Arsip | 07.20

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 87-88

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 87-88“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian, dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada kalian, dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.” (Al-Maa-idah ayat 87-88)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang dari sahabat Nabi Saw. yang mengatakan, “Kita kebiri diri kita, tinggalkan nafsu syahwat duniawi dan mengembara di muka bumi seperti yang dilakukan oleh para rahib di mas a lalu.”

Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi Saw., maka beliau mengirimkan utusan untuk menanyakan hal tersebut kepada mereka. Mereka menjawab, “Benar.” Maka Nabi Saw. bersabda:

“Tetapi aku puasa, berbuka, salat, tidur, dan menikahi wanita. Maka barang siapa yang mengamalkan sunnahku (tuntunanku), berarti dia termasuk golonganku; dan barang siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.” (Riwayat Ibnu Abu Hatim)

Ibnu Murdawa ih telah meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, hal yang semisal. Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Siti Aisyah r.a. bahwa pernah ada segolongan orang dari kalangan sahabat Rasulullah Saw. bertanya kepada istri-istri Nabi Saw. tentang amal perbuatan Nabi Saw. yang bersifat pribadi. Maka sebagian dari para sahabat itu ada yang menyangkal, “Kalau aku tidak makan daging.” Sebagian yang lain mengatakan, “Aku tidak akan mengawini wanita.” Dan sebagian lagi mengatakan, “Aku tidak tidur di atas kasur. “Ketika hal itu sampai kepada Nabi Saw., maka beliau bersabda:

“Apakah gerangan yang dialami oleh kaum, seseorang dari mereka mengatakan anu dan anu, tetapi aku puasa, berbuka, tidur, bangun, makan daging, dan kawin dengan wanita. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnah (tuntunan)ku. maka dia bukan dari golonganku.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Abu Asim Ad-Dahhak ibnu Mukhallad , dari Usman (yakni Ibnu Sa’id), telah menceritakan kepadaku Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku apabila makan daging ini, maka berahiku terhadap wanita memuncak, dan sesungguhnya aku sekarang mengharamkan daging atas diriku.” Maka turunlah firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Jarir, keduanya dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Abu Asim An-Nabil dengan sanad yang sama. Menurut Imam Turmuzi hadis ini hasan garib.

Telah diriwayatkan pula melalui jalur lain secara mursal, dan telah diriwayatkan secara mauquf pada Ibnu Abbas .

Sufyan As-Sauri dan Waki’ mengatakan bahwa Ismail ibnu Abu Khalid telah meriwayatkan dari Qais ibnu Abu Hazim, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan: “Kami pernah berperang bersama Nabi Saw., sedangkan kami tidak membawa wanita. Maka kami berkata, ‘Sebaiknya kita kebiri saja diri kita.’ Tetapi Rasulullah Saw. melarang kami melakukannya dan memberikan rukhsah (kemurahan) bagi kami untuk mengawini wanita dengan maskawin berupa pakaian, dalam jangka waktu yang ditentukan. “Kemudi an Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) hingga akhir ayat.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Ismail. Peristiwa ini terjadi sebelum nikah mut’ah diharamkan.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Ibrahim, dari Hammam ibnul Haris, dari Amr ibnu Syurahbil yang menceritakan bahwa Ma’qal ibnu Muqarrin datang kepada Abdullah ibnu Mas’ud, lalu Ma’qal berkata, “Sesungguhnya aku sekarang telah mengharamkan tempat tidurku (yakni tidak mau tidur di kasur lagi)” Maka Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) hingga akhir ayat.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Abud Duha, dari Masruq yang menceritakan, “Ketika kami sedang berada di rumah Abdullah ibnu Mas’ud, maka disuguhkan kepadanya air susu perahan. Lalu ada seorang lelaki (dari para hadirin) yang menjauh. Abdullah ibnu Mas’ud berkata kepadanya, ‘Mendekatlah.’ Lelaki itu berkata, ‘Sesungguhnya aku telah mengharamkan diriku meminumnya.’ Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ‘Mendekatlah dan minumlah, dan bayarlah kifarat sumpahmu,’ lalu Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) hingga akhir ayat.

Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Imam Hakim telah meriwayatkan atsar yang terakhir ini di dalam kitab Mustadraknya melalui jalur Ishaq ibnu Rahawaih, dari Jarir, dari Mansur dengan sanad yang sama. Kemudi an Imam Hakim mengatakan bahwa atsar ini sahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Hisyam ibnu Sa’d, bahwa Zaid ibnu Aslam pernah menceritakan kepadanya bahwa Abdullah ibnu Rawwahah kedatangan tamu dari kalangan keluarganya di saat ia sedang berada di rumah Nabi Saw. Kemudian ia pulang ke rumah dan menjumpai keluarganya masih belum menjamu tamu mereka karena menunggu kedatangannya.

Maka ia berkata kepada istrinya, “Engkau tahan tamuku karena aku, makanan ini haram bagiku.” Istrinya mengatakan, “Makanan ini haram bagiku.” Tamunya pun mengatakan, “Makanan ini haram bagiku.” Ketika Abdullah ibnu Rawwahah melihat reaksi tersebut, maka ia meletakkan tangannya (memungut makanan) dan berkata, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Lalu Abdullah ibnu Rawwahah pergi menemui Nabi Saw. dan menceritakan apa yang ia alami bersama mereka. Kemudi an Allah Swt. menurunkan firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) Asar ini berpredikat munqati’.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan kisah Abu Bakar As-Siddiq bersama tamu-tamunya yang isinya serupa dengan kisah di atas.

Berangkat dari makna kisah ini, ada sebagian ulama—seperti Imam Syafi’i dan lain-lainnya— yang mengatakan: barangsiapa mengharamkan suatu makanan atau pakaian atau yang lainnya kecuali wanita, maka hal itu tidak haram baginya dan tidak ada kifarat atas orang yang bersangkutan (bila melanggarnya), karena Allah Swt. telah berfirman:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87)

Demikian pula apabila seseorang mengharamkan daging atas dirinya, seperti yang disebutkan pada hadits di atas, Nabi saw. tidak memerintahkan kepadanya untuk membayar kifarat.

Ulama lainnya —antara lain Imam Ahmad ibnu Hambal—berpendapat bahwa orang yang mengharamkan sesuatu makanan atau minuman atau pakaian atau yang lainnya diwajibkan membaya r kifarat sumpah.

Begitu pula apabila seseorang be r sumpah akan meninggalkan sesuatu, maka ia pun dikenakan sanksi begitu ia mengharamkannya atas dirinya, sebagai hukuman atas apa yang telah ditetapkannya. Seperti yang telah difatwakan oleh Ibnu Abbas, dan seperti yang terdapat di dalam firmanNya yang artinya:

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (AtTahrim: 1)

Kemudian dalam ayat selanjutnya disebutkan:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpah kalian.” (AtTahrim: 2), hingga akhir ayat.

Demikian pula dalam surat ini, setelah disebutkan hukum ini, lalu diiringi dengan ayat yang menerangkan tentang kifarat sumpah. Maka hal ini menunjukkan bahwa masalah yang sedang kita bahas sama kedudukannya dengan kasus sumpah dalam hal wajib membayar kifarat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang menceritakan bahwa ada segolongan kaum laki-laki –antara lain Usman ibnu Maz’un dan Abdullah ibnu Amr— bermaksud melakukan tabattul (membaktikan seluruh hidupnya untuk ibadah) dan mengebiri diri mereka serta memakai pakaian yang kasar. Maka turunlah ayat ini sampai dengan firmanNya:

wattaqullaaHal ladzii antum biHii mu’minuun (“dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.” (Al-Maidah: 88)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ikrimah, bahwa Usman ibnu Maz’un, Ali ibnu Abu Talib, Ibnu Mas’ud, dan Al-Miqdad ibnul Aswad serta Salim maula Abu Huzaifah bersama sahabat lainnya melakukan tabattul, lalu mereka tinggal di rumahnya masing-masing, memisahkan diri dari istri-istri mereka, memakai pakaian kasar, dan mengharamkan atas diri mereka makanan dan pakaian yang dihalalkan kecuali makanan dan pakaian yang biasa dimakan dan dipakai oleh para pengembara dari kaum Bani Israil. Mereka pun bertekad mengebiri diri mereka serta sepakat untuk giyamul lail dan puasa pada siang harinya. Maka turunlah firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Dengan kata lain, janganlah kalian berjalan bukan pada jalan tuntunan kaum muslim. Yang dimaksud ialah hal-hal yang diharamkan oleh mereka atas diri mereka -yaitu wanita, makanan, dan pakaian—serta apa yang telah mereka sepakati untuk melakukannya, yaitu salat qiyamul lail sepanjang malam, puasa pada siang harinya, dan tekad mereka untuk mengebiri diri sendiri.

Setelah ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka, maka Rasulullah Saw. mengirimkan utusannya untuk memanggil mereka, lalu beliau Saw. bersabda:

“Sesungguhnya kalian mempunyai kewajiban atas diri kalian, dan kalian mempunyai kewajiban atas mata kalian. Berpuasalah dan berbukalah, salatlah dan tidurlah, maka bukan termasuk golongan kami orang yang meninggalkan sunnah kami.”

Mereka berkata, “Ya Allah, kami tunduk dan patuh kepada apa yang telah Engkau turunkan.”

Kisah ini disebutkan pula oleh bukan hanya seorang dari kalangan tabi’in secara mursal, dan mempunyai bukti yang menguatkannya di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Siti Aisyah Ummul Muminin, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Asbat telah meriwayatkan dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Pada awal mulanya terjadi di suatu hari ketika Rasulullah Saw. sedang duduk dan memberikan peringatan kepada orang-orang yang hadir, kemudian pergi dan tidak melanjutkan perintahnya lagi kepada mereka. Maka segolongan dari sahabat-sahabatnya yang berjumlah sepuluh orang —antara lain Ali ibnu Abu Talib dan Usman ibnu Maz’un —mengatakan, “Apakah yang akan kita peroleh jika kita tidak melakukan amal perbuatan? Karena sesungguhnya dahulu orang-orang Nasrani mengharamkan atas diri mereka banyak hal, maka kita pun harus berbuat hal yang sama.”

Sebagian dari mereka ada yang mengharamkan atas dirinya makan daging, makanan wadak, dan makan pada siang hari; ada yang mengharamkan tidur, ada pula yang mengharamkan wanita (istri).

Tersebutlah bahwa Usman ibnu Maz’un termasuk orang yang mengharamkan wanita atas dirinya. Sejak saat itu dia tidak lagi mendekati istri-istrinya, dan mereka pun tidak berani mendekatinya. Lalu istri Usman ibnu Maz’un datang kepada Siti Aisyah r.a. Istri Usman ibnu Maz’un dikenal dengan nama panggilan Khaula. Siti Aisyah dan istri Nabi Saw. yang lainnya bertanya kepada Khaula, “Apakah yang engkau alami, hai Khaula, sehingga penampilanmu berubah, tidak merapikan rambutmu, dan tidak memakai wewangian?” Khaula menjawab, “Bagaimana aku merapikan rambut dan memakai wewangian, sedangkan suamiku tidak menggauliku lagi dan tidak pernah membuka pakaianku sejak beberapa lama ini.”

Maka semua istri Nabi Saw. tertawa mendengar jawaban Khaula. Saat itu masuklah Rasulullah Saw., sedangkan mereka dalam keadaan tertawa, maka beliau bertanya, “Apakah yang menyebabkan kalian tertawa?” Siti Aisyah menjawab, “Wahai Rasulullah, saya bertanya kepada Khaula tentang keadaannya yang berubah. Lalu ia menjawab bahwa suaminya sudah sekian lama tidak pernah membuka pakaiannya (menggaulinya).”

Lalu Rasulullah Saw. mengirimkan utusan untuk memanggil suaminya, dan beliau bersabda, “Hai Usman, ada apa denganmu?” Usman ibnu Maz’un menjawab, “Sesungguhnya aku tidak menggaulinya lagi agar dapat menggunakan seluruh waktuku untuk ibadah.” Lalu ia menceritakan duduk perkaranya kepada Nabi Saw. Usman menyebutkan pula bahwa dirinya telah bertekad untuk mengebiri dirinya.

Mendengar pengakuannya itu Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bersumpah kepadamu, kamu harus kembali kepada istrimu dan menggaulinya.” Usman ibnu Maz’un menjawab, “Wahai Rasulullah, sekarang aku sedang puasa.” Rasulullah Saw. bersabda, “Kamu harus berbuka.” Ma ka Usman berbuka dan menyetubuhi istrinya.

Khaula kembali kepada Siti Aisyah dalam keadaan telah merapikan rambutnya, memakai celak mata dan wewangian. Maka Siti Aisyah tersenyum dan berkata, “Mengapa engkau, hai Khaula ?” Khaula menjawab bahwa suaminya telah menggaulinya kembali kemarin. Dan Rasulullah Saw. bersabda:

“Apakah gerangan yang telah dilakukan oleh banyak orang; mereka mengharamkan wanita, makanan, dan tidur. Ingatlah, sesungguhnya aku tidur, berbuka, puasa, dan menikahi wanita. Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Lalu turunlah firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Seakan-akan ayat ini mengatakan kepada Usman, “Janganlah kamu mengebiri dirimu, karena sesungguhnya perbuatan itu merupakan perbuatan melampaui batas.” Dan Allah memerintahkan kepada mereka agar membayar kifarat sumpahnya. Untuk itu Allah Swt. berfirman yang artinya:

“Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja.” (Al-Maidah: 89)

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah Swt.: wa laa ta’taduu (“dan janganlah kalian melampaui batas.”) (Al Maidah: 87)
Makna yang dimaksud dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Janganlah kalian belebih-lebihan dalam mempersempit kalian dengan mengharamkan hal-hal yang diperbolehkan bagi kalian. Demikianlah menurut pendapat sebagian ulama Salaf.

Dapat pula diinterpretasikan: Sebagaimana kalian tidak boleh mengharamkan yang halal, maka jangan pula kalian melampaui batas dalam memakai dan mengkonsumsi yang halal, melainkan ambillah darinya sesuai dengan keperluan dan kecukupan kalian, janganlah kalian melampaui batas. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain, yang artinya:

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.” (al-A’raf: 31), hingga akhir ayat.

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

Allah Swt. mensyariatkan sikap pertengahan antara yang berlebihan dan yang kikir dalam bernafkah, yakni tidak boleh melampaui batas, tidak boleh pula menguranginya. Dalam surat ini disebutkan oleh firmanNya:

laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Kemudian dalam ayat selanjurnya Allah Swt. berfirman: wa kuluu mimmaa razaqakumullaaHu halaalan thayyiban (“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telak rezekikan kepada kalian.”) (Al Maidah: 88) Yakni keadaan rezeki itu halal lagi baik.

Wat taqullaaHa (“dan bertakwalah kepada Allah”) (Al Maidah: 88)
Yakni dalam semua urusan kalian, ikutilah jalan taat kepada Nya dan yang diridai-Nya serta tinggalkanlah jalan yang menentang-Nya dan yang durhaka terhadap-Nya.

Alladzii antum biHii mu’minuun (“Yang kalian beriman kepada-Nya”) (AlMaidah: 88)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 83-86

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 83-86“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkankebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad Saw.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?’ Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedangkan mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orangyang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.” (Al-Maa-idah: 83-86)

Selanjutnya Allah menyebutkan sifat mereka yang lain, yaitu taat kepada kebenaran dan mengikutinya serta menyadarinya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Wa idzaa sami’uu maa unzila ilaa rasuuli taraa a’yunaHum tafiidlu minad dam’i mimmaa ‘arafuu minal haqqi (“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul [Muhammad], kalian lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran [Al-Qur’an] yang telah mereka ketahui [dari kitab-kitab mereka sendiri]”) (al-Maa-idah: 83)

Yakni melalui apa yang terdapat di dalam kitab mereka menyangkut berita gembira akan datangnya seorang rasul, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Yaquuluuna rabbanaa aamannaa faktubnaa ma’asy syaaHidiin (“seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi [atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad Saw]’”.) (Al-Maidah: 83)

Yakni bersama orang-orang yang menjadi saksi atas kebenarannya dan yang beriman kepadanya.

Imam Nasai telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Umar ibnu Ali ibnu Miqdam, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Raja Najasyi dan teman-temannya, yaitu firman Allah Swt.:

Wa idzaa sami’uu maa unzila ilaa rasuuli taraa a’yunaHum tafiidlu minad dam’i mimmaa ‘arafuu minal haqqi Yaquuluuna rabbanaa aamannaa faktubnaa ma’asy syaaHidiin (“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul [Muhammad], kalian lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran [Al-Qur’an] yang telah mereka ketahui [dari kitab-kitab mereka sendiri] seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi [atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad Saw]’”.) (Al-Maidah: 83)

Ibnu Abu Hatim, Ibnu Murdawaih, dan imam Hakim di dalam kitab Mustadraknya telah meriwayatkan melalui jalur Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah Swt.:

faktubnaa ma’asy syaaHidiin (“maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi”.) Yakni bersama Nabi Muhammad Saw. dan umatnya adalah orang-orang yang menjadi saksi. Mereka mempersaksikan terhadap Nabi Saw. bahwa Nabi Saw. telah menyampaikan risalahnya, juga mempersaksikan terhadap para rasul, bahwa mereka telah menyampaikan risalah.

Kemudian Imam Hakim berkata, “Sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.”

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Syubail (yaitu Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Waqid), telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Fadl, dari Abdul Jabbar ibnu Na fi’ Ad-Dabbi, dari Qatadah dan Ja’far ibnu Iyas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt.:

Wa idzaa sami’uu maa unzila ilaa rasuuli taraa a’yunaHum tafiidlu minad dam’i (“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul [Muhammad], kalian lihat mata mereka mencucurkan air mata.”) (Al-Maidah: 83)

Ibnu Abbas mengatakan, mereka adalah para petani yang tiba bersama Ja’far ibnu Abu Talib dari negeri Habsyah. Ketika Rasulullah Saw. membacakan Al Qur’an kepada mereka, lalu mereka beriman, dan air mata mereka bercucuran. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
“Barangkali apabila kalian kembali ke tanah air kalian, maka kalian akan berpindah ke agama kalian lagi.” Mereka menjawab, “Kami tidak akan pindah dari agama kami sekarang.”

Perkataan mereka disitir oleh Allah Swt. melalui wahyu yang diturunkanNya, yaitu:
Wa maa lanaa laa nu’minu billaaHi wa maa jaa-anaa minal haqqi, wa nath-ma’u ay yudkhilanaa rabbunaa ma’al qaumish shaalihiin (“Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?”) (Al Maidah: 84)

Golongan orang-orang Nasrani inilah yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya yang artinya:

“Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedangkan mereka berendah hati kepada Allah.” (Ali Imran:199), hingga akhir ayat.

“Orang-orang yang telah kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelumnya Al-Our’an, mereka beriman (pula) dengan Al-Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al-Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkannya” (AlQasas: 52-53)

sampai dengan firman-Nya yang artinya:
“…kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al-Qasas: 55)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

fa atsaabaHumullaaHu bimaa qaaluu jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan [yaitu] surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.”) (Al Maidah: 85)

Yakni Allah membalas mereka sebagai pahala atas iman mereka, kepercayaan dan pengakuan mereka kepada perkara yang hak, yaitu berupa:
jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.”) (Al Maidah: 85)

Yakni mereka tinggal di dalam surga untuk selamanya, tidak akan pindah dan tidak akan fana.

Wa dzaalika jazaa-ul muhsiniin (“Dan itulah balasan [bagi] orang-orang yang berbuat kebaikan.”) (al-Maa-idah: 85)

Yakni karena mereka mengikuti perkara yang hak dan taat kepadanya di manapun perkara yang hak ada dan kapan saja serta dengan siapa pun, mereka tetap berpegang kepada perkara yang hak.

Selanjutnya Allah menceritakan perihal orang-orang yang celaka melalui firman-Nya:

Wal ladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa (“Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami.” (Al-Maidah: 86)
Yakni ingkar kepada ayat-ayat Allah dan menentangnya.
Ulaa-ika ash-haabul jahiim (“mereka itulah penghuni neraka”) (Al Maidah: 86)
Yakni mereka adalah ahli neraka yang akan masuk ke dalamnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 82

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 82“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (al-Maa-idah: 82)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan An-Najasyi dan teman-temannya, yaitu ketika Ja’far ibnu Abu Talib membacakan Al-Qur’an kepada mereka di negeri Habsyah (Etiopia), maka mereka menangis karena mendengarnya hingga membasahi janggut mereka, akan tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat ayat ini Madaniyah, sedangkan kisah Ja’far ibnu AbuTalib terjadi sebelum hijrah (yakni dalam masa Makkiyyah).

Said ibnu Jubair dan As-Saddi serta selain keduanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi Raja Najasyi yang diutus kepada Nabi Saw. untuk mendengarkan ucapan Nabi Saw. dan melihat sifat-sifatnya. Tatkala mereka melihat Nabi Saw. dan Nabi Saw. membacakan Al-Qur’an kepada mereka, maka mereka masuk Islam seraya menangis dan dengan penuh rasa khusyuk (tunduk patuh). Sesudah itu mereka pulang kepada Raja Najasyi dan menceritakan apa yang mereka alami kepadanya.

Menurut As-Saddi, Raja Najasyi berangkat berhijrah (bergabung dengan Nabi Saw. di Madinah), tetapi ia meninggal dunia di tengah perjalanan. Hal ini merupakan riwayat yang hanya dikemukakan oleh As-Saddi sendiri, karena sesungguhnya Raja Najasyi meninggal dunia dalam keadaan sebagai Raja Habsyah. Nabi Saw. beserta para sahabatnya menyalatkannya di hari kewafatannya, dan Nabi Saw. memberitahukan bahwa Raja Najasyi meninggal dunia di tanah Habsyah.

Para ulama berbeda pendapat mengenai bilangan delegasi Raja Najasyi. Menurut suatu pendapat, jumlah mereka ada dua belas orang; tujuh orang di antara mereka adalah pendeta, sedangkan yang lima orang lainnya adalah rahib. Tetapi pendapat yang lain mengatakan sebaliknya.

Menurut pendapat lain, jumlah mereka ada lima puluh orang; dikatakan pula ada enam puluh orang lebih, dan dikatakan lagi ada tujuh puluh orang laki-laki.

Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum dari negeri Habsyah; mereka masuk Islam setelah kaum muslim yang berhijrah tiba di negeri Habsyah.

Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum yang memeluk agama Isa ibnu Maryam. Ketika mereka melihat kaum muslim dan mendengarkan Al-Qur’an, maka dengan spontan mereka masuk Islam tanpa ditangguh-tangguhkan lagi.

Sedangkan Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan banyak kaum yang mempunyai ciri khas dan sifat tersebut, baik mereka dari kalangan bangsa Habsyah ataupun dari bangsa lainnya.

Firman Allah Swt.: latajidanna asyaddan naasi ‘adaawatal lil ladziina aamanul yaHuuda wal ladziinaa asyrakuu (“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”) (Al-Maidah: 82)

Hal itu tiada lain karena kekufuran orang-orang Yahudi didasari oleh pembangkangan, keingkaran, dan kesombongannya terhadap perkara yang benar serta meremehkan orang lain dan merendahkan kedudukan para penyanggah ilmu. Karena itulah mereka banyak membunuh nabi-nabi mereka, sehingga Rasulullah Saw. tak luput dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh mereka berkali-kali.

Mereka meracuni Nabi Saw. dan menyihirnya, dan mereka mendapat dukungan dari orang-orang musyrik yang sependapat dengan mereka; semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnus Sirri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Habib Ar-Ruqqi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sa’id Al-Allaf, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, dari Al-Asyja’i, dari Sufyan, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim melainkan pasti orang Yahudi itu berniat ingin membunuhnya.”

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ishaq Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Sahi ibnu Ayyub Al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Faraj ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim lain melainkan terbetik dalam hati si Yahudi itu hasrat untuk membunuhnya.” (Hadis ini garib sekali.)

Firman Allah Swt.: wa latajidanna aqrabaHum mawaddatal lilladziina aamanul ladziina qaaluu innaa nashaaraa (“Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’”) (AlMaidah: 82)

Yakni orang-orang yang mengakui dirinya sebagai orang-orang Nasrani, yaitu pengikut Al-Masih dan berpegang kepada kitab Injilnya. Di kalangan mereka secara globalnya terdapat rasa persahabatan kepada Islam dan para pemeluknya. Hal itu tiada lain karena apa yang telah tertanam di hati mereka, mengingat mereka pemeluk agama Al-Masih yang mengajarkan kepada lemah lembut dan kasih sayang, seperti yang disebutkan oleh firmanNya yang artinya:

“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang serta rahbaniyah.” (Al-Hadid: 27)

Di dalam kitab mereka tertera bahwa barang siapa yang memukul pipi kananmu, maka berikanlah kepadanya pipi kirimu; dan perang tidak disyariatkan di dalam agama mereka. Karena itulah disebutkan oleh Allah Swt. melalui firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw wa annaHum laa yastakbiruun (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”) (Al-Maidah: 82)

Yakni didapati di kalangan mereka para pendeta, yaitu juru khotbah dan ulama mereka; bentuk tunggalnya adalah qasisun dan qissun, adakalanya dijamakkan dalam bentuk qususun. Arrauhban adalah bentuk jamak dari rahib yang artinya ahli ibadah, diambil dari akar kata rahbah yang artinya takut; sewazan dengan lafaz rakib yang jamaknya rukban, dan lafaz faris yang jamaknya fursan.

Ibnu Jarir mengatakan, adakalanya lafaz ruhban ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya ialah rahabin, semisal dengan lafaz qurban yang bentuk jamaknya qarabin, dan lafaz jarzan (tikus) yang bentuk jamaknya jarazin. Adakalanya dijamakkan dalam bentuk rahabinah.

Termasuk dalil yang menunjukkan bahwa lafaz rahban bermakna tunggal di kalangan orang-orang Arab ialah perkataan seorang penyair mereka yang mengatakan:

Seandainya aku saksikan ada rahib gereja di puncak itu, niscaya
rahib itu akan keluar dan berjalan menuruni (puncak tersebut).

AlHafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Nasir ibnu Abui Asy’as, telah menceritakan kepadaku As-Salt Ad-Dahhan, dari Jasiman ibnu Riab yang menceritakan bahwa ia pemah bertanya kepada Salman mengenai firman Allah Swt.:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Salman berkata, “Biarkanlah para pendeta itu tinggal di dalam gereja-gereja dan reruntuhannya, karena Rasulullah Saw. pemah bersabda kepadaku bahwa yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat orang-orang yang percaya dan rahib-rahib.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Hammani, dari Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, dari Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Riab, dari Salman dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, ayahnya pernah menceritakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Khani, telah menceritakan kepada kami Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, telah menceritakan kepada kami Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Riab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Salman ditanya mengenai firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Salman berkata bahwa mereka adalah para rahib yang tinggal di dalam gereja-gereja dan bekas-bekas peninggalan di masa lalu, biarkanlah mereka tinggal di dalamnya. Salman mengatakan, dia pernah membacakan kepada Nabi Saw. firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Nabi Saw. membacakannya kepadaku dengan qiraah seperti berikut: Dzaalika bi-anna minHum shiddiiqiina wa ruHbaanan (“Yang demikian itu karena di antara mereka [orang-orang Nasrani] itu terdapat orang-orang yang percaya [kepada Allah] dan rahib-rahib.”)

Firman Allah Swt.:
Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw wa annaHum laa yastakbiruun (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib. [juga] sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”) (Al-Maidah: 82)

Ayat ini mengandung penjelasan mengenai sifat mereka, bahwa di kalangan mereka terdapat ilmu, dan mereka adalah ahli ibadah serta orang-orang yang rendah diri.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 78-81

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 78-81“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong Dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maa-idah: 78-81)

Allah Swt. memberitahukan bahwa Dia telah melaknat orang-orang kafir dari kaum Bani Israil dalam masa yang cukup lama, yaitu melalui apa yang Dia turunkan kepada nabi-Nya, yaitu Nabi Daud a.s.; dan melalui lisan Isa putra Maryam, karena mereka durhaka kepada Allah dan bertindak sewenang-wenang terhadap makhlukNya.

Al-Aufi menceritakan dari Ibnu Abbas, bahwa mereka dilaknat dalam Taurat, Injil, Zabur, dan AlFurqan (AlQur’an). Kemudian Allah menjelaskan perihal yang biasa mereka lakukan di masanya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Kaanuu laa yatanaaHauna ‘am munkarin fa’aluuHu, labi’sa maa kaanuu yaf’aluun (“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”) (Al-Maidah: 79)

Yakni satu sama lainnya tidak mau melarang perbuatan-perbuatan dosa dan haram yang mereka perbuat. Kemudian Allah mencela mereka atas perbuatan itu agar dijadikan pelajaran dan peringatan bagi yang lainnya untuk tidak melakukan perbuatan yang semisal. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:

labi’sa maa kaanuu yaf’aluun (“Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”) (Al-Maidah: 79)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Syarik ibnu Abdullah, dari Ali ibnu Bazimah, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pemah bersabda:
“Ketika kaum Bani Israil tenggelam ke dalam perbuatan-perbuatan maksiat, maka para ulamanya mencegah mereka, tetapi mereka tidak mau berhenti. Lalu para ulama mereka mau duduk bersama dengan mereka dalam majelis-majelis mereka.”

Yazid mengatakan bahwa menurutnya Syarik ibnu Abdullah mengatakan, “Di pasar-pasar mereka, dan bermuamalah dengan mereka serta minum bersama mereka. Karena itu, Allah memecah-belah hati mereka, sebagian dari mereka bertentangan dengan sebagian yang lain; dan Allah melaknat mereka melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa ibnu Maryam.”

Dzaalika bimaa ‘ashau wa kaanuu ya’taduun (“Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”) (Al-Maidah: 78)

Pada mulanya Rasulullah Saw. bersandar, lalu duduk dan bersabda: “Tidak, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sebelum kalian menyeret mereka kepada perkara yang hak dengan sebenar-benarnya.”

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad An-Nafili, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Rasyid, dari Ali ibnu Bazimah, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“Sesungguhnya kekurangan yang mula-mula dialami oleh kaum Bani Israil ialah bilamana seorang lelaki bertemu dengan lelaki lain (dari kalangan mereka), maka ia berkata kepadanya, ‘Hai kamu, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah dosa yang kamu lakukan itu, sesungguhnya perbuatan itu tidak halal bagimu.’ Kemudian bila ia menjumpainya pada keesokan harinya, maka hal tersebut tidak mencegahnya untuk menjadi teman makan, teman minum, dan teman duduknya. Setelah mereka melakukan hal tersebut, maka Allah memecah-belah hati mereka; sebagian dari mereka bertentangan dengan sebagian yang lain.”

Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: lu-‘inal ladziina kafaruu mim banii israa-iila ‘alaa lisaani daawuuda wa ‘iisabni maryama. (“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam.”) (Al-Maidah: 78) sampai dengan firman-Nya:

Faasiquun (“orang-orang yang fasik.”) (Al-Maidah: 81)

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak, demi Allah, kamu harus amar ma’ruf dan nahi munkar, dan kamu harus mencegah perbuatan orang yang zalim, membujuknya untuk mengikuti jalan yang benar atau kamu paksa dia untuk mengikuti jalan yang benar.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Majali melalui jalur Ali ibnu Bazimah dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib. Kemudian dia dan Ibnu Majah meriwayatkannya pula melalui Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Ali ibnu Bazimah dari Abu Ubaidah secara mursal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj dan Harun ibnu Ishaq Al-Hamdani; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Muhammad Al-Muharibi, dari Al-Ala ibnul Musayyab, dari Abdullah ibnu Amr ibnu Murrah, dari Salim Al-Aftas, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Sesungguhnya seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil apabila melihat saudaranya sedang melakukan dosa, maka ia melarangnya dari perbuatan dosa itu dengan larangan yang lunak Dan apabila keesokan harinya apa yang telah ia lihat kemarin darinya tidak mencegahnya untuk menjadi teman makan, teman bergaul, dan teman muamalahnya.”

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Harun disebutkan, “Dan teman minumnya.” Akan tetapi, keduanya sepakat dalam hal matan berikut, yaitu:
“Setelah Allah melihat hal tersebut dari mereka, maka Dia memecah-belah hati mereka, sebagian dari mereka bertentangan dengan sebagian yang lain; dan Allah melaknat mereka melalui lisan Daud dan Isa ibnu Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaanNya, kalian harus beramar ma ‘ruf dan nahi munkar, dan kalian harus memegang tangan orang yang jahat, lalu kalian paksa dia untuk tunduk kepada perkara yang hak dengan sebenar-benarnya. Atau Allah akan memecah-belah hati sebagian dari kalian atas sebagian yang lain, atau Allah akan melaknat kalian seperti Dia melaknat mereka.”

Konteks ini ada pada Abu Sa’id. Demikianlah menurut Ibnu Abu Hatim dalam riwayat hadis ini.

Imam Abu Daud telah meriwayatkannya pula dari Khalaf ibnu Hisyam, dari Abu Syihab Al-Khayyat, dari Al-Ala ibnul Musayyab, dari Amr ibnu Murrah, dari Salim (yaitu Ibnu Ajian Al-Aftas), dari Abu Ubaidah ibnu Abdullah ibnu Mas’ud, dari ayahnya, dari Nabi Saw. dengan lafaz yang semisal. Kemudian Abu Daud mengatakan bahwa hal yang sama telah diriwayatkan oleh Khalid dari Al-Ala, dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama.

Al-Muharibi meriwayatkannya dari Al-Ala ibnul Musayyab, dari Abdullah ibnu Amr ibnu Murrah, dari Salim Al-Aftas, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah (Ibnu Mas’ud).

Guru kami, AlHafiz Abui Hajjaj Al-Mazi, mengatakan bahwa Khalid ibnu Abdullah Al-Wasiti telah meriwayatkannya dari Al-Ala ibnul Musayyab, dari Amr ibnu Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abu Musa.

Hadishadis yang menerangkan tentang amar ma ‘ruf dan nahi munkar banyak sekali jumlahnya. Berikut ini kami ketengahkan sebagian darinya yang berkaitan dengan tafsir ayat ini. Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan hadis Jabir, yaitu pada tafsir firman-Nya:

“Mengapa orang-orang ‘alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka.” (Al-Maidah: 63) Dan kelak akan disebutkan hadis Abu Bakar AsSiddiq dan Abu Sa’labah Al-Khusyani pada tafsir firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.” (Al-Maidah: 105)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Abu Amr, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman Al-Asyhali, dari Huzaifah ibnul Yaman, bahwa Nabi Saw. telah
bersabda:

“Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya….. melarang terhadap kemungkaran, ataukah benar-benar dalam waktu yang dekat Allah akan menimpakan suatu siksaan dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian benar-benar berdoa memohon kepadaNya, tetapi Dia tidak memperkenankan bagi kalian.”

Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ali ibnu Hajar, dari Ismail ibnu Ja’far dengan sanad yang sama, lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Abu Abdullah —yaitu Muhammad ibnu Yazid ibnu Majah— mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Hisyam ibnu Sa’d, dari Amr ibnu Usman, dari Asim ibnu Umar ibnu Usman, dari Urwah, dari Siti Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

“Beramar ma’rufIah dan bernahi munkarlah kalian sebelum (tiba masanya) kalian berdoa, lalu tidak diperkenankan bagi kalian.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara munfarid, dan Asim orangnya tidak dikenal. Di dalam kitab Sahih melalui Al-A’masy, dari Ismail ibnu Raja, dari ayahnya, dari Abu Sa’id dan dari Qais ibnu Muslim, dari Tariq ibnu Syihab, dari Abu Sa’id Al-Khudri disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pemah bersabda:

“Barang siapa dari kalangan kalian melihat perkara mungkar (dikerjakan), hendaklah ia mencegahnya dengan tangan (kekuasaan)nya. Jika ia tidak mampu, cegahlah dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu, hendaklah hatinya mengingkarinya; yang demikian itu merupakan iman yang paling lemah. (Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Saif (yaitu Ibnu Abu Sulaiman); ia pernah mendengar Addi ibnu Addi Al-Kindi menceritakan dari Mujahid, telah menceritakan kepadanya seorang maula (bekas budak) kami, bahwa ia pernah mendengar kakek —yakni Addi ibnu Umairah r.a.— menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak mengazab orang awam karena perbuatan orang-orang khusus sebelum mereka (orang-orang khusus) melihat perkara mungkar dikerjakan di hadapan mereka, sedangkan mereka berkemampuan untuk mencegahnya, lalu mereka tidak mencegahnya. Maka apabila mereka berbuat demikian, barulah Allah mengazab orang-orang khusus dan orang-orang awam.”

Kemudian Ahmad meriwayatkannya dari Ahmad ibnul Hajjaj, dari Abdullah ibnul Mubarak, dari Saif ibnu Abu Sulaiman, dari Isa ibnu Addi Al-Kindi yang mengatakan, “Telah menceritakan kepadaku seorang maula kami yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar kakekku mengatakan bahwa kakek pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, (lalu ia menuturkan hadis ini). Demikianlah menurut riwayat Imam Ahmad dari dua jalur tersebut.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Ala, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Al-Mugirah ibnu Ziyad Al-Mausuli, dari Addi ibnu Addi, dari Al-Urs (yakni Ibnu Umairah), dari Nabi Saw. yang telah bersabda:

“Apabila perbuatan dosa dilakukan di bumi, maka orang yang menyaksikannya lalu membencinya —dan di lain waktu beliau mengatakan bahwa lalu ia memprotesnya— maka kedudukannya sama dengan orang yang tidak menyaksikannya Dan barang siapa yang tidak menyaksikannya, tetapi ia rela dengan perbuatan dosa itu, maka kedudukannya sama dengan orang yang menyaksikannya (dan menyetujuinya).

Hadis diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara munfarid. Kemudian Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Yunus, dari Abu Syihab, dari Mugirah ibnu Ziyad, dari Addi ibnu Addi secara mursal.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb dan Hafs ibnu Umar; keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Syu’bah—berikut ini adalah lafaznya—, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Buhturi yang mengatakan, telah menceritakan kepadaku orang yang pernah mendengar dari Nabi Saw. Dan Sulaiman mengatakan, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi Saw. bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

“Manusia tidak akan binasa sebelum mereka mengemukakan alasannya atau diri mereka dimaafkan.”

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw. berdiri melakukan khotbahnya, antara lain beliau Saw. mengatakan:

“Ingatlah, jangan sekali-kali seorang lelaki merasa enggan karena takut kepada manusia (orang lain) untuk mengatakan perkara yang hak jika ia mengetahuinya.”

Abu Nadrah melanjutkan kisahnya, “Setelah mengemukakan hadis ini Abu Sa’id menangis, lalu berkata, ‘Demi Allah, kami telah melihat banyak hal, tetapi kami takut (kepada orang lain)’.”

Di dalam hadis Israil, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Jihad yang paling utama ialah perkataan yang hak di hadapan sultan yang zalim.” (Hadis riwayat Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah)

Imam Turmuzi mengatakan bahwa bila ditinjau dari segi ini, hadis berpredikat hasan garib.

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rasyid ibnu Sa’id Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Abu Galib, dari Abu Umamah yang menceritakan bahwa seorang lelaki menghadap kepada Rasulullah Saw. ketika beliau berada di jumrah pertama, lalu lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah jihad yang paling utama itu?”
Rasulullah Saw. diam, tidak menjawab. Ketika beliau Saw. melempar jumrah kedua, lelaki itu kembali bertanya, tetapi Nabi Saw, tetap diam. Setelah Nabi Saw. melempar jumrah ‘aqabah, lalu meletakkan kakinya pada pijakan pelana kendaraannya untuk mengendarainya, maka beliau bertanya, “Di manakah orang yang bertanya tadi?” Lelaki itu menjawab, “Saya, wahai Rasulullah,” Rasulullah Saw. bersabda: “Kalimah hak yang diucapkan di hadapan penguasa yang sewenang-wenang.” (Hadis diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah secara munfarid).

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Numair dan Abu Mu’awiyah, dari AlA’masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abui Buhturi, dari Abu Sa’id yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Janganlah seseorang di antara kalian menghina dirinya sendiri.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang di antara kami menghina dirinya sendiri? ” Rasulullah Saw. menjawab, “(Bila) ia melihat suatu urusan menyangkut Allah yang harus diluruskannya, kemudian ia tidak mau mengatakannya. Maka kelak di hari kiamat Allah akan berfirman kepadanya, ‘Apakah yang menghalang-halangi kamu untuk mengatakan hal yang benar mengenai Aku dalam masalah anu, anu, dan anu?’ Maka ia menjawab, ‘Takut kepada manusia (orang lain).’ Maka Allah berfirman, ‘Sebenarnya Akulah yang harus engkau takuti’.”
(Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini secara munfarid.)

Ibnu Majah mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdur Rahman Abu Jiwalah, telah menceritakan kepada kami Nahar Al-Abdi; ia pernah mendengar Abu Sa’id Al-Khudri mengatakan bahwa ia pemah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah menanyai hamba-hambaNya di hari kiamat, sehingga Dia mengatakan, “Apakah yang menghalang-halangimu ketika kamu melihat perkara mungkar untuk mengingkarinya?”
Apabila Allah telah mengajarkan kepada seorang hamba alasan yang dikemukakannya, maka hamba itu berkata, “Wahai Tuhanku, saya berharap kepada-Mu dan saya tinggalkan manusia.”
(Hadis ini pun diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara munfarid, dan sanadnya boleh dipakai.)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Asim, dari Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Al-Hasan, dari Jundub, dari Huzaifah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:

“Tidak layak bagi seorang muslim menghina dirinya sendiri.” Ketika ditanyakan, “Bagaimanakah seseorang dapat menghina dirinya sendiri? ” Nabi Saw. bersabda, “Melibatkan dirinya ke dalam bencana yang tidak mampu dipikulnya.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah, semuanya dari Muhammad ibnu Basysyar, dari Amr ibnu Asim dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan, hadis ini (kalau bukan) hasan (berarti) gharib.

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami AI-Abbas ibnul Walid Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Yahya ibnu Ubaid Al-Khuza’i, telah menceritakan kepada kami Al-Haisam ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’bad Hafs ibnu Gailan Ar-Ra’ini, dari Makhul, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa pernah ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bilakah amar ma’ruf dan nahi munkar ditinggalkan?” Maka Rasulullah Saw. menjawab: “Apabila muncul di kalangan kalian hal-hal yang pemah muncul di kalangan umat sebelum kalian.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang pemah muncul di kalangan umat-umat sebelum kami?” Rasulullah Saw. bersabda: “Kerajaan (kekuasaan) di tangan orang-orang kecil kalian, perbuatan keji dilakukan di kalangan para pembesar kalian, dan ilmu berada di tangan orang-orang rendah kalian.”

Zaid mengatakan sehubungan dengan makna sabda Nabi Saw. yang mengatakan: “Dan ilmu di tangan orang-orang rendah kalian.”
Makna yang dimaksud ialah bilamana ilmu dikuasai oleh orang-orang yang fasik. Hadis diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah secara munfarid.

Dan di dalam hadis Abu Sa’labah yang akan diketengahkan dalam tafsir firmanNya: “tiada orang yang sesat saat itu akan memberi mudarat kepada kalian, apabila kalian telah mendapat petunjuk (Al-Maidah: 105) terdapat bukti yang memperkuat hadis ini.

Firman Allah Swt.: taraa katsiiram minHum yatawallaunal ladziina kafaruu (“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir [musyrik]”). (Al-Maidah: 80)

Menurut Mujahid, mereka adalah orang-orang munafik.

Firman Allah Swt.: labi’sa maa qaddamat laHum anfusuHum (“Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka.”) (Al-Maidah: 80)

Yang dimaksud dengan hal tersebut ialah mereka berpihak kepada orang-orang kafir dan meninggalkan orang-orang mukmin, yang akibatnya hati mereka menjadi munafik dan Allah murka terhadap mereka dengan murka yang terus-menerus sampai hari mereka dikembalikan kepadaNya. Karena itulah disebutkan oleh firmanNya:

An sakhithallaaHu ‘alaiHim (“yaitu kemurkaan Allah kepada mereka.”) (Al-Maidah: 80)

Ayat ini mengandung pengertian sebagai celaan terhadap perbuatan mereka itu. Selanjutnya Allah Swt. memberitahukan bahwa mereka mengalami nasib berikut:

Wa fil ‘adzaabi Hum khaaliduun (“dan mereka akan kekal dalam siksaan.”) (Al-Maidah: 80)
Yakni kelak di hari kiamat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ali, dari Al-A’masy dengan sanad yang disebutkannya:

“Hai semua orang muslim, jauhilah oleh kalian perbuatan zina,….. perkara; tiga di dunia, dan tiga lagi di akhirat. Adapun di dunia, maka sesungguhnya perbuatan zina itu dapat menghapuskan ketampanan (kewibawaan), mengakibatkan kefakiran, dan mengurangi umur. Adapun yang di akhirat, maka sesungguhnya perbuatan zina itu memastikan murka Tuhan, hisab yang buruk dan kekal dalam neraka.”

Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firmanNya: labi’sa maa qaddamat laHum anfusuHum An sakhithallaaHu ‘alaiHim Wa fil ‘adzaabi Hum khaaliduun (“Sesungguhnya amat buruklah apayang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.” (Al-Maidah: 80)

Hal yang sama telah diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkannya melalui jalur Hisyam ibnu Ammar, dari Muslim, dari Al-A’masy, dari Syaqiq, dari Huzaifah, dari Nabi Saw., lalu ia mengetengahkan hadis ini. Ia pun mengetengahkannya pula melalui jalur Sa’id ibnu Afir, dari Muslim, dari Abu Abdur Rahman Al-Kufi, dari Al-A’masy, dari Syaqiq, dari Huzaifah, dari Nabi Saw., lalu ia mengetengahkan hadis yang semisal. Akan tetapi, dalam keadaan bagaimana pun hadis ini berpredikat daif.

Firman Allah Swt.: wa lau kaanuu yu’minuuna billaaHi wan nabiyyi mimmaa unzila ilaiHi mat takhadzuuHum auliyaa-a (“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada nabi, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu menjadi penolong-penolong.” (Al-Maidah: 81)

Dengan kata lain, sekiranya mereka beriman dengan sesungguhnya kepada Allah dan Rasul-Nya serta AIQur’an, niscaya mereka tidak akan terjerumus ke dalam perbuatan menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong-penolong mereka dalam batinnya, dan memusuhi orang-orang yang beriman kepada Allah, Nabi, dan Al-Our’an yang diturunkan kepadanya.

Wa laakinna katsiiram minHum faasiquun (“Tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”) (Al-Maidah: 81)
Yakni keluar dari jalan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menentang ayat-ayat wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 76-77

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 76-77“Katakanlah, ‘Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada kalian dan tidak (pula) memberi manfaat?’ Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah. ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Maa-idah: 76-77)

Allah Swt. berfirman mengingkari perbuatan orang-orang yang menyembah selain-Nya —yaitu mereka yang menyembah berhala, patung, dan gambar— seraya menjelaskan kepada mereka bahwa semuanya itu tidak berhak sedikit pun untuk disembah sebagai tuhan. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:

Qul (“Katakanlah”) (Al-Maidah: 76) hai Muhammad, kepada mereka yang menyembah kepada selain Allah; yakni dari kalangan anak-anak Adam, termasuk orang-orang Nasrani dan lain-lainnya.

A ta’buduuna min duunillaaHi maa laa yamliku lakum dlarraw walaa naf’an (“Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada kalian dan tidak [pula] memberi manfaat?”) (Al-Maidah: 76) Yakni yang tidak dapat menolak bahaya dari kalian, tidak pula menyampaikan manfaat kepada kalian.

wallaaHu Huwas samii’ul ‘aliim (“Dan Allahlah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”) (Al-Maidah: 76) Yaitu Dia Maha Mendengar semua perkataan hamba-hamba-Nya lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka mengapa kalian menyimpang hingga menyembah benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat mengetahui sesuatu pun, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat untuk dirinya sendiri, tidak pula untuk orang lain.

Kemudian Allah Swt. berfirman: qul yaa aHlal kitaabi laa taghluu fii diinikum ghairal haqqi (“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan [melampaui batas] dengan cara tidak benar dalam agama kalian.’”) (Al-Maidah: 77)

Yakni janganlah kalian melampaui batas dalam mengikuti kebenaran, dan janganlah kalian menyanjung orang yang kalian diperintahkan untuk menghormatinya, lalu kalian melampaui batas dalam menyanjungnya hingga mengeluarkannya dari kedudukan kenabian sampai kepada kedudukan sebagai tuhan. Yaitu seperti yang kalian lakukan terhadap Al-Masih, padahal dia adalah salah seorang dari nabi-nabi Allah, tetapi kalian menjadikannya sebagai tuhan selain Allah. Hal ini tidak kalian lakukan melainkan hanya semata-mata kalian mengikuti guru-guru kalian, yaitu guru-guru sesat yang merupakan para pendahulu kalian dari kalangan orang-orang yang sesat di masa lalu.

Wa adlalluu katsiiraw wa dlalluu ‘an sawaa-as sabiil (“dan mereka telah menyesatkan kebanyakan [manusia], dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”) (AlMaidah: 77) Yakni mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan benar, menuju kepada jalan kesesalan dan kesalahan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Abu Ja’far, dari ayahnya, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang ‘alim yang mengajarkan Al-Kitab dan Sunnah kepada banyak kaum selama suatu masa. Kemudian datanglah setan dan mengatakan (kepadanya), “Sesungguhnya yang kamu ajarkan hanyalah peninggalan atau perintah yang telah diamalkan sebelum kamu, maka kamu tidak beroleh pujian karenanya. Tetapi buatlah suatu perkara dari dirimu sendiri, lalu ajaklah manusia, dan paksa mereka mengamalkannya.”

Kemudian orang itu melakukan hal tersebut, tetapi setelah lewat suatu masa ia sadar, la bermaksud bertobat dari perbuatannya itu, maka ia melucuti semua kekuasaan dan Kerajaannya; dan ia bermaksud melakukan ibadah hingga akhir hayatnya agar semua dosanya terhapus.

Setelah beberapa hari dalam ibadahnya, ia didatangi, lalu dikatakan kepadanya, “Sekiranya tobatmu menyangkut dosa antara kamu dengan Tuhanmu (hak Tuhan), maka ada kemungkinan tobatmu dapat diterima. Tetapi kamu harus ingat bahwa si anu dan si anu serta lain-lainnya telah sesat dalam membelamu, sedangkan mereka telah meninggal dunia dalam keadaan sesat. Maka mana mungkin kamu dapat memberikan petunjuk kepada mereka. Karena itu, tiada tobat bagimu selama-lamanya.”

Ar-Rabi’ ibnu Abas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang seperti itu dan lain-lainnya yang serupa, menurut apa yang kami terima, yakni firman-Nya:

Yaa aHlal kitaabi laa taghluu fii diinikum ghairal haqqi wa laa tattabi’uu aHwaa-a qaumin qad dlalluu min qablu wa dlalluu katsiiraw wa dlalluu’an sawaa-is sabiil (“Hai Ahli Kitab, Janganlah kalian berlebih-lebihan [melampaui batas] dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu [sebelum kedatangan Muhammad] dan mereka telah menyesatkan kebanyakan [manusia] dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 77)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 72-75

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 72-75“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam,’ padahal Al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan [sesuatu dengan] Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dhalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwa Allah salah seorang dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka(Ahlil Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (al-Maa-idah: 72-75)

Allah Swt. berfirman menjatuhkan keputusan kafir terhadap beberapa golongan dari kaum Nasrani —yaitu golongan Malakiyah, Ya’qubiyah, dan Nusturiyah— karena sebagian dari mereka mengatakan bahwa Al-Masih adalah tuhan. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakana dan Mahasuci dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Dalam keterangan sebelumnya telah disebutkan, mereka telah diberi tahu bahwa Al-Masih itu adalah hamba dan utusan Allah. Kalimat yang mula-mula diucapkannya selagi ia masih berada dalam buaian ialah, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah!” Dan ia tidak mengatakan bahwa dirinya adalah Allah, tidak pula sebagai anak Allah, melainkan dia mengatakan:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah; Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (Maryam: 30)

Sampai dengan beberapa ayat berikutnya, yaitu firmanNya: “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam: 36)

Demikian pula di saat masa dewasanya dan telah diangkat menjadi nabi, dia mengatakan kepada mereka seraya memerintahkan agar mereka menyembah Allah, Tuhannya dan Tuhan mereka semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Karena itulah dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

Wa qaala masiihu yaa banii israa-iila’ budullaaHa rabbii wa rabbakum. innaHuu may yusyrik billaaHi (“padahal Al-Masih [sendiri] berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan [sesuatu dengan] Allah.”) (Al-Maidah: 72) yaitu menyembah selain Allah bersama Dia.

Faqad harramallaaHu ‘alaiHil jannata wa ma’waaHun naaru (“Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah di neraka.”)

Yakni Allah memastikannya menjadi penghuni neraka dan mengharamkan surga atasnya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman lainnya, yaitu yang artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48)

Dan Allah Swt. telah berfirman yang artinya:
“Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, ‘Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepada kalian.’ Mereka (penghuni surga) menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.’” (Al-A’raf: 50)

Di dalam Kitab Sahih disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah memerintahkan seorang juru penyeru untuk menyerukan di kalangan khalayak ramai, bahwa sesungguhnya surga itu tiada yang dapat masuk ke dalamnya kecuali jiwa yang muslim. Menurut lafaz yang lain disebutkan jiwa yang mukmin. Dalam pembahasan sebelumnya, yaitu pada permulaan tafsir surat An-Nisa, tepatnya pada pembahasan firmanNya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (An-Nisa: 48)

Disebutkan sebuah hadis melalui Yazid ibnu Babnus, dari Siti Aisyah, bahwa diwan (catatan amal) itu ada tiga macam. Lalu disebutkan salah satunya, yaitu suatu diwan yang Allah tidak mau memberikan ampunan padanya, yaitu dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan selain-Nya).

Allah Swt. berfirman:
May yusyrik billaaHi faqad harramallaaHu ‘alaiHil jannata (“Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.”) (Al-Maidah: 72)

Hadis ini terdapat di dalam kitab Musnad Imam Ahmad. Karena itu, dalam surat ini disebutkan oleh Allah Swt., menceritakan keadaan Al-Masih, bahwa dia telah mengatakan kepada kaum Bani Israil:

innaHuu May yusyrik billaaHi faqad harramallaaHu ‘alaiHil jannata wa ma’waaHun naaru, wa maa lidh dhaalimiina min anshaar (“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan [sesuatu dengan] Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”) (Al-Maidah: 72)

Yakni di hadapan Allah dia tidak memperoleh seorang penolong pun, tiada yang membantunya dan tiada pula yang dapat menyelamatkan dia dari apa yang dialaminya.

Firman Allah Swt.: laqad kafaral ladziina qaaluu innallaaHa tsaalitsu tsalaatsatin (“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga.”) (Al-Maidah: 73)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan Al-Hasanjani, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnul Hakam ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl, telah menceritakan kepada kami Abu Sakhr sehubungan dengan firmanNya:

laqad kafaral ladziina qaaluu innallaaHa tsaalitsu tsalaatsatin (“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah salah satu dari yang tiga.”) (Al-Maidah: 73)

Hal itu seperti perkataan orang-orang Yahudi, bahwa Uzair adalah anak Allah; dan orang-orang Nasrani mengatakan Al-Masih adalah putra Allah. Mereka menjadikan Allah sebagai salah satu dari yang tiga (yakni ada tuhan ayah, tuhan ibu, dan tuhan anak). Tetapi pendapat ini bila dikaitkan dengan tafsir ayat ini berpredikat gharib, mengingat pendapat ini mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dua golongan, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Nasrani saja secara khusus. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Kemudian mereka berselisih pendapat mengenainya. Menurut suatu pendapat, yang dimaksud ialah orang-orang yang kafir dari kalangan mereka (kaum Ahli Kitab), yaitu mereka yang mengatakan ajaran trinitas, yaitu tuhan ayah, tuhan anak, dan tuhan ibu yang melahirkan tuhan anak. Mahatinggi Allah dari perkataan mereka dengan ketinggian yang Setinggi-tingginya.

Ibnu Jarir dan lain-lainnya mengatakan, ketiga sekte itu —yakni sekte Malakiyah, sekte Ya’qubiyah, dan sekte Nusturiyah— semuanya mengatakan ajaran trinitas ini, sekalipun mereka berbeda pendapat mengenainya dengan perbedaan yang sangat mencolok; pembahasan mengenainya bukan dalam kitab ini. Setiap golongan dari mereka mengalirkan golongan yang lain, tetapi pada prinsipnya ketiga golongan itu semuanya kafir.

As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap mereka yang menjadikan Al-Masih dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Mereka menjadikan Allah sebagai salah satu dari yang tiga itu.

As-Saddi mengatakan bahwa makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam akhir surat ini melalui firman-Nya yang artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’?’ Isa menjawab, ‘Mahasuci Engkau…’” (Al-Maidah: 116), hingga akhir ayat. Pendapat inilah yang terkuat.

Firman Allah Swt.: wa maa min ilaaHin illaa ilaaHuw waahid (“padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa.”) (Al-Maidah: 73)

Dengan kata lain, Tuhan itu tidak berbilang, melainkan Maha Esa, tiada yang menyekutui-Nya, Tuhan semua yang ada, dan Tuhan semua makhluk. Kemudian Allah Swt. berfirman seraya mengancam dan menekan mereka:

Wa il lam yantaHuu ‘ammaa yaquuluuna (“Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu.”) (Al-Maidah: 73) Yakni tidak mau berhenti dari kebohongan dan kedustaan itu.

Layamassannal ladziina kafaruu minHum ‘adzaabun aliim (“pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”) (Al-Maidah: 73) Yaitu kelak di hari kemudian, berupa belenggu-belenggu dan berbagai macam siksaan.

Kemudian Allah Swt. berfirman: afa laa yatuubuuna ilallaaHi wa yastaghfiruuna wallaaHu ghafuurur rahiim (“Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”) Demikianlah kemurahan, kedermawanan, kelapangan, kelembutan, dan rahmat Allah Swt. kepada makhlukNya. Sekalipun mereka melakukan dosa yang paling besar melalui kebohongan dan kedustaan yang mereka buat-buat terhadap Allah, Allah tetap menyeru mereka untuk bertobat dan memohon ampun; karena setiap orang yang bertobat kepada-Nya, niscaya Dia menerima tobatnya.

Firman Allah Swt.: mal masiihubnu maryama illaa rasuulun. Qad khalat min qabliHir rusulu (“Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul.”) (Al-Maidah: 75) Yakni sama halnya seperti semua rasul yang mendahuluinya. Dengan kata lain, dia adalah salah seorang dari hamba-hamba Allah dan salah seorang dari rasul-rasul-Nya yang mulia. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain yang artinya:

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil.” (Az-Zukhruf: 59)

Firman Allah Swt.: wa ummuHuu shiddiiqatun (“dan ibunya seorang yang sangat benar.”) (Al-Maidah: 75) Yaitu beriman kepada Isa dan membenarkannya. Hal ini merupakan kedudukan yang paling tinggi baginya, dan hal ini menunjukkan bahwa Maryam bukanlah seorang nabi perempuan; tidak seperti apa yang diduga oleh Ibnu Hazm dan lain-lainnya yang mengatakan bahwa ibu Nabi Ishaq (Saran), ibu Nabi Musa, dan ibu Nabi Isa semuanya adalah nabi wanita. Ibnu Hazm mengatakan demikian dengan berdalilkan bahwa para malaikat berbicara dengan Sarah dan Maryam, seperti yang disebutkan di dalam firmanNya: Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susukanlah dia.” (AlQasas: 7) Dan dia memberi pengertian lafaz wa auhaina ini menunjukkan derajat kenabian.

Tetapi menurut pendapat jumhur ulama, Allah belum pernah mengutus seorang nabi melainkan dari kalangan kaum laki-laki.

Allah Swt. berfirman yang artinya: “Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki Yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (Yusuf: 109)

Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari telah meriwayatkan adanya kesepakatan para ulama akan ketetapan ini.

Firman Allah Swt.: kaana ya’kulaanith tha’aam (“Kedua-duanya biasa memakan makanan,”) (Al-Maidah: 75) Yakni mereka memerlukan makanan dan mengeluarkan kotorannya, dan merupakan dua orang hamba, sama dengan manusia lainnya, sama sekali bukan tuhan, tidak seperti apa yang didakwakan oleh orang-orang Nasrani yang bodoh; semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.

Kemudian Allah Swt. berfirman: undhur kaifa nubayyinu laHumul aayaati (“Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka [Ahli Kitab] tanda-tanda kekuasaan Kamil.”) (al-Maidah: 75) Yaitu ayat-ayat yang telah Kami jelaskan dan kami tampakkan kepada mereka.

Tsummandhur annaa yu’fakuun (“Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling [dari
memperhatikan ayat-ayat Kami itu.]”). (Al-Maidah: 75) Yakni kemudian perhatikanlah sesudah penjelasan dan keterangan itu, ke manakah mereka akan pergi, pendapat apakah yang mereka pegang, serta aliran sesat manakah yang mereka tempuh?

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 70-71

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 70-71“Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (al-Maa-idah: 70-71)

Allah Swt. menyebutkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian dan ikatan atas kaum Bani Israil, mereka harus tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi mereka melanggar perjanjian dan ikatan tersebut, lalu mereka mengikuti pendapat dan hawa nafsunya sendiri. Mereka memprioritaskannya di atas semua syariat, maka hal-hal yang bersesuaian dengan keinginan mereka dari syariat itu mereka terima; sedangkan hal-hal yang bertentangan dengan kemauan hawa nafsu dan pendapat mereka, mereka tolak. Karena itulah Allah Swt. berfirman:

Kulla maa jaa-aHum rasuulum bimaa laa taHwaa anfusuHum fariiqan kadzdzabuu wa fariiqay yaqtuluun. Wa hasibuu allaa takuuna fitnatun (“Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, [maka] sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun [terhadap mereka].”) (AlMaidah: 70-71)

Yaitu mereka menduga tidak akan ada suatu bencana pun yang menimpa mereka karena perbuatan mereka itu. Dan ternyata perbuatan mereka itu membawa akibat bencana, yaitu mereka menjadi buta, tidak dapat mengenal perkara yang hak; dan tuli, tidak dapat mendengar perkara yang hak serta tidak mendapat petunjuk untuk mengetahui perkara yang hak. Hanya saja Allah memberikan ampunan kepada mereka atas perbuatan mereka itu.

Tsumma ‘amuu wa shammuu (“kemudian menjadi buta dan tuli-lah.”) (Al-Maidah: 71) Yakni sesudah itu.

Katsiirum minHum. wallaaHu bashiirum bimaa ya’maluun (“kebanyakan dari mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”) (Al-Maidah: 71)
Allah selalu melihat mereka dan mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah dan siapa yang berhak disesatkan dari kalangan mereka.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 68-69

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 68-69“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, kalian tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kalian menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian.’ Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka, maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang kafir itu. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, sabiin, dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Maa-idah: 68-69)

Allah Swt. berfirman kepada Nabi-Nya untuk mengatakan:
Yaa aHlal kitaabi lastum ‘alaa syai-in (“Hai Ahli Kitab, kalian tidak dipandang beragama sedikit pun.”) (Al-Maidah: 68) Yaitu sama sekali bukan sebagai pemeluk agama.

hattaa tuqiimut tauraata wal injiila (“hingga kalian menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil.”) (Al-Maidah: 68)

Yakni hingga kalian beriman kepada semua apa yang terkandung di dalam kitab-kitab yang ada di tangan kalian, yang diturunkan oleh Allah melalui nabi-nabi-Nya, dan mengamalkan semua apa yang terkandung di dalamnya. Antara lain berisikan wajib beriman kepada Nabi Muhammad Saw. dan perintah mengikutinya, iman kepada kerasulannya serta menaati syariatnya.

Karena itulah menurut Lais ibnu Abu Sulaim, dari Mujahid, disebutkan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Wa maa unzila ilaikum mir rabbikum (“dan [menegakkan ajaranajaran] Al-Kitab yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian.”) (Al-Maidah: 68) Makna yang dimaksud ialah Al-Qur’an yang agung.

Firman Allah Swt.: wa layaziidanna katsiiram minHum maa unzila ilaika mir rabbika tugh-yaanaw wa kufran (“Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu [Muhammad] dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka.”) (Al-Maidah: 68) Tafsir ayat ini telah disebutkan di atas.

Falaa ta’sa ‘alal qaumil kaafiriin (“maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.”) (Al-Maidah: 68)

Yakni jangan kamu sedihkan perihal mereka dan janganlah kamu merasa gentar dalam menghadapi sikap mereka yang demikian itu. Kemudian Allah Swt. berfirman:

Innal ladziina aamanuu (“Sesungguhnya orang-orang mukmin.”) (Al-Maidah: 69) Yaitu kaum muslim. Wal ladziina Haaduu (“Orang-orang Yahudi.”) (AlMaidah: 69) Yakni orang-orang yang memegang kitab Taurat. Wash-shaabi-uuna (“dan orang-orang Sabiin.”) (Al-Maidah: 69)

Mengingat pemisahnya terlalu jauh, maka peng- ‘ataf-an ini dinilai baik jika dengan rafa’ (hingga dibaca was saabi-uun, bukan was saabi-iin, pent.)

Kaum Sabiin ialah segolongan orang dari kalangan umat Nasrani dan orang-orang Majusi yang tidak mempunyai agama. Demikianlah menurut Mujahid; dan dari Mujahid disebutkan bahwa mereka adalah segolongan dari orang-orang Yahudi dan orang-orang Majusi.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan, mereka adalah segolongan orang dari kaum Yahudi dan Nasrani. Menurut Al-Hasan dan Al-Hakam, mereka sama dengan orang-orang Majusi.

Menurut Oatadah, mereka adalah suatu kaum yang menyembah malaikat dan salat dengan menghadap ke arah selain kiblat serta membaca kitab Zabur.

Wahb ibnuMunabbih mengatakan, mereka adalah suatu kaum yang mengenal Allah semata, tetapi tidak mempunyai syariat yang mereka amalkan, dan mereka tidak melakukan suatu kekufuran pun.

Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya yang mengatakan bahwa sabiin adalah suatu kaum yang tinggal di daerah yang bertetangga dengan negeri Irak, tepatnya di Kausa. Mereka beriman kepada semua nabi. puasa setiap tahunnya selama tiga puluh hari, dan mengerjakan salat menghadap ke negeri Yaman setiap harinya sebanyak lima kali. Pendapat yang lain mengatakan selain itu.

Adapun orang-orang Nasrani, seperti yang telah dikenal; mereka adalah orang-orang yang berpegang kepada kitab Injil.

Makna yang dimaksud ialah bahwa setiap golongan beriman kepada Allah dan hari kemudian serta hari kembali dan hari pembalasan pada hari kiamat nanti, dan mereka mengamalkan amal saleh. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan terealisasikan kecuali jika sesuai dengan syariat Nabi Muhammad saw. sesudah beliau diutus kepada semua makhluk, baik jenis manusia maupun jin. Maka barang siapa yang menyandang sifat ini, disebutkan oleh firman-Nya:

Falaa khaufun ‘alaiHim (“maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.”) (Al-Maidah: 69)
Yakni tidak ada kekhawatiran dalam menghadapi masa depan, tidak pula terhadap masa lalu mereka.

Wa laa Hum yahzanuun (“dan tidak [pula] mereka bersedih hati.”) (Al-Maidah: 69)
Tafsiran terhadap hal yang semisal telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-Baqarah dengan keterangan yang cukup hingga tidak perlu lagi diulangi di sini.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 67

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 67“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah ayat 67)

Allah Swt. berfirman seraya berkhitab kepada hamba dan Rasul-Nya —yaitu Nabi Muhammad Saw.— dengan menyebut kedudukannya sebagai seorang rasul. Allah memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan semua yang diutuskan oleh Allah melaluinya, dan Rasulullah Saw. telah menjalankan perintah tersebut serta menunaikannya dengan sempurna.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail, dari AsySya’bi, dari Masruq, dari Siti Aisyah r.a. yang mengatakan, “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya, sesungguhnya dia telah berdusta.” seraya membacakan firmanNya:

Yaa ayyuHar rasuulu balligh maa unzila ilaika mir rabbika (“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (Al-Maidah: 67). hingga akhir ayat.

Demikianlah bunyi riwayat ini secara ringkas dalam kitab ini. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya di berbagai tempat dalam kitab Sahih masing-masing secara panjang lebar.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman. Imam Turmuzi dan Imam Nasai di dalam kitab tafsir dari kitab Sunnannya telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur, dari Amir AsySya’bi, dari Masruq ibnul Ajda’, dari Siti Aisyah r.a.

Di dalam kitab Sahihain, dari Siti Aisyah r.a. disebutkan bahwa ia pernah mengatakan, “Seandainya Muhammad Saw. menyembunyikan sesuatu dari AlQur’an, niscaya dia akan menyembunyikan ayat ini,” yaitu firmanNya:
“…sedangkan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedangkan Allahlah yang lebih berhak untuk kamu takuti.” (al-Ahzab: 37)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad, dari Harun ibnu Antrah, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ketika ia berada di hadapan Ibnu Abbas, tiba-tiba datanglah seorang lelaki. Kemudian lelaki itu berkata, “Sesungguhnya banyak orang yang berdatangan kepada kami. Mereka menceritakan kepada kami bahwa pada kalian terdapat sesuatu yang belum pernah Rasulullah Saw. jelaskan kepada orang lain.”

Maka Ibnu Abbas menjawab, “Bukankah kamu ketahui bahwa Allah Swt. telah berfirman:
Yaa ayyuHar rasuulu balligh maa unzila ilaika mir rabbika (“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (Al-Maidah: 67). Demi Allah, Rasulullah Saw. tidak mewariskan kepada kami (ahlul bait) sesuatu hal yang disembunyikan.” Sanad atsar ini berpredikat jayyid.

Hal yang sama disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari melalui riwayat Abu Juhaifah, yaitu Wahb ibnu Abdullah As-Sawai, yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a., “Apakah di kalangan kalian (ahlul bait) terdapat sesuatu dari wahyu yang tidak terdapat di dalam AlQur’an?”
Maka Khalifah Ali r.a. menjawab, “Tidak, demi Tuhan yang menumbuhkan biji-bijian dan yang menciptakan manusia, kecuali hanya pemahaman yang diberikan oleh Allah kepada seseorang mengenai Al-Qur’an dan apa yang terdapat di dalam lembaran ini.”
Aku bertanya, “Apakah yang terdapat di dalam lembaran ini?”
Khalifah Ali ibnu Abu Talib r.a. menjawab, “Masalah ‘aql (diat), membebaskan tawanan, dan seorang muslim tidak boleh dihukum mati karena membunuh seorang kafir.”

Imam Bukhari mengatakan bahwa Az-Zuhri pernah berkata, “Risalah adalah dari Allah, dan Rasul berkewajiban menyampaikannya, sedangkan kita diwajibkan menerimanya. Umatnya telah menyaksikan bahwa beliau Saw. telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanat Tuhannya, serta menyampaikan kepada mereka dalam perayaan yang paling besar melalui khotbahnya, yaitu pada haji wada’. Saat itu di tempat tersebut terdapat kurang lebih empat puluh ribu orang dari kalangan sahabatsahabatnya.”

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah Saw. bersabda dalam khotbah haji wada’nya:
“Hai manusia, sesungguhnya kalian akan ditanyai mengenai diriku, maka apakah yang akan kalian katakan?”
Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menunaikan risalah dan menyampaikan amanat serta menasihati umat.” Maka Rasulullah Saw. mengangkat jari telunjuknya ke langit, lalu menunjukkannya kepada mereka seraya bersabda:
“Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Fudail (yakni ibnu Gazwan), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda dalam haji wada’, “Hai manusia, hari apakah sekarang?”
Mereka menjawab, “Hari yang suci.”
Rasulullah Saw. bersabda, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri (kota) yang suci.” Rasulullah Saw. bertanya, “Bulan apakah sekarang?” Mereka menjawab, “Bulan suci.” Maka Rasulullah Saw. bersabda:
“Maka sesungguhnya harta kalian, darah kalian, dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian sekarang ini di negeri kalian ini dan dalam bulan kalian ini.”
Rasulullah Saw. mengulangi ucapan ini berkali-kali, lalu mengangkat telunjuknya ke (arah) langit dan bersabda:
“Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?” Ucapan ini diulangnya berkali-kali.

Ibnu Abbas mengatakan, “Demi Allah, hal ini merupakan wasiat yang beliau tunjukkan kepada Tuhannya, yakni beliau Saw. menitipkan umatnya kepada Allah Swt.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda:
“Ingatlah, hendaklah orang yang hadir menyampaikannya kepada orang yang tidak hadir. Janganlah kalian kembali menjadi kufur sesudahku, sebagian dari kalian memukul leher sebagian yang lainnya.”

Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Ali ibnul Madini, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Fudail ibnu Gazwan dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Firman Allah Swt.:
Wa il lam taf’al famaa balaghta risaalataHu (“jika tidak kamu kerjakan [apa yang diperintahkan itu, berarti] kamu tidak menyampaikan amanatNya.”) (AlMaidah: 67)

Yakni jika engkau tidak menyampaikannya kepada manusia apa yang telah Aku perintahkan untuk menyampaikannya, berarti engkau tidak menyampaikan risalah yang dipercayakan Allah kepadamu. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa telah diketahui konsekuensi hal tersebut seandainya terjadi.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firmanNya:
Wa il lam taf’al famaa balaghta risaalataHu (“jika tidak kamu kerjakan [apa yang diperintahkan itu, berarti] kamu tidak menyampaikan amanatNya.”) (AlMaidah: 67) Yaitu jika engkau sembunyikan barang suatu ayat yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, berarti engkau tidak menyampaikan risatahNya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Qubaihah ibnu Uqbah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari seorang laki-laki, dari Mujahid yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firmanNya:

Yaa ayyuHar rasuulu balligh maa unzila ilaika mir rabbika (“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (Al-Maidah: 67). Nabi Muhammad berkata, “Ya Tuhanku, apakah yang harus aku perbuat, sedangkan aku sendirian, tentu mereka akan mengeroyokku.”

Maka turunlah firmanNya:
Wa il lam taf’al famaa balaghta risaalataHu (“jika tidak kamu kerjakan [apa yang diperintahkan itu, berarti] kamu tidak menyampaikan amanatNya.”) (AlMaidah: 67)

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.

Firman Allah Swt.: wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Yakni sampaikanlah olehmu risalah-Ku, dan Aku akan memeliharamu, menolongmu, dan mendukungmu serta memenangkanmu atas mereka. Karena itu janganlah kamu takut dan bersedih hati, karena tiada seorang pun dari mereka dapat menyentuhmu dengan keburukan yang menyakitkanmu. Sebelum ayat ini diturunkan, Nabi Saw. selalu dikawal. Seperti yang disebutkan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Yahya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amir ibnu Rabi’ah menceritakan, “Siti Aisyah pernah bercerita bahwa di suatu malam Rasulullah Saw. begadang, sedangkan Siti Aisyah r.a. berada di sisinya. Siti Aisyah bertanya, ‘Apakah gerangan yang membuatmu gelisah, wahai Rasulullah Saw.?’ Maka Rasulullah bersabda:

“Mudah-mudahan ada seorang lelaki saleh dari sahabatku yang mau menjagaku malam ini.”

Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, “Ketika kami berdua dalam keadaan demikian, tiba-tiba aku (Siti Aisyah) mendengar suara senjata, maka Rasulullah Saw. bertanya, ‘Siapakah orang ini?’ Seseorang menjawab, ‘Saya Sa’d ibnu Malik.’ Rasulullah Saw. bertanya, ‘Apa yang sedang kamu lakukan?’ Sa’d menjawab, ‘Aku datang untuk menjagamu, wahai Rasulullah’.”

Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, “Tidak lama kemudian aku mendengar suara tidur Rasulullah Saw.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui jalur Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari dengan lafaz yang sama. Menurut suatu lafaz, Rasulullah Saw. begadang di suatu malam, yaitu setibanya di Madinah sesudah hijrahnya dan sesudah mencampuri Siti Aisyah r.a. Hal ini terjadi pada tahun dua Hijriah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Marzuq Al-Basri yang tinggal di Mesir, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid (yakni Abu Qudamah), dari Al-Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa Nabi Saw. selalu dikawal dan dijaga sebelum ayat ini diturunkan, yaitu firmanNya:

wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, “Setelah itu Rasulullah Saw. mengeluarkan kepala dari kemahnya dan bersabda: “Hai manusia, bubarlah kalian, sesungguhnya Allah Swt. telah menjaga diri kami.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui Abdu ibnu Humaid dan Nasr ibnu Ali Al-Jahdami, keduanya dari Muslim ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.

Juga telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadraknya melalui jalur Muslim ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama, kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Telah diriwayatkan pula oleh Sa’id ibnu Mansur, dari Al-Haris ibnu Ubaid Abu Qudamah Al-Ayadi, dari Al-Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama.

Imam Turmuzi mengatakan, sebagian dari mereka ada yang meriwayatkan hadis ini dari Al-Jariri, dari Ibnu Syaqiq yang telah menceritakan bahwa pada mulanya Nabi Saw. selalu dikawal sebelum ayat ini diturunkan. Tetapi di dalam riwayat ini tidak disebutkan nama Siti Aisyah.

Menurut hemat kami, demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Ismail ibnu Ulayyah; dan Ibnu Murdawaih melalui jalur Wuhaib, keduanya dari Al-Jariri, dari Abdullah ibnu Syaqiq secara mursal.
Hadis ini telah diriwayatkan secara mursal melalui Sa’id ibnu Jubair dan Muhammad ibnu Ka’b AlQurazi. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ar-Rabi’ ibnu Anas, dan ibnu Murdawaih. Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Rasyidin Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Abdus Salam As-Sadfi, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnul Mukhtai, dari Abdullah ibnu Mauhib, dari Ismah ibnu Malik Al-Katmi yang menceritakan bahwa kami selalu mengawal Rasulullah Saw. di malam hari. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:

wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Setelah ayat ini diturunkan, pengawalan pun dibubarkan.

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ahmad Abu Nasr Al-Katib Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Kardus ibnu Muhammad Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ya’la ibnu Abdur Rahman, dari Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah. dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Al-Abbas —paman Rasulullah Saw.—termasuk salah seorang yang ikut mengawal Nabi Saw. Setelah ayat ini diturunkan, yaitu firmanNya:

wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)maka Rasulullah Saw. meninggalkan penjagaan, yakni tidak mau dikawal lagi.

Telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Hamid Al-Madini, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mufaddal ibnu Ibrahim AlAsy’ari, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mu’awiyah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia pernah mendengar Abuz Zubair Al-Makki menceritakan hadis berikut dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa dahulu apabila Rasulullah Saw. keluar, maka Abu Talib mengirimkan seseorang untuk menjaganya, hingga turun firmanNya:

wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Setelah ayat ini diturunkan dan Abu Talib mengutus seseorang untuk menjaga Rasulullah Saw., maka Rasulullah Saw. bersabda: “Hai paman, sesungguhnya Allah telah menjaga diriku (dari gangguan manusia), maka sekarang aku tidak memerlukan lagi penjaga (pengawal pribadi) yang engkau kirimkan.”

Hadis ini garib, dan di dalamnya terdapat hal yang tidak dapat diterima, mengingat ayat ini adalah Madaniyah: sedangkan pengertian hadis menunjukkan kejadiannya berlangsung dalam periode Makkiyyah.

Sulaiman ibnu Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdul Majid Al-Hammani, dari An-Nadr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa dahulu Rasulullah Saw. selalu dikawal. Abu Talib-lah yang selalu mengirimkan beberapa orang lelaki dari kalangan Bani Hasyim untuk mengawal dan menjaga Nabi Saw. setiap harinya hingga turun kepada Nabi Saw. firman Allah Swt. yang mengatakan:

Yaa ayyuHar rasuulu balligh maa unzila ilaika mir rabbika Wa il lam taf’al famaa balaghta risaalataHu wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan [apa yang diperintahkan itu, berarti] kamu tidak menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, “Lalu paman Nabi Saw. bermaksud mengirimkan orang-orang untuk mengawal Nabi Saw. Maka Nabi Saw. bersabda:
‘Sesungguhnya Allah telah memelihara diriku dari (gangguan) jin dan manusia.’”

ImamTabrani meriwayatkannya dari Ya’qub ibnu Gailan Al-Ammani, dari Abu Kuraib dengan sanad yang sama.

Hadis ini pun berpredikat gharib, karena pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini adalah Madaniyah, bahkan ayat ini termasuk salah satu dari ayat-ayat yang paling akhir diturunkan oleh Allah Swt.

Termasuk pemeliharaan Allah Swt. kepada Rasul-Nya ialah Allah menjaga Rasulullah Saw. dari perlakuan jahat penduduk Mekah, para pemimpinnya, orang-orangnya yang dengki dan yang menentang beliau, serta para hartawannya yang selalu memusuhi dan membenci beliau, selalu memeranginya siang dan malam. Allah memelihara diri Nabi Saw. dari ulah jahat mereka dengan berbagai sarana yang diciptakan oleh-Nya melalui kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya yang besar.

Pada permulaan masa risalah Nabi Saw., Allah memelihara beliau melalui pamannya, yaitu AbuTalib; mengingat AbuTalib adalah seorang pemimpin yang besar lagi ditaati di kalangan orang-orang Quraisy.

Allah menciptakan rasa cinta secara naluri kepada Rasulullah Saw. di dalam qalbu AbuTalib, tetapi bukan cinta secara syar’i. Seandainya AbuTalib adalah orang yang telah masuk Islam, niscaya orang-orang kafir dan para pembesar Mekah berani mengganggu Nabi Saw. Akan tetapi, karena antara Abu Talib dan mereka terjalin kekufuran yang sama, maka mereka menghormati dan segan kepadanya.

Setelah paman Nabi Saw. —yaitu AbuTalib— meninggal dunia, orang-orang musyrik baru dapat menimpakan sedikit gangguan yang menyakitkan terhadap diri Nabi Saw. Tetapi tidak lama kemudian Allah membentuk kaum Ansar yang menolongnya; mereka berbaiat kepadanya untuk Islam serta meminta kepada beliau agar pindah ke negeri mereka, yaitu Madinah.

Setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, maka orang-orang Ansar membela Nabi Saw. dari gangguan dan serangan segala bangsa. Setiap kali seseorang dari kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab melancarkan tipu muslihat jahat terhadap diri beliau Saw., maka Allah menangkal tipu daya mereka dan mengembalikan tipu muslihat itu kepada perencananya sendiri.

Orang Yahudi pemah melancarkan tipu muslihat terhadap diri Nabi Saw. melalui sihirnya, tetapi Allah memelihara diri Nabi Saw. dari kejahatan sihir mereka, dan diturunkan-Nya kepada Nabi Saw. dua surat mu’awwizah sebagai obat untuk menangkal penyakit itu.

Dan ketika seorang Yahudi meracuni masakan kaki (kikil) kambing yang mereka kirimkan kepadanya di Khaibar, Allah memberitahukan hal itu kepada Nabi Saw. dan memelihara diri Nabi Saw. dari racun tersebut.

Hal-hal seperti itu banyak sekali terjadi, kisahnya panjang bila dituturkan; antara lain ialah apa yang disebutkan oleh ulama tafsir dalam pembahasan ayat ini.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Ka’b AI-Qurazi dan lain-lainnya yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. apabila turun di suatu tempat, maka para sahabatnya memilihkan buatnya sebuah pohon yang rindang, lalu beliau Saw. merebahkan diri beristirahat di bawahnya. Dan ketika beliau Saw. dalam keadaan demikian, datanglah seorang lelaki Arab Badui, lalu mencabut pedangnya, kemudian berkata “Siapakah yang melindungi dirimu dariku?” Nabi Saw. menjawab, “Allah Swt.” Maka tangan orang Badui itu gemetar sehingga pedang terjatuh dari tangannya. Kemudian Allah Swt. menurunkan firmanNya:

wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Ahmad ibnu Muhammad ibnu Yahya ibnu Sa’id AlQattan, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hubab, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Jabir ibnu Abdullah Al-Ansari yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah Saw. berperang melawan Bani Anmar, beliau turun istirahat di Zatur Riqa’ yaitu di daerah Nakhl yang tinggi.

Ketika beliau sedang duduk di pinggir sebuah sumur seraya menjulurkan kedua kakinya (ke dalam sumur itu), berkatalah Al-Haris dari kalangan Bani Najar, “Aku benar-benar akan membunuh Muhammad.” Maka temannya berkata kepadanya, “Bagaimanakah cara kamu membunuh dia?” Al-Haris berkata, “Aku akan katakan kepadanya, ‘Berikanlah pedangmu kepadaku,’ Apabila dia telah memberikan pedangnya kepadaku, maka aku akan membunuhnya dengan pedang itu.”

Al-Haris datang kepada Nabi Saw. dan berkata, “Hai Muhammad, berikanlah pedangmu kepadaku, aku akan melihat-lihatnya dengan menghunusnya.” Maka Nabi Saw. memberikan pedangnya kepada Al-Haris. Tetapi setelah Al-Haris menerimanya dan menghunusnya, tiba-tiba tangan Al-Haris gemetar hingga pedang itu terjatuh dari tangannya.

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Allah menghalang-halangi antara kamu dan apa yang kamu
inginkan.”

Lalu Allah Swt. menurunkan firmanNya:

Yaa ayyuHar rasuulu balligh maa unzila ilaika mir rabbika Wa il lam taf’al famaa balaghta risaalataHu wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan [apa yang diperintahkan itu, berarti] kamu tidak menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Bila ditinjau dari segi konteksnya, hadis ini berpredikat gharib. Kisah Gauras ibnul Haris ini terkenal di dalam kitab Sahih.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang menceritakan: Bila kami menemani Rasulullah Saw. dalam suatu perjalanan, kami mencarikan sebuah pohon yang paling besar dan paling rindang untuknya, lalu beliau turun istirahat di bawahnya.

Pada suatu hari beliau Saw. turun di bawah sebuah pohon, kemudian beliau gantungkan pedangnya pada pohon tersebut. Lalu datanglah seorang lelaki dan mengambil pedang itu, kemudian lelaki itu berkata, “Hai Muhammad, siapakah yang akan melindungimu dariku?”
Nabi Saw. bersabda: “Allahlah yang akan melindungiku darimu. Sekarang letakkanlah pedang itu,” maka seketika itu juga dia langsung meletakkan pedangnya. Maka Allah Swt. menurunkan firmanNya:

wallaaHu ya’shimuka minan naasi (“Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia.”) (Al-Maidah: 67)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Hatim ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya, dari Abdullah ibnu Muhammad, dari Ishaq Ibnu Ibrahim, dari Al-Muammal ibnu Ismail, dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah; ia pernah mendengar Aba Israil —yakni Al Jusyami— mengatakan bahwa ia pemah mendengar Ja’dah —yakni Ibnu Khalid ibnus Summah Al Jusyami r.a. —menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar sebuah kisah mengenai Nabi Saw. Ketika beliau Saw. melihat seorang lelaki yang gemuk, Nabi Saw. menunjuk ke arah perutnya dan bersabda: “Seandainya ini bukan di bagian ini, niscaya lebih baik darimu.”

Pernah pula didatangkan kepada Nabi Saw. seorang lelaki lain, lalu dikatakan kepada Nabi Saw. bahwa orang ini bermaksud membunuhnya Maka Nabi Saw. bersabda:
“Jangan takut, seandainya kamu bermaksud melakukan niatmu itu, Allah tidak akan membiarkanmu dapat menguasai diriku.”

Firman Allah Swt.:
innallaaHa laa yaHdil qaumal kaafiriin (“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”) (AlMaidah: 67)

Yakni sampaikanlah (risalah ini) olehmu, dan Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.

Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lainnya, yaitu firman Allah Swt. yang artinya:
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendakiNya.” (Al-Baqarah: 272)

“..karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka.” (Ar-Ra’d: 40)

&