubah / al-Bara’ah: 30-31)

Ini adalah dorongan dari Allah terhadap orang-orang beriman untuk memerangi orang-orang kafir dari Yahudi dan Nasrani, karena ucapan mereka yang kurang ajar, di mana mereka telah berbohong atas nama Allah. Orang Yahudi mengatakan, bahwa `Uzair adalah anak Allah,’ Mahasuci Allah dari dusta itu, sementara kesesatan orang-orang Nasrani sangat jelas. Oleh karena itulah Allah mendustakan dua kelompok ini.

Allah berfirman: dzaalika qauluHum bi-afwaaHiHim (“Itu adalah ucapan mereka dengan lisan mereka.”) Yakni, tidak ada landasan bagi ucapan mereka itu selain bohongan dan perselisihan mereka. yudlaaHi-uuna (“Mereka meniru”) yakni menyerupai.
Qaulal ladziina kaafaruu min qablu (“Perkataan orang-orang kafir sebelumnya. Yakni, dari umat-umat sebelum mereka di mana mereka telah tersesat sebagaimana generasi sebelumnya,

qaatalaHumullaaHu (“Dilaknati Allahlah mereka.”) Ibnu `Abbas berkata, “Allah melaknat mereka.” Annaa yu’fakuun (“Bagaimana mereka sampai berpaling?”) Yakni, bagaimana mereka ingkar dari kebenaran dan berpaling paling pada kebathilan.

Firman-Nya: ittakhadzuu ahbaaraHum wa ruHbaanaHum arbaabam min duunillaaHi wal masiihabna maryama (“Mereka telah menjadikan orang-orang alimnya dan Para rahib sebagai rabb selain Allah, begitu juga dengan al-Masih bin Maryam.”)

Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir meriwayatkan melalui beberapa jalur dari ‘Adi bin Hatim ra bahwa ketika sampai kepadanya dakwah Rasulullah saw, ia lari ke negeri Syam, di mana pada zaman Jahiliyah ia telah masuk ke dalam agama Nasrani. Lalu saudara perempuan dan sejumlah orang dari kaumnya tertangkap dan menjadi tawanan di tangan kaum muslimin. Kemudian Rasulullah saw melepaskan saudara perempuannya dan pulang menemuinya. Lalu perempuan tersebut memberikan dorongan agar ‘Adi memeluk Islam dan datang kepada Rasulullah. Lalu ‘Adi pun datang ke Madinah.

Pada saat itu ‘Adi adalah ketua suku Thai’. Ayahnya adalah Hatim ath-Thai’ yang terkenal dengan sikap dermawannya. Ketika ia datang ke Madinah, semua orang membicarakannya. Ia menjumpai Rasulullah dengan mengenakan kalung salib terbuat dari perak. Saat itu Rasulullah membaca ayat:

ittakhadzuu ahbaaraHum wa ruHbaanaHum arbaabam min duunillaaHi (“Mereka telah menjadikan orang-orang alimnya dan para rahib sebagai rabb-rabb selain Allah.”) Ia berkisah, maka aku berkata: “’Mereka tidak beribadah kepadanya.’ Maka Rasulullah mengatakan: `Ya, para rahib itu mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, lalu mereka mengikutinya. Itulah bentuk beribadah kepadanya.”‘

Rasulullah saw bersabda:
“Wahai `Adi, apa yang engkau katakan? Apakah engkau merasa terganggu jika diucapkan Allahu Akbar? Apakah engkau mengetahui sesuatu yang besar daripada Allah, yang dapat memberikan mudharat kepadamu. Apakah engkau merasa terganggu jika diucapkan tiada Ilah selain Allah? Apakah engkau mengetahui Ilah selain Allah?”

Kemudian Rasulullah saw mengajaknya untuk masuk Islam, lalu ia pun masuk Islam dan menyaksikan kesaksian yang benar. la berkata: “Aku benar-benar melihat wajahnya ceria berseri-seri.” Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu dimurkai dan orang-orang Nasrani itu tersesat.”

Demikian juga yang dikatakan oleh Hudzaifah bin al-Yaman, `Abdullah bin `Abbas dan lain-lain dalam menafsirkan: ittakhadzuu ahbaaraHum wa ruHbaanaHum arbaabam min duunillaaHi (“Mereka telah menjadikan orang-orang alimnya dan para rahib sebagai rabb-rabb selain Allah.”) Sesungguhnya mereka mengikuti para rahib mereka atas apa yang mereka halalkan dan yang mereka haramkan.

As-Suddi berkata: “Mereka meminta nasehat dari para pemimpin mereka dan berpaling dari Kitabullah, oleh karena itu Allah berfirman: wa maa umiruu illaa liya’buduu ilaaHaw waahidan (“Dan mereka tidak diperintahkan, melainkan beribadah kepada Ilah yang satu.”) Yakni, yang jika mengharamkan sesuatu, maka itulah yang haram. Apa yang dihalalkan, maka itulah yang halal. Apa yang disyari’atkan, maka itulah yang diikuti. Dan apa yang diputuskan, maka itulah yang dilaksanakan.”

Laa ilaaHa illaa Huwa subhaanaHuu ‘ammaa yusyrikuun (“Tiada Ilah selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”) Yakni, Mahatinggi dan Mahasuci dari sekutu, tandingan, rekan, lawan dan anak. Tiada Ilah selain Allah dan tiada Rabb selain Dia.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: