Arsip | 11.20

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 37-39

16 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 37-39“Dan mereka berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’ Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kalian. Tiadalah Kami lupakan sesuatu pun di dalam AlKitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (Al-An’am ayat 37-39)

Allah Swt. berfirman menceritakan perihal orang-orang musyrik, bahwa mereka pernah bertanya, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu mukjizat dari Tuhannya ? ” Mukjizat ini diungkapkan dengan istilah ‘ayat’, yang artinya peristiwa yang bertentangan dengan hukum alam yang biasa mereka dapati, termasuk di antaranya ialah seperti apa yang mereka katakan dalam firman-Nya:

“Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.” (Al-Isra: 90) , hingga beberapa ayat berikutnya.

Firman Allah Swt.: qul innallaaHa qaadirun ‘alaa ay yunazzila aayataw walaakinna aktsaraHum laa ya’lamuun (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’”) (Al An’am: 37)

Yakni Allah Swt. mampu untuk melakukan hal itu. Tetapi karena suatu hikmah (kebijaksanaan) dari-Nya, maka sengaja Dia menangguhkan hal itu. Karena sesungguhnya jikalau Allah menurunkan mukjizat seperti yang mereka minta, kemudian ternyata mereka tidak beriman, niscaya Allah akan menyegerakan siksaan-Nya terhadap mereka, seperti yang telah Allah lakukan terhadap umat-umat terdahulu. Allah Swt. telah berfirman yang artinya:

“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (Al-Isra: 59)

“Jika Kami kehendaki, niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit, maka senantiasa kuduk-kuduk mereka tunduk kepadanya.” (Asy-Syu’ara: 4)

Adapun firman Allah Swt.: wa maa min daabbatin fil ardli wa laa thaa-iriy yathiiru bijanaahaiHi illaa umamun amtsaalukum (“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat [juga] seperti kalian.”) (Al-An’am: 38)

Menurut Mujahid, makna umamun ialah berbagai macam jenis yang namanamanya telah dikenal. Menurut Qatadah, burung-burung adalah umat, manusia adalah umat, begitu pula jin.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: illaa umamun amtsaalukum (“Melainkan umat-umat [juga] seperti kalian.”) (Al An’am: 38) Yakni makhluk juga, sama seperti kalian.

Firman Allah Swt.: maa farath-naa fil kitaabi min syai-in (“Tiadalah Kami lupakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab.”) (Al-An’am: 38)

Maksudnya, semuanya ada berdasarkan pengetahuan dari Allah, tiada sesuatu pun dari semuanya yang dilupakan oleh Allah mengenai rezeki dan pengaturannya, baik sebagai hewan darat ataupun hewan laut.

Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah dalam ayat lain yang artinya:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Hud: 6) Yakni tertulis namanamanya, bilangannya, serta tempat-tempatnya, dan semua gerakan serta diamnya terliputi semuanya dalam tulisan itu.

Allah Swt. telah berfirman pula :
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian, dan Dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Ankabut: 60)

Al-Hafizh Abu Ya’la mengatakan, ‘Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Waqid al-Qaisi Abu Abbad, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Isa ibnu Kaisan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Munkadir dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa belalang jarang didapat dalam masa satu tahun dari tahun-tahun masa pemerintahan Khalifah Uma r r.a. Kemudian Umar bertanya-tanya mengenai hal itu, tetapi sia-sia, tidak mendapat suatu berita pun. Dia sedih karena hal tersebut, lalu ia mengirimkan seorang penunggang kuda (penyelidik) dengan tujuan tempat anu, seorang lagi ke negeri Syam, dan seorang lagi menuju negeri Irak. Masing-masing ditugaskan untuk memeriksa keberadaan belalang di tempat-tempat tersebut.

Kemudian datang kepadanya penunggang kuda dari negeri Yaman dengan membawa segenggam belalang, lalu semuanya ditaruh di hadapannya. Ketika ia (Umar) melihatnya, maka ia mengucapkan takbir tiga kali. kemudian berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw.
bersabda:

“Allah Swt. telah menciptakan seribu umat (jenis makhluk), enam ratus umat di antaranya berada di laut dan yang empat ratusnya berada di daratan. Mula-mula umat yang binasa dari seluruhnya ialah belalang. Apabila belalang telah musnah, maka merembet ke yang lainnya seperti halnya untaian kalung apabila talinya terputus.”

Firman Allah Swt.: tsumma ilaa rabbiHim yuhsyaruun (“kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”) (Al An’am: 38)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ayahnya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: tsumma ilaa rabbiHim yuhsyaruun (“kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”) (Al An’am: 38)
Bahwa penghimpunannya ialah bila telah mati.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir melalui jalur Israil, dari Sa’id, dari Masruq, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas; disebutkan bahwa matinya hewan-hewan merupakan saat penghimpunannya.
Hal yang s ama telah diriwayatkan pula oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas .
Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Mujahid dan ad-Dahhak yang semisal.

Pendapat yang kedua mengatakan, penghimpunannya ialah saat hari berbangkit, yaitu di hari kiamat nanti, berdasarkan firman Allah Swt. yang artinya:
“Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.”(AtTakwir: 5)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Sulaiman, dari Munzir As Sauri, dari guru-guru mereka, dari Abu Zar, bahwa Rasulullah Saw. melhat dua ekor domba yang sedang adu tanduk (bertarung), lalu Rasulullah Saw. bersabda:

“HaiAbu Zar, tahukah kamu mengapa keduanya saling menanduk?” Abu Zar menjawab, “Tidak.” Nabi Saw. bersabda “Tetapi Allah mengetahui, dan Dia ketak akan melakukan peradilan di antara keduanya.”

Abdur Razzaq meriwayatkannya dari Ma’ma r , dari AI A’masy, dari orang yang disebutkannya, dari Abu Zar yang menceritakan bahwa ketika para sahabat sedang berada di hadapan Rasulullah Saw., tiba-tiba dua kambing jantan saling menanduk [berlaga]. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
“Tahukah kalian mengapa keduanya tanduk-menanduk?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Kami tidak tahu.” Rasulullah Saw. bersabad, “Tetapi Allah mengetahui, dan kelak Dia akan mengadakan peradilan di antara keduanya.”

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur Munzir As-Sauri, dari Abu Zar, lalu ia menyebutkannya, tetapi ditambahkan bahwa Abu Zar berkata, “Dan sesungguhnya Rasulullah Saw. meninggalkan kami, sedangkan tidak sekali-kali ada seekor burung mengepakkan sayapnya di langit melainkan beliau Saw. menceritakan kepada kami pengetahuan mengenainya.”

Abdullah ibnu Imam Ahmad telah mengatakan di dalam kitab musnad ayahnya, bahwa telah menceritakan kepadaku Abbas ibnu Muhammad dan Abu Yahya Al-Bazzar; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Nasir, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al Awwam ibnu Muz ahim, dari Bani Qais ibnu Sa’labah, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Usman r.a., bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“Sesungguhnya hewan yang tidak bertanduk benar-benar akan menuntut hukum qisas terhadap hewan yang bertanduk (yang telah menanduknya) kelak di hari kiamat.”

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mam, dari Ja’far ibnu Barqan, dari Yazid ibnul Asam, dari Abu Hurairah sehubungan dengan firman-Nya:

Illaa umamun amtsaalukum maa farrathnaa fil kitaabi min syai-in tsumma ilaa rabbiHim yuhsyaruun (“melainkan umat-umat [juga] seperti kalian. Tiadalah Kami lupakan sesuatu pun di dalam AlKitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”) (Al An’am: 38)

Bahwa semua makhluk kelak di hari kiamat dihimpunkan, termasuk semua binatang ternak, binatang-binatang lainnya, burung-burung, dan semua makhluk. Kemudian keadilan Alllah pada hari itu menaungi semuanya sehingga hewan yang tidak bertanduk mengqisas hewan bertanduk yang pernah menanduknya. Setelah itu Allah berfirman, “Jadilah kamu sekalian tanah. ” Karena itulah orang kafir (pada hari itu) mengatakan, seperti yang disitir oleh firman-Nya:
“Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (An-Naba: 40)

Hal ini telah diriwayatkan secara marfu’ di dalam hadits yang menceritakan sur (sangkakala).

Firman Allah Swt.: wal ladziina kadzdzabuu bi aayaatinaa shummuw wa bukmun fidh dhulumaati (“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu, dan berada dalam gelap gulita.”) (Al An’am: 39)

Yakni perumpamaan mereka dalam kejahilannya dan keminiman ilmunya serta ketiadaan pengertiannya sama dengan orang yang tuli tidak dapat mendengar, bisu tidak dapat bicara, dan selain itu berada dalam kegelapan tanpa dapat melihat. Maka orang yang seperti itu mustahil mendapat petunjuk ke jalan yang benar atau dapat keluar dari apa yang mengungkungnya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya menggambarkan keadaan mereka, yaitu:

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari ) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar.”) (Al-Baqarah: 17-18)

Sama pula dengan apa yang digambarkan oleh Allah Swt. dalam firman lainnya:
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan: gelap gulitayang tindih-menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya tiadalah dia dapat melihatnya (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40)

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: may yasya-illaaHu yudl-lilHu wa may yasya’ yaj’alHu ‘alaa shiraathim mustaqiim (“Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah [kesesatannya], niscaya disesatkan-Nya Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah [untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”) (Al An’am: 39)

Yakni Dialah yang mengatur makhluk-Nya menurut apa yang dikehendakinya.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 33-36

16 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 33-36“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu. janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil. Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang memenuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya) akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.”) (al-An’aam: 33-36)

Allah Swt. berfirman menghibur nabi-Nya dalam menghadapi pendustaan kaumnya terhadap dirinya dan pertentangan mereka terhadapnya:

Qad na’lamu innaHuu layahzunukal ladzii yaquuluun (“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakana itu menyedihkan hatimu.”) (Al-An’am: 33)

Maksudnya, pengetahuan Kami benar-benar telah meliputi pendustaan mereka terhadapmu dan kesedihan serta kekecewaanmu terhadap sikap mereka. Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain yang artinya:
“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.”) (Fathir: 8)

Sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya yang lain:
“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (Asy-Syu’araa: 3)

Sama pula dengan firmanNya:
“Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” (Al-Qur’an). (Al-Kahfi: 6)

Adapun firman Allah Swt.:
Fa innaHum laa yukadzdzibuunaka wa laa kinnadh dhaalimiina bi aayaatillaaHi yajhaduun (“karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”) (Al-An’am: 33)

Artinya mereka sama sekali tidak menuduhmu sebagai seorang pendusta dalam hal tersebut.

wa laa kinnadh dhaalimiina bi aayaatillaaHi yajhaduun (“tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”) (Al-An’am: 33)

Yakni ‘tetapi mereka mengingkari perkara yang hak dan menolaknya dengan dada mereka’, seperti yang diriwayatkan oleh Sufyan As-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Najiyah ibnu Ka’b , dari Ali yang menceritakan bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada Nabi Saw., “Sesungguhnya kami tidak menuduh dirimu pendusta, tetapi kamu hanya mendustakan apa yang k amu sampaikan itu.” Maka Allah Swt. menurunkan firmanNya:

Fa innaHum laa yukadzdzibuunaka wa laa kinnadh dhaalimiina bi aayaatillaaHi yajhaduun (“karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”) (Al-An’am: 33)

Imam Hakim meriwayatkannya melalui jalur Israil, dari Abu Ishaq; kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Syaikhaan ( Imam Bukhari dan Imam Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Wazir Al-Wasiti di Mekah. telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnul Mubasysyir Al-Wasiti, dari Salam ibnu Miskin, dari Abu Yazid Al Madani, bahwa Nabi Saw. bersua dengan Abu Jahal, lalu berjabat tangan dengannya. Kemudian ada seorang lelaki berkata kepada Abu Jahal, “Kalau tidak salah aku pernah melihatmu berjabat tangan dengan orang yang sabi’ ini (maksudnya Nabi Muhammad Saw.).” Abu Jahal menj awab, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa dia adalah seorang nabi, tetapi bilakah bagi kami kalangan Bani ‘Abdu Manaf mau mengikutinya ?” Lalu Abu Yazid membacakan firmanNya:

Fa innaHum laa yukadzdzibuunaka wa laa kinnadh dhaalimiina bi aayaatillaaHi yajhaduun (“karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”) (Al-An’am: 33)

Menurut takwil Abu Saleh dan Qatadah disebutkan, “Mereka mengetahui bahwa engkau adalah Rasulullah, tetapi mereka mengingkari(nya).”

Muhammad ibnu Ishaq menuturkan dari Az-Zuhri kisah Abu Jahal ketika datang mendengar bacaan Al-Qur’an Nabi Saw. di malam hari, dan datang pula mendengarkannya Abu Sufyan ibnu Harb dan Al Akhnas ibnu Syuraiq, tetapi ketiga orang tersebut masing-masing tidak mengetahui keberadaan yang lainnya. Lalu mereka mendengarkannya sampai subuh. Dan ketika hari telah subuh, mereka bubar, lalu dalam perjalanan pulangnya mereka bersua di tengah jalan. Maka masing-masing dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Apakah yang kamu dapatkan?” Lalu masing-masing orang mengemukakan apa yang telah didapat (dipahaminya).

Kemudian mereka saling berjanji bahwa mereka tidak akan mendengarkannya lagi, karena khawatir perbuatan mereka diketahui oleh para pemuda Ouraisy, yang dampaknya nanti para pemuda Quraisy menjadi tertarik kepada Nabi Saw. dengan kedatangan mereka.

Pada malam keduanya masing-masing dari mereka datang lagi dengan dugaan bahwa kedua temannya pasti tidak akan datang mengingat perjanjian yang telah mereka sepakati bersama. Tetapi pada pagi harinya mereka bersua di tengah jalan dalam perjalanan pulangnya, maka mereka saling mencela. Akhirnya mereka mengadakan perjanjian lagi bahwa mereka tidak akan mendengarkannya lagi.

Pada malam ketiganya ternyata mereka datang lagi dan pagi harinya mereka bersua kembali, lalu berjanji tidak akan melakukan hal yang serupa, kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Pada pagi harinya Al-Akhnas ibnu Syuraiq mengambil tongkatnya, lalu pergi ke rumah Abu Sufyan. Setelah sampai di rumah Abu Sufyan, ia bertanya, “Hai Abu Hanzalah, ceritakanlah kepadaku kesan yang kamu simpulkan setelah mendengar bacaan Muhammad itu.”
Abu Sufyan menjawab, “Hai Abu Sa’labah, demi Allah, sesungguhnya aku telah mendengar banyak hal yang kuketahui dan kuketahui pula makna yang dimaksud darinya, tetapi aku telah mendengar pula banyak hal yang tidak kumengerti maknanya dan apa yang dimaksud olehnya.”
Al-Akhnas berkata mengiakan, “Aku pun berani sumpah seperti kamu, bahwa aku mempunyai pemahaman yang sama denganmu.”

Lalu Al-Akhnas keluar dari rumah Abu Sufyan dan langsung menuju ke rumah Abu Jahal. Ia langsung masuk ke dalam rumah Abu Jahal dan berkata, “Hai Abui Hakam, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah kamu dengar dari (bacaan) Muhammad?'” Abu Jahal menjawab, “Sama seperti yang kamu dengar.” Abu Jahal melanjutkan perkataannya, “Kami bersaing dengan Bani Abdu Manaf dalam hal kedudukan yang terhormat; mereka memberi makan, maka kami pun memberi makan; mereka membantu mengadakan angkutan, maka kami
pun berbuat hal yang sama, dan mereka memberi, maka kami pun memberi pula. hingga manakala kami berlutut di atas kendaraan dalam keadaan lemah dan tersandera, mereka mengatakan bahwa dari kalangan kami ada seorang nabi yang selalu didatangi oleh wahyu dari langit. Maka bilamana kami menjumpai ini, demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan percaya kepadanya.”
Maka Al-Akhnas bangkit meninggalkannya.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui Asbat, dari Assaddi sehubungan dengan makna firman-Nya:

Qad na’lamu innaHuu layahzunukal ladzii yaquuluuna Fa innaHum laa yukadzdzibuunaka wa laa kinnadh dhaalimiina bi aayaatillaaHi yajhaduun (“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, [janganlah kamu bersedih hati], karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”) (Al-An’am: 33)

Ketika Perang Badar, Al-Akhnas ibnu Syuraiq berkata kepada Bani Zahrah, “Hai Bani Zahrah, sesungguhnya Muhammad adalah anak lelaki saudara perempuan kalian. Maka kalian adalah orang yang lebih berhak untuk melindungi anak saudara perempuan kalian. Karena sesungguhnya jika dia memang seorang nabi, janganlah kalian memeranginya hari ini; dan jika dia dusta, maka kalian adalah orang yang paling berhak untuk menghentikan anak saudara perempuan kalian. Berhentilah kalian, sebelum aku bersua lebih dahulu dengan Abul Hakam (Abu Jahal). Jika Muhammad menang, kalian tetap kembali dengan selamat; dan jika Muhammad dikalahkan, maka sesungguhnya kaum kalian belum pernah berbuat sesuatu pun kepada kalian.”

Sejak saat itu ia diberi nama Al Akhnas , sebelum itu namanya adalah Ubay. Lalu Al Akhnas menjumpai Abu Jahal, kemudian membawanya menyendiri hanya berduaan dengannya. Al Akhnas bertanya, “Hai Abui Hakam, ceritakanlah kepadaku tentang Muhammad, apakah dia benar ataukah dusta? Karena sesungguhnya di tempat ini sekarang tidak ada seorang Quraisy pun selain aku dan kamu yang dapat mendengar pembicaraan kita.”

Abu Jahal menjawab, “Celakalah kamu. demi Allah, sesungguhnya Muhammad memang orang yang benar, Muhammad sama sekali tidak pernah dusta. Tetapi apabila Abi Qusai memborong semua jabatan, yaitu liwa, siqayah, hijabah, dan kenabian, maka apa lagi yang tersisa buat kaum Quraisy lainnya ?”

Yang demikian itulah maksud dari firman-Nya:

Fa innaHum laa yukadzdzibuunaka wa laa kinnadh dhaalimiina bi aayaatillaaHi yajhaduun (“karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”) (Al-An’am: 33)

Ayat-ayat Allah adalah Nabi Muhammad Saw.

Firman Allah Swt.: wa laqad kudzdzibat rusulum min qablika fashabaruu ‘alaa maa kudzdzibuu wa uudzuu hattaa ataaHum nashrunaa (“Dan sesungguhnya telah didustakan [pula] rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan [yang dilakukan] terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.”) (Al An’am: 34)

Hal ini merupakan hiburan bagi hati Nabi Muhammad Saw., sekaligus sebagai ungkapan dukungan terhadapnya dalam menghadapi orang-orang yang mendustakannya dari kalangan kaumnya , juga merupakan perintah kepadanya agar bersikap sabar sebagaimana sikap sabar orang-orang yang berhati teguh dari kalangan para rasul terdahulu.

Dalam ayat ini pun terkandung janji Allah kepada nabi-Nya, bahwa Dia akan menolongnya sebagaimana Dia telah menolong para rasul terdahulu, kemudian beroleh kemenangan. Pada akhirnya akibat yang terpuji diperoleh para rasul sesudah mengalami pendustaan dan gangguan dari kaumnya masing-masing. Setelah itu datanglah kepada mereka pertolongan, dan kemenangan di dunia dan di akhirat. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya selanjutnya:

Wa laa mubaddila likalimaatillaaHi (“Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat [janji-janji] Allah.” (al-An’am: 34)

Yakni janji-janji kemenangan yang telah ditetapkan-Nya di dunia dan akhirat bagi hamba hamba-Nya yang mukmin. Perihalnya sama dengan firman-Nya yang lain:

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (As-Saffat: 171-173)

“Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.’ Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa (Al-Mujadilah: 21)

Mengenai firman Allah Swt.: wa laqad jaa-aka min naba-il mursaliin (“Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita Rasul-rasul itu.”) (Al An’am: 34)

Artinya berita tentang mereka, bagaimana mereka mendapat pertolongan dan dukungan dalam menghadapi orang-orang yang mendustakan mereka dari kalangan kaumnya. Maka demikian pula halnya dengan kamu (Muhammad) akan mengalami hal yang sama dengan para rasul yang mendahuluimu.

Kemudian Allah Swt. berfirman: wa in kaana kabura ‘alaika i’raadluHum (“Dan jika perpalingan mereka [darimu] terasa amat berat bagimu.”) (Al-An’am: 35)

Yaitu apabila terasa berat ol ehmu sikap berpaling mereka darimu.

Fa inistatha’ta an tabtaghiya nafaqan fil ardli au sullaman (“maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit.”) (Al An’am: 35)

Ali ibnu Abu Talhah mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa nafaq artinya terowongan. Yakni kamu (Muhammad) ma suk ke dalam terowongan itu. lalu datang membawa ayat kepada mereka; atau kamu buat tangga sampai ke langit, lalu kamu naik ke langit dan mendatangkan kepada mereka suatu ayat (bukti) yang lebih baih daripada yang engkau sampaikan kepada mereka sekarang, maka lakukanlah. Hal yang semisal dikatakan pula oleh Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya.

Firman Allah Swt.: wa lau syaa-allaaHu laja’alaHum ‘alal Hudaa falaa takuunanna minal jaaHiliin (“Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu, janganlah kalian sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.”) (Al An’am: 35)

Ayat ini sama maknanya dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.” (Yunus : 99) , hingga akhir ayat.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
wa lau syaa-allaaHu laja’alaHum ‘alal Hudaa falaa takuunanna minal jaaHiliin (“Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu, janganlah kalian sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.”) (Al An’am: 35)
Sesungguhnya Rasulullah Saw. sangat menginginkan semua orang beriman dan mengikuti jalan petunjuknya. Maka Allah memberitahukan kepadanya bahwa tidak ada seorang pun yang beriman kecuali orang yang telah ditakdirkan oleh Allah mendapat kebahagiaan sejak zaman azalinya.

Firman Allah Swt.: inna maa yastajiibul ladziina aamanuu (“Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah). (Al An’am: 36)
Yakni sesungguhnya orang yang menyambut seruanmu, hai Muhammad, hanyalah orang yang mau mendengar, mencerna, dan memahaminya .

Perihalnya sama dengan yang disebutkan oleh ayat lain:
“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.” (Yaasiin: 70)

Firman Allah Swt.: wal mautaa yab’atsuHumullaaHu tsumma ilaiHi yurja’uun (“dan orang-orang
yang mati (hatinya) akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.”) (Al An’am: 36)

Yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang mati’ ialah orang-orang kafir. Dikatakan demikian karena hati mereka mati, maka Allah menyerupakan mereka dengan orang-orang yang mati sungguhan (yakni bangkai). Karena itulah disebutkan:
wal mautaa yab’atsuHumullaaHu tsumma ilaiHi yurja’uun (“dan orang-orang
yang mati (hatinya) akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.”) (Al An’am: 36)

Di dalam ungkapan ini terkandung makna cemoohan dan penghinaan terhadap mereka.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 31-32

16 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 31-32“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!’, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu. Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?”) (al-An’aam: 31-32)

Allah Swt. berfirman, menceritakan kerugian yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan adanya hari bersua dengan-Nya, kekecewaan mereka apabila datang kepada mereka hari kiamat secara tiba-tiba, dan penyesalan mereka atas kelalaian mereka terhadap amal shalih serta perbuatan-perbuatan jahat yang pernah mereka lakukan. Hal ini digambarkan oleh firman-Nya:

hattaa idzaa jaa-atHumus saa’atu baghtatan qaaluu yaa has-ratanaa ‘alaa maa farrath-naa fiiHaa (“sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, ‘Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!’”) (Al-An’am: 31)

Damir yang terdapat pada lafaz fiiHaa dapat dirujukkan kepada kehidupan dunia, dapat dirujukkan kepada amal-amal saleh, dapat pula dirujukkan kepada hari akhirat, yakni perkara yang menyangkut hari akhirat (termasuk hari kiamat).

Firman Allah Swt.: wa Hum yahmiluuna auzaaraHum ‘alaa dhuHuuriHim, alaa saa-a maa yaziruun (“sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya, Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.”) (Al An’am: 31)

Yaziruna artinya apa yang mereka pikul. Menurut Qatadah adalah ‘apa yang mereka kerjakan’.

Ibnu Ab u Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Amr ibnu Qais, dari Abu Marzuq yang mengatakan bahwa orang kafir atau orang durhaka ketika keluar dari kuburnya disambut oleh seseorang yang rupanya sangat buruk dan baunya sangat busuk. Lalu ditanya, “Siapakah kamu?” Ia menjawab: “Apakah kamu tidak mengenalku?” Si kafir menjawab, “Tidak, demi Allah, hanya Allah telah memburukkan mukamu dan membusukkan baumu.” Lalu yang ditanya menjawab, “Aku adalah amal perbuatanmu, seperti inilah keadaanmu sewaktu di dunia, yaitu buruk dan busuk. Sekarang kemarilah kamu, aku akan menaikimu sebagai pembalasan selama engkau menaikiku sewaktu di dunia.” Yang demikian itu disebutkan dalam firman Allah Swt.:

Wa Hum yahmiluuna auzaaraHum ‘alaa dhuHuuriHim (“sambil mereka memikul dosa-dosa itu di atas punggungnya.”) (Al-An’am: 31), hingga akhir ayat.

Asbat telah meriwayatkan dari As-Saddi yang mengatakan bahwa tiada seorang zalim pun yang dimasukkan ke dalam kuburnya melainkan didatangi oleh seorang lelaki yang buruk wajahnya, hitam lagi busuk baunya dan memakai pakaian yang sangat kotor; lelaki itu masuk ke dalam kubur bersamanya. Apabila si zalim itu melihatnya, ia bertanya, “Mengapa wajahmu sangat buruk?” Dijawab, “Demikian pula amal perbuatanmu dahulu, buruk seperti aku.” l a bertanya, “Mengapa baumu sangat busuk?” Dijawab, “Demikian pula amal perbuatanmu dahulu, busuk seperti aku.” Ia bertanya, “Mengapa pakaianmu kotor? ” Dijawab: “Sesungguhnya amal perbuatanmu dahulu kotor.” Ia bertanya, “Siapakah kamu sebenarnya?” Dijawab, “Amal perbuatanmu.” Lalu ia bersamanya di dalam kuburnya. Apabila ia dibangkitkan pada hari kiamat, maka amalnya itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya dahulu ketika di dunia akulah yang menggendongmu dengan semua kelezatan dan nafsu syahwat, sekarang gantian engkaulah yang menggendongku.” Maka amalnya itu menaiki punggungnya , lalu orang tersebut digiring oleh amalnya hingga masuk ke dalam neraka. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:

wa Hum yahmiluuna auzaaraHum ‘alaa dhuHuuriHim, alaa saa-a maa yaziruun (“sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya, Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.”) (Al An’am: 31)

Firman Allah Swt.: wa mal hayaatud dun-yaa illaa la-‘ibuw wa laHwuw (“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau.”) (Al An’am: 32)

Artinya, sesungguhnya kehidupan dunia memang kebanyakan demikian.

Wa lad daarul aakhiratu khairul lilladziina yattaquun. Afalaa ta’qiluun (“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kalian memahaminya?”) (Al-An’am: 32)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 27-30

16 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 27-30“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,’ (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.’ Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya. Allah berfirman: ‘Bukankah (kebangkitan) ini benar?’ Mereka menjawab, ‘Sungguh benar, demi Tuhan kami.’ Allah berfirman, ‘Karena itu, rasakanlah azab ini disebabkan kalian mengingkari[nya].” (al-An’am: 27-30)

Allah Swt. menceritakan keadaan orang-orang kafir apabila mereka dihadapkan di neraka pada hari kiamat nanti. Mereka menyaksikan semua belenggu dan rantai yang ada di dalamnya serta melihat semua hal yang mengerikan dan menakutkan itu dengan mata kepala mereka sendiri. Maka pada saat itulah mereka berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Yaa laitanaa nuraddu wa laa nukadzdziba bi aayaati rabbinaa wa nakuuna minal mu’miniin (“Kiranya kami dikembalikan [ke dunia] dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”) (Al-An’am: 27)

Mereka berharap untuk dikembalikan lagi ke alam dunia, agar dapat mengerjakan amal saleh dan tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka lagi, serta akan menjadi orang-orang yang beriman. Allah Swt. berfirman:

Bal badaa laHum maa kaanuu yukhfuuna min qablu (“Tetapi [sebenarnya] telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya.”) (Al-An’am: 28)

Sebenarnya saat itu baru tampak jelas bagi mereka semua yang dahulu mereka sembunyikan di dalam diri mereka, yaitu berupa kekufuran, pendustaan, dan pengingkaran terhadap perkara yang hak, sekalipun ketika di dunia atau di akhirat mereka mengingkarinya; seperti yang baru disebutkan oleh firman-Nya sebelum ini, yaitu:

“Kemudian tiadalah fitnah mereka kecuali mengatakan, ‘Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.’ Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri.” (Al-An’am: 23-24)

Dapat pula diinterpretasikan bahwa saat itu baru tampak jelas semua yang dahulu mereka ketahui dalam hati mereka sendiri, yaitu kebenaran dari apa yang disampaikan kepada mereka oleh para rasul di dunia, sekalipun dahulu mereka menampakkan kepada para pengikutnya menentang hal itu. Perihalnya sama dengan firman Alllah Swt. ketika menceritakan perihal Nabi Musa a.s. yang berkata kepada Fir’aun:

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.” (Al-Isra: 102),
hingga akhir ayat.

Semakna pula dengan firman Allah Swt. yang menceritakan perihal Fir’aun dan kaumnya:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. (An-Naml: 14)

Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud dengan ‘mereka’ ialah orang-orang munafik, yaitu mereka yang menampakkan iman tetapi menyembunyikan kekufuran. Dengan demikian, berarti makna ayat ini merupakan pemberitaan tentang apa yang bakal terjadi di hari kiamat menyangkut perkataan orang-orang kafir. Pengertian ini sama sekali tidak bertentangan dengan keadaan surat ini sebagai surat Makkiyyah, sekalipun dikatakan bahwa sesungguhnya munafik itu hanya baru muncul dalam periode Madaniyyah yang dilakukan oleh sebagian penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang ada di sekitarnya. Tetapi Allah telah menyebutkan pula terjadinya nifaq (munafik) dalam surat Makkiyyah, yaitu surat Al-Ankabut. Allah Swt. telah berfirman:

“Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” (Al-Ankabut : 11)

Dengan demikian, berarti makna ayat ini (Al-An’am: 27) merupakan berita tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang munafik di akhirat nanti, yaitu di saat mereka menyaksikan azab. Maka saat itu tampak jelas rahasia yang dahulu mereka sembunyikan di dalam hati mereka, yaitu berupa kekufuran, kemunafikan, dan pertentangan.

Adapun mengenai makna idrab (tetapi) yang ada dalam firmanNya:

Bal badaa laHum maa kaanuu yukhfuuna min qablu (“Tetapi [sebenarnya] telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya.”) (Al-An’am: 28)

Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali meminta untuk dikembalikan ke dunia karena ingin dan suka kepada iman, melainkan semata-mata karena takut kepada azab yang mereka saksikan yang merupakan pembalasan dari apa yang dahulu mereka perbuat, yaitu kekafiran mereka. Untuk itulah mereka minta kembali ke dunia agar bebas dari kengerian pemandangan neraka yang mereka saksikan itu. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

“Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.” (Al-An’am: 28)

Yakni dalam permintaan mereka yang menginginkan agar dikembalikan ke dunia supaya mereka dapat beriman. Permintaan itu bukan didasari karena suka dan cinta kepada keimanan.

Kemudian Allah berfirman menceritakan perihal mereka, bahwa sekiranya mereka dikembalikan ke dalam kehidupan di dunia, niscaya mereka akan kembali mengulangi perbuatan yang mereka dilarang melakukannya, yaitu kekufuran dan menentang perkara yang hak.

Wa innaHum lakaadzibuun (“Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.”) (Al-An’am: 28)

Yaitu dalam penyesalan mereka yang disebutkan oleh firman-Nya: yaa laitanaa nuraddu wa laa nukadzdziba bi aayaati rabbinaa wa nakuuna minal mu’miniin (“Kiranya kami dikembalikan [ke dunia] dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”) (Al-An’am: 27)

Firman Allah Swt.: wa qaaluu in Hiya illaa hayaatunad dun-yaa wa maa nahnu bimab’uutsiin (“Dan tentu mereka akan mengatakan [pula], ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja,’”) (Al-An’am: 29)

Dengan kata lain, niscaya mereka akan kembali melakukan hal-hal yang mereka dilarang mengerjakannya; dan niscaya mereka akan mengatakan: in Hiya illaa hayaatunad dun-yaa wa (“‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.’”) (Al-An’am: 29) Artinya, kehidupan itu hanyalah di dunia saja, kemudian tidak ada hari berbangkit sesudahnya. Karena itu disebutkan dalam firman berikutnya:

maa nahnu bimab’uutsiin (“dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.”) (Al-An’am: 29)

Kemudian Allah Swt. berfirman: wa lau taraa idz wuqifuu ‘alaa rabbiHim (“Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya.”) (Al-An’am: 30)

Maksudnya, dihentikan di hadapan Tuhannya.

Qaala alaisa Haadzaa bilhaqqi (“Berfirman Allah, ‘Bukankah [kebangkitan] ini benar?’”) (Al An’am: 30)

Yakni bukankah hari berbangkit ini benar, bukan dusta seperti apa yang kalian duga sebelumnya?

Qaaluu balaa wa rabbinaa, qaala fadzuuqul ‘adzaaba bimaa kuntum takfuruun (“Mereka menjawab, ‘Sungguh benar, demi Tuhan kami.’ Allah Berfirman, ‘Karena itu, rasakanlah azab ini disebabkan kalian mengingkari [nya].’”) (Al-An’am: 30)

Karena dulu kalian tidak mempercayainya, maka pada hari ini rasakanlah azab itu. Lalu dikatakan kepada mereka:
“Maka apakah sihir itu? Ataukah kalian tidak melihat?” (Ath-Thuur: 15)

&