Arsip | 01.03

Kekekalan Siksa Penghuni Neraka

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dalam tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa siksa pelaku maksiat dari kalangan orang-orang yang beriman beserta hadits-hadits Rasulullah saw. yang berkenaan dengan ini. Jika pelaku maksiat dari orang yang beriman keluar dari neraka setelah mendapatkan siksa atas dosa-dosa yang mereka perbuat, tetaplah penghuni neraka kekal didalamnya. Tingkatan-tingkatan mereka juga berbeda-beda, sesuai dengan kadar kekufuran, kesyirikan, maksiat, dosa dan kekejian mereka.

Para penghuni surga juga bermacam-macam tingkatannya berdasarkan iman, taqwa dan apa yang mereka lakukan di dunia berupa taat, ibadah, ilmu serta melayani masyarakat dan umat Islam secara umum. Amal-amal baik menaikkan tingkat atau derajat. Begitu juga neraka yang mempunyai tingkat-tingkatan, sebagian berada di bawah sebagian yang lain. Al-Qur’an dan al-hadits telah menjelaskan hal ini.

Dari Samurah bin Jundab ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Di antara mereka yang diambil oleh neraka hingga kedua mata kakinya, di antara mereka yang diambil oleh neraka hingga kedua lututnya, di antara mereka diambil oleh neraka hingga tengah [tubuhnya], dan di antara mereka yang diambil oleh neraka hingga tulang selangkangnya.” (HR Muslim)

Dari Abu Sa’id ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya siksa penghuni neraka yang paling ringan adalah seseorang yang memakai dua sendal dari api yang otaknya mendidih karena kedua sendal ini walaupun siksa neraka cukup dengan ini. Di antara mereka ada yang sampai kedua lututnya walaupun siksa neraka cukup dengani ini. Di antara mereka di neraka ada yang sampai ujung hidungnya walaupun siksa neraka cukup dengan ini. Di antara mereka ada yang sampai dadanya walaupun siksa neraka cukup dengan ini, dan di antara mereka ada yang seluruh tubuhnya disiksa dengan api.” (HR Imam Ahmad dalam Musnad)

Dari an-Nu’man bin Buysair ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya siksa penghuni neraka yang paling ringan adalah orang yang mempunyai dua sendal dandua talinya dari api yang membuat otaknya mendidih, seperti ketel mendidih. Dia tidak melihat seseorang yang lebih hebat siksaannya daripada dia, sesungguhnya itu adalah siksa yang paling ringan.” (HR Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya siksa penghuni neraka yang paling ringan adalah orang yang memakai dua sendal dari neraka, otaknya mendidih karena panas dua sendalnya.” (HR Muslim)

Dari al-Abbas bin Abdul Muthalib ra. ia berkata, “Wahai Rasulallah, apakah engkau memberikan manfaat kepada Abu Thalib karena sesungguhnya ia telah melindungimu dan marah karenamu.” Beliau bersabda, “Ya, dia berada di bagian yang dangkal dari neraka. Jika bukan karena aku, niscaya dia berada di tingkatan paling dasar dalam neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. dari Nabi saw. bahwa Abu Thalib disebutkan di sisi beliau, lalu beliau bersabda, “Barangkali syafaatku memberikan manfaat untuknya pada hari kiamat, lalu dia ditempatkan di perairan api yang dangkal yang mencapai kedua mata kakinya hingga otaknya mendidih dibuatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, dia memakai dua sendal dari neraka yang otaknya mendidih dibuatnya.”

&

Pakaian Penghuni Neraka

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Penghuni surga mempunyai pakaian dari sutra tipis dan tebal serta berhiaskan giwang dari emas dan permata, sangat berbeda dengan pakaian yang dimiliki oleh penghuni nereka. Pakaian penghuni surga adalah pakaian kenikmatan, sedangkan pakaian penghuni neraka adalah pakaian kesengsaraan.

“…maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api neraka untuk mereka….” (al-Hajj: 19)

Jika membaca ayat ini, Ibrahim at-Taimiy mengucapkan, “Mahasuci Yang Menciptakan pakaian dari api.” Ibnu Abbas juga berkata, “Orang-orang kafir dibuatkan pakaian dari api, bahkan qaba’ [jenis pakaian], baju, dan kummah [songkok atau kopyah yang bulat]. Mahasuci Allah swt yang tidak dilemahkan oleh sesuatu, baik di bumi, langit, surga, maupun neraka.

Allah berfirman tentang penghuni surga:

“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah: 17)

Orang-orang kafir tidak mengetahui apa yang Allah sembunyikan bagi mereka dari berbagai macam azab yang lama, bahkan kekekalan mereka di neraka.

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), ‘Rasailah azab yang membakar ini.’” (al-Hajj: 19-22)

Penjelasan makna kalimat:

“Dua golongan”: dua kelompok yang saling bertengkar atau bermusuhan, yaitu kelompok orang-orang mukmin yang bertakwa dan kelompok orang-orang kafir yang banyak dosa.

“Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka”: Berbeda dan berselisih tentang Allah swt. dan agama. Menurut Mujahid, dua kelompok itu adalah orang-orang mukmin dan kafir. Orang-orang mukmin akan menolong agama Allah, sedangkan orang-orang kafir akan berusaha memadamkan cahaya Allah [menentang agama-Nya].

“Maka orang-orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api [neraka] untuk mereka”: pakaian mereka dipotongkan dari api sesuai dengan ukuran badan mereka agar memakainya kembali ketika kembali ke neraka. menurut al-Qurthubi, api itu diserupakan dengan pakaian karena itulah pakaian mereka. makna dari quti’at adalah dijahit atau direbus. Penyebutan fi’il madhi di sini karena orang yang dijanjikan dengannya pasti akan terjadi.

“Ke atas mereka akan disiramkan air yang sedang mendidih”: dituangkan ke atas mereka air yang sangat panas yang mendidih dengan api neraka.

“Dengan [air mendidih] itu dihancur luluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka”: melelehkan apa yang ada di perut, termasuk usus, isi perut, dan kulit.

Ibnu Abbas berkata: “Jika setetes air itu terjatuh ke atas gunung, niscaya akan melelehkannya.” Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sesungguhnya hamim itu akan dituangkan ke atas kepala orang-orang kafir dan menembus tengkorak kepala hingga sampai ke perut, kemudian memotong-motong apa yang ada di dalamnya, lalu menembus hingga ke kedua kaki. Itulah air yang meleleh. Setelah itu mereka dikembalikan seperti semula, begitu seterusnya.” (HR Turmudzi). Dikatakan bahwa hadits ini hasan shahih gharib.

Imam al-Fakhr berkata, “Maksud dari dituangkan hamim di atas kepala mereka adalah pengaruhnya sampai ke dalam, sebagaimana pengaruhnya yang tampak di luar. Oleh karena itu, usus dan isi perut mereka meleleh, sebagaimana kulit mereka juga meleleh.

“Dan [azab] untuk mereka cambuk-cambuk dari besi”: bagi mereka [orang-orang kafir], palu dan cambuk dari besi. Palu dan besi ini dipakai untuk memukul dan menghalau mereka.

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Seandainya palu dari neraka itu diletakkan di bumi, niscaya akan terkumpul kepadanya semua isi perut bumi, bahkan sampai yang terkecil sekalipun.” (HR Ahmad)

“Setiap kali mereka hendak keluar darinya [neraka] karena tersiksa, mereka dikembalikan [lagi] ke dalamnya”: setiap kali penghuni neraka itu akan keluar dari neraka karena penderitaan yang mereka rasakan di dalamnya, mereka dikembalikan lagi ke dalam neraka.

Hasan berkata: “Neraka memukul penghuninya dengan lidah apinya sehingga ia sampai ke puncak. Ketika itulah ia dipukul dengan palu besi hingga jatuh lagi ke neraka dan baru akan sampai ke dasarnya setelah tujuh puluh tahun.”

“Rasakanlah azab yang membakar ini”: ungkapan ini ditujukan untuk penghuni neraka yang terbakar disebabkan apa yang telah mereka dustakan.

Ibnu Katsir menafsirkan surat al-Hajj ayat 19-22 sebagai berikut:

Dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar telah ditetapkan bahwa ayat (“Inilah dua golongan [golongan mukmin dan golongan kafir] yang bertengkar. Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka.”) ini turun berkenaan dengan Hamzah dan dua shahabatnya (Ubaidah dan Ali) serta ‘Utbah dan kedua sahabatnya (Syaibah dan Ali bin ‘Utbah) yang berselisih mengenai Tuhan mereka. peristiwa ini terjadi dalam Perang Badar.

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Thalib bahwa ia berkata, “Akulah orang yang pertama kali berlutut di hadapan Allah untuk berdebat pada hari kiamat.” Kemudian Qais berkata, “Ketika itulah turun ayat: (“Inilah dua golongan [golongan mukmin dan golongan kafir] yang bertengkar. Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka.”).

Maksudnya mereka yang keluar pada perang Badar adalah Ali, Hamzah, Ubaidah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.”

Menurut Qatadah, yang dimaksud ayat: (“Inilah dua golongan [golongan mukmin dan golongan kafir] yang bertengkar. Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka.”) adalah orang-orang muslim dan ahlil kitab. Ahli kitab berkata, “Nah, kami [diutus] sebelum nabi kalian dan kitab kami [diturunkan] sebelum kitab kalian. Jadi kami lebih utama daripada kalian.”

Orang-orang muslim pun berkata, “Kitab kami sebagai pelengkap dari seluruh kitab sebelumnya dan nabi kami merupakan penutup para nabi. Jadi kami lebih utama daripada kalian. Oleh karena itu Allah swt memenangkan Islam atas siapa saja yang memusuhinya.” Kemudian turunlah ayat tersebut.

Mujahid berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah orang kafir dan mukmin yang berselisih mengenai hari kebangkitan.

Lain halnya menurut Ikrimah, yang dimaksud ayat tersebut adalah surga dan neraka. neraka berkata, “Jadikanlah aku sebagai siksa.” Surga juga berkata, “Jadikanlah aku sebagai rahmat.”

Menurut Mujahid dan ‘Atha’, yang dimaksud ayat tersebut adalah orang-orang kafir dan mukmin, yang meliputi semua ucapannya, sebagaimana yang terjadi di dalam perang Badar. Orang-orang mukmin hendak menolong agama Allah, sedangkan orang-orang kafir hendak memadamkan cahaya iman dan mengalahkan kebenaran serta menyebarkan kebathilan.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Oleh karena itu, pada ayat berikutnya dikatakan: (“Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api [neraka] untuk mereka.”) maknanya mereka dibuatkan pakaian dari bagian api neraka. Sa’id bin Jubair berpendapat bahwa pakaian itu terbuat dari tembaga, yang panasnya melebihi dari yang lain jika meleleh.

“Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang sedang mendidih. Dengan [air mendidih] itu dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka.”): kepala mereka disiram dengan hamim, yaitu air mendidih yang sangat panas. Sa’id bin Jubair berpendapat, yaitu tembaga yang lebur sehingga melelehkan apa yang ada di perut, baik lemak maupun usus. Begitu juga dengan kulit.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya hamim itu akan dituangkan ke atas kepala orang-orang kafir dan menembus tengkorak kepala hingga sampai ke perut, kemudian memotong-motong apa yang ada di dalamnya, lalu menembus hingga ke kedua kaki. Itulah air yang meleleh. Setelah itu mereka dikembalikan seperti semula, begitu seterusnya.” (HR Ibnu Jarir, Turmudzi, dan Ibnu Abi Hatim) dikatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

Dalam rirwayat lain disebutkan, “Dan didatangi oleh malaikat Malik yang membawa bejana dengan dua pengapit besi [biasa digunakan untuk tukang pandai besi] karena panasnya. Jika didekatkan ke wajahnya [orang kafir], ia tidak menyukainya.” Kemudian ditambahkan, “Maka diangkatlah palu besi bersamanya [orang kafir], lalu dipukulkan ke kepalanya sehingga kosonglah otak dan tengkorak kepalanya, lalu sampai ke dalam perutnya.” Oleh karena itu dalam ayat berikutnya disebutkan:

(“Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang sedang mendidih. Dengan [air mendidih] itu dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka.”)

(“Dan [azab] untuk mereka cambuk-cambuk dari besi”) Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya palu dari besi itu diletakkan di bumi, niscaya akan berkumpul kepadanya isi perut bumi, bahkan yang terkecil sekalipun.” (HR Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudri)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya gunung dipukul dengan palu besi itu, pasti akan hancur luluh, kemudian dikembalikan seperti semula. Dan seandainya satu ember dari ghassaq ditumpahkan ke dunia, niscaya penduduk dunia akan busuk.” (HR Ahmad dalam Musnad)

Menurut Ibnu Abbas, orang-orang kafir tersebut dipukul dengan palu besi sehingga setiap anggota tubuhnya jatuh ke lembah. Oleh karena itu mereka meminta untuk dibinasakan.

(“Setiap kali mereka hendak keluar darinya [neraka] karena tersiksa, mereka dikembalikan [lagi] ke dalamnya.”) Sulaiman berpendapat bahwa neraka sangat gelap. Api dan baranya tidak bersinar menerangi. Sedangkan menurut Zaid bin Aslam, para penghuni neraka itu tidak bernafas. Fudhail bin Iyyad berkata, “Demi Allah, mereka tidak akan bisa keluar karena tangan dan kaki mereka terikat kuat. Mereka juga dilemparkan ke atas oleh apinya, lalu dikembalikan lagi dengan palu besinya.”

(“Rasakanlah azab yang membakar ini”) semakna dengan ayat (“Kepada mereka dikatakan: ‘Rasakanlah azab yang membakar ini.’”) maksudnya mereka dihinakan, baik secara perbuatan maupun perkataan.

Wa taral mujrimiina yauma-idzim muqarraniina fil ashfaad. saraabiiluHum min qathiraaniw wa taghsya wujuuHaHumun naar (“Dan pada hari itu engkau akan melihat orang yang berdosa bersama-sama diikat dengan belenggu. Pakaian mereka dari cairan aspal dan wajah mereka ditutup oleh api neraka.”)(QS. Ibrahim: 49-50)

Makna al-asfaad: tali besi [borgol] yang diletakkan di tangan.
saraabiiluHum: baju mereka atau pakaian mereka.
qathiraan: materi yang menyala-nyala atau ter yang meleleh.

Makna dua ayat di atas bahwa pada hari yang mengerikan itu orang-orang yang berdosa dan setan-setan mereka diikat dengan kuat dan dirantai. Menurut al-Qurthubi, tangan dan kaki mereka diikat ke lutut mereka dengan tali dari besi, yaitu belenggu dan rantai.

(“Pakaian mereka dari cairan aspal”): pakaian yang mereka kenakan terbuat dari ter yang meleleh, yaitu materi yang mudah terbakar. Ter biasa dioleskan pada unta yang berkudis agar kudisnya hilang karena panas dan kerasnya. Warna ter adalah hitam dan berbau tidak sedap.

(“Dan wajah mereka ditutup oleh api neraka”): wajah mereka terlingkup api. Inilah balasan atas tipu muslihat dan kesombongan mereka.

Dalam ensiklopedi al-Qur’an disebutkan bahwa pada hari kiamat, orang-orang kafir diikat dengan borgol, yaitu tali besi yang diikatkan di tangan dan kaki, sedangkan pakaian mereka terbuat dari ter [yang hitam dan berbau busuk]. Ter ini dioleskan pada wajah mereka sehingga tubuh mereka terbakar.

Hushain menukil pendapat Ikrimah tentang ayat: (“Pakaian mereka dari cairan aspal”), “Yaitu dari kuningan atau tembaga yang dituangkan dari atasnya. Sedangkan menurut Ma’mar dari Qatadah, pakaian itu terbuat dari tembaga. Dan menurut Ali bin Thalhah, menukil pendapat dari Ibnu Abbas, qathran adalah tembaga yang meleleh.

Dari Abu Malik al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada empat perkara yang tidak akan ditinggalkan oleh umatku, yaitu berbangga-bangga dengan leluhur, mencela dalam nasab [keturunan], meminta hujan dengan ramalan, dan meratapi mayat. Jika orang yang meratapi mayat tidak sempat bertobat sebelum ia meninggal, pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan pakaian yang terbuat dari ter dan baju besi dari karat.” (HR Muslim dalam kitab Shahih dan Ahmad dalam Musnad)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang meratapi mayat dan jika tidak sempat bertobat sebelum ia meninggal, pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan pakaian yang terbuat dari ter yang dipanaskan dan berpakaian dari nyala api neraka.” (HR Ibnu Majah)

&

MANUSIA TERAKHIR YANG KELUAR DARI NERAKA

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku mengetahui orang yang terakhir keluar dari neraka; seseorang yang keluar darinya dengan merangkak, lalu dikatakan kepadanya, ‘Berjalanlah dan masuklah ke surga.’”
Beliau bersabda, “Lalu ia pergi memasuki surga, dan menemukan manusia telah mengambil tempatnya masing-masing. Dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu ingat masa ketika kamu berada di dalamnya?’ Dia menjawab, ‘Ya,’ Dikatakan kepadanya, ‘Berangan-anganlah.’ Dia pun berangan-angan. Dikatakan kepadanya, ‘Kamu berhak atas apa yang kamu angankan dan sepuluh kali lipatnya.’ Lalu dia berkata, ‘Apakah Engkau menghina aku? Sedangkan Engkau adalah Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya terlihat.” (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui akhir penghuni neraka keluar darinya dan akhir penghuni surga masuk ke dalamnya; seseorang yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku menemukannya penuh.’ Allah swt berfirman, ‘Pergilah dan masuklah surga karena sesungguhnya bagimu seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya, atau bagimu seperti sepuluh kali lipat dunia.’ Dia berkata, ‘Apakah Engkau menghinaku? –atau mentertawakanku- sedangkan Engkau adalah Sang Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya tampak. Beliau bersabda, ‘Itu adalah tempat penghuni surga yang paling rendah.’” (HR Bukhari dan Muslim)

&

SIKSAAN BAGI PARA PELAKU MAKSIAT DAN DOSA BESAR DARI AHLI TAUHID

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Para penghuni neraka berbeda-beda dalam siksaan dan tempat, sesuai dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan, tindakan mereka dalam meninggalkan shalat, puasa, zakat dan haji, serta perbuatan dhalim terhadap para hamba dan memakan hak-hak mereka.

Mereka itu akan disiksa di dalam neraka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan. Allah swt. dan Rasulullah saw. tidak menyebutkan masa menetap di neraka bagi mereka. sebagian lama waktunya dan sebagian lagi pendek waktunya. Dan di antara keduanya terdapat banyak keadaan. Akan tetapi pada akhirnya mereka mendapat syafaat dalam perbedaan-perbedaan tersebut.

Dengan rahmat-Nya, Allah menghendaki ahli tauhid yang durhaka bisa keluar dari neraka. akan tetapi yang perlu kita ketahui adalah mereka disiksa di neraka, bahkan terkadang dengan siksaan yang keras. Sebagian mereka mendekam di dalamnya dalam waktu yang lama yang tidak diketahuinya kecuali Allah swt.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Penghuni neraka adalah penghuni yang ada di dalamnya, mereka tidak mati dan tidak hidup. Tetapi sebagian manusia ditimpa siksa karena dosa-dosa mereka [atau beliau berkata: “kesalahan-kesalahan mereka.”], lalu mereka dimatikan oleh kematian sehingga jika mereka telah menjadi arang maka syafaat diizinkan. Mereka didatangkan dalam kelompok-kelompok, dan disebarkan di atas sungai-sungai surga, kemudian dikatakan, “Wahai ahli surga, curahkanlah kepada mereka.” kemudian mereka tumbuh seperti biji-bijian padang pasir yang terbawa oleh banjir.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Abdillah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya [suatu] kaum keluar dari neraka, mereka terbakar di dalamnya, kecuali wajah-wajahnya berputar hingga masuk surga.” (HR Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad, lalu memasuki surga, mereka dijuluki al-Jahanamiyyin.” (HR Bukhari)

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka setelah dihanguskan olehnya, lalu memasuki surga dan ahli surga menjuluki mereka dengan jahannamiyyin.” (HR Bukhari)

Ahli surga menjuluki demikian, hal ini dikarenakan mereka barangkali keluar setelah lama di dalam neraka sehingga bekas atau tanda masih tampak pada mereka. Ahli surga menjuluki mereka demikian karena merekalah yang menyiramkan air surga kepada para bekas penghuni neraka setelah mereka keluar dari neraka.

Dari Jabir bin Abdillah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Kemudian datanglah syafaat, mereka disyafaati sehingga keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat seberat gandum kebaikan, lalu mereka ditempatkan di halaman surga dan ahli surga mencurahkan air kepada mereka hingga mereka tumbuh, seperti tumbuhnya sesuatu yang dibawa banjir dan hilanglah bekas-bekas api yang membakar, kemudian ia meminta hingga dijadikan baginya duniadan sepuluh kali lipat sepertinya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hingga apabila Allah telah selesai memberikan keputusan di antara manusia dan berkeinginan dengan rahmat-Nya mengeluarkan orang yang Dia inginkan dari ahli neraka. Dia memerintahkan kepada para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah dan atas rahmat-Nya dari orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah.’ Para malaikat mengenal mereka di neraka dengan bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak Adam kecuali bekas sujud. Allah mengharamkan atas neraka untuk memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka setelah terbakar, lalu air kehidupan dicurahkan kepada mereka dan tumbuhlah mereka, sebagaimana biji-bijian tumbuh di sepanjang aliran sungai.” (HR Muslim)

Lebih dari satu hadits menyebutkan bahwa Allah swt mengeluarkan dari neraka, orang yang dalam hatinya terdapat satu dinar atau setengah dinar iman, bahkan mengeluarkan kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali.

Dalam hadits Abu Said al-Khudri ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah memasukkan ahli surga ke surga, memasukkan orang yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, memasukkan ahli neraka ke neraka, kemudian berfirman, ‘Lihatlah orang yang kalian temukan di dalam hatinya seberat biji sawi iman, keluarkanlah.’” (HR Muslim)

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah.” (HR Muslim)

Macam-Macam Siksa Neraka Berdarakan Perbuatan yang Dilakukan

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Neraka ada beberapa macam –seperti yang telah dijelaskan di awal pembahasan- sebagiannya di bawah sebagian yang lain. Allah swt tidak mendhalimin seorang pun. Masing-masing penghuninya berada dalam tingkatan dan tempatnya berdasarkan kekafiran dan kesyirikannya, serta berdasarkan apa yang telah dilakukan kedua tangannya, baik berupa mendhalimi, menyakiti, merampas hak orang lain, maupun berdasarkan dosa, perbuatan keji dan mengikuti syahwat.

Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah pelaku maksiat dan dosa besar dari ahli tauhid, sedangkan yang paling besar siksaannya adalah orang-orang munafik karena mereka berada dalam tingkat yang paling bawah di neraka. di antara keduanya terdapat tingkatan-tingkatan yang akan dijelaskan di bagian lain.

PARA PELAKU MAKSIAT DAN DOSA BESAR DARI AHLI TAUHID

Para penghuni neraka berbeda-beda dalam siksaan dan tempat, sesuai dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan, tindakan mereka dalam meninggalkan shalat, puasa, zakat dan haji, serta perbuatan dhalim terhadap para hamba dan memakan hak-hak mereka.

Mereka itu akan disiksa di dalam neraka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan. Allah swt. dan Rasulullah saw. tidak menyebutkan masa menetap di neraka bagi mereka. sebagian lama waktunya dan sebagian lagi pendek waktunya. Dan di antara keduanya terdapat banyak keadaan. Akan tetapi pada akhirnya mereka mendapat syafaat dalam perbedaan-perbedaan tersebut.

Dengan rahmat-Nya, Allah menghendaki ahli tauhid yang durhaka bisa keluar dari neraka. akan tetapi yang perlu kita ketahui adalah mereka disiksa di neraka, bahkan terkadang dengan siksaan yang keras. Sebagian mereka mendekam di dalamnya dalam waktu yang lama yang tidak diketahuinya kecuali Allah swt.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Penghuni neraka adalah penghuni yang ada di dalamnya, mereka tidak mati dan tidak hidup. Tetapi sebagian manusia ditimpa siksa karena dosa-dosa mereka [atau beliau berkata: “kesalahan-kesalahan mereka.”], lalu mereka dimatikan oleh kematian sehingga jika mereka telah menjadi arang maka syafaat diizinkan. Mereka didatangkan dalam kelompok-kelompok, dan disebarkan di atas sungai-sungai surga, kemudian dikatakan, “Wahai ahli surga, curahkanlah kepada mereka.” kemudian mereka tumbuh seperti biji-bijian padang pasir yang terbawa oleh banjir.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Abdillah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya [suatu] kaum keluar dari neraka, mereka terbakar di dalamnya, kecuali wajah-wajahnya berputar hingga masuk surga.” (HR Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad, lalu memasuki surga, mereka dijuluki al-Jahanamiyyin.” (HR Bukhari)

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka setelah dihanguskan olehnya, lalu memasuki surga dan ahli surga menjuluki mereka dengan jahannamiyyin.” (HR Bukhari)

Ahli surga menjuluki demikian, hal ini dikarenakan mereka barangkali keluar setelah lama di dalam neraka sehingga bekas atau tanda masih tampak pada mereka. Ahli surga menjuluki mereka demikian karena merekalah yang menyiramkan air surga kepada para bekas penghuni neraka setelah mereka keluar dari neraka.

Dari Jabir bin Abdillah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Kemudian datanglah syafaat, mereka disyafaati sehingga keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat seberat gandum kebaikan, lalu mereka ditempatkan di halaman surga dan ahli surga mencurahkan air kepada mereka hingga mereka tumbuh, seperti tumbuhnya sesuatu yang dibawa banjir dan hilanglah bekas-bekas api yang membakar, kemudian ia meminta hingga dijadikan baginya duniadan sepuluh kali lipat sepertinya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hingga apabila Allah telah selesai memberikan keputusan di antara manusia dan berkeinginan dengan rahmat-Nya mengeluarkan orang yang Dia inginkan dari ahli neraka. Dia memerintahkan kepada para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah dan atas rahmat-Nya dari orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah.’ Para malaikat mengenal mereka di neraka dengan bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak Adam kecuali bekas sujud. Allah mengharamkan atas neraka untuk memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka setelah terbakar, lalu air kehidupan dicurahkan kepada mereka dan tumbuhlah mereka, sebagaimana biji-bijian tumbuh di sepanjang aliran sungai.” (HR Muslim)

Lebih dari satu hadits menyebutkan bahwa Allah swt mengeluarkan dari neraka, orang yang dalam hatinya terdapat satu dinar atau setengah dinar iman, bahkan mengeluarkan kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali.

Dalam hadits Abu Said al-Khudri ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah memasukkan ahli surga ke surga, memasukkan orang yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, memasukkan ahli neraka ke neraka, kemudian berfirman, ‘Lihatlah orang yang kalian temukan di dalam hatinya seberat biji sawi iman, keluarkanlah.’” (HR Muslim)

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah.” (HR Muslim)

MANUSIA TERAKHIR YANG KELUAR DARI NERAKA

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku mengetahui orang yang terakhir keluar dari neraka; seseorang yang keluar darinya dengan merangkak, lalu dikatakan kepadanya, ‘Berjalanlah dan masuklah ke surga.’”
Beliau bersabda, “Lalu ia pergi memasuki surga, dan menemukan manusia telah mengambil tempatnya masing-masing. Dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu ingat masa ketika kamu berada di dalamnya?’ Dia menjawab, ‘Ya,’ Dikatakan kepadanya, ‘Berangan-anganlah.’ Dia pun berangan-angan. Dikatakan kepadanya, ‘Kamu berhak atas apa yang kamu angankan dan sepuluh kali lipatnya.’ Lalu dia berkata, ‘Apakah Engkau menghina aku? Sedangkan Engkau adalah Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya terlihat.” (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui akhir penghuni neraka keluar darinya dan akhir penghuni surga masuk ke dalamnya; seseorang yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku menemukannya penuh.’ Allah swt berfirman, ‘Pergilah dan masuklah surga karena sesungguhnya bagimu seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya, atau bagimu seperti sepuluh kali lipat dunia.’ Dia berkata, ‘Apakah Engkau menghinaku? –atau mentertawakanku- sedangkan Engkau adalah Sang Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya tampak. Beliau bersabda, ‘Itu adalah tempat penghuni surga yang paling rendah.’” (HR Bukhari dan Muslim)

&

Ranjang Neraka, Tempat Tidur dan Naungannya

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt. menjadikan ranjang dari api bagi penghuni neraka yang terdiri dari orang-orang kafir, musyrik, dan munafik. Selain itu, Allah swt menjadikan naungan dari api di atas mereka yang asapnya sebagai penutup dan selimut. Dipan dan kelambu mereka juga terbuat dari api.

Tentang ahli surga, Allah berfirman:

“Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat [dipetik] dari dekat.” (ar-Rahmaan: 54)

“Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” (Ar-Rahmaan: 76)

“Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang tersedia [di dekatnya], dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghasyiyah: 13-16)

Adapun tentang naungan penghuni surga, Allah juga berfirman:

“… di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (an-Nisaa’: 57)

“Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.” (Yaasiin: 56)

“Dan naungan [pepohonan]nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik [buah]nya.” (al-Insaan: 14)

Lalu Allah berfirman tentang dipan penghuni neraka, sprei dan naungannya:

“… maka pantaslah baginya neraka jahanam. Dan sungguh [jahanam itu] tempat tinggal terburuk.” (al-Baqarah: 206)

“Katakanlah [wahai Muhammad] kepada orang-orang kafir: ‘Kamu [pasti] akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.’” (Ali Imraan: 12)

“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka adalah jahanam. [Jahanam] itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Ali Imraan: 197)

“…. orang-orang itu mendapat hisab [perhitungan] yang buruk dan tempat kediaman mereka jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (ar-Ra’d: 18)

“Beginilah [keadaan mereka]. Dan, sungguh, bagi orang-orang yang durhaka pasti [disediakan] tempat kembali yang buruk. [Yaitu] neraka jahanam yang mereka masuki maka itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Shaad: 55-56)

Adapun tentang selimut dan naungan penghuni neraka, Allah swt juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang zalim,” (al-A’raaf: 40-41)

“Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.’ ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” (az-Zumar: 15-16)

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat tersebut bahwa tempat tidur dari api itu adalah tempat tidurnya orang-orang kafir di dalam neraka. oleh karena itu Allah menyebutkan (“Dan sungguh [jahanam itu] tempat tinggal terburuk.”) hal ini disebutkan karena Allah swt Mahatahu bahwa dipan itu merupakan seburuk-buruk tempat bagi penghuni neraka.

Adapun ayat: (“Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut [api neraka]”) merupakan ungkapan ketika mereka dikepung oleh api dari segala penjuru.

(“Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka.”): mereka tidak dapat keluar dan istirahat serta lari ke sisi manapun karena di atas, bawah, kanan, dan kiri mereka terdapat api. Oleh karena itu kemanapun mereka bergerak api selalu mengepungnya. Sungguh neraka adalah perkara yang sangat besar, menakutkan, keras, dan tidak masuk akal kita [di dunia].

Bayangkan, kehidupan yang kekal dan api neraka yang mengepung orang-orang kafir dari segala sisi. Tidak ada rahmat dan tempat keluar, sedangkan azab mereka tidak mereda. Begitu pula dengan kehinaan, pukulan, rasa lapar dan dahaga, kerugian, penyesalan, tangis, air mata, dan teriakan mereka.

Oleh karena itu perhatikanlah ayat: (“Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya [dengan azab itu]. ‘Wahai hamba-hamba-Ku maka bertakwalah kepada-Ku.’”)

Allah menyebutkan api, azabnya, dipannya, selimutnya, dan naungannya hanyalah untuk menakut-nakuti para hamba-Nya, termasuk siksaan dan penderitaan yang ada di dalamnya. Dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas [mengancam], maksudnya peringatan itu harus diberikan agar manusia berhati-hati dan berfikir serta kembali ke jalan yang lurus.

Jika setelah ada peringatan itu manusia tidak kembali ke jalan-Nya, mereka itulah orang-orang yang telah hilang pendengaran dan akal fikiran mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah tentang para penghuni neraka pada hari kiamat, yaitu ketika mereka ditanya oleh para penjaga neraka, “Apakah belum datang kepada kalian kitab dan peringatan dari Allah?”

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya [dahulu] kami mendengarkan atau memikirkan [peringatan itu] tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’” (al-Mulk: 10)

Mereka telah menafikan [meniadakan] pendengaran dan akal fikiran mereka sendiri karena orang yang berakal dan berfikir, pasti akan bergetar dari kekafiran dan kemaksiatan mereka sehingga kembali ke jalan Allah swt. agar memperoleh keridlaan-Nya dan surga-Nya yang kekal.

Mahabenar Allah yang telah berfirman yang artinya:

“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang*, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.” (az-Zumar: 23)

*Maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih kuat pengaruhnya dan lebih meresap. sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa Maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 74-79

23 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 74-79“74. dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ 75. dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin. 76. ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku,’ tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam.’ 77. kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.’ 78. kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.’ Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: ‘Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. 79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.’” (al-An’aam: 74-79)

Adh-Dhahhak mengatakan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayah Ibrahim bukan bernama Aazar tetapi Tarakh. Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim. Adapun Ibnu Jarir menyebutkan: “Yang benar nama ayah Ibrahim adalah Aazar.”

Kemudian Ibnu Jarir menanggapi pendapat para ahli nasab yang menyatakan bahwa ayah Ibrahim bernama Tarakh, ia mengemukakan: “Mungkin saja ia mempunyai dua nama, sebagaimana yang dimiliki oleh banyak orang, atau mungkin salah satunya sebagai gelar.” Dan yang dikemukakannya tersebut bagus dan kuat. wallaaHu a’lam.

Maksud [dari ayat tersebut adalah], bahwasannya Ibrahim menasehati ayahnya tentang penyembahan yang dilakukannya terhadap berhala-berhala, mengingkari sekaligus melarangnya melakukan hal tersebut. Namun ayahnya tidak juga berhenti dari perbuatan tersebut, sebagaimana firman Allah:

Wa idz qaala ibraaHiimu li abiiHi aazara atat takhidzu ash-naaman aaliHatan (“Dan [ingatlah] di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai ilah-ilah?’”) Maksudnya, apakah engkau meng-ilah-kan berhala selain Allah?

Innii araaka wa qaumaka (“Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu”) yaitu orang-orang yang menempuh jalanmu.
Fii dlalaalim mubiin (“dalam kesesatan yang nyata”) maksudnya tersesat dan tidak mendapat petunjuk kemana mereka harus berjalan, bahkan mereka berada dalam kebingungan dan kebodohan, hal ini jelas bagi orang yang berakal sehat.

Maka Ibrahim memohonkan ampunan bagi ayahnya sepanjang hidupnya, dan ketika ayahnya mati dalam keadaan musyrik dan yang demikian itu diketahui Ibrahim secara jelas, maka ia menghentikan permohonan ampunan bagi ayahnya tersebut serta melepaskan diri darinya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya:

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.” (at-Taubah: 114)

Firman-Nya selanjutnya: wa kadzaalika nurii ibraaHiima malakutas samaawaati wal ardli (“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan [Kami yang terdapat] di langit dan di bumi.”)

Maksudnya Kami menjelaskan kepadanya sebagai bukti melalui pengamatan yang dilakukannya terhadap penciptaan langit dan bumi bahwa semua itu menunjukkan keesaan Allah swt. dalam kekuasaan dan penciptaan-Nya, dan bahwa tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] dan Rabb selain Allah.

Firman-Nya: wa liyakuuna minal muuqiniin (“Dan [Kami memperlihatkannya] agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.”) ada yang berpendapat bahwa wawu yang terdapat dalam penggalan ayat tersebut sebagai wawu zaa-idah [tambahan]. Jadi perkiraan redaksinya adalah: wa kadzaalika nurii ibraaHiima malakutas samaawaati wal ardli liyakuuna minal muuqiniin (“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di langit dan di bumi agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.”)

Dan ada juga yan berpendapat, bahwa ia merupakan bagian darinya, dengan pengertian, Kami perlihatkan hal itu kepadanya supaya ia menjadi seorang yang berpengetahuan dan yakin.

Firman Allah selanjutnya: falammaa janna ‘alaiHil lailu (“Ketika malam menjadi gelap”) yaitu malam itu menyelimuti dan menutupinya.
Ra-aa kaukaban qaala Haadzaa rabbii falammaa afala (“Dia melihat sebuah bintang [lalu] ia berkata: ‘Inilah Rabbku.’ Tetapi ketika bintang itu tenggelam,”) yakni terbenam; apabila dikatakan: aina afalta ‘annaa ? (kemana engkau menghilang dari kami?) kalimat ini bermakna: aina ghabta ‘annaa ? (kemana engkau pergi dari kami ?). –ia (Ibrahim) berkata: laa uhibbul aafiliin (“Aku tidak suka yang tenggelam”)

Qatadah mengatakan: “Ibrahim mengetahui bahwa Rabb-nya itu kekal abadi dan tidak pernah lenyap.”

Fa lammaa ra-al qamara baazighan qaala Haadzaa rabbii fa lammaa afala qaala la-il lam yaHdinii rabbii la akuunanna minal qaumidl dlaalliina fa lammaa ra-asy syamsa baazighatan qaala Haadzaa rabbii (“kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.’ Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: ‘Inilah Rabbku.”)

Artinya, yang terang benderang dan terbit ini adalah Rabbku.
Haadzaa akbar (“ini lebih besar”) wujudnya, dan lebih terang daripada bintang dan bulan.

Fa lammaa afalat qaala yaa qaumi innii barii-um mimmaa tusyrikuuna innii wajjaHtu wajHiya lil ladzii fatharas samaawaati wal ardla haniifaw wamaa ana minal musyrikiin (“Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: ‘Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.’”)

Maksudnya, aku murnikan agamaku dan aku khususkan ibadahku; lil ladzii fatharas samaawaati wal ardla (“Kepada Yang Menciptakan langit dan bumi”) artinya yang telah menciptakan langit dan bumi tanpa adanya contoh terlebih dahulu.

Haniiifan (“dengan cenderung pada agama yang benar”) dalam keadaanku yang hanif, yaitu menyimpang dari kemusyrikan dan cenderung pada tauhid. Oleh karena itu ia berkata: wa maa ana minal musyrikiin (“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.”)

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai konteks tersebut, apakah ungkapan Ibrahim itu adalah dalam konteks perenungan semata ataukah dalam konteks perdebatan.

Ibnu Jarir meriwayatkan melalui jalan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas, “Hal itu adalah dalam konteks perenungan.” Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, berdalil dengan firman Allah: la il lam yaHdinii rabbii (“Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku.”)

Bagaimana mungkin Ibrahim dalam hal ini dianggap merenungkan hal tersebut, sedangkan ia adalah orang yang Allah Ta’ala berfirman mengenainya [yang artinya]:
“Dan Sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Patung-patung Apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?’” (al-Anbiyaa’: 51-52)

Allah juga berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. dan Sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar Termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,’ dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.” (an-Nahl: 120-123)

Selain itu Allah juga berfirman yang artinya:
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku pada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.’” (al-An’aam: 161)

Dalam ash-Shahihain disebutkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah [Islam].”

Allah berfirman yang artinya:
“[Tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (ar-Ruum: 30)

Jika yang demikian itu berlaku bagi seluruh mahkluk, lalu bagaimana mungkin Ibrahim –yang oleh Allah telah dijadikan sebagai imam yang dapat dijadikan teladan, seorang yang hanif, dan bukan dari golongan orang-orang musyrik- dalam konteks ini merenungkan [hal tersebut]. Bahkan ia adalah orang yang paling layak menyandang fitrah yang murni dan karakter yang lurus setelah Rasulullah saw. yang tidak dapat diragukan lagi. Dan yang memperkuat bahwa dalam konteks ini Ibrahim ada pada posisi mendebat kaumnya tentang kemusyrikan mereka, dan bukan dalam konteks perenungan adalah firman Allah berikut ini: (bersambung)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-An’am ayat 71-73

23 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-An’am (Binatang Ternak)
Surah Makkiyyah kecuali ayat: 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152, 153 Madaniyyah surah ke 6: 165 ayat

tulisan arab alquran surat al an'am ayat 71-73“Katakanlah: ‘Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam Keadaan bingung, Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang Lurus (dengan mengatakan): ‘Marilah ikuti kami.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam, 72. dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya.’ dan Dialah Tuhan yang kepadaNyalah kamu akan dihimpunkan. 73. dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: ‘Jadilah, lalu terjadilah,’ dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (al-An’aam: 71-73)

As-Suddi mengatakan: “Orang-orang musyrik mengatakan kepada orang-orang yang beriman: ‘Ikutilah jalan kami dan tinggalkanlah agama Muhammad.’ Lalu Allah menurunkan:

Qul a nad’uu min duunillaaHi maa laa yanfa’unaa wa laa yadlurrunaa wa nuraddu ‘alaa a’qaabinaa (“Katakanlah: ‘Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada kita dan tidak [pula] mendatangkan kemudlaratan kepada kita dan [apakah] kita akan dikembalikan ke belakang?’”) yaitu dalam kekafiran.

Ba’da idz HadaanallaaH (“Sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita”) sehingga dengan demikian, perumpamaan kita adalah seperti orang yang disesatkan oleh syaithan di muka bumi.

(Maksudnya) Allah berfirman: “Jika kalian kafir setelah beriman, maka kalian seperti seseorang yang pergi bersama suatu kaum di sebuah jalan, lalu ia tersesat, kemudian dibuat bingung oleh syaitan dan ia disesatkan di muka bumi. Adapun para sahabatnya berada di suatu jalan [lain], selanjutnya mereka menyerunya supaya datang kepada mereka. Mereka berkata, ‘Ikutlah bersama kami, sesungguhnya kami di atas jalan ini.’ Tetapi ia menolak mendatangi mereka. yang demikian itu adalah seperti orang yang mengikuti mereka [orang-orang musyrik] setelah adanya pengetahuan terhadap Muhammad saw.. Muhammad saw. adalah orang yang menyeru kepada suatu jalan, dan jalan itu adalah Islam.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Oleh karena itu Allah berfirman: qul inna HudallaaHi Huwal Hudaa (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah [yang sebenarnya] petunjuk.’”

Firman-Nya: wa umirnaa linuslima lirabbil ‘aalamiin (“Dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb semesta alam.”) maksudnya mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya semata, Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya.

Wa an aqiimush shalaata wat taquuHu (“Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepada-Nya.”) artinya, Allah Ta’ala menyuruh kami mendirikan shalat dan bertaqwa kepada-Nya dalam segala keadaan.

Wa Huwal ladzii ilaiHi tuhsyaruun (“Dan Dia lah Rabb yang kepada-Nya lah kamu akan dihimpunkan.”) yaitu pada hari kiamat.

Wa Huwal ladzii khalaqas samaawaati wal ardla bil haqqi (“Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar.”) yaitu dengna adil. Allah lah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur keduanya dan semua yang ada pada keduanya.

Firman-Nya: wa yauma yaquulu kun fa yakuun (“Di waktu Dia mengatakan: ‘Jadilah lalu terjadilah.’”) yakni pada hari kiamat. Ketika Allah berfirman: “Jadilah,” maka melalui perintah-Nya itu jadilah dalam waktu sekejap mata atau bahkan lebih cepat lagi.

Kata “yauma” adalah manshub [berharakat fathah] baik karena ‘athaf [bersambung] dengan firman-Nya: “Dan bertakwalah.” Dan perkiraan redaksinya adalah: “Wattaquu yauma yaquulu kun fayakuun (“Takutlah kalian pada hari ketika Allah mengatakan: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.”) atau ber’athaf pada firman-Nya: khalaqas samaawaati wal ardla (“Dialah yang menciptakan langit dan bumi”) dan perkiraan redaksinya adalah: Khalaqa yauma yaquulu kun fayakuun (“Allah menciptakan pada hari dimana Allah mengatakan: ‘Jadilah,’ maka jadilah ia.”)

Dengan demikian, Allah menyebutkan awal penciptaan dan pengembaliannya, dan hal ini adalah sesuai. Atau ber-‘athaf pada “idhmar fi’lin” (penyembunyian kata kerja), dan perkiraan redaksinya adalah: wadzkur yauma yaquulu kun fayakuun (“Dan ingatlah hari ketika Allah berfirman: ‘Jadilah,’ maka jadilah ia.”)

Firman-Nya selanjutnya: qauluHul haqqu wa laHul mulku (“Dan benarlah perkataan-Nya. dan di tangan-Nya lah segala kekuasaan.”) dua kalimat ini menempati posisi jarr, karena keduanya merupakan penjelasan bagi sifat Rabb sekalian alam.

Firman Allah: yauma yunfakhu fish shuuri (“di waktu sangkakala ditiup”) mungkin saja hal ini berkedudukan sebagai pengganti firman Allah: wa yauma yaquulu kun fayakuun (“Di waktu Dia mengatakan: ‘Jadilah,’ lalu jadilah.”) dan mungkin juga hal itu berkedudukan sebagai zharf (keterangan waktu) bagi firman-Nya: wa laHul mulku yauma yunfakhu fish shuuri (“Dan di tangan-Nya lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup.”) sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Mahaesa lagi Mahamengetahui.” (al-Mu’min: 16) dan ayat lainnya yang serupa dengannya.

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman Allah: yauma yunfakhu fish shuuri (“di waktu sangkakala ditiup”) dan yang benar adalah yang dimaksud dengan kata “ash-shuur” adalah terompet yang ditiup oleh Israfil.

Ibnu Jarir mengatakan, “Yang benar menurut kami adalah yang tampak pada beberapa hadits yang bersumber dari Rasulullah saw., dimana beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Israfil telah mengulum sangkakala dan menundukkan dahinya [kepalanya], ia menanti diperintah, maka ia meniupnya.’” (HR Muslim dalam shahihnya)

&