Manusia Dikubur Dalam Tanah yang Telah Menjadi Bahan Penciptaannya

27 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Abu Isa at-Tirmidzi meriwayatkan dari Mathar bin Ukamis, dia berkata, sabda Rasulullah saw:
“Apabila Allah telah menetapkan seorang hamba akan meninggal di suatu tempat, maka Dia menjadikan suatu keperluan [sehingga orang itu datang] ke tempat itu,” atau beliau katakan, “suatu keperluan di tempat itu.” (Shahih al-Jamii’ [735] karya al-Albani [terdapat dalam Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Qadr an Rasulillah, bab Ma ja’a anna an-nafsa haitsu maa kutiba laHaa, no 2072)

Abu Isa berkata, “Dalam bab ini ada pula diriwayatkan dari Abu Izzah. Adapun hadits ini adalah gharib, dan Mathar bin Ukamis tidak dikenal pernah meriwayatkan dari Nabi saw. hadits ini saja.”

Adapun riwayat dari Abu Izzah, dia berkata, sabda Rasulullah saw.:
“Apabila Allah telah menetapkan seseorang akan meninggal di suatu negeri, maka Dia menjadikan baginya suatu keperluan ke negeri itu.” Atau beliau bersabda, “suatu keperluan di negeri itu.” (Shahih)

Kata Abu Isa, “Hadits ini hasan shahih. Adapun Abu Izzah memang sempat bersahabat dengan Nabi saw. Nama aslinya Yasar bin Ubaid.”

Menurut riwayat at-Tirmidzi al-Hakim Abu Abdillah dalam “Nawadir al-Ushul,” dari Abu Hurairah ra. dia berkata, “Rasulullah saw. pernah keluar menemui kami, lalu berkeliling di pelosok Madinah, tiba-tiba beliau melihat ada kubur yang sedang digali. Maka beliau menuju ke kubur itu, dan akhirnya berdiri di depannya lalu bertanya, “Untuk siapa kubur ini ?”
Dijawab, “Untuk seorang lelaki dari Habasyah.”

Beliau bersabda, “Laa ilaaHa illallaaH, dia telah digiring dari negerinya dan langitnya, sampai dikubur di tanah dimana dia diciptakan.” (Nawadir al-Ushul [71] karya al-Hakim at-Tirmidzi)

Dan dari Ibnu Mas’ud ra, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:
“Apabila ajal seseorang [akan habis] di suatu negeri, maka muncullah suatu hajat yang membuatnya melompat ke negeri itu, sehingga manakala dia telah sampai ke batas ajalnya, maka Allah mencabutnya. Maka bumi akan berkata pada hari kiamat, “Ya Tuhanku, inilah apa yang telah Engkau titipkan padaku.”

(Shahih al-Jami’ [745] dan ash-Shahihah [1222] karya al-Albani. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

HIKMAH DAN KESIMPULAN

Kata para ulama kita: Pelajaran yang bisa diambil dari bab ini adalah, bahwa hadits-hadits tersebut di atas merupakan peringatan bagi manusia, agar mereka selalu waspada terhadap kematian, dan senantiasa bersiaga untuk menghadapinya. Hal ini, dengan melakukan ketaatan sebaik-baiknya, mengembalikan barang-barang yang telah diambilnya secara dhalim, melunasi hutang-hutangnya, melaksanakan wasiat, baik yang berhak ia terima maupun yang wajib ia tunaikan, selagi masih ada di negeri sendiri, apalagi ketika hendak bepergian. Karena bagaimana pun dia tidak tahu, di negeri mana di muka bumi ini kematiannya telah tertulis.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: