Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 40-45

17 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 40-45“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepada kalian, atau datang kepada kalian hari kiamat, apakah kalian menyeru (tuhan) selain Allah, jika kalian orang-orang
Yang benar.” (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kalian seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kalian berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kalian tinggalkan sembahan-sembahan yang kalian sekutukan (dengan Allah). Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’am: 40-45)

Allah Swt. menceritakan bahwa Dialah Yang Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki terhadap makhlukNya menurut apa yang Dia sukai. Tiada akibat bagi hukumNya, dan tidak ada seorang pun yang mampu memalingkan hukum-Nya terhadap makhluk-Nya,bahkan Dialah semata yang tiada sekutu bagiNya. Apabila diminta, maka Dia memperkenankan terhadap orang yang dikehendakiNya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Qul ara-aitakum in ataakum ‘adzaabullaaHi au atatkumus saa’atu (“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika dalang siksaan Allah kepada kalian, atau datang kepada kalian hari kiamat )” (Al An’am: 40)

Yakni datang kepada kalian ini atau yang itu.

A ghairallaaHi tad’uuna in kuntum shaadiqiin (“apakah kalian menyeru [tuhan] selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.”) (Al An’am: 40)

Artinya janganlah kalian menyeru kepada, selain Allah, karena kalian mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menghilangkan hal itu selain Dia sendiri. Karena itulah dalam akhir ayat disebutkan:

In kuntum shaadiqiin (“jika kalian orang-orang yang benar.”) (Al An’am: 40)

Yaitu dalam pengambilan kalian selain Allah sebagai tuhan-tuhan kalian.

Bal iyyaaHu tad’uuna fa yaksyifu tad’uuna ilaiHi insyaa-a wa tansauna maa tusyrikuun (“[Tidak], tetapi hanya Dialah yang kalian seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kalian berdoa kepadaNya, jika Dia menghendaki, dan kalian tinggalkan sembahan-sembahan yang kalian sekutukan [dengan Allah].”) (Al An’am: 41)

Maksudnya, dalam keadaan darurat kalian tidak menyeru siapa pun selain Allah, dan lenyaplah dari pikiran kalian berhala-berhala dan sembahan-sembahan kalian. Ayat ini semakna dengan firman Allah Swt.:

“Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kalian seru, kecuali Dia (Al-Isra: 67), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Swt.: wa laqad arsalnaa ilaa umamim min qablika fa akhadznaaHum bil ba’saa-i (“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus [rasul-rasul] kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan [menimpakan] kesengsaraan.”) (Al An’am: 42) Yakni kemiskinan dan kesempitan dalam hidup.

Wadl dlarrraa-i (“dan kemelaratan.”) (Al An’am: 42) Yaitu penyakit dan hal-hal yang menyakitkan.

La’allaHum yadlarra’uun (“supaya mereka bermohon [kepada Allah] dengan tunduk merendahkan diri.”) (Al An’am: 42) Maknanya adalah meminta kepada Allah, merendahkan diri kepada-Nya dengan penuh rasa khusyuk.

Allah Swt. berfirman: fa lau laa idz jaa-aHum ba’sunaa tadlarra’uun (“Maka mengapa mereka tidak memohon [kepada Allah] dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka.”) (Al An’am: 43)

Artinya, mengapa manakala Kami uji mereka dengan hal tersebut, mereka tidak memohon kepada Kami dengan tunduk merendahkan diri dan mendekatkan diri kepada Kami ?

Wa laa kin qasat quluubuHum (“bahkan hati mereka telah menjadi keras.”) (Al An’am: 43)
Yakni hatinya keras membangkang dan tidak dapat khusyuk.

Wa zayyana laHumusy syaithaanu maa kaanuu ya’maluun (“dan setan pun menampakkan kepada mereka keindahan apa yang selalu mereka kerjakan.”) (Al An’am: 43)
Yaitu kemusyrikan, keingkaran, dan perbuatan-perbuatan maksiat.

Fa lammaa nasuu maa dzukkiruu biHii (“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka.”) (Al An’am: 44)
Maksudnya mereka berpaling dari peringatan itu dan melupakannya serta menjadikannya terbuang di belakang punggung mereka.

Fatahnaa ‘alaiHim abwaaba kulli syai-in (“Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka.”) (Al-An’am: 44)
Yakni Kami bukakan bagi mereka semua pintu rezeki dari segala jenis yang mereka pilih. Hal itu merupakan istidraj dari Allah buat mereka dan sebagai pemenuhan terhadap apa yang mereka inginkan, kami berlindung kepada Allah dari tipu muslihat-Nya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Hattaa idzaa farihuu bimaa uutuu (“sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka.”) (Al An’am: 44)
Yakni berupa harta benda yang berlimpah, anak yang banyak, dan rezeki melimpah ruah.

akhadznaaHum baghtatan (“Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong.”) (Al An’am: 44)
Yaitu di saat mereka sedang lalai.

Fa idzaa Hum mublisuun (“maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”) (Al An’am: 44)
Artinya putus harapan dari semua kebaikan.

Al-Walibi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-mublis artinya orang yang putus asa.
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Barang siapa yang diberi keluasan oleh Allah, lalu ia tidak memandang bahwa hal itu merupakan ujian baginya, maka dia adalah orang yang tidak mempunyai pandangan. Dan barang siapa yang disempitkan oleh Allah, lalu ia tidak memandang bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Allah, maka dia adalah orang yang tidak mempunyai pandangna.” Kemudian Al-Hasan al-Basri membacakan firmanNya [yang artinya]:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al-An’am: 44)

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Kaum itu telah teperdaya. Demi Tuhan [Pemilik] Ka’bah, mereka diberi, kemudian disiksa.” Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Qatadah mengatakan bahwa siksaan yang menimpa suatu kaum secara tiba-tiba merupakan urusan Allah. Dan tidak sekali-kali Allah menyiksa suatu kaum melainkan di saat mereka tidak menyadarinya dan dalam ke ada an lalai serta sedang tenggelam di dalam kesenangannya. Karena itu janganlah kalian teperdaya oleh ujian Allah, karena sesungguhnya tidaklah teperdaya oleh ujian Allah kecuali hanya kaum yang fasik (durhaka). Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Malik telah meriwayatkan dari Az-Zuhri sehubungan dengan makna firman-Nya:
Fatahnaa ‘alaiHim abwaaba kulli syai-in (“Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka.”) (Al-An’am: 44) Bahwa makna yang dimaksud ialah kemakmuran dan kesenangan duniawi.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Rasyidin (yakni Ibnu Sa’d alias Abui Hajjaj Al Muhri) , dari Harmalah ibnu Imran At-Tajibi, dari Uqbah ibnu Muslim, dari Uqbah ibnu Amir , dari Nabi Saw. yang telah
bersabda:

“Apabila kamu lihat Allah memberikan kesenangan duniawi kepada seorang hamba yang gemar berbuat maksiat terhadap-Nya sesuka hatinya, maka sesungguhnya hal itu adalah istidraj [membinasakannya secara perlahanlahan].”
Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firmanNya:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al-An’am: 44)

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Harmalah dan Ibnu Luhai’ah, dari Uqbah ibnu Muslim, dari Uqbah ibnu Amir dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Irak ibnu Khalid ibnu Yazid, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ibrahim ibnu Abu Ablah, dari Ubadah ibnus Samit, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Apabila Allah menghendaki kelestarian atau kemakmuran suatu kaum, maka Dia memberi mereka rezeki berupa sifat ekonomis dan memelihara kehormatan. Dan apabila Dia menghendaki perpecahan suatu kaum, maka Dia membukakan bagi mereka atau dibukakan untuk mereka pintu khianat. ‘Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.’ (Al An’am: 44).”

Seperti apa yang disebutkan oleh firman selanjutnya: faquthi’a daabirul qaumil ladziina dhalamuu, walhamdu lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”) (Al An’am: 45)

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahma d dan lain-lainnya.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: