Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 37

23 Des

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 37“Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkanlah orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikannya dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi pertunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 37)

Ayat ini merupakan sebagian cercaan yang dilontarkan Allah kepada orang-orang musyrik atas penyimpangan yang mereka lakukan terhadap syariat Allah, tindakan mereka yang merubah hukum-hukum Allah dengan hawa nafsu mereka, dan tindakan mereka yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya. Ketika mereka memiliki kekuatan emosional, keberanian dan kesombongan, dengan seenaknya mereka melanggar masa bulan-bulan yang tiga, yang berkenaan dengan tidak diperbolehkan memerangi musuh. Di mana sebelum Islam, mereka telah melakukan pelanggaran itu, mereka mengakhirkannya ke bulan Shafar, sehingga mereka menghalalkan bulan haram dan mengharamkan bulan halal untuk menyesuaikan bilangan bulan yang diharamkan oleh Allah, yaitu empat bulan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh penyair mereka, `Umair bin Qais, yang terkenal dengan sebutan ketua para pencela:

Bani Ma’d telah mengetahui, bahwa kaumku
adalah kaum mulia yang memiliki banyak kemuliaan.
Bukankah kami tumbuh pada Bani Ma’d.
Bulan-bulan halal kami jadikan haram.
Manusia manakah yang belum kami beri kematian
dan manusia manakah yang belum kami kalungi tambang.”

Tentang hal ini, Imam Muhammad bin Ishaq menyatakan sebuah ungkapan yang sangat menarik, bagus dan bermanfaat, di dalam Kitabus Sirah:
“Orang yang pertama kali mengundurkan bulan-bulan atas orang-orang Arab, di mana ia menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, adalah al-Qulmus, yaitu Hudzaifah bin `Abdu Faqim bin `Adi bin `Amir bin Tsa’labah bin al-Harits bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudharr bin Nizar bin Ma’d bin `Adnan. Setelah itu diteruskan oleh anaknya, `Abbad, setelah itu dilanjutkan oleh Qal’u bin Abbad, setelah itu dilanjutkan oleh `Umayyah bin Qal’u, setelah itu dilanjutkan oleh `Auf bin Umayyah, setelah itu dilanjutkan oleh Abu Tsumamah Junadah bin `Auf dan dialah yang terakhir.”

Orang-orang Arab saat itu ketika telah selesai mengerjakan haji, mereka berkumpul kepadanya, lalu seseorang berdiri untuk berpidato, mengharamkan Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, serta menghalalkan bulan Muharram pada satu tahun dan menggantinya dengan bulan Shafar dan mengharamkan Muharram pada satu tahun yang lain, untuk menyesuaikan dengan bilangan bulan yang diharamkan oleh Allah. Jadi, mereka menghalalkan bulan yang diharamkan oleh Allah dan pada saat yang bersamaan mereka mengharamkan bulan yang dihalalkan oleh Allah. Wallahu a’lam.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: