Arsip | 01.11

Minuman Penghuni Neraka

22 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Sesungguhnya diantara azab yang paling besar bagi para penghuni neraka adala rasa dahaga yang sangat dan kebutuhan mereka akan air. Hal ini untuk meredakan panas di dalam perut mereka setelah memakan buah zaqqum dan dlarii’.

Betapa besar kebutuhan manusia [di dunia ini] terhadap air. Manusia dapat lebih tahan dan lebih sabar terhadap makanan daripada kebutuhannya terhadap air. Bisa jadi manusia dapat hidup lebih dari satu bulan tanpa makanan, tetapi ketika tidak mendapatkan air, bisa jadi manusia hanya bisa bertahan dalam lima atau tujuh hari. Kita semua telah mencoba menahan rasa dahaga, khususnya pada bulan Ramadlan yang tiba pada musim panas. Bahkan ada juga seorang dari kita yang memakan makanan berat dan berlemak, tetapi masih saja membutuhkan air.

Lalu bagaimana dengan orang yang memakan buah zaqqum dan dlarii’ yang mendidih dalam perut pada hari kiamat di dalam neraka? berapa banyak air yang dibutuhkannya? Oleh karena itu Allah menerangkan kepada kita bagaimana para penghuni neraka meminta pertolongan kepada para penghuni surga untuk memberikan air yang oleh Allah berikan kepada ahli surga.

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: ‘Limpahkanlah kepada Kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.’ mereka (penghuni surga) menjawab: ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,’” (al-A’raaf: 50)

Maksud ayat di atas adalah Allah mengharamkan air dan makanan itu [yang telah diberikan kepada penduduk surga] atas orang-orang yang kafir. Padahal keadaan orang-orang yang beriman sangat bertolak belakang dengan penghuni neraka, sebagaimana firman Allah tentang penghuni surga.

“Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian, mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,” (al-Waaqi’ah: 14-18)

“Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (al-Insaan: 15-17)

Dari perbedaan yang sangat jauh ini [atau katakanlah tidak dapat dibandingkan antara tempat penghuni surga dan penghuni neraka]. Allah berfirman dalam ayat lain yang menerangkan perbedaan antara siapa yang dilemparkan ke neraka, makanannya [zaqqum], dan minumannya [hamim]. Begitu juga bagi orang yang datang dengan keimanan dan akan menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya, makanan yang lezat berasal dari daging burung dan minumannya dengan gelas bening, seperti kaca yang terbuat dari campuran jahe dan kafur.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari kami. Maka Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fushshilat: 40)

Lalu bagaimana dengan minuman penghuni neraka ? apakah mereka ditolong jika meminta pertolongan? Bagaimana pula mereka memadamkan panasnya api yang mendidih dalam perut mereka, setelah memakan zaqqum dan dlarii’? Allah swt juga berfirman untuk membandingkan perbedaan antara minumman penghuni surga dan neraka:

“(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (Muhammad: 15)

Orang-orang beriman meminum dari sungai-sungai yang menyegarkan bagi peminumnya, bahkan mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Tuhan mereka. sedangkan orang-orang kafir kekal di dalam neraka. jika mereka meminum air, diberikanlah kepada mereka air yang mendidih yang dapat memutuskan usus karena sangat panasnya. Air itu masuk dari mulut mereka untuk memadamkan atau meredakan gejolak zaqqum dan dlarii’. Namun air itu tidak dapat meredakannya, bahkan memutus usus mereka dan merobek-robeknya.

Dalam Hasyiyah ash-Shawiy dan Tafsir al-Qurthubi disebutkan tentang penafsiran ayat di atas.

“Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka” maknanya apakah sama dengan orang yang kekal dalam neraka jahim? Kalimat tanya disini sebagai pengingkaran. Maknanya, perbedaan antara orang yang berada dalam kenikmata [surga] dan orang yang kekal dalam neraka jahim.

“Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong” maknanya gelas [tempat minum] yang indah milik penghuni surga dituangi air yang segar, sedangkan yang berada dalam neraka diberi minum yang sangat panas sehingga dapat memotong usus. Menurut para mufasir, air itu mencapai derajat didih yang sangat tinggi. Jika didekatkan kepada mereka, wajah dan bagian kepala mereka dapat terbakar. Jika diminum, air itu dapat memutus usus sehingga keluar dari dubur mereka.

Dalam ensiklopedi al-Qur’an, para mufasir menafsirkan ayat “Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberikan minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong?” bahwa penghuni surga itu tidaklah sama dengan kelompok yang kekal dalam neraka, yang diberi minum dengan minuman yang sangat panas dan dapat memotong usus mereka. maksudnya, apakah sama antara penghuni surga [yang mempunyai banyak kenikmatan] dan penghuni neraka yang kekal di dalamnya? Jawabannya sangat jelas. Tidak sama antara keduanya.

“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai [bagi penjaga yang mengawasi isi neraka] lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan Sesungguh- sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. karena itu rasakanlah. dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” (an-Naba’: 21-30)

Ayat di atas merupakan ayat yang menerangkan keadaan penghuni neraka di dalam neraka. betapa mengerikan apa yang akan mereka dapatkan dalam neraka itu. Kalimat di dalam ayat tersebut merupakan peringatan keras bagi orang-orang kafir, musyrik, munafik dan yang melampaui batas. Neraka jahanam adalah tempat mereka kembali. mereka kekal di dalamnya. Mereka tidak mendapatkan minuman yang menyegarkan, tidak merasakan selain api neraka, dan tidak minum kecuali hamim dan ghassaq. Itulah balasan yang adil bagi mereka karena mereka tidak meyakini akan kembali kepada Rabb mereka, kemudian dihisab atas perbuatan dan kekafiran mereka. bahkan mereka mendustakan ayat-ayat Allah swt, padahal segala yang mereka perbuat di dunia tidak lepas dari catatan yang ada dalam kitab. Oleh karena itu, mereka dibiarkan merasakan adzab [neraka] dan setiap kali mereka merasakannya, Allah justru akan menambahkan adzab-Nya.

“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab” ayat ini ditujukan kepada penghuni neraka dan tidak akan ditemui oleh penghuni surga. Sebagai perbandingan, Allah swt juga menyebutkan kenikmatan yang diperoleh penghuni surga dalam surah Qaaf: 35 yang artinya: “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.” Maksudnya, para penghuni surga itu akan memperoleh apa yang mereka kehendaki atau apa yang mereka minta dari berbagai kenikmatan, termasuk berbagai minuman atau selain yang mereka harapkan. Di sisi Allah swt, mereka justru akan diberi tambahan kenikmatan. Lain halnya dengan penghuni neraka, Allah justru akan menambahkan adzab neraka, hamim, ghassaq dan kehinaan.

Penafsiran ayat di atas dalam Shafwah at-Tafasir, menurut ash-Shabuni.

Makna kalimat “Sungguh, [neraka] jahanam itu [sebagai] tempat pengintai [bagi penjaga yang mengawasi isi neraka” dengan neraka itu menunggu para penghuninya, yaitu orang-orang kafir. Penantian neraka itu diibaratkan dengan pengintaian seseorang terhadap musuhnya agar sewaktu-waktu dapat mengetahuinya.

Para mufasir berpendapat, makna “mirshaad” adalah tempat pengintaian musuh. Jadi neraka jahanam itu mengintai musuh-musuh Allah untuk diadzab dengan api-Nya. oleh karena itu, ia menunggu dan melongok untuk melihat orang-orang kafir yang lewat, yang akan disambar dan dimasukkan ke dalamnya.

“Menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas” tempat kembali atau rumah bagi orang-orang yang melampaui batas dan berbuat dosa.

“Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama”: orang-orang kafir itu akan menempati dan tetap di dalam neraka berabad-abad lamanya dan tidak berakhir. Kata “ahqaabaa” maksudnya ungkapan masa yang tidak pernah habis. Sedangkan menurut al-Qurthubi, mereka akan tetap berada dalam neraka selama masih ada masa. Padahal masa di akhirat itu tidak pernah habis. Adapun menurut ar-Rabi’ dan Qatadah, masa ini tidak akan pernah berhenti atau terputus.

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak [pula mendapat] menuman”: para penghuni neraka itu tidak pernah merasakan dingin atau surutnya panas api neraka serta tidak mendapatkan minuman yang dapat menghilangkan dahaga mereka.

“Selain air yang mendidih dan nanah”: selain air yang sangat panas, yang derajatnya melampaui derajat didih dan nanah bercampur darah yang mengalir dari kulit penghuni neraka.

“Sebagai balasan yang setimpal”: Allah swt mengadzab mereka sebagai balasan yang setimpat dengan perbuatan jahat mereka.

“Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan”: mereka tidak yakin dengan adanya hisab, balasan, dan pertemuan dengan Allah. Oleh karena itu, Allah swt memberikan balasan yang setimpal atau adil tersebut.

“Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami” mereka mendustakan ayat-ayat Allah swt yang menunjukkan adanya hari kebangkitan dan ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan.

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab [buku catatan amal manusia]” segala perbuatan dosa mereka telah dicatat dalam suatu kitab agar Allah swt memberikan balasannya.

“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab”: wahai orang-orang kafir, rasakanlah adzab Allah swt karena Dia tidak akan menambah kepada kalian selain adzab yang pedih. Para mufasir berpendapat bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang lebih keras daripada ayat itu. Setiap kali mereka meminta pertolongan dari adzab itu, Allah swt justru menambahkannya dengan adzab yang lebih keras.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan tenang penafsiran ayat tersebut.

Makna kalimat: “Sungguh, [neraka] jahanam itu [sebagai] tempat pengintai [bagi penjaga yang mengawasi isi neraka]”: tempat pengintaian yang disediakan.

“Menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas”: bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan menentang para Rasul.

“Tempat kembali”: tempat tinggal orang-orang kafir. Hasan dan Qatadah berpendapat bahwa seseorang tidak akan masuk surga hingga neraka meminta identitas kepadanya. Jika ia memiliki identitas itu, ia selamat. Namun jika ia tidak memilikinya maka ia terpenjara di dalam neraka.

“Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama.” : orang-orang kafir itu tinggal di dalam neraka dalam masa yang lama [ahqaba]. Ahqaba adalah bentuk jamak dari huqbin, yang berarti batas masa dari suatu zaman. Para ulama berbeda pendapat tentang batasan masa atau lamanya mereka berada di dalam neraka.

Ibnu Jarir menukil pendapat Ali bin Abi Thalib ra, yang berkata kepada Hilal al-Hijriy, “Apa yang kalian ketahui tentang huqb di dalam firman Allah swt yang diturunkan?” Hilal al-Hijriy menjawab, “Kami mendapatkannya delapan puluh tahun. Satu tahun dua belas bulan, setiap bulan ada tiga puluh hari, sedangkan satu hari sama dengan seribu tahun.”

Adapun menurut Hasan dan as-Sudi, satu huqb sama dengan tujuh puluh tahun. Lain halnya dengan pendapat Abdullah bin Amr. Ia berpendapat bahwa satu huqb itu ada empat puluh tahun. Satu harinya sama dengan seribu tahun dalam hitungan manusia.

Basyir bin Ka’ab juga berpendapat bahwa satu huqb sama dengan tiga ratus enam puluh hari, sedangkan satu harinya sama dengan seribu tahun.
Menurut as-Sudi, orang-orang kafir itu berada di neraka selama 700 huqb. Setiap huqb ada 70 tahun, sedangkan satu tahun ada 360 hari, padahal satu hari sama dengan 1000 tahun dalam hitungan manusia.

Khalid bin Mi’dan berpendapat bahwa makna huqb [masa] di sini sebagaimana maksud ayat “Kecuali Tuhanmu menghendaki” untuk orang-orang yang termasuk ahli tauhid.

Ibnu Jarir berpendapat, yang benar adalah tidak terbatas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Salim ketika mendengar Hasan ditanya tentang ayat “Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama”). Kemudian Hasan menjawab bahwa huqb tidak memiliki batas waktu. Jadi orang-orang kafir itu tetap tinggal kekal di dalam neraka. meskipun demikian para mufasir menyebutkan bahwa satu huqb itu sama dengan 70 tahun, sedangkan satu harinya sama dengan 1000 tahun dalam hitungan manusia.

Menurut Qatadah, batas waktu itu tidak diketahui oleh siapapun selain Allah swt. akan tetapi disebutkan pula bahwa satu huqb itu sama dengan 80 tahun. Satu tahun sama dengan 360 hari, sedangkan satu hari sama dengan 1000 tahun dalam hitungan manusia.

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak [pula mendapat minuman]” orang-orang kafir tidak mendapatkan kesejukan hati di dalam neraka, tidak pula air yang baik untuk menghilangkan dahaga.

“Selain air yang mendidih dan nanah” menurut Abu al-‘Aliyah, Allah swt mengecualikan hamim dan ghassaq dari sifat dingin. Sedangkan menurut ar-Rabi’ bin Anas, hamim itu sangat panas dan derajat panasnya sudah habis. Adapun ghassaq adalah kumpulan darah, nanah, keringat, air mata, dan bekas luka penghuni neraka. ghassaq ini sangat dingin dan busuk baunya.

“Sebagai balasan yang setimpal” itulah yang menjadi siksa mereka, sesuai dengan amal perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia.

“Sungguh dahulu mereka tidak pernah mengharapkan penghitungan” mereka tidak percaya bahwa di kemudian hari akan ada tempat pembalasan dan penghitungan [terhadap amal mereka]

“Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami” mereka mendustakan sebagai argumen, alasan, atau ayat-ayat Allah atas ciptaan-Nya yang diturunkan kepada para Rasul-Nya, bahkan mereka menentangnya.

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab [buku catatan amal manusia]” Allah swt mengetahui apa yang dikerjakan oleh manusia. Allah swt mencatat amal perbuatan mereka dalam suatu kitab untuk memberikan balasan kepada manusia. Jika amal itu baik, niscaya akan dibalas dengan kebaikan. Jika amal itu buruk, Allah swt juga akan membalasnya dengan keburukan.

“Maka karena itu, rasakanlah ! maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab.” Dikatakan kepada penghuni neraka, “Rasakanlah oleh kalian apa yang kalian dapatkan di dalamnya. Sesungguhnya Allah swt tidak akan menambah bagi mereka kecuali adzab yang sejenis atau bentuk yang serupa itu.” Menurut Qatadah, tidak ada ayat al-Qur’an yang lebih keras dari ayat ini karena adzab mereka di dalam neraka akan selalu bertambah.

“Dan mereka memohon diberi kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang Berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, di hadapannya ada Jahannam dan Dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnnya air nanah itu dan hampir Dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi Dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.” (Ibrahim: 15-17)

“Dan mereka memohon diberi kemenangan”: menurut Ibnu Abbas dan Qatadah berarti para Rasul memohon kemenangan dan perlindungan kepada Allah swt atas kaum mereka.

“Dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala.” Sewenang-wenang terhadap diri mereka sendiri dan menentang kebenaran, sebagaimana firman Allah swt dalam surah Qaaf: 24-25:
“[Allah berfirman]: ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka jahanam, semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas dan bersikap ragu-ragu.”

Diriwayatkan bahwa ada hadits yang menyebutkan: “Sesungguhnya pada hari kiamat akan didatangkan neraka. maka setiap makhuk saling memanggil. Kemudian kamu [neraka] mengatakan, ‘Aku diwakilkan bagi segenap orang yang berbuat sewenang-wenang dan menentang [kebenaran].’”

Di hadapan [wara’] berarti depan sebagaimana firman Allah yang artinya: “…. karena di hadapan mereka ada seorang raja yang menumpas setiap perahu.” (al-Kahfi: 79)

Menurut Ibnu Abbas, ayat ini maknanya adalah di belakang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang lagi menentang kebenaran itu ada neraka jahanam. Neraka yang mempunyai tempat pengintai itulah tempat tinggal mereka pada hari kiamat kelak. Neraka itu diperlihatkan kepada mereka, setiap pagi dan sore hingga hari yang ditentukan.

“Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah; di dalam neraka itu tidak akan mendapatkan minuman, kecuali hamim dan ghassaaq, sebagaimana yang akan diterangkan.

Menurut Mujahid, kata “shadid” pada ayat tersebut adalah nanah yang bercampur darah. Sedangkan menurut Qatadah “shadid” adalah apa yang mengalir dari daging dan kulitnya. Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan juga bahwa “shadid” adalah sesuatu yang keluar dari dalam perut orang kafir yang telah bercampur dengan darah dan nanah. Dalam hadits dari Sahr bin Hausyah dari Asma binti Yazid bin As-Sakan mengatakan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah itu thinatul khabal ?” Beliau menjawab, “Nanah penghuni neraka.” Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Ampas penghuni neraka.”

“Dia akan diberi minuman dengan air nanah”: menyebabkan tercekat di kerongkongan atua meminumnya seteguk demi seteguk. Jika tidak, ia akan dipukul oleh malaikat penjaga neraka dengan palu dari besi, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Hajj ayat 21, “….dan bagi mereka palu dari besi…”

“Dia hampir tidak bisa menelannya”: ia tidak bisa menelan karena jeleknya minuman itu, begitu pula dengan warna, bau, panas atau dinginnya yang sangat.

“Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segala penjuru”: seluruh tubuh orang kafir merasa sakit, baik tulang, urat saraf maupun keringat. Ikrimah juga menambahkan hingga ujung rambutnya.

Menurut Ibnu Abbas, jenis azab yang diberikan Allah swt pada hari kiamat di neraka akan mengakibatkan kematian, tetapi penghuni neraka tidak dapat mati karena Allah swt. telah berfirman dalam QS Fathir: 36: “Mereka tidak dibinasakan [sehingga mereka mati] dan tidak [pula] diringankan dari mereka azabnya…”

Makna dari penafsiran Ibnu Abbas tersebut bahwa segala bentuk azab di neraka yang diberikan Allah swt itu telah dikehendaki agar tidak mematikan orang yang diazabnya. Hal ini dimaksudkan agar kekal menerima azab. Oleh karena itu dalam ayat berikutnya disebutkan: “Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati.”

“Dan di hadapannya [masih ada azab yang berat”: setelah keadaan mereka demikian, akan ada azab lain lagi yang lebih berat, yang menyakitkan urat syaraf. Dan itulah sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam surat ash-Shaffat: 66-68: “

“Maka Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, Maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah Makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian Sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.”

Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa terkadang penghuni neraka itu memakan buah zaqqum, terkadang minum air yang sangat panas [hamim], dan terkadang pula dikembalikan ke neraka jahim. Begitulah Allah juga berfirman dalam surat ad-Dukhan: 43-46:

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang Amat panas.”

“Inilah (azab neraka), Biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS Shaad: 57-58)

Masih banyak lagi ayat lain yang menerangkan bermacam-macam azab bagi orang-orang kafir, baik bentuk maupun jenisnya. Tidak dapat menghitungnya kecuali Allah. Dan itulah balasan setimpal bagi mereka. sesungguhnya Allah itu tidak berbuat dhalim kepada hamba-Nya.

Dalam kitab at-Takhwif min an-Naar, karya Rajab al-Hanbali disebutkan tentang perincian jenis minuman penghuni neraka, yang dibagi menjadi empat macam, setelah menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan minuman penghuni neraka.

“Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.” (al-Waaqi’ah: 54)

“dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS Muhammad: 15)

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah,” (an-Naba’: 24-25)

“Inilah (azab neraka), Biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (Shaad: 57-58)

“di hadapannya ada Jahannam dan Dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnnya air nanah itu dan hampir Dia tidak bisa menelannya …” (QS Ibrahim: 16-17)

“… dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

“diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.” (al-Ghasyiyah: 5)

2. HAMIM

Abdullah bin Isa al-Kharraz berkata dari Daud dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, “Hamim adalah panas yang membakar.” Sedangkan menurut Hasan dan as-Suddi, adalah panas yang panasnya mencapai panas yang paling puncak. Adapun menurut pendapat Juwaibir dari adh-Dhahhak adalah air yang mendidih, sejak penciptaan langit dan bumi hingga air itu disiramkan kepada orang-orang kafir, yang dituangkan ke atas kepala mereka. dan menurut Ibnu Wahab dari Ibnu Zaid adalah air mata penghuni neraka yang dikumpulkan dalam kolam mereka, lalu disiramkan kepada orang-orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam surat ar-Rahman: 44: “Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih.”

Muhammad bin Ka’ab berkata: “hamiiman, berarti air yang yang panas yang ada sekarang.” Pendapat ini ditentang oleh jumhur ulama karena menurut mereka yang dimaksud dengan hamiiman adalah air panas yang panasnya mencapai puncak.

Adapun menurut Syubaib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan hamiiman adalah air mendidih dan derajat didihnya telah mencapai titik didih yang paling panas.

Sa’id bin Basyir juga berpendapat dari Qatadah bahwa hamiiman adalah air yang masaknya paling matang, sejak penciptaan langit dan bumi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ghasyiyah: 5, “Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.”

Menurut Mujahid adalah air yang panasnya paling puncak, sedangkan meminumnya mengakibatkan kebinasaan.

Hasan berkata: “Jika orang Arab mengatakan sesuatu itu habis panasnya, berarti tidak ada lagi yang lebih panas darinya. Jadi maksud dari hamiiman adalah air yang paling panas, sebagaimana dalam ayat: “Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.”
Ia menambahkan bahwa Allah swt. telah menyalakan neraka jahanam sejak diciptakannya, sedangkan panas apinya merupakan panas yang paling puncak dan orang-orang kafir akan didorong ke dalamnya dengan cakar-cakar besi.

2. GHASSAAQ

Menurut Ibnu Abbas, ghassaaq adalah sesutu yang mengalir di antara kulit dan daging orang-orang kafir. Ia menambahkan, ghassaaq juga berarti angin yang sangat dingin, tetapi dapat membakar.

Abdullah bin Amr ra. berkata, “Ghassaaq adalah nanah yang kental. Jika setetes saja dituangkan di barat, tentu penduduk timur akan mencium bau busuknya. Jika dituangkan di timur, pasti penduduk di barat akan mencium bau busuknya.”

Menurut Mujahid, ghassaaq adalah sesutu yang tidak bisa dirasakan karena sifatnya yang sangat dingin. Adapun menurut Athiyah, ghassaaq adalah apa yang tertumpah pada kulit orang-orang kafir atau yang mengalir dari kulit mereka.

Ka’ab berpendapat bahwa ghassaaq adalah sumber air yang mengalir kepadanya setiap sumber air panas yang di dalamnya terdapat ular dan kalajengking. Lalu ia berendam di dalamnya, kemudian diberi sifat kemanusiaan. Kemudian ia menyelah di dalamnya, lalu keluar, sedangkan kulit dan dagingnya telah terlepas dari tulangnya. Dengan demikian, kulit dan dagingnya bergantung pada mata kaki dan tumit, sebagaimana seseorang yang melepas bajunya.

Adapun menurut as-Suddi, ghassaaq adalah yang mengalir dari mata dan air mata orang-orang kafir, yang dituangkan bersama hamiim [air yang sangat panas].

Diraj meriwayatkan dari Abu al-Haitsam dari Abu Sa’ad bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika satu ember ghassaaq [nanah] ditumpahkan di dunia, niscaya penduduk dunia akan menjadi bangkai [busuk].” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Hakim)

Bilal bin Sa’ad berkata: “Jika satu ember ghassaaq diletakkan dibumi, niscaya akan mati siapa saja yang ada di atasnya.” Ia juga menambahkan, “Jika setetes dari ghassaaq itu tumpah di bumi, niscaya akan menjadi bangkai [busuk] siapa saja yang ada di atasnya.” (HR Abu Nu’aim)

Ibnu Abbas dan Mujahid menerangkan bahwa yang dimaksud ghassaaq dalam riwayat Bilal tersebut adalah air yang sangat dingin. Sedangkan yang menunjukkan terhadap pengertian ini adalah firman Allah:

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah,” (an-Naba’: 24-25)

Dalam ayat ini ada istisna’ [pengecualian] dari kesejukan, yaitu ghassaaq dan istisna’ dari minuman, yaitu hamiim.

Dikatakan pula bahwa ghassaaq adalah yang dingin dan berbau busuk. Kata ini bukan dari bahasa Arab, tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu dari ghasaqa-yaghsiqu, dan ghasiq berarti malam. Lalu dinamakan ghasiqan karena dinginnya.

3. SHADIID

Menurut Mujahid, shadiid adalah nanah dan darah. Sedangkan menurut Qatadah, shadiid adalah sesuatu yang mengalir di antara daging dan kulit orang kafir. Lalu ia berkata, “Apakah dengan azab ini kalian mempunyai dua tangan ataukah kalian dapat bersabar atau menahan azab ini ?” sesungguhnya taat kepada Allah swt itu lebih mudah bagi kalian. Maka taatilah Allah swt dan Rasul-Nya.”

Imam Ahmad dan Turmudzi menerangkan maksud hadits dari Abi Umamah tentang ayat “Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diteguk-teguknya [air nanah itu]”, yaitu didekatkan ke mulutnya [orang kafir] tetapi mereka tidak suka. Jika telah dekat dengannya, wajahnya menjadi hangus dan kepalanya menunduk. Apabila diminum, ia akan memutuskan ususnya sehingga keluar dari duburnya.

Abu Yahya al-Qatar meriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa mereka merupakan lembah dari nanah, yang kemudian dituangkan ke dalam mulut orang kafir atau menciduknya dengan gayung.

Jabir meriwayatkan dalam shahih Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berjanji, barangsiapa yang minum minuman memabukkan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari tinah al-khabal.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, apa itu thinal al-khabal ?” Beliau menjawab, “Keringat penghuni neraka atau ampas penghuni neraka.”

Dalam kitab shahih Imam Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. dari Rasulullah saw. tentang hadits yang sama dengan hadits di atas. Dalam sebagian riwayat juga disebutkan, “Dari sumber air al-khabal.”

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dari Abdullah bin Amr ra. tentang hadits yang sama disebutkan, “Dari sungai al-khabal.” Dikatakan pula, “Ya Abdurrahman, apa itu sungai al-khabal?” Beliau menjawab, “Sungai dari nanah penghuni neraka.” disebutkan bahwa hadits ini hasan.

Masih dalam hadits yang serupa, Abu Daud juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Dari thinah al-khabal.” Dikatakan, “Ya Rasulallah, apa itu thinah al-khabal?” Beliau menjawab, “Nanah penghuni neraka.”

Dalam riwayat yang sama disebutkan, “Sesuatu yang keluar dari angin yang berbau busuk milik penghuni neraka dan nanahnya.” Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Abu Dzar dari Asma Yazid dengan makna yang sama.

Dalam kitab shahih Imam Ahmad dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Musa bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang meninggal, sedangkan ia peminum khamr, niscaya Allah akan memberinya minum dari sungai ghuthah.” Dikatakan kepada beliau, “Apa itu ghuthah?” Beliau menjawab, “Sungai yang mengalir dari kemaluan perempuan pezina, yang bau busuknya mengazab penghuni neraka.”

Dalam hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya, dari Rasulullah saw. juga disebutkan tentang orang-orang yang sombong, “Mereka diberi minuman dari ampas penghuni neraka, yaitu thinah al-khabal.”

4. MUHL

Imam Ahmad dan Turmudzi meriwayatkan hadits Darij dari Abu al-Haitsam dan Abu Sa’id yang menafsirkan tentang muhl, “Seperti mendidihnya minyak. Jika didekatkan ke wajahnya [penghuni neraka], niscaya bagian pangkal kepalanya akan jatuh ke dalamnya.”

‘Athiyah mengatakan bahwa Ibnu Abbas ditanya tentang pengertian muhl, lalu ia menjawab, “Endapan minyak.”

Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, “Hitam seperti endapan minyak.” Sa’id bin Jubair dan yang lain juga berpendapat sama.

Adh-Dhahhak mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud melelehkan tembaga dari baitul mal, lalu membawanya ke orang-orang yang ada di masjid seraya berkata, “Barangsiapa yang hendak mengetahui muhl, hendaknya melihat kemari.”

Menurut Mujahid, muhl adalah nanah dan darah, hitam seperti minyak yang mendidih.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya barat dijadikan dari hamim neraka, lalu di tengahnya dijadikan bumi, niscaya bau busuk dan panasnya akan menyiksa dan menyakiti yang ada di antara barat dan timur.” (HR Thabrani)

Dalam Mau’idhah al-Auza’i disebutkan bahwa Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Seandainya sebagian dari minuman neraka itu dituangkan pada air di bumi, niscaya rasanya akan membunuh [penduduk bumi].”

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 70

22 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 70“Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. mereka Itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (al-An’aam: 70)

Allah berfirman: wa dzaril ladziinat takhadzuu diinaHum la’ibaw wa laHwaw wa gharratHumul hayaatud dun-yaa (“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.”)

Artinya, tinggalkanlah dan berpalinglah dari mereka dan berilah tangguh kepada mereka barang sejenak, karena sesungguhnya mereka akan menuju ke adzab yang sangat dahsyat. Oleh karena itu Allah berfirman: wa dzakkir biHii (“Peringatkanlah [mereka] dengan al-Qur’an itu”) maksudnya peringatkanlah manusia dengan al-Qur’an ini, serta suruhlah mereka supaya berhati-hati terhadap siksaan dan adzab-Nya yang sangat pedih pada hari kiamat kelak.

An tubsala nafsum bimaa kasabat (“Agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatannya sendiri.”) maksudnya agar tidak terjerumus.

Adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, al-Hasan, dan as-Suddi: “Tubsala berarti diserahkan.” Al-Walibi mengatakan: “[Maknanya adalah] ditahan.” Murrah dan Ibnu Zaid mengatakan: “[Maknanya adalah] disiksa.” Semua makna ini berdekatan dan kesimpulannya adalah penjerumusan diri pada kebinasaan.

Laisa laHaa min duunillaaHi waliyyuw walaa syafii’ (“Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak [pula] pemberi syafaat selain daripada Allah.”) maksudnya tidak ada kerabat dekat atau orang lain yang dapat memberi syafaat kepadanya.

Wa in ta’dil kulla ‘adlil laa yu’khadz minHaa (“Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima itu darinya.”) maksudnya, meskipun ia mengorbankan seluruh pengorbanan [usaha], niscaya tidak akan diterima.

Ulaa-ikal ladziina ublisuu bimaa kasabuu laHum syaraabum min hamiimiw wa ‘adzaabun aliimum bimaa kaanuu yakfuruun (“Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka [disediakan] minuman dari air yang mendidih dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 66-69

22 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 66-69“66. dan kaummu mendustakannya (azab) Padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: ‘Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu.’ 67. untuk Setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui. 68. dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). 69. dan tidak ada pertanggungjawaban sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa.” (al-An’aam: 66-69)

Allah berfirman: wa kadzdzaba biHii (“Dan mendustakannya”) maksudnya mendustakan al-Qur’an yang engkau bawa kepada mereka, juga petunjuk dan penjelasan. Qaumuka (“kaummu”) yaitu kaum Quraisy. Wa Huwal haqqu (“padahal al-Qur’an itu benar adanya”) yakni tidak ada kebenaran yang lain selainnya.

Qul lastu ‘alaikum biwakiil (“Katakanlah: ‘Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu.’”) maksudnya aku tidak bertugas menjaga kalian dan tidak pula diserahi untuk mengurusi urusan kalian. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin [beriman], hendaknya ia beriman. Dan barangsiapa yang ingin [kafir], biarlah ia kafir.’” (al-Kahfi: 29)

Artinya, tugasku tidak lain hanyalah menyampaikan, sementara kalian berkewajiban mendengar dan mentaatinya. Barangsiapa yang mengikutiku, ia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menentangku, ia akan sengsara di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu Allah berfirman: likulli naba-im mustaqarra (“Untuk tiap-tiap berita yang [dibawa oleh para Rasul-rasul] ada [waktu] terjadinya.”)

Ibnu Abbas dan juga ulama lainnya mengatakan: “Maksudnya setiap berita itu mempunyai kenyataan. Dengan kata lain, setiap berita itu pasti ada saat terjadinya meskipun setelah beberapa saat lamanya. Sebagaimana Allah berfirman: wa lata’lamunna naba-aHuu ba’da hiinin (“Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui [kebenaran] berita al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi.”) (Shaad: 88)

Yang demikian itu merupakan ancaman dan peringatan yang keras. Oleh karena itu setelah itu Allah berfirman: wa saufa ta’lamuun (“Dan kelak kamu akan mengetahui.”)

Wa idaa ra-aital ladziina yakhuudluuna fii aayaatinaa (“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami.”) yaitu dengan cara mendustakannya dan menghinakannya. Fa a’ridl ‘anHum hattaa yakhuudluu fii hadiitsin ghairiHi (“Maka tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.”)

Maksudnya hingga mereka membicarakan hal lain selain pembicaraan yang di dalamnya terdapat kedustaan.

Wa immaa yunsiyannakasy syaithaanu (“dan jika syaitan menjadikanmu lupa”) yang dimaksud dalam hal ini adalah supaya setiap individu dari umat ini tidak bergaul dengan para pendusta yang mengubah ayat-ayat Allah dan meletakkannya tidak pada tempatnya, dan jika ada salah seorang di antara mereka duduk bersama mereka karena lupa:

Falaa taq’ud ba’dadz dzikraa ma’al qaumidh dhaalimiin (“Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dhalim itu sesudah teringat [akan larang itu].”) oleh karena itu dalam hadits disebutkan:

“Dimaafkan atas umatku kekeliruan, kelupaan, dan apa saja yang dipaksakan kepadanya.” (an-Nawawi mengatakan: “Hadits ini berstatus hasan.” Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula hadits ini.)

Ayat inilah yang diisyaratkan pada firman Allah yang artinya:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (an-Nisaa’: 140)

Firman-Nya: wa maa ‘alal ladziina yattaquuna min hisaabiHim min syai-in (“Dan tidak ada pertanggungan jawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka.”) maksudnya jika kalian menjauhi mereka dan tidak duduk bersama mereka dalam hal itu, berarti kalian telah bebas dari mereka dan selamat dari dosa-dosa mereka.

Ulama lain berpendapat: “Bahkan maknanya adalah, meskipun orang Muslim duduk bersama mereka, maka tidak ada tanggung jawab mereka atas hisab orang-orang tersebut sama sekali.” Ulama yang berpendapat seperti itu mengira bahwa hal itu di-mansukh [dihapus] oleh ayat dalam surat an-Nisaa’ yang merupakan surat Madaniyyah, yaitu firman Allah: innakum idzam mitsluHum (“Karena sesungguhnya [kalau kamu berbuat demikian], tentulah kamu serupa dengan mereka.”)

Mujahid, as-Suddi, Ibnu Juraij, dan lainnya mengatakan: “Berdasarkan pendapat mereka itu, maka firman Allah: wa laakin dzikraa la’allaHum yattaquun (“Akan tetapi [kewajiban mereka adalah] mengingatkan agar mereka betaqwa.”) maksudnya ialah, tetapi Kami menyuruh kalian untuk berpaling dari mereka pada saat itu sebagai peringatan bagi mereka atas apa yang mereka lakukan, dengan harapan semoga mereka menjauhi hal tersebut dan tidak mengulanginya.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 63-65

22 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 63-65“63. Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan Kami dari (bencana) ini, tentulah Kami menjadi orang-orang yang bersyukur.’’ 64. Katakanlah: ‘Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.’ 65. Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (al-An’am: 63-65)

Allah berfirman mengingatkan akan berbagai nikmat kepada hamba-hamba-Nya berupa penyelamatan yang Allah lakukan terhadap orang-orang yang dalam kesulitan dari kegelapan daratan dan lautan, yaitu orang-orang yang sedang dalam keadaan bingung yang terjerumus dalam rintangan darat dan yang terperangkap ombak lautan ketika angin kencang bertiup.

Pada saat itulah mereka mengkonsentrasikan doa hanya kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. yang demikian itu adalah sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia.” (al-Israa’: 67)

Adapun dalam surat al-An’am Allah berfirman:
Qul may yunajjiikum min dhulumaatil barri wal bahri tad’uunaHu tadlurru’aw wa khufyatan (“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara yang lembut.”) yaitu dengan suara lantang dan juga secara sembunyi-sembunyi.

Lain anjaanaa (“Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami”) yaitu dari kesempitan ini. Lanakuunanna minasy syaakiriin (“Tentu kami menjadi orang-orang yang bersyukur”) maksudnya, setelah kejadian itu.

Allah berfirman: qulillaaHu yunajjiikum minHaa wa min kulli karbin tsumma antum (“katakanlah: ‘Allah menyelamatkanmu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu,’”) maksudnya setelah itu; tusyrikuun (“kembali mempersekutukan-Nya”) maksudnya, kalian menyeru kepada ilah-ilah selain Allah pada saat kalian dalam keadaan senang.

Qul Huwal qaadiru ‘alaa ay yab’atsa ‘alaikum ‘adzaabam min qaumikum au min tahti arjulikum (“Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atasmu atau dari bawah kakimu.’”)

Ketika Allah berfirman: tsumma antum tusyrikuun (“kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya”) Allah mengiringkannya dengan firman-Nya: Qul Huwal qaadiru ‘alaa ay yab’atsa ‘alaikum ‘adzaaban (“Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu,”) yaitu setelah penyelamatan yang Allah lakukan terhadap kalian.

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari al-Hasan mengenai firman-Nya: Qul Huwal qaadiru ‘alaa ay yab’atsa ‘alaikum ‘adzaabam min fauqikum au min tahti arjulikum (“Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atasmu atau dari bawah kakimu.’”) ia mengatakan: “Hal itu adalah untuk orang-orang musyrik.”

Sedangkan Ibnu Nujaih mengatakan dari Mujahid mengenai firman-Nya ini, ia mengatakan: “Yaitu bagi umat Muhammad saw, tetapi Allah telah mengampuni mereka.”

Dalam pembahasan ayat ini kami menyebutkan beberapa hadits dan atsar yang berkenaan dengan hal tersebut.

Imam al-Bukhari mengatakan mengenai firman Allah: Qul Huwal qaadiru ‘alaa ay yab’atsa ‘alaikum ‘adzaabam min fauqikum au min tahti arjulikum au yalbisakum syiya’aw wa yudziiqa ba’dlakum ba’sa ba’dlin. Undhur kaifa nusharriful aayaati la’allaHum yafqaHuun (“Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atasmu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkanmu dalam golongan-golongan [yang saling bertentangan] dan merasakan kepada sebagianmu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami[nya].’”)

Kata “yalbisakum” berarti mencampuradukkan kalian. Berasal dari kata “al iltibaasu” [campur aduk]. Kata “yalbasuu” bermakna yakhlathuu [mereka mencampur aduk]. Adapun “syiya’an” bermakna firqah-firqah [golongan-golongan].

Abu Nu’man memberitahu kami, Hammad bin Zaid memberitahu kami, dari ‘Amr bin Dinar, dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata: “Ketika turun ayat ini: Qul Huwal qaadiru ‘alaa ay yab’atsa ‘alaikum ‘adzaabam min fauqikum (“Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atasmu”) Rasulullah saw. bersabda: ‘Aku berlindung kepada Wajah-Mu,’ au min tahti arjulikum (“atau dari bawah kakimu.”) au yalbisakum syiya’aw wa yudziiqa ba’dlakum ba’sa ba’dlin (“atau Dia mencampurkanmu dalam golongan-golongan [yang saling bertentangan] dan merasakan kepada sebagianmu keganasan sebagian yang lain.”) Maka Rasulullah saw. berkata: ‘Hal ini adalah yang paling ringan –atau paling mudah-.’”

(Imam an-Nasa-i meriwayatkan pula hadits ini dalam bab “at-Tafsiir” juga Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

(Hadits lainnya) Imam Ahmad mengatakan dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya: “Kami berangkat bersama Rasulullah saw. hingga kami melewati Masjid Bani Mu’awiyah, lalu beliau masuk dan mengerjakan shalat dua rakaat, dan kamipun mengerjakan shalat bersama beliau. Kemudian beliau bermunajat kepada Rabbnya dalam waktu yang lama. Setelah itu beliau bersabda:

“Sesungguhnya aku meminta tiga hal kepada Rabbku; aku memohon kepada-Nya agar umatku tidak dibinasakan dengan tenggelam, maka Allah mengabulkannya untukku. Aku juga memohon kepada-Nya agar umatku tidak dibinasakan dengan kelaparan [musim kemarau], maka Allah pun mengabulkannya untukku. Dan aku meminta kepada Allah agar Dia tidak menjadikan keganasan di antara sesama mereka, lalu Allah menolaknya.”
(Hadit tersebut hanya diriwayatkan oleh Muslim).

Firman-nya: ‘adzaabam mim fauqikum (“adzab dari atasmu”) yaitu berupa rajam [lemparan]. Au min tahti arjulikum (“atau dari bawah kakimu”) yaitu terbenam ke dalam bumi. Inilah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Firman-nya: au yalbisakum syiya’an (“atau Dia mencampurkanmu dalam golongan-golongan [yang saling bertentangan].”) maksudnya Allah menjadikan kalian dalam beberapa golongan dan firqah [kelompok] yang saling bertentangan.

Allah berfirman: wa yudziiqa ba’dlakum ba’sa ba’dlin (“dan merasakan kepada sebagianmu keganasan sebagian yang lain.”) Ibnu Abbas dan juga ulama lainnya mengatakan: “Yaitu Allah menguasakan sebagian kalian atas sebagian lainnya dengan menimpakan siksaan dan pembunuhan.”

Firman-Nya lebih lanjut: undhur kaifa nusharriful aayaati (“perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti.”) maksudnya, Kami menerangkannya, menjelaskannya, dan menafsirkannya.
La’allaHum yafqaHuun (“agar mereka memahami”) maksudnya, [agar] mereka memahami dan merenungkan ayat-ayat, hujjah-hujjah, dan bukti-butki Allah Ta’ala.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 60-62

22 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 60-62“60. dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. 61. dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. 62. kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaanNya. dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (al-An’am: 60-62)

Allah berfirman bahwasannya Allah lah yang mematikan hamba-hamba-Nya dalam tidur mereka pada malam hari. Dan itulah yang dimaksud dengan kematian kecil. Dalam ayat ini telah disebutkan dua kematian; kematian besar dan kematian kecil.

Allah berfirman: wa Huwal ladzii yatawaffaakum bil laili wa ya’lamu maa jarahtum bin naHaari (“Dan Dia lah yang menidurkanmu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari.”)

Maksudnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kalimat ini merupakan kalimat sisipan yang menunjukkan peliputan ilmu Allah terhadap semua makhluk-Nya pada malam dan siang hari, baik pada saat mereka sedang diam maupun dalam keadaan bergerak.

Tsumma yab’atsukum fiiHi (“Kemudian Allah membangunkanmu padanya”) maksudnya membangunkan kalian pada siang hari. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, dan as-Suddi.

Liyuqdlaa ajalum musammaa (“Untuk disempurnakan umurmu yang telah ditentukan”) yang dimaksud adalah ajal [umur] setiap individu umat manusia.

Tsumma ilaiHi marji’ukum (“kemudian kepada Allah lah tempat kamu kembali”) yakni pada hari kiamat. Tsumma yunabbi-ukum (“lalu Allah memberitahukan kepadamu”) maksudnya mengabarkan kepada kalian. Bimaa kuntum ta’maluun (“apa yang dahulu kamu kerjakan”) maksudnya, dan Allah akan memberikan balasan kepada kalian atas hal itu. Jika baik akan mendapat balasan kebaikan, dan jika buruk akan memperoleh keburukan pula.

Wa Huwal qaaHiru fauqa ‘ibaadiHi (“Dan Dia lah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya”) maksudnya Allah lah yang menguasai segala sesuatu dan yang karena keagungan, kemuliaan, dan kebesaran-Nya, segala sesuatu tunduk kepada-Nya.

Wa yursilu ‘alaikum hafadhatan (“dan diutusnya kepadamu Malaikat-malaikat penjaga”) yaitu para malaikat yang menjaga badan manusia. Sebagaimana firman-Nya yang artinya:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (ar-Ra’d: 11)
“Padahal sesungguhnya bagimu ada [malaikat-malaikat] yang mengawasi [pekerjaanmu].” (al-Infithaar: 10)

hattaa idzaa jaa-a ahadakumul mautu (“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu.”) maksudnya datang kematian dan ajalnya. tawaffatHu rusulunaa (“ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami”) yaitu malaikat-malaikat yang diberi tugas melakukan hal itu.

Ibnu ‘Abbas dan ulama lain mengatakan: “Malaikat maut itu mempunyai beberapa pembantu dari kalangan para Malaikat yang mengeluarkan ruh dari jasad, lalu malaikat Maut mencabutnya jika sudah sampai di tenggorokan.” Dalam menafsirkan firman Allah yang artinya: “Allah meneguhkan [iman] orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu.” (QS Ibrahim: 27). Akan dikemukakan beberapa hadits berkenaan dengan hal itu yang menjadi penguat terhadap masalah ini, yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan beberapa ulama lainnya dengan riwayat yang shahih.

Firman Allah: wa Hum laa yufarrithuun (“Dan Malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”) maksudnya dalam menjaga ruh orang-orang yang sudah meninggal dunia, bahkan mereka senantiasa menjaganya dan menempatkannya dimana saja dikehendaki oleh Allah. Jika ruh itu termasuk golongan yang berbuat baik, maka ia diletakkan di ‘illiyyiin dan jika ruh itu termasuk golongan berbuat jahat maka ditempatkan di Sijjiin, [kita berlindung kepada Allah dari hal itu].

Tsumma rudduu ilallaaHi maulaa Humul haqqi (“Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya.”) Ibnu Jarir mengatakan, “Mengenai firman-Nya: tsumma rudduu (“Kemudian mereka dikembalikan”) yakni para malaikat, ilallaaHi maulaa Humul haqqi (“kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya.”)

Mungkin juga yang dimaksud pada firman-Nya: tsumma rudduu (“Kemudian mereka dikembalikan”) adalah makhluk secara keseluruhan, yang dikembalikan kepada Allah pada hari kiamat kelak, lalu Allah memberikan keputusan kepada mereka dengan adil. Sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian benar-benar akan dikumpulkan pada waktu tertentu pada hari yang dikenal.’” (al-Waaqi’ah: 49-50) oleh karena itu Allah berfirman:

Maulaa Humul haqqi alaa laHul hukmu wa Huwa asra’ul haasibiin (“Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum [pada hari itu] kepunyaan-Nya. Dan Allah-lah Pembuat perhitungan yang paling cepat.”)

&