Arsip | 15.24

Nasib Penarik Pungutan Liar dan Pemutus Silaturahim

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Di sini diterangkan bahwa penarik pungutan liar dan pemutus silaturahim tidak masuk surga. Allah ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu duduk-duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok.” (al-A’raaf: 86)

Ayat ini menurut sebagian ulama turun tentang para penarik pungutan liar dan pemungut sepersepuluh dari hasil bumi. Dan firman-Nya juga:

“Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan oleh-Nya telinga mereka, dan dibutakan oleh-Nya penglihatan mereka.” (QS Muhammad: 22-23)

Menurut riwayat Muslim dari Jubair bin Muth’im, dari ayahnya, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga sang pemutus.”

Kata Ibnu Abi Umar, bahwa Sufyan berkata bahwa yang dimaksud adalah pemutus silaturahim.

Abu Dawud meriwayatkan dari Uqbah bin Amr ra, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tidak masuk surga penarik pungutan liar.”

&

Penarik Pungutan Liar Yang Masuk Neraka

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Para ulama mengatakan bahwa penarik pungutan liar yang dimaksud di sini adalah orang yang mengambil sepersepuluh dari hasil bumi para petani, dan mengambil pungutan liar dari para pedagang serta orang-orang yang berlalu lintas saat mereka melewati jalan, yang sebenarnya tidak wajib mereka bayar, baik atas nama pungutan “sepersepuluh hasil bumi,” zakat atau lainnya. Jadi, yang dimaksud bukanlah petugas resmi yang ditugasi menarik sedekah dan zakat yang wajib dibayar untuk kepentingan orang-orang fakir.

Telah dikatakan bahwa penyalahgunaan dan penyelewengan bila berkaitan dengan amal, bukan berkaitan dengan soal akidah, maka pelakunya kelak [di akhirat] bergantung pada kehendak Allah. Maksudnya, meskipun dia mendapat siksa, namun suatu ketia ia bisa keluar dari neraka bila mendapat syafa’at, sebagaimana diterangkan terdahulu. Maka demikian pula semua orang yang berdosa besar, yang diancam dengan neraka dan laknat. Mereka akan keluar darinya, bila mendapat syafaat, yakni jika mereka melakukannya bukan dengan menganggapnya halal.

&

Yang Pertama Masuk Surga dan Yang Pertama Masuk Neraka

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Ada tiga golongan manusia yang pertama-tama masuk surga, dan tiga golongan lainnya yang pertama-tama masuk neraka.

Menurut riwayat Abu Bakar bin Syaibah, dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

“Tiga orang yang pertama-tama masuk surga adalah: orang yang mati syahid; orang yang selalu menjaga [kehormatan] diri dan berusaha tetap menjaga diri dari maksiat, sekalipun banyak tanggungan keluarga; dan budak yang beribadah sebaik-baiknya kepada Tuhannya sebaik-baiknya dengan tetap menunaikan kewajiban kepada tuannya. Dan tiga orang lainnya yang pertama-tama masuk neraka ialah: penguasa yang kejam; orang kaya yang tidak menunaikan kewajiban hartanya; dan orang fakir yang sombong.”

(HR ad-Daruquthni dalam al-‘Ilal [9/269] lengkap dengan isnadnya, dan dia katakan: “Hadits ini diriwayatkan juga oleh Hamid bin Mihram al-Mariki, Hisyam ad-Dustuwa’i, Ali bin al-Mubarak, Abban al-Aththar, dan Syaiban, masing-masing dari Yahya bin Abi Katsir, dari Amir bin Uqbah al-Uqaili, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dengan lafadz yang sama.” Dan kata ad-Daruquthni pula: “Pada hadits ini Yahya mengalami keraguan, yakni terkadang dia diriwayatkan dari Abu Salamah, terkadang dari Abu Hurairah.”)

&

Orang yang Pertama-tama Dibakar Dalam Neraka

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra. dia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya orang yang pertama-tama diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah orang yang [nampaknya] mati syahid. Allah memberitahu orang itu nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan orang itu pun mengakuinya.

‘Kalau begitu, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ tanya Allah kepadanya. Dia menjawab, ‘Hamba telah berperang di jalan-Mu, sehingga hamba mati syahid.’
‘Bohong kamu,’ kata Allah, ‘tetapi kamu berperang supaya dikatakan: Fulan pemberani, dan itu telah dikatakan orang.’ Maka diperintahkanlah supaya dia diseret pada wajahnya, lalu dileparkan ke neraka.

Lalu, orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca al-Qur’an. Allah memberitahu dia nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan orang itu mengakuinya. Maka Allah bertanya, ‘Kalau begitu, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’
Orang itu menjawab, ‘Hamba telah belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca al-Qur’an karena-Mu.’

‘Bohong kamu,’ kata Allah, ‘tetapi kamu belajar supaya dikatakan alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya disebut qari’, dan itu telah dikatakan orang.’ Maka diperintahkanlah supaya dia diseret pada wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Lalu, orang yang telah dilapangkan Allah rezekinya, dan Dia beri berbagai macam harta. Orang itu didatangkan, lalu Allah memberitahu dia nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya, dan orang itu mengakuinya. Maka Allah bertanya, ‘Kalau begitu, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’
Orang itu berkata, ‘Hamba tidak membiarkan satu jalan pun, yang Engkau ingin supaya diberi nafkah, melainkan hamba memberinya nafkah.’
‘Bohong kamu,’ kata Allah, ‘tetapi kamu melakukan demikian supaya dikatakan dermawan, dan itu telah dikatakan orang.’ Maka diperintahkanlah supaya orang itu diseret pada wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.’” (HR Muslim)

Hadits yang semakna dengan ini, telah diriwayatkan pula oleh Abu Isa at-Timidzi, dimana pada akhirnya Abu Hurairah mengatakan, “Kemudian Rasulullah saw. memukul lututku seraya bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, mereka bertiga itu adalah makhluk Allah yang pertama-tama dibakar dalam neraka pada hari kiamat.’”

&

Para Ulama dari Berbagai Disiplin Ilmu Yang Masuk Surga Tanpa Hisab

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Abu Ja’far Umar bin Hafs al-Mayanisyl menuturkan sebuah hadits dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:

“Apabila hari kiamat telah terjadi, para ahli hadits datang, di tangan mereka ada tempat-tempat tinta. Maka Allah Ta’ala menyuruh Jibril mendatangi mereka. malaikat itu bertanya siapa mereka. mereka menjawab, ‘Kami para ahli hadits.’

Maka Allah berkata kepada mereka, ‘Masuklah ke surga. Telah sekian lama kamu sekalian bershalawat kepada Nabi saw.’
(Maudlu’; al-Fawa’id al-Majmu’ah [292], karya asy-Syaukani)

Ibnu Umar ra. meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:

“Apabila hari kiamat telah terjadi, maka dipasanglah mimbar-mimbar dari cahaya, di atasnya ada tempat-tempat duduk dari mutiara saling berhadapan. Maka terdengarlah seorang penyeru menyerukan, ‘Manakah para ahli fiqih? Mana para pemuka ilmu? Mana para mu’adzin? Duduklah di atas kursi-kursi ini. Hari ini tidak ada rasa takut atas kamu sekalian, dan tidak ada kesedihan.’ Demikianlah sehingga Allah selesai menghisab para hamba-Nya.” (Disebutkan dalam al-Firdaus [987])

Yazid bin Harun meriwayatkan dari Dawud bin Abu Hind, dari asy-Sya’bi, dari Abu Laila, dari Abu Ayyub al-Anshari ra, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Satu masalah yang dipelajari seorang mukmin, adalah lebih baik baginya daripada beribadah satu tahun, dan lebih baik baginya daripada memerdekakan budak keturunan Ismail. Dan sesungguhnya penuntut ilmu, wanita yang taat kepada suaminya, dan anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, semuanya masuk surga tanpa hisab.” (Isnad hadits ini dlaif; at-Tadwin fii Akhbar Qazwain [1/255])

Kata al-Mayanisyi, “Saya mengutip hadits ini dari kitab az-Ziyadat ba’d al-Arba’in, karya Ismail bin Abdul Ghafir ra, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Yahya dari al-Husain bin Ali, dia berkata, telah menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun..dst.

&

Suasana Pergaulan di Alam Kubur

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Para penghuni kubur saling berkunjung sesamanya di alam sana, dan saling memuji kain kafan yang dipakai masing-masing.

Dalam kitab al-Ibanah, penulisnya, al-Hafizh Abu Nashar Abdullah bin Sa’id bin Hatim al-Wa’ili as-Sijistani menceritakan sebuah hadits dengan isnadnya dari Jabir ra. dia berkata, Sabda Rasulullah saw.:

“Perbaikilah kain kafan mayit-mayit kamu sekalian. Sesungguhnya mereka saling membanggakan [kain kafan masing-masing] dan saling mengunjungi di dalam kubur mereka.”

Dan dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:
“Apabila seoran dari kamu sekalian mengafani saudaranya, maka perbaikilah kafannya.” (Shahih; lihat takhrijnya tersebut di atas)

&

Memilih Tempat untuk Mengubur Jenazah

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Abu Dawud ath-Thayalisi berkata: telah menceritakan kepada kami, Siwar bin Maimun Abul Jarah al-‘Abdi, dia berkata, telah menceritakan kepadaku, seseorang dari keluarga Umar, dari Umar, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa berziarah ke kuburku,” atau beliau bersabda, “Barangsiapa berziarah kepadaku, maka aku menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya. Dan barangsiapa meninggal dunia di salah satu Tanah Haram [Makkah atau Madinah], maka Allah akan membangkitkannya dalam golongan orang-orang yang aman pada hari kiamat.” (Dlaif al-Jami’ [5608] karya al-Albani dengan lafadz yang sama, tetapi dari hadits riwayat Anas ra)

Hadits yang senada dikeluarkan pula oleh ad-Daruquthni dari Hathib, sabda Rasulullah saw.:

“Barangsiapa berziarah kepadaku sepeninggalku, maka seakan-akan dia berziarah kepadaku selagi aku masih hidup. Dan barangsiapa mati di salah satu Tanah Haram, maka ia akan dibangkitkan dalam golongan orang-orang yang aman pada hari kiamat.” (Saya tidak mengenal hadits ini, tapi kepalsuan dan kemungkarannya tampak jelas pada matannya)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Malaikat Maut pernah diutus kepada Nabi Musa as [untuk mencabut nyawanya]. Ketika dia datang, maka Nabi Musa meninjunya sampai copot matanya. Maka malaikat itu kembali kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Engkau telah mengutus aku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati.’”

Perawi berkata, “Maka Allah mengembalikan mata Malaikat Maut dan berfirman, ‘Kembalilah kamu kepadanya dan katakanlah, hendaknya dia meletakkan tangannya pada bagian luar kulit lembu, dia akan memperoleh tambahan umur satu tahun untuk setiap helai lembu yang ditutupi oleh tangannya.’

Malaikat Maut berkata, ‘Ya Tuhanku, sesudah itu apa?’
‘Sesudah itu mati,’ jawab Allah.
Malaikat Maut berkata, ‘Sekarang juga aku berangkat.’

Adapun Nabi Musa sendiri kemudian memohon kepada Allah agar mendekatkan dirinya kepada Negeri Yang Disucikan [al-ardl al-Muqaddasah] sejauh lemparan batu.

Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan aku ada di sana, niscaya aku tunjukkan kepada kamu sekalian kuburannya, ada di sebelah jalan, di bawah gundukan pasir merah.” (Shahih al-Bukhari [1339], Shahih Muslim [2372])

Menurut riwayat lain, Abu Hurairah berkata: Malaikat Maut datang kepada Nabi Musa as, lalu berkata, “Penuhilah panggilan Tuhanmu.” Maka Nabi Musa as. meninju mata Malaikat Maut sampai copot, atau seterusnya seperti hadits di atas.

At-Tirmidzi berkata, dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi saw bersabda:
“Barangsiapa bisa mati di Madinah, maka matilah di sana. Sesungguhnya aku memberi syafaat kepada orang yang mati di sana.” (Shahih al-Jami’ [6015] karya al-Albani; dinyatakan shahih pula oleh Abu Muhammad Abdul Haqq)

Dalam al-Muwaththa’ disebutkan, bahwa Umar ra pernah berdoa: “Ya Allah, karuniailah ku mati syahid di jalan-Mu, dan wafat di negeri Nabi-Mu.” (Shahih al-Bukhari [1890], dan Malik dalam al-Muwaththa’ [Kitab al-Jihad, bab Maa Takuunu fiiHi ShaHadaH)

Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid ra telah berpesan supaya jasadnya kalau mati dibawa dari al-Aqiq ke al-Baqi’, yaitu kuburan di Madinah, dan supaya dikubur di sana, karena keutamaannya yang mereka ketahui. wallaaHu a’lam.

Dan sesungguhnyalah, bahwa keutamaan Madinah tidak bisa dipungkiri dan tidak samar. Dan andaikan keutamaannya hanya sekedar bertetangga dengan orang-orang shalih dan para syuhada yang utama, itupun cukup.

Dan diriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar, bahwa dia berkata kepada salah seorang penduduk Mesir, ketika dia ditanya, “Ada perlu apa?” dia menjawab, “Saya perlu sekantong tanah lereng al-Muqaththam,” maksudnya sebuah gunung di Mesir.
“Semoga Allah merahmatimu,” kata si penanya, “Untuk apakah tanah itu?” dia jawab, “Akan aku taruh dalam kuburku.”
“Kenapa begitu, padahal kamu tinggal di Madinah, dan kata orang, kuburan al-Baqi’ itu begini-begitu?” tanya orang itu pula. Maka jawab Ka’ab al-Ahbar, “Kami dapatkan dalam sebuah kitab kuno, bahwasannya ada tanah suci antara al-Qushair dan al-Yahmum.”

&

Masalah Nabi Musa Memukul Malaikat Maut

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Kalau ada yang bertanya, kenapa Nabi Musa as berani memukul Malaikat Maut sehingga matanya copot? Maka jawabannya ada enam pendapat:

1. Pertama; mata yang dimaksud adalah khayali, bukan hakiki. Pendapat ini salah, karena dengan jawaban ini berarti rupa malaikat yang dilihat oleh para Nabi tidak ada hakekatnya. Pendapat ini adalah pendapat kaum as-Salimiyah.

2. Kedua; mata itu adalah mata maknawi, maksudnya, Musa telah menyolok mata Malaikat Maut dengan argumentasi. Ini pun berarti mata yang dimaksud adalah mata majasi, bukan hakiki.

3. Ketiga; Musa pada mulanya tidak mengenal siapa yang datang. Sehingga ia mengira bahwa yang datang itu seseorang yang masuk rumahnya tanpa izin dan hendak mencelakai dirinya, maka ia membela diri, lalu meninju orang itu sampai copot matanya. Membela diri seperti ini memang wajib dilakukan, dengan cara apa pun yang mungkin dilakukan.

Jawaban ini tampaknya bisa diterima, karena berarti mata yang dimaksud adalah mata hakiki, begitu pula pukulan Nabi Musa terhadap malaikat itu. Pendapat ini dikatakan oleh Imam Abu Bakar bin Khuzaimah. Hanya saja berlawanan dengan isi hadits itu sendiri, yaitu bahwa Malaikat Maut kemudian kembali kepada Allah dan melapor, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengutus aku kepada seorang hamba-Mu yang tidak mau mati.” Andaikan Musa tidak mengenalnya, maka tidak ada perkataan ini dari Malaikat Maut.

4. Keempat; Nabi Musa as adalah seorang yang cepat marah. Dan cepat marahnya ini menyebabkan dia memukul Malaikat Maut, demikian kata Ibnul Arabi dalam kitabnya, al-Ahkam. Tetapi pendapat ini salah, karena para Nabi terpelihara dari memulai perbuatan seperti itu, baik senang maupun marah.

5. Kelima; pendapat Ibnu Mahdi rahimahullah, bahwa mata malaikat yang dipukul itu adalah mata pinjaman, dan mata inilah yang hilang. Karena malaikat memang diciptakan Allah untuk bisa berupa apa saja yang dia kehendaki. Jadi, rupanya ketika malaikat itu dipukul oleh Nabi Musa as, dia sedang menjelma dengan rupa orang lain. Buktinya, setelah itu Nabi Musa melihatnya lagi dengan mata yang utuh.

6. Keenam; inilah yang benar, insya Allah, yaitu bahwa pemukulan yang dilakukan oleh Nabi Musa as adalah karena dia telah diberitahu sebelumnya, bahwa Allah Ta’ala tidak akan mencabut nyawanya sebelum disuruh memilih, demikian sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lainnya (Shahih al-Bukhari [4437] dan shahih Muslim [2444]).

Maka tatkala Malaikat Maut datang kepadanya tidak dengan cara seperti yang telah diberitahukan kepadanya, dengan kecerdikan dan kekuatan fisiknya Nabi Musa as segera memberinya pelajaran. Dia tinju malaikat itu sampai copot matanya, sebagai ujian baginya, karena dia tidak memberinya pilihan. Adapun di antara yang menunjukkan kebenaran pendapat ini adalah bahwa ketika Malaikat Maut kembali lagi kepada Nabi Musa, lalu memberinya pilihan antara hidup dan mati, maka dia memilih mati dan pasrah. Dan Allah tentu Mahatahu dan Mahabijak tentang alam ghaib-Nya. Makna dari pendapat ini dinyatakan pula oleh Ibnul Arabi dalam kitabnya, “Al-Qabas” dengan redaksi yang berbeda, alhamdulillah.

Sementara itu at-Tirmidzi al-Hakim Abu Abdillah menyebutkan sebuah hadits dalam Nawadir al-Ushul, dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda:

“Dulu Malaikat Maut as. datang kepada manusia secara terang-terangan, hingga akhirnya ia datang kepada Musa as, maka dia menghantamnya sampai copot matanya..” pada akhir hadits beliau katakan yang maknanya, “Maka sejak itu Malaikat Maut datang kepada manusia dengan tidak terang-terangan.” (Nawadir al-Ushul karya al-Hakim at-Tirmidzi [42])

&

Peringatan atas Kelengahan

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Aduhai orang ini, mana harta yang telah kamu kumpulkan, dan mana kekayaan yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi berbagai krisis dan kesulitan? Ternyata, setelah kamu mati, semua terlepas dari tanganmu. Dan setelah mengenyam kekayaan dan kejayaan, kamu beralih menjadi hina dan tidak punya apa-apa.

Bagaimana keadaanmu sekarang, hai orang yang tergadaikan oleh dosa-dosanya, hai orang yang terbuang dari keluarga dan rumahnya?

Sebenarnya jalan kebenaran tidaklah samar bagimu, tapi sedikit sekali perhatianmu untuk membawa bekal perjalanan yang jauh ini, dan untuk menghadapi kesulitan hebat yang akan kamu alami berikutnya.

Atau, tidakkah engkau mengerti, hai orang yang terpedaya, bahwa keberangkatan ini pasti terjadi, menuju hari yang amat ngeri. Pada saat itu tidak berguna lagi bagimu segala alasan ini dan itu. Tetapi semuanya akan berbalik kepadamu di hadapan Ilahi, Raja Yang Maha Bijak-Bestari. Semua akan berbalik, apa saja yang pernah diperbuat oleh kedua tanganmu, apa saja yang dilalui oleh kedua telapak kakimu, apa saja yang diucapkan oleh lidahmu, dan apa saja yang dilakukan anggota tubuhmu. Kalau Dia mengasihimu, maka kamu akan dibawa ke dalam surga-Nya. Dan kalau tidak, maka kamu akan dicampakkan ke dalam neraka.

Hai orang yang lalai terhadap keadaan ini, sampai kapankah kelalaian dan penundaan ini? Apakah kamu kira kecil perkara ini? Atau kamu anggap mudah? Atau kamu kira keadaanmu akan berguna bagimu, ketika saat perjalananmu tiba? Dapatkah hartamu menyelamatkan dirimu, di kala kamu dibinasakan oleh perbuatanmu sendiri? Atau adakah gunanya penyesalanmu, ketika kamu digelincirkan oleh kakimu sendiri? Atau bisakah keluargamu mengasihimu, ketika kamu dihimpun di padang Mahsyar? Tidak, demi Allah betapa keliru dugaanmu itu, dan kelak kamu pasti tahu itu.

Rupaya kamu tidak puas dengan rezeki yang cukup, tidak kenyang dengan harta haram, tidak sudi mendengar nasehat, dan tidak jera dengan ancaman. Kamu terbiasa bergelimang dengan kesenangan, tenggelam dalam kemewahan tiada batas, terpedaya untuk bermegah-megah dengan apa yang kamu miliki, dan sedikit pun tidak mengingat apa yang bakal kamu hadapi.

Hai orang yang terlelap dalam kelalaian, dan baru bangun setelah jauh terlempar, sampai kapankah kelalaian dan penundaan ini? Apakah kamu kira dirimu akan dibiarkan begitu saja, tanpa dihisab besok? Apakah kamu kira kematian itu bisa disuap? Tidak bisakah kamu membedakan antara singa dan semak belukar tempat tinggalnya?

Tidak, demi Allah, kematian sekali-sekali tidak bisa ditolak dengan harta maupun anak-anak. Tidak ada yang berguna bagi ahli kubur selain amalnya yang diterima. Maka beruntunglah orang yang mendengar dan memperhatikan, lalu menahan diri dari hawa nafsunya, dan menyadari bahwa yang berbahagia adalah orang yang berhenti dari kebodohannya, (dan menyadari firman Allah):

“Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan [kepadanya].” (an-Najm: 39-40)

Maka dari itu bangunlah kamu dari tidur ini, dan jadikanlah amal shalih sebagai bekal bagimu. Jangan bermimpi memperoleh kedudukan orang-orang baik, sedang kamu terus-menerus melakukan dosa dan perbuatan orang-orang jahat. Tetapi perbanyaklah amal shalih, dan waspadalah terus terhadap ujian-ujian Allah dalam kesendirian-kesendirianmu, Dia-lah Tuhan bumi dan langit. Jangan terpedaya oleh angan-anganmu, sampai kamu malah tidak beramal. Tidakkah kamu mendengar sabda Rasulullah saw., ketika beliau duduk di sisi sebuah kubur, “Hai saudara-saudaraku, untuk hal seperti ini hendaknya kamu sekalian bersiap siaga.”

Atau tidakkah kamu mendengar firman Allah yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu. Maka penuhilah seruan Allah Ta’ala.

“Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (al-Baqarah: 197)

Orang bersyair:

Ambillah bekal dari rezakimu
Untuk pulang ke negeri asalmu.
Bangkitlah menuju kehadirat Allah,
Dan sebaik-baik bekal hadirkanlah.

Relakah kamu jika menjadi Cuma
Teman pengiring kaum yang jaya,
Banyak bekal mereka bawa,
Sedang kamu apa pun tak punya.

Dan penyair lain menambahkan:

Kamu pasti menyesal tiada tara,
Kenapa kamu tidak seperti mereka.
Dan kamu menyesal tidak memburunya,
Seperti mereka telah menangkap buruannya.

Dan kata penyair yang lain pula:

Maut adalah laut jaya-perkasa
Gergulung tinggi gelombang ombaknya.
Tidak ada manfaat, tidak ada guna
Perenang ulung tak mampu menyiasatinya
Hai diri, kepadamu aku ingin bicara,
Maka camkanlah nasehat berharga;
Tiada guna manusia dalam kuburnya,
Selain taqwa dan amal shalihnya.

Tambah penyair lain pula:

Di sini tidak kutemui penghibur hati
Selain dosa-dosaku yang membinasakan diri,
Andai engkau melihat keadaanku ini
Niscaya kau tangisi deritaku tiada peri.

Dan kata penyair yang lain:

Kamu dilahirkan ibumu dengan pekik tangis terbata-bata,
Sedang orang di sekelilingmu tertawa riang gembira,
Maka beramallah untuk hari mereka menangis terisak-isak,
Sementara kamu berangkat dengan tersenyum bahagia.

Diriwayatkan dari Muhammad al-Qurasyi, bahwa dia berkata, “Saya mendengar guru kami berkata, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah pemberi nasehat kepadamu, dan pencurah kasih sayang kepadamu. Beramallah kamu sekalian di gelap malam, untuk menghadapi gelapnya kubur. Dan berpuasalah kamu, meski pada hari yang sangat panas, sebelum datangnya hari kebangkitan yang ganas. Dan berhajilah kamu, niscaya dosa-dosa besarmu akan dihapuskan. Dan bersedekahlah, karena rasa takut akan hari yang amat sulit.”

Yazid ar-Raqqasyi dalam pidatonya, antara lain dia katakan, “Hai orang yang bakal ditanam di liang kubur, yang akan terasing sendirian di dalam kubur, yang hanya akan dihibur oleh amalnya di dalam perut bumi. Kalau boleh aku tahu, dengan amalmu yang mana kamu merasa gembira? Dengan kelakuanmu yang mana kamu merasa akan beruntung?”

Sesudah berkata begitu dia menangis, sampai membashi sorbannya. Dan selanjutnya dia berkata, “Demi Allah, manusia hanya akan gembira berkat amalnya yang shalih. Dia beruntung berkat saudara-saudara yang telah membantunya melakukan ketaatan kepada Allah.” Dan adalah Yazid, jika dia melihat kubur maka dia berteriak seperti lembu mengeluh.

&

Ketentuan Hukum tentang Kubur

28 Jan

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Kubur hendaknya bergunduk, ditinggikan sedikit dari permukaan tanah, tetapi tidak dibuat bangunan, baik dengan tanah liat, batu, ataupun kapur. Karena itu memang dilarang.

Menurut riwayat Muslim dari Jabir, bahwa dia berkata: “Rasulullah saw. telah melarang apabila kubur dilepa, diduduki, dan dibuat bangunan di atasnya.” (Shahih Muslim [970])

Dan diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dari Jabir, dia berkata, “Rasulullah saw. telah melarang kubur dilepa, ditulisi, dibangun dan diinjak.” (Shahih; Ahkam al-Nana’iz [260] karya al-Albani)

Para ulama berkata, bahwa Malik menghukumi makruh terhadap pelepaan kubur, karena menurutnya itu termasuk bermegah-megahan dan perhiasan kehidupan dunia, padahal kubur adalah tempat yang berkaitan dengan akhirat, bukan tempat bermegah-megahan. Adapun yang menghiasi mayit hanyalah amalnya. Mereka melantunkan syair:

Bila kamu memimpin urusan suatu bangsa,
Meski hanya semalam saja,
Maka ketahuilah, bahwa sesudahnya,
Kamu dimintai tanggung jawabnya

Bila kamu mengangkat suatu jenazah
Ke kubur menuju alam baka,
Maka ketahuilah, bahwa sesudahnya
Kamu akan diangkat pula kesana.

Hai penghuni kubur indah mempesona,
Dihias ukir-ukiran pusaranya.
Mungkin dia di bawah sana
Sedang dibelenggu dalam penjara.

Dalam shahih Muslim ada diriwayatkan dari Abu al-Hayyaj al-Asadi, dari Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Maukah kamu kuutus untuk melaksanakan sesuatu sebagaimana aku diutus oleh Rasulullah saw. untuk melakukannya? Jangan kamu biarkan satu pun berhala kecuali kamu hancurkan. Dan jangan kamu biarkan satu pun kubur yang ditinggikan kecuali kamu ratakan.” (Shahih Muslim [969])

Abu Dawud berkata dalam kitab al-Marasil, dari Ashim bin Abi Shalih, “Aku melihat kubur Nabi saw. satu jengkal atau lebih-kurang satu jengkal.” Maksudnya tingginya. (isnadnya dlaif karena mursal)

Dan kata para ulama kita: kalau kubur dibuat gundukan, tujuannya supaya dikenal dan dihormati. Adapun membuatnya terlalu tinggi adalah dilarang, karena cara seperti itu merupakan tradisi zaman jahiliyyah. Mereka meninggikannya dan membuat bangunan di atasnya, sebagai ungkapan memuliakan dan mengagungkan si mayit. Orang bersyair:

Kulihat para pemilik istana,
Bila ada yang meninggal di antara mereka,
Mereka bangun kubah di atas kuburnya.

Demi Allah, jika tanah kubur itu kau buka
Di depan mereka, maka takkan kau lihat di sana
Mana yang kaya, mana yang miskin papa.

Bila tanah telah memakan semua,
Yang ini maupun yang itu, maka tak ada lebihnya
Bagi orang kaya atau si miskin papa

&