Tanah Kubur, Rezeki, Ajal, dan Kejadian Manusia

27 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Pada bab ini dijelaskan, bahwa setiap manusia telah ditaburi tanah bakal liang kuburnya kelak, dan telah ditetapkan rezeki dan ajalnya. Di samping itu diterangkan juga maksud dari firman Allah, “Mukhallaqah wa ghairu mukhallaqah.” (al-Hajj: 5)

Abu Nu’aim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Sabda Rasulullah saw.: “Tidak seorang pun manusia yang dilahirkan, melainkan telah ditaburi tanah bakal liang kuburnya.” (Imam Syamsuddin tidak mengenal hadits ini)

Abu Ashim an-Nabil berkata, “Kita tidak mendapatkan keutamaan lain yang lebih utama bagi Abu Bakar dan Umar ra selain ini, yakni bahwa tanah kubur keduanya adalah tanah kubur Rasulullah saw.”

(Atsar di atas dikeluarkan oleh Abu Ashim dalam Bab Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah ra. dan dia katakan, “Perkataan ini gharib, berasal dari perkataan Aun.” Kami sendiri tidak mencatatnya selain dari Abu Ashim an-Nabil saja. Tapi dia adalah salah seorang perawi tsiqat yang terkemuka dari Basrah)

Murrah telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa malaikat yang ditugasi urusan rahim mengambil nuthfah dari dalam rahim, lalu meletakkannya dpada telapak tangannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, apakah ini akan disempurnakan kejadianya atau tidak disempurnakan?”

Jika Allah menjawab, disempurnakan kejadiannya, maka malaikat itu menanyakan, “Wahai Tuhanku, berapa rezekinya, berapa usianya, dan kapan ajalnya?”

Maka Allah berfirman, “Lihatlah dalam Umm al-Kitab!”
Maka malaikat melihat Lauh Mahfudh. Di sana dia dapatkan rezeki bakal manusia itu, usianya, ajalnya dan amalnya. Lalu malaikat itu mengambil tanah tempat dia akan dikubur, dan dijadikannya tanah itu adonan dengan nuthfah tersebut.” (Asalnya terdapat dalam shahih Bukhari [318] dan shahih Muslim [246].

Dan itulah sekiranya yang difirmankan oleh Allah yang artinya:
“Dari bumi [tanah] itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu.” (ThaaHaa: 55)

(Hadits tersebut diriwayatkan at-Tirmidzi al-Hakim Abu Abdillah dalam Nawadir al-Ushul)

Dan disebutkan pula dari Alqamah, dari Abdullah, dia berkata, “Sesungguhnya apabila nuthfah telah berada dalam rahim, maka diambil oleh satu malaikat dengan telapak tangannya, lalu berkata, “Ya Tuhanku, apakah ini akan disempurnakan kejadiannya?”

Jika Allah menjawab, “Tidak disempurnakan kejadiannya,” maka nuthfah itu tidak menjadi manusia, lalu dibuang oleh rahim sebagai darah. Dan jika Allah menjawab, “Disempurnakan kejadiannya,” maka malaikat itu berkata, “Ya Tuhanku, apakah dia lelaki atau perempuan, sengsara atau bahagia, kapan ajalnya, berapa usianya, dan berapa rezekinya?”

Maka Allah berfirman, “Pergilah ke Umm al-Kitab! Sesungguhnya kamu akan menemukan [ketentuan mengenai] nuthfah ini di sana.”

Selanjutnya nuthfah itu ditanya, “Siapa Tuhanmu?” Dia jawab , “Allah.”

Maka diciptakanlah nuthfah itu menjadi suatu makhluk, lalu hidup sampai ajal yang ditentukan untuknya, dengan memakan rezekinya, dan menginjak “atsar”nya. maka apabila ajalnya telah tiba, dia pun meninggal, lalu dikubur di tempat itu.

Arti “Atsar” di sini ialah tanah yang diambil malaikat tadi, lalu dengan airnya dibuat menjadi adonan.

Muhammad bin Sirin berkata, “Kalau pun aku harus bersumpah, maka aku bersumpah dengan sumpah benar dan setia menunaikannya, tanpa ragu ataupun berbalik arah, bahwasannya Allah tidak mencipta Nabi-Nya, Muhammad saw., Abu Bakar dan Umar, melainkan dari tanah yang sama, lalu mengembalikan mereka ke tanah itu.”

Saya katakan: Bahkan di antara orang yang diciptakan dari tanah tersebut adalah Isa bin Maryam as, sebagaimana akan diterangkan lebih lanjut di tulisan lain. Adapun pada bab ini hanya menjelaskan makna dari firman Allah:

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan [dari kubur], maka [ketahuilah], sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah.” (al-Hajj: 5)

Dan firman Allah: “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah.” (al-An’am: 2)
“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina [air mani].” (as-Sajdah: 8)

Sama sekali tidak ada kontradiksi dalam soal ini, sebagaimana yang kami jelaskan dalam “Kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin limaa Tadhammana Min as-Sunnah wa Ayil Furqan.” Yang semua itu telah tercakup dalam bab ini, maka camkanlah.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: