Membaca al-Qur’an dan Doa-Doa di Sisi Kubur

27 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Pada bab ini diterangkan hukum membaca al-Qur’an di sisi kubur pada saat mengubur mayit maupun sesudahnya, dan bahwa pahala dari apa-apa yang dibaca; al-Qur’an, doa-doa, istighfar maupun sedekah yang pahalanya ditujukan kepada mayit, semuanya akan sampai kepadanya. Demikian disebutkan oleh Abu Hamid dalam kitabnya al-Ihya’, dan Abu Muhammad dalam kitabnya al-Aqibah.

Muhammad bin Ahmad al-Mardadzi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal ra berkata, “Apabila kamu sekalian masuk pekuburan, maka bacalah al-Fatihah, al-Mu’awwidzatain dan Qul HuwallaaHu ahad, dan hadiahkanlah pahalanya untuk ahli kubur, maka pahala itu akan sampai kepada mereka.”

Abi bin Abi Musa al-Haddad berkata, “Aku pernah bersama Ahmad bin Hanbal menghadiri jenazah, sementara Muhammad bin Qudamah al-Jauhari membaca al-Qur’an. Tatkala kami telah mengubur mayit, maka datanglah seorang lelaki buta membaca al-Qur’an di sisi kubur. Maka berkatalah Ahmad kepadanya, “Aduh mengapa, sesungguhnya membaca al-Qur’an di sisi kubur adalah bid’ah.”

Ketika kami keluar dari wilayah kuburan, berkatalah Muhammad bin Qudamah kepada Ahmad, “Hai Abu Abdillah, apa pendapat anda tentang Mubasysyir bin Isma’il ?”
“Dia tsiqah,” jawab Ahmad.
“Apakah anda menulis sesuatu darinya?” tanya Ibnu Qudamah. Ahmad menjawab, “Ya.”
Maka berkatalah Ibnu Qudamah, “Telah memberi kabar kepadaku, Mubasysyir bin Isma’il, Abdurrahman bin al-‘Alla’ bin Al-Hajj, dari ayahnya bahwa ia berpesan, apabila dirinya telah dikubur, maka supaya dibacakan awal dan akhir surah al-Baqarah di sisi kepalanya. Dan dia katakan pula, ‘Aku mendengar Ibnu Umar berpesan seperti itu.’”

Mendengar itu, maka Ahmad berkata, “Kembalilah kamu kepada lelaki tadi, dan katakan kepadanya supaya terus membaca.”
(kisah ini tidak shahih, diriwayatkan oleh al-Khaillal dalam al-Qira’ah ‘ala al qubur)

Saya katakan: untuk pembayaan al-Qur’an di sisi kubur, sebagian ulama berargumentasi dengan hadits tentang pelepah kurma basah yang dibelah oleh Nabi saw. menjadi dua bagian, lalu beliau tancapkan sebagian di suatu kubur, dan sebagian lagi kubur yang lain, kemudian beliau bersabda:

“Mudah-mudahan kedua penghuni kubur itu diringankan, selagi dua belah pelepah itu belum kering.” (HR Al-Bukhari dan Muslim; shahih Bukhari [216] dan shahih Muslim [292])

Sedangkan dalam musnad Abu Dawud ath-Thayalisi dinyatakan:

“Lalu beliau meletakkan pada salah satu kubur itu sebagian, dan pada kubur yang satu lagi sebagian yang lain, seraya bersabda, “Sesungguhnya kedua penghuni kubur itu diringankan selama dua belah pelepah itu masih basah.” (Musnad ath-Thayalisi [2646])

Para ulama berkata: Dari hadits ini bisa disimpulkan, betapa besar manfaat menanam pohon dan membaca al-Qur’an di sisi kubur. Dan kalau para penghuni kubur itu diringankan siksanya karena adanya pohon-pohon, maka apalagi dengan dibacakan al-Qur’an oleh seorang mukmin.” (Penghuni kubur bukan diringankan karena pohon itu, tetapi karena syafaat Rasulullah saw.)

As-Silafi telah mengeluarkan sebuah hadits dari Ali bin Abu Thalib ra, dia berkata, “Sabda Rasulullah saw.:

‘Barangsiapa melewati kuburan dan membaca “Qul HuwallaaHu ahad” sebelas kali, lalu memberikan pahalanya kepada orang-orang yang telah meninggal, maka dia diberi pahala sebanyak orang-orang yang meninggal.” (Maudlu; diriwayatkan oleh al-Khallal dalam al-Qira’ah alaa al-qubur. Menurut al-Albani dalam al-Jana’iz [245] hadits ini bathil dan maudlu’)

Dari Anas ra., Rasulullah saw. bersabda:
“Apabila seorang mukmin membaca ayat Kursi, dan menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur, maka Allah Ta’ala memasukkan ke dalam tiap-tiap kubur orang mukmin dari timur sampai barat empat puluh cahaya, memperluas bagi mereka tempat tidurnya, dan Allah Azza wa Jalla memberikan kepada si pembaca pahala enam puluh orang nabi, dan dia dinaikkan satu derajat dari tiap-tiap mayit [yang dibacakan untukknya], dan ditulis baginya sepuluh kebaikan dari tiap-tiap mayit tersebut.”

(Maudlu’: saya tidak mengetahui hadits ini berasal dari Anas ra. tetapi memang ada hadits yang lafadznya seperti itu diriwayatkan oleh Ali ra, disebutkan oleh Ibnu Iraq dalam Tanzih asy-Syariah [1/301], tetapi dalam isnadnya terdapat seseorang bernama Ali bin Utsman al-Asyuj, yang menurut adz-Dzahabi mengenai dirinya dalam al-Mizan [3/33], dia dianggap sebagai pendusta oleh para kritikus hadits.)

Al-Hasan berkata: “Barangsiapa memasuki pekuburan lalu mengucapkan:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: