Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 76-77

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 76-77“Katakanlah, ‘Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada kalian dan tidak (pula) memberi manfaat?’ Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah. ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Maa-idah: 76-77)

Allah Swt. berfirman mengingkari perbuatan orang-orang yang menyembah selain-Nya —yaitu mereka yang menyembah berhala, patung, dan gambar— seraya menjelaskan kepada mereka bahwa semuanya itu tidak berhak sedikit pun untuk disembah sebagai tuhan. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:

Qul (“Katakanlah”) (Al-Maidah: 76) hai Muhammad, kepada mereka yang menyembah kepada selain Allah; yakni dari kalangan anak-anak Adam, termasuk orang-orang Nasrani dan lain-lainnya.

A ta’buduuna min duunillaaHi maa laa yamliku lakum dlarraw walaa naf’an (“Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada kalian dan tidak [pula] memberi manfaat?”) (Al-Maidah: 76) Yakni yang tidak dapat menolak bahaya dari kalian, tidak pula menyampaikan manfaat kepada kalian.

wallaaHu Huwas samii’ul ‘aliim (“Dan Allahlah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”) (Al-Maidah: 76) Yaitu Dia Maha Mendengar semua perkataan hamba-hamba-Nya lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka mengapa kalian menyimpang hingga menyembah benda mati yang tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat mengetahui sesuatu pun, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat untuk dirinya sendiri, tidak pula untuk orang lain.

Kemudian Allah Swt. berfirman: qul yaa aHlal kitaabi laa taghluu fii diinikum ghairal haqqi (“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan [melampaui batas] dengan cara tidak benar dalam agama kalian.’”) (Al-Maidah: 77)

Yakni janganlah kalian melampaui batas dalam mengikuti kebenaran, dan janganlah kalian menyanjung orang yang kalian diperintahkan untuk menghormatinya, lalu kalian melampaui batas dalam menyanjungnya hingga mengeluarkannya dari kedudukan kenabian sampai kepada kedudukan sebagai tuhan. Yaitu seperti yang kalian lakukan terhadap Al-Masih, padahal dia adalah salah seorang dari nabi-nabi Allah, tetapi kalian menjadikannya sebagai tuhan selain Allah. Hal ini tidak kalian lakukan melainkan hanya semata-mata kalian mengikuti guru-guru kalian, yaitu guru-guru sesat yang merupakan para pendahulu kalian dari kalangan orang-orang yang sesat di masa lalu.

Wa adlalluu katsiiraw wa dlalluu ‘an sawaa-as sabiil (“dan mereka telah menyesatkan kebanyakan [manusia], dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”) (AlMaidah: 77) Yakni mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan benar, menuju kepada jalan kesesalan dan kesalahan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Abu Ja’far, dari ayahnya, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas yang mengatakan bahwa dahulu ada seorang ‘alim yang mengajarkan Al-Kitab dan Sunnah kepada banyak kaum selama suatu masa. Kemudian datanglah setan dan mengatakan (kepadanya), “Sesungguhnya yang kamu ajarkan hanyalah peninggalan atau perintah yang telah diamalkan sebelum kamu, maka kamu tidak beroleh pujian karenanya. Tetapi buatlah suatu perkara dari dirimu sendiri, lalu ajaklah manusia, dan paksa mereka mengamalkannya.”

Kemudian orang itu melakukan hal tersebut, tetapi setelah lewat suatu masa ia sadar, la bermaksud bertobat dari perbuatannya itu, maka ia melucuti semua kekuasaan dan Kerajaannya; dan ia bermaksud melakukan ibadah hingga akhir hayatnya agar semua dosanya terhapus.

Setelah beberapa hari dalam ibadahnya, ia didatangi, lalu dikatakan kepadanya, “Sekiranya tobatmu menyangkut dosa antara kamu dengan Tuhanmu (hak Tuhan), maka ada kemungkinan tobatmu dapat diterima. Tetapi kamu harus ingat bahwa si anu dan si anu serta lain-lainnya telah sesat dalam membelamu, sedangkan mereka telah meninggal dunia dalam keadaan sesat. Maka mana mungkin kamu dapat memberikan petunjuk kepada mereka. Karena itu, tiada tobat bagimu selama-lamanya.”

Ar-Rabi’ ibnu Abas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang seperti itu dan lain-lainnya yang serupa, menurut apa yang kami terima, yakni firman-Nya:

Yaa aHlal kitaabi laa taghluu fii diinikum ghairal haqqi wa laa tattabi’uu aHwaa-a qaumin qad dlalluu min qablu wa dlalluu katsiiraw wa dlalluu’an sawaa-is sabiil (“Hai Ahli Kitab, Janganlah kalian berlebih-lebihan [melampaui batas] dengan cara tidak benar dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu [sebelum kedatangan Muhammad] dan mereka telah menyesatkan kebanyakan [manusia] dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 77)

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: